dentang waktu membawa langkahku meninggalkan yang tersisa
bersama sang awan aku menanti sebuah keajaiban
bencana kembali terdengar di sebelah barat
kembali negeriku tersentuh
ada apa dengan negeriku!
ku hanya terdiam
ketika alam membalaskan sejuta kematian
kita hanya membisu di altar-altar mesjid
memohon ampun bersujud
kemarin benar sekumpulan pengusaha
membuat gundul ratusan gunung
kemarin memang benar ibu-ibu membuang sampah di lautan
kemarin bom menghentak batu-batu karang muda
sekarang kumendengar manusia-manusia berdosa di teror alam
menangis hanya jawaban terakhir
tersenyum hanyalah akhir penantian
rumah-rumah hancur seperti debu
banyak nyawa yang melayang
tangisan seperti ayunan kecapi
menyayat hati demi si tuan kecoa
merampok senditian negeri ini
ku tanyakan kepada langit
tangan siapa yang membangkitkan kemarahan alam
siapa...............
kuhanya satu jawaban di balik tangisan bocah-bocah
semalam ada ayah sekarang hanya diam membisu
jawablah kami......................
mengapa ada hotel-hotel megah
di atas tanah rumah kumuh kami kemarin
semua itu adalah akhir segalanya
ketika alam tak lagi berjalan menuju tujuan yang sama
Rabu, 30 September 2009
Selasa, 29 September 2009
ada janji menghitung hari
di atas pusaramu
aku seperti orang gila
banyak mimpimu
terukir untukku
tapi aku hanya manusia biasa
hilang di kabut malam
aku hanya mengingat
tapi aku tak bisa melawan
cambukan itu menelanjangiku
mengubur rasa patriotku
aku tak bisa
aku tak mampu
jangan paksa aku
melawan pemberontakan mereka
aku seperti orang gila
banyak mimpimu
terukir untukku
tapi aku hanya manusia biasa
hilang di kabut malam
aku hanya mengingat
tapi aku tak bisa melawan
cambukan itu menelanjangiku
mengubur rasa patriotku
aku tak bisa
aku tak mampu
jangan paksa aku
melawan pemberontakan mereka
janji
hari ini aku hanya bisa tersenyum
wajahmu melukiskan padaku
sebuah harapan terakhir
menjadi orang besar
bersahabat dengan mimpi
berdiri diantara ke dua belas bintang
wajahmu melukiskan padaku
sebuah harapan terakhir
menjadi orang besar
bersahabat dengan mimpi
berdiri diantara ke dua belas bintang
alam menangis di balik keserakahan
ungkapkanlah apa yang tersirat di dalam benakmu
katakanlah agar setiap yang bernapas mengerti
apa arti dari semua bencana ini
bicarakanlah dengan lantang sesuai apa yang terjadi
dan biarkanlah daun-daun berbunga sedia kala
mendamaikan setiap insan yang haus kebahagiaan
agar alam tak lagi menaruh dendam yang panjang
di sana gelombang memarahi lautan
tangan-tangannya membalaskan dendam
jauh di sana dengan amarahnya tanah memejamkan mata
orang-orang tak berdosa
bersatu dengan alam
di sini angin menampar sebuah kota
hancurkan kegagahan gedung-gedung yang angkuh berdiri seperti tembok berlin
tak berdaya
aku juga tak berdaya menatap tangis mereka
aku juga meneteskan airmata
mengapa alam memusuhi kita
mengapa kita larut tanpa ada kata maaf
kita menumpas kehidupan mereka
bukit-bukit berdiri seperti tembok ratapan
pohon-pohon terpajang menjadi penyangga
lauatan seperti gunung sampah
semua berdikari membentuk lingkaran
seperti singa di coloseum romawi
mengintai setiap detik hidup kita
ketika alam tak lagi sedamai mentari
katakanlah agar setiap yang bernapas mengerti
apa arti dari semua bencana ini
bicarakanlah dengan lantang sesuai apa yang terjadi
dan biarkanlah daun-daun berbunga sedia kala
mendamaikan setiap insan yang haus kebahagiaan
agar alam tak lagi menaruh dendam yang panjang
di sana gelombang memarahi lautan
tangan-tangannya membalaskan dendam
jauh di sana dengan amarahnya tanah memejamkan mata
orang-orang tak berdosa
bersatu dengan alam
di sini angin menampar sebuah kota
hancurkan kegagahan gedung-gedung yang angkuh berdiri seperti tembok berlin
tak berdaya
aku juga tak berdaya menatap tangis mereka
aku juga meneteskan airmata
mengapa alam memusuhi kita
mengapa kita larut tanpa ada kata maaf
kita menumpas kehidupan mereka
bukit-bukit berdiri seperti tembok ratapan
pohon-pohon terpajang menjadi penyangga
lauatan seperti gunung sampah
semua berdikari membentuk lingkaran
seperti singa di coloseum romawi
mengintai setiap detik hidup kita
ketika alam tak lagi sedamai mentari
Minggu, 27 September 2009
suara harapan
luka ini semakin perih
luka ini membusuk di ketakutan yang amat panjang
ada sejuta kenyataan yang tak kunjung habis
menertawai setiap jengkal perjalanan
dan kuhanya berharap
sesuatu keajaiban kecil
menyelamatkanku
ketika hidup harus memilih kita hanya bisa tersenyum
semuanya seperti episode baru meski penuh kejutan
tapi mampu menertawai dunia
luka ini membusuk di ketakutan yang amat panjang
ada sejuta kenyataan yang tak kunjung habis
menertawai setiap jengkal perjalanan
dan kuhanya berharap
sesuatu keajaiban kecil
menyelamatkanku
ketika hidup harus memilih kita hanya bisa tersenyum
semuanya seperti episode baru meski penuh kejutan
tapi mampu menertawai dunia
Jumat, 25 September 2009
aku gila
aku gila
hanya sebuah lukisan
lukisan tentangku kini hanya sebuah garisan
sayapku memusuhiku dengan takdirku
menghujam jantungku dengan sebilah ketakutan
aku di musuhi bangsaku
bangsa yang hanya membisu
ketika haknya di tukar dengan sebuah kesombongan
pernah engkau bertanya
negara ini penuh dengan pemimpi
pernah engkau melihat kesombongan negeri ini
di televisi para kurcaci mainkan perannya seperti kelinci
sebuah cerita kehebatan bangsa ini
sebuah cerita kemewahan negeri ini
ketika cinta menjadi topik yang mahal
ketika anak -anak bangsa hanya tahu bertanya
apakah negeri ni sehebat di sinetron-sinetron
ada mobil mewah
ada rumah seperti istana
anak SD diajarkan bercinta
ada si tuan yang di agungkan
hentikan...........
dengarkanlah suara dari mulut macan ini
meski masih muda mampu meredakan gelombang yang marah
bijakkah engkau menyembunyikan realita bangsa ini
hanya sebuah lukisan
lukisan tentangku kini hanya sebuah garisan
sayapku memusuhiku dengan takdirku
menghujam jantungku dengan sebilah ketakutan
aku di musuhi bangsaku
bangsa yang hanya membisu
ketika haknya di tukar dengan sebuah kesombongan
pernah engkau bertanya
negara ini penuh dengan pemimpi
pernah engkau melihat kesombongan negeri ini
di televisi para kurcaci mainkan perannya seperti kelinci
sebuah cerita kehebatan bangsa ini
sebuah cerita kemewahan negeri ini
ketika cinta menjadi topik yang mahal
ketika anak -anak bangsa hanya tahu bertanya
apakah negeri ni sehebat di sinetron-sinetron
ada mobil mewah
ada rumah seperti istana
anak SD diajarkan bercinta
ada si tuan yang di agungkan
hentikan...........
dengarkanlah suara dari mulut macan ini
meski masih muda mampu meredakan gelombang yang marah
bijakkah engkau menyembunyikan realita bangsa ini
di atas pena aku takdirkan sebuah kisah
kepakkan sayap itu membawa langkahku
memperkenalkanku pada hikayat cinta
semilir angin dan awan terlukiskan sebagai kekasih
bercinta di atas kepalaku tawarkan segenggam rindu
setelah sekian lama waktu mengajakku berkelana
menembusi dan menantang sombongnya mentari
aku pulang.............
ada rindu setebal warna pelangi
ada kemenangan yang terlahir
ada napas yang baru
semua terukir seperti relief sejarah
menghantui masa masa susah
ketika keyakinan dan kekalahan bertabrakan
aku manusia di kalahkan sebuah kemiskinan
di atas pena aku pernah
merajai pikiranku dengan petualangan
menjadi panglima besar
semua masih sperti hantu
menanyakanku ketika mata terpejam
karena mimpi bukan di gedung-gedung birokrat
tak terbentuk bersandar pada hitam langit
tak lebih dan setengahnya aku hanya sehelai layangan
terbawa angin tanpa tujuan
merantau dari ujung ke ujung
kini hanya mimpi.............
mimpi yang tersalib di bukit kekalahan
aku kalah.....
tapi kini aku menang
kini mimpi itu menyelimutiku
menawan jeritan kelelahanku dengan segala pikirku
menancapkan kerja keras dengan harapan
terdiam diantara kebodohan
di hantui rasa kekalahan
tak selamanya pena melukiskan cinta yang sesungguhnya
untukmu ayah,karena engkau hanya tersenyum ketika aku mengatakan bahwa mimpi bukan hanya mampu di raih di kampus-kampus,tetapi menjelajahi hidup menanamkan jati diri yang tak kunjung hilang, merantau dari kota ke kota dalah sebuah perjalanan menuju surga.,.aku tak mau menjadi polisi,guru,kuliah,dan segalanya karena itu mimpi itu hanya sebuah barang yang bisa di beli.terkutuklah mereka dengan hanya bersandarkan kekuatan orang tuanya.
memperkenalkanku pada hikayat cinta
semilir angin dan awan terlukiskan sebagai kekasih
bercinta di atas kepalaku tawarkan segenggam rindu
setelah sekian lama waktu mengajakku berkelana
menembusi dan menantang sombongnya mentari
aku pulang.............
ada rindu setebal warna pelangi
ada kemenangan yang terlahir
ada napas yang baru
semua terukir seperti relief sejarah
menghantui masa masa susah
ketika keyakinan dan kekalahan bertabrakan
aku manusia di kalahkan sebuah kemiskinan
di atas pena aku pernah
merajai pikiranku dengan petualangan
menjadi panglima besar
semua masih sperti hantu
menanyakanku ketika mata terpejam
karena mimpi bukan di gedung-gedung birokrat
tak terbentuk bersandar pada hitam langit
tak lebih dan setengahnya aku hanya sehelai layangan
terbawa angin tanpa tujuan
merantau dari ujung ke ujung
kini hanya mimpi.............
mimpi yang tersalib di bukit kekalahan
aku kalah.....
tapi kini aku menang
kini mimpi itu menyelimutiku
menawan jeritan kelelahanku dengan segala pikirku
menancapkan kerja keras dengan harapan
terdiam diantara kebodohan
di hantui rasa kekalahan
tak selamanya pena melukiskan cinta yang sesungguhnya
untukmu ayah,karena engkau hanya tersenyum ketika aku mengatakan bahwa mimpi bukan hanya mampu di raih di kampus-kampus,tetapi menjelajahi hidup menanamkan jati diri yang tak kunjung hilang, merantau dari kota ke kota dalah sebuah perjalanan menuju surga.,.aku tak mau menjadi polisi,guru,kuliah,dan segalanya karena itu mimpi itu hanya sebuah barang yang bisa di beli.terkutuklah mereka dengan hanya bersandarkan kekuatan orang tuanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
