sendiri mata ini berkelahi dengan angin yang tertampar dari kaca busku
ada ceita yang datang seperti awan putih membuatku tersenyum
fajar menyingsing tlah merapat di atas langit kampungku
menghampiri tepian rimbunan pohon pohon yang berbaris terlewati
kecil dikala itu
rupawan bagaikan tanah kosong
gersang mengisi prabu jiwantara ahti yang rapuh
menari diatas kepala kosong
dimana hati dan napasnya tlah mati
jauh sebelum merah putih berkibar
kita sebarisan dari manusia kalah yang bertarung ke negeri seberang
mati adalah yang kita cari
ketika kekalahan hanyalah terselamatkan di kuatnya rupiah
mon
Sabtu, 26 November 2011
Senin, 21 November 2011
kata terakhir
hanya sebait kata yang terakhir
kulukis bunga sebagai tanda cintaku yang tak bertepi
kuteteskan sedetik air mata untukmu
dan kurangkai dengan sebuah doa
selamat menempuh hidup baru sahabatku
kulukis bunga sebagai tanda cintaku yang tak bertepi
kuteteskan sedetik air mata untukmu
dan kurangkai dengan sebuah doa
selamat menempuh hidup baru sahabatku
kita bisa
kudekap dengan segenap mimpi yang hadir menyapa
kudkap erat dengan segenap jiwa
kupertaruhkan yang ada dengan napas terakhir
berkibarlah trus merah putih
berkibarlah ke langit dengan satria
bangkitkanlah para pejuang yang terlahir di basuh garuda
kita bisa
kita berdiri
kitakan menjadi pemenang di atas langit indonesia
kudkap erat dengan segenap jiwa
kupertaruhkan yang ada dengan napas terakhir
berkibarlah trus merah putih
berkibarlah ke langit dengan satria
bangkitkanlah para pejuang yang terlahir di basuh garuda
kita bisa
kita berdiri
kitakan menjadi pemenang di atas langit indonesia
jaman osilo bambang yudhono
menari diatas awan bersama cinta yang tlah datang
merngkai kata di dalam nadi yang terdiam
seperti pujangga yang enggan lagi untuk memberontak
terzalimi jaman yang tlah berubah
dimana ketika kekayaan hanyalah sebuah patung
menawarkan kecantikan tetapi seperti ular ketika mata terpejam
hangat sedalam anggun nya mentari namun bisa menjelma dalam hitungan detik menjadi serigala
aku terpenjara dalam kubangan doa
didalam kesendirian kurobek kehormatanku
kengerian hati bercerita dalam syair menatap negeri tak lagi seperti bertuhan
merangsang kesombongan dan mengakari kejahatan,penghianatan,pembunuhan
bersama menerjang membentuk p[ersengkokolan yang maha dashyat
segenap jiwa menumpas kebaikan
sedikit saja pun tak di ijinkan mendekap
menggoeres manusia kebijaksanaan untuk diam serentak
begitulah adanya negeri
terpasung dlam keagungan tuhan
ribuan anak egeri bertelanjang dada terpapah dalam keharmonisan angin malam
bertatapan dengan seribu kenanaran
hampa dan kosong
haknya tlah dimerdekaan dengan kesia siaan
harga diri terbakar di altar kemewahan penatua agama
bijak hatinya berbaju kubah lentera yang terang
tpi hatinya berbicara kemunafikan di ruangan yang kosong
mencaci dan menjadi karang di hati yang penuh kedamaian
memperolok kemerdekaan orang orang bijaksana
dan menebar racun menghitamkan akan harapan dan tersimpan
menakuti anak bangsa
kelaknatan itu hadir menyapa
meneriakain kejaliman dengan sebuah doa dan harapan
harapan adalah napas yang mengalir mendekap sebuah mimpi yang datang dengan segala kemenangan
nmun membutuhkn penantian yang panjang
karena tak ada yang datang tanpa di pikirkan
dan baiknya lah kita untuk bersama untuk menjdi kerikil yang tajam
langkah bangsa tertancap tepat di atas sajadah pertiwi
siapapun berhak untuk berkata
apakah masih ada telinga untuk mendengar
bagi pertanyaan kami yang tarapung diatas samudera korupsi dan nepotisme
kemanakah langkah jejak century..
mengapa si gayus tertawa terpenjara di waktu tujuh tahun
dengan milyaran di lemari berkeramik soeharto
menerobos gelap ditambah si nazaruddin hitamkan langkah demokrat
presiden seprti unyil belajar mengaji
kitapun tertawa dalam selimut yang memerah
seperti gembala yang hanya terdiam di atas kegalauan sang penguasa
menertawai diatas kepala dengan sebilah pedang di tangan
keadilan yang diteriakkan yang datang perang
tua dan muda menjembatani kegelisan kekuasaan
dengan segenap kekuatan bertarung merebut kedamaian
semuanya hadir terhilang dalam satu jaman
yang namanya jaman sosoli bambang yudhono
merngkai kata di dalam nadi yang terdiam
seperti pujangga yang enggan lagi untuk memberontak
terzalimi jaman yang tlah berubah
dimana ketika kekayaan hanyalah sebuah patung
menawarkan kecantikan tetapi seperti ular ketika mata terpejam
hangat sedalam anggun nya mentari namun bisa menjelma dalam hitungan detik menjadi serigala
aku terpenjara dalam kubangan doa
didalam kesendirian kurobek kehormatanku
kengerian hati bercerita dalam syair menatap negeri tak lagi seperti bertuhan
merangsang kesombongan dan mengakari kejahatan,penghianatan,pembunuhan
bersama menerjang membentuk p[ersengkokolan yang maha dashyat
segenap jiwa menumpas kebaikan
sedikit saja pun tak di ijinkan mendekap
menggoeres manusia kebijaksanaan untuk diam serentak
begitulah adanya negeri
terpasung dlam keagungan tuhan
ribuan anak egeri bertelanjang dada terpapah dalam keharmonisan angin malam
bertatapan dengan seribu kenanaran
hampa dan kosong
haknya tlah dimerdekaan dengan kesia siaan
harga diri terbakar di altar kemewahan penatua agama
bijak hatinya berbaju kubah lentera yang terang
tpi hatinya berbicara kemunafikan di ruangan yang kosong
mencaci dan menjadi karang di hati yang penuh kedamaian
memperolok kemerdekaan orang orang bijaksana
dan menebar racun menghitamkan akan harapan dan tersimpan
menakuti anak bangsa
kelaknatan itu hadir menyapa
meneriakain kejaliman dengan sebuah doa dan harapan
harapan adalah napas yang mengalir mendekap sebuah mimpi yang datang dengan segala kemenangan
nmun membutuhkn penantian yang panjang
karena tak ada yang datang tanpa di pikirkan
dan baiknya lah kita untuk bersama untuk menjdi kerikil yang tajam
langkah bangsa tertancap tepat di atas sajadah pertiwi
siapapun berhak untuk berkata
apakah masih ada telinga untuk mendengar
bagi pertanyaan kami yang tarapung diatas samudera korupsi dan nepotisme
kemanakah langkah jejak century..
mengapa si gayus tertawa terpenjara di waktu tujuh tahun
dengan milyaran di lemari berkeramik soeharto
menerobos gelap ditambah si nazaruddin hitamkan langkah demokrat
presiden seprti unyil belajar mengaji
kitapun tertawa dalam selimut yang memerah
seperti gembala yang hanya terdiam di atas kegalauan sang penguasa
menertawai diatas kepala dengan sebilah pedang di tangan
keadilan yang diteriakkan yang datang perang
tua dan muda menjembatani kegelisan kekuasaan
dengan segenap kekuatan bertarung merebut kedamaian
semuanya hadir terhilang dalam satu jaman
yang namanya jaman sosoli bambang yudhono
Senin, 14 November 2011
kabarmu kawan
detak waktu membisu seirama detak jantungku
mendengar kabar dari kawan dri negeri seberang
ilmu itu penting ,itu katamu
raihlah mimpimu ke pulau jawa itu juga katamu
lima tahun dan berlalu
kabar terdengar engkokan pulang
ada cinta dan rindu berdentang menyambut mentari
disudut rumah kutahbiskan pagi untukmu
menantimu
jelang waktu melangkah seorang pria
hitam rambutnya terlihat garang
bajunya kemeja denganuntaian safari batik
peci dikeppala semangat pejuang
dengan senyum engko hardik tatapanku
langkahmu berani menuju ke rumahku.
selamat pagi hendra....
engkau adalah sahabat terbaikku..
hadiah drimu dri negeri jakarta
kotak kecil bersampul merah
kubuka dan kurobek
"laskar pelangi"pelukku tubuhnya dalam genggaman
terimaksih sahabat karena masih mengingatku"bisikku dalam hati
banyak diantara kita yang tlah pergi merantau ,setelah mereka sukses mereka melupakan masa kecilnya bahkan untuk sahabat terbaiknya
ingat....mengingat sahabat masa kecil,sekolah adalah mengingat kita untuk tertawa dan bersemangat kembali ketika jatuh untuk kembali berjuang....
setengah perjalanan kita yang terindah adalh dimana kita untuk berusaha menjadi yang terbaik nbagi hidup
mendengar kabar dari kawan dri negeri seberang
ilmu itu penting ,itu katamu
raihlah mimpimu ke pulau jawa itu juga katamu
lima tahun dan berlalu
kabar terdengar engkokan pulang
ada cinta dan rindu berdentang menyambut mentari
disudut rumah kutahbiskan pagi untukmu
menantimu
jelang waktu melangkah seorang pria
hitam rambutnya terlihat garang
bajunya kemeja denganuntaian safari batik
peci dikeppala semangat pejuang
dengan senyum engko hardik tatapanku
langkahmu berani menuju ke rumahku.
selamat pagi hendra....
engkau adalah sahabat terbaikku..
hadiah drimu dri negeri jakarta
kotak kecil bersampul merah
kubuka dan kurobek
"laskar pelangi"pelukku tubuhnya dalam genggaman
terimaksih sahabat karena masih mengingatku"bisikku dalam hati
banyak diantara kita yang tlah pergi merantau ,setelah mereka sukses mereka melupakan masa kecilnya bahkan untuk sahabat terbaiknya
ingat....mengingat sahabat masa kecil,sekolah adalah mengingat kita untuk tertawa dan bersemangat kembali ketika jatuh untuk kembali berjuang....
setengah perjalanan kita yang terindah adalh dimana kita untuk berusaha menjadi yang terbaik nbagi hidup
Sabtu, 12 November 2011
sang penyair
aku dikatakan adalah awal dri sebuah pertanyaan hati,jiwaku melayang seperti bintang dilangit kadang terang kadang tak terlihat dan kadang pergio seperti pengecut bahkan kadang ak tidak bersinar karena keangkuhan sang bulan kadang memperkosaku.lihat dan rasakanlah ,air dan udara berdamai tawanya menaklukkan para raja raja untuk selalu berdiri di bukit bukit doa mengucapkan kata kata yang terlahir dri kalbu berlutut kepada pemilik segalanya yang tidak bangga dengan apa yang dia lakukan,menjadi bagian dari keinginan itu lah yang ada dipikirannya.sunyi malam kadang juga menjadi batu sandungan bagiku,ketika dinginya menjalin ikatan dengan alam membuka mataku untuk terbawa dalam ingatan masa masa lalu dikala kecil di kampung desa tanah kelahiranku.namun tidakkah kita hanyalah sedekat kematian,kita beranjak merajai segalanya,memiliki permata yang berkilau di bawah kasur kita tapi apakah itu kan menjadi awal dri permulaan yang terhinggap seperti sang waktu diam dan tak bernapas menjadi saksi sejarah dan hilang dikala waktu itu juga menjadi bandit di gurun pasir,mengangkangi kita dengan falsafah pemberontakan yang namanya terdaptar di penjara penjara orang terbuang.semuanya terlihat begitu nyata bahkan kadang aku tertawa menapaki sisa hidupku yang terlair dari kaum kusam,berjuang layaknya sang patriot,berlari mengejar mimpi dibalik buku yang terpasung di kantung celana,uang adalah hak hakiki yang menjadi penguasa sejati yang mampu mengerahkankekuatannya untuk memperdaya manusia manusia yang buas seperti binatang.menghentikan darah yang mengalir dengan satu senyuman ketika uang adalah racun dunia yang mengalir dari suangi kecil di kota kota dimana airnya bersih mampu mengubah hidup dengan seikat jiwa mempertanyakan keilhaman surga dan neraka.tanpa batas meludahi kehidupan tak bermoral dihitannya dunia yang semakin tak menentu kemana akhirnya,kesombongan sudah menjadi sahabat terbaik bagi para insan,kemunafikan tlah bertapa di hati para manusia bijaksana,kerakusan tlah mengalirdi hati para pendeta ktik semuanya berjalan beriringan satupun tak mampu untuk menantang persengkokolan mereka sudah seperti jembatan,sambung menymbung dr anak cucu ke anak cucu bertahta.
kan kukenang di dalam sanubari dan kuingat di sepanjang sejarah,peristiwa peristiwa yang pernah hadir di bumi indonesia,ada cerita tragedi dimana bencana selalu menjadi topik pilihan ada kemunafikan bangsa ketika agama di perdebatkan ada kerakusan kaum intelektual yang otoriter berbicara lauaknya sang maestro yang menyimpan dalih dalih dunia menghina bangsa sendiri ada penghianata di barisan garda bangsa ketika kebiadaban para pejabat berdansa di altar altar para kezaliman semua beradu dengan argumentasi si kaum bodoh tertawa dan menahbiskan dirinya di sungai mahakam mungkin menjadi suatu pilihan.membisu layyaknya sang pengecut di bukit bukit doa,menyiratkan seseorang akan di kirm sang pencipta untuk mentahbiskan sesautu harapan di sepanjang kehidupan,yang terlahir dari perut ibu yang adil dan darahnya dialiri dengan kejujuran dimana tangan kanannya menggenggam erat pedang kebaikan dan di kirinya rantai bumi yang siap menghanguskan kaumsa bertanya ,berjilat liodah,berbohong,provokator penghancur bangsa dan sebagainya yang bisa membuat pancasula enggan untuk terbang di langit bumi nusantara
dimanakah kita kan mencari sesuatu kebijaksaan yang terlahir beralaskan kejujuran,apakah mereka bersembunyi jauh di pulau pulau,bertapa menanti saatnya merek untuk menyebar ,menawarkan sejuta kebaikan tersalib di depan rumah situan yang bejat,terdengarkah langkah sang pangeran yang berjalan dengan sandal yang terpampang di pinggang,yang tlah berjalan dari timur ke selatan dan begitu jg sebaliknya yang mengatakan bahwa tibalah saatnya kita mentahbiskan sebagian dari nama kita untuk di perdebaytkan di rumah rumah ibadah,menunnjuk salah satu diantara kita untuk menjadi pemimpin bangsa dan kita hanyalah bisa berharap sepenggal perjalanan kan indah rasanya meski nyawa anak bangsa tergadai diperangan melonjak dan bersama seperti layaknya serigala yang haus akan dendam dan merobek robek daging manusia yang sehat dan segar untuk dijadikan sembelihan anak bangsa.kita jadikan diri kita menjadi dinding dinding pemberontakan,kita berlari dari istana ke istana yang lain untuk mempertanyakan dimana hasil panen saudaraku yang kemarin,dimana rumah ibu ku yang kemarin dan dimana anak gadisku yang kemarin yang kau rampok dengan kerakusan serigala dan begitu jga kita layaknya darah di balas darah serigala yang kirim kerumahku kubalas dengan serigala yangkan kuhabisi di tahta istanamu.tatapi apakah kitakan keka;l selamanya ,jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan,tidak saudaraku baiknya kita menbghitung hari dengan kita mempertanyakankehjaliman dosa dosa mereka dihadapan juri yang kita anggap suci,para ibu ibu dan anak anak yang mengerti tentang ilahi.kesabaran kita adalah ujung tombak pemberontakan,kita bergerilya bergerilya dari daerah ke daerah lain,kita membentuk imperialisme dan koloni koloni yang berajaskan kesukarelawan dan cinta tanah air .kita berlari dengan seiramana detak jantung menghadang ribuan tentara yang dibuat oleh pemerintah,kita mengajari anak kita apa arti dari ketuhanan,perang dan kebersamaan dan saling menghormati biar kelak kita kalah mereka mampu untuk melanjutkan apa yang sepantasnya mereka perjuangkan dan mereka tidak pengecut seperti kita dimana stngah hidup kita di jadikan oleh kaum intelek menjadi sapi perahan bangsa.terdampar di hamparan sebuah kejaliman bangsa dimana ketika para penguasa yang hanya bisa menyalakan api,membakar semua kesejahteraan rakyat,mereka para koruptor seperti hantu yang bergentayangan mencekik siapa saja yang bisa di cekik membuat sejarah untuk mereka bahwa mereka adalah binatang berbuli domba tapi singa di dalam jantungnya,si raja tega.
kan kukenang di dalam sanubari dan kuingat di sepanjang sejarah,peristiwa peristiwa yang pernah hadir di bumi indonesia,ada cerita tragedi dimana bencana selalu menjadi topik pilihan ada kemunafikan bangsa ketika agama di perdebatkan ada kerakusan kaum intelektual yang otoriter berbicara lauaknya sang maestro yang menyimpan dalih dalih dunia menghina bangsa sendiri ada penghianata di barisan garda bangsa ketika kebiadaban para pejabat berdansa di altar altar para kezaliman semua beradu dengan argumentasi si kaum bodoh tertawa dan menahbiskan dirinya di sungai mahakam mungkin menjadi suatu pilihan.membisu layyaknya sang pengecut di bukit bukit doa,menyiratkan seseorang akan di kirm sang pencipta untuk mentahbiskan sesautu harapan di sepanjang kehidupan,yang terlahir dari perut ibu yang adil dan darahnya dialiri dengan kejujuran dimana tangan kanannya menggenggam erat pedang kebaikan dan di kirinya rantai bumi yang siap menghanguskan kaumsa bertanya ,berjilat liodah,berbohong,provokator penghancur bangsa dan sebagainya yang bisa membuat pancasula enggan untuk terbang di langit bumi nusantara
dimanakah kita kan mencari sesuatu kebijaksaan yang terlahir beralaskan kejujuran,apakah mereka bersembunyi jauh di pulau pulau,bertapa menanti saatnya merek untuk menyebar ,menawarkan sejuta kebaikan tersalib di depan rumah situan yang bejat,terdengarkah langkah sang pangeran yang berjalan dengan sandal yang terpampang di pinggang,yang tlah berjalan dari timur ke selatan dan begitu jg sebaliknya yang mengatakan bahwa tibalah saatnya kita mentahbiskan sebagian dari nama kita untuk di perdebaytkan di rumah rumah ibadah,menunnjuk salah satu diantara kita untuk menjadi pemimpin bangsa dan kita hanyalah bisa berharap sepenggal perjalanan kan indah rasanya meski nyawa anak bangsa tergadai diperangan melonjak dan bersama seperti layaknya serigala yang haus akan dendam dan merobek robek daging manusia yang sehat dan segar untuk dijadikan sembelihan anak bangsa.kita jadikan diri kita menjadi dinding dinding pemberontakan,kita berlari dari istana ke istana yang lain untuk mempertanyakan dimana hasil panen saudaraku yang kemarin,dimana rumah ibu ku yang kemarin dan dimana anak gadisku yang kemarin yang kau rampok dengan kerakusan serigala dan begitu jga kita layaknya darah di balas darah serigala yang kirim kerumahku kubalas dengan serigala yangkan kuhabisi di tahta istanamu.tatapi apakah kitakan keka;l selamanya ,jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan,tidak saudaraku baiknya kita menbghitung hari dengan kita mempertanyakankehjaliman dosa dosa mereka dihadapan juri yang kita anggap suci,para ibu ibu dan anak anak yang mengerti tentang ilahi.kesabaran kita adalah ujung tombak pemberontakan,kita bergerilya bergerilya dari daerah ke daerah lain,kita membentuk imperialisme dan koloni koloni yang berajaskan kesukarelawan dan cinta tanah air .kita berlari dengan seiramana detak jantung menghadang ribuan tentara yang dibuat oleh pemerintah,kita mengajari anak kita apa arti dari ketuhanan,perang dan kebersamaan dan saling menghormati biar kelak kita kalah mereka mampu untuk melanjutkan apa yang sepantasnya mereka perjuangkan dan mereka tidak pengecut seperti kita dimana stngah hidup kita di jadikan oleh kaum intelek menjadi sapi perahan bangsa.terdampar di hamparan sebuah kejaliman bangsa dimana ketika para penguasa yang hanya bisa menyalakan api,membakar semua kesejahteraan rakyat,mereka para koruptor seperti hantu yang bergentayangan mencekik siapa saja yang bisa di cekik membuat sejarah untuk mereka bahwa mereka adalah binatang berbuli domba tapi singa di dalam jantungnya,si raja tega.
sudahimu di hamparan hidupmu
masih selalu saja angan ini melayang
dri hari kehari masih seperti dulu
terbawa dan hinggap sebentar saja
memikirkanmu di senja menunggui sesuatu yang pernah engkau janjikan
jantung berdebar setiap tahun yang kunanti
ditanggal yang sama dan dibangku taman yang sama
engkau katakan dengan suara manjamu
dan kini n itu seperti utang yg kupegang teguh dibawah kakiku
menantimu
hinggap dan berlalu
sudahimu dihamparan awan putih
berat seperti ku tlah tertawan penjara cintamu
hantumu dan segenap kenangan itu masih selalu merasuki
membuatku seperti patung yang berdiri
dimana pikirannya tlah tercampak di kedustaan yang tak bertepi
menghalau jauh seperti kegetiran malam
menopang ketidakberdayaan tubuh
pasrah terdiam dialtar para manusia terhina
gilakah aku dengan cinta yang tlah kutancapkan di gerbang kotaku
senja menamparku dengan hujan yang menderu diatas rumahku
kurebahan beralaskan sebuah kebodohan
kembali mencari cari wajahmu yg enggan bernyanyi
kusebut namamu dikegetiran sebuah realita janji yang terpendam
adakah cintamukan bersamaku selamanya
ataukah in hanyalah sbuah kutukan padaku
janjimu seakan akan tlah menertawaiku
cintamu tlah menghembuskan kegilaanku tentang sang malam
apakah malam tak lagi bersekutu tentangku
pergikah dia dengan sang kekasih
disini kutlah tancapkan sebuah birahi percintaan
kegalauan hati yang mewangi hempaskan noda noda hakiki
bertanya tapi tak dijawab
seperti apakah cinta yg engkau berikan ini adinda
mengpa engkau jerat aku seperti sang binatang
kau tuntun cintamu dengan segenap keikhlasan
sang penyanjung melewati sebongkah harapan pergi dan tak berpamitan
aku cinta diatas langit malam
dan biarkanlah cinta ini menjadi pedang bagiku
penantian yang tersisih hilang sperti jamur di batang batang tua
senja itu mengingatkanku
mengenangmu adalah serigala bagiku
kelaparanku kan menjadi batu sejarah kebangkitan bangsa bangsa
dan cintaku kan terlahir bersemi di atas bukit kemegahan
dri hari kehari masih seperti dulu
terbawa dan hinggap sebentar saja
memikirkanmu di senja menunggui sesuatu yang pernah engkau janjikan
jantung berdebar setiap tahun yang kunanti
ditanggal yang sama dan dibangku taman yang sama
engkau katakan dengan suara manjamu
dan kini n itu seperti utang yg kupegang teguh dibawah kakiku
menantimu
hinggap dan berlalu
sudahimu dihamparan awan putih
berat seperti ku tlah tertawan penjara cintamu
hantumu dan segenap kenangan itu masih selalu merasuki
membuatku seperti patung yang berdiri
dimana pikirannya tlah tercampak di kedustaan yang tak bertepi
menghalau jauh seperti kegetiran malam
menopang ketidakberdayaan tubuh
pasrah terdiam dialtar para manusia terhina
gilakah aku dengan cinta yang tlah kutancapkan di gerbang kotaku
senja menamparku dengan hujan yang menderu diatas rumahku
kurebahan beralaskan sebuah kebodohan
kembali mencari cari wajahmu yg enggan bernyanyi
kusebut namamu dikegetiran sebuah realita janji yang terpendam
adakah cintamukan bersamaku selamanya
ataukah in hanyalah sbuah kutukan padaku
janjimu seakan akan tlah menertawaiku
cintamu tlah menghembuskan kegilaanku tentang sang malam
apakah malam tak lagi bersekutu tentangku
pergikah dia dengan sang kekasih
disini kutlah tancapkan sebuah birahi percintaan
kegalauan hati yang mewangi hempaskan noda noda hakiki
bertanya tapi tak dijawab
seperti apakah cinta yg engkau berikan ini adinda
mengpa engkau jerat aku seperti sang binatang
kau tuntun cintamu dengan segenap keikhlasan
sang penyanjung melewati sebongkah harapan pergi dan tak berpamitan
aku cinta diatas langit malam
dan biarkanlah cinta ini menjadi pedang bagiku
penantian yang tersisih hilang sperti jamur di batang batang tua
senja itu mengingatkanku
mengenangmu adalah serigala bagiku
kelaparanku kan menjadi batu sejarah kebangkitan bangsa bangsa
dan cintaku kan terlahir bersemi di atas bukit kemegahan
Rabu, 09 November 2011
kerinduan ku
Kankukenangdrimu diatas sajadah cinta
Kisah itu mengalir membuka jiwa matiku untuk berkelana
Mencari wajahmu di balik bodohku tuk menggapainya
Kisah itu seakan menyelimutiku untuk memelukmu
mencinatai tanpa henti
Hingga waktupun memaki
Bersemi diantara perbedaan yang memerah
Engkau hanya pergi dengan sejuta kata
Mimpi yg terpasung bersanding dengan kisah
Leburkan kedamaian kenistaan akan sebuah pertanyaan
Ketika kepntaranku hanyalah jendela kekalahanku
Bersemi diantara kegelapan
Menyeberang ke samudera tak bertepi
Hinggap dan terganjal dalam relung kemiskinan
Terperosok jauh ke jembatan prangkubowono
Menanti waktu membelah pikiran
Penghianat di garis peristiwa
Kelam menghinggapi menampar di kejauhan kebenaran
Seperti babi terperangkap dijebakan pangeran senayang
Aku hanyalah buain kebodohan terganjal dibalik kepentaran
Sewaktu waktu hanyalah sebuah harapan
Ketika negeri menawarkan segalanya dengan sebongkah emas dan permata
Ceritakanlah padaku sebuah realita cinta
Lintang samudera membuka mataku
Lihatlah ak tlah berdiri diatas samudera
Aku cymbal
Kisah itu mengalir membuka jiwa matiku untuk berkelana
Mencari wajahmu di balik bodohku tuk menggapainya
Kisah itu seakan menyelimutiku untuk memelukmu
mencinatai tanpa henti
Hingga waktupun memaki
Bersemi diantara perbedaan yang memerah
Engkau hanya pergi dengan sejuta kata
Mimpi yg terpasung bersanding dengan kisah
Leburkan kedamaian kenistaan akan sebuah pertanyaan
Ketika kepntaranku hanyalah jendela kekalahanku
Bersemi diantara kegelapan
Menyeberang ke samudera tak bertepi
Hinggap dan terganjal dalam relung kemiskinan
Terperosok jauh ke jembatan prangkubowono
Menanti waktu membelah pikiran
Penghianat di garis peristiwa
Kelam menghinggapi menampar di kejauhan kebenaran
Seperti babi terperangkap dijebakan pangeran senayang
Aku hanyalah buain kebodohan terganjal dibalik kepentaran
Sewaktu waktu hanyalah sebuah harapan
Ketika negeri menawarkan segalanya dengan sebongkah emas dan permata
Ceritakanlah padaku sebuah realita cinta
Lintang samudera membuka mataku
Lihatlah ak tlah berdiri diatas samudera
Aku cymbal
Langganan:
Postingan (Atom)
