Apakah ada di hidupku sebuah cerita
Aku yang tak pernah merasakan surga
Mulutku tlah membisu di altar awan putij
Buta mataku melijat para kaum bijaksana
Berbicara dengan ayat ayat tuhan
Berbuat dengan perangai ilahi
Dan berdosa diatas kasur yang empuk
Menjilati kerakusan di atas kepala
Tiada henti
Kamis, 28 Juni 2012
sahabat debu
Engkaup pernah menjadi debu di pikiran hitamku
Merasukiku ttg kenistaan di ambang para perawan
Kita berdansa di lubah api yang terjal
Menyantap semua perbudakan di ilalang tanah kering
Menangisi waktu yang kan menjadi musuh
Seperti apakah engkau kini
Lama tak kudengar suaramu
ketika klematian datang tubuhmu talah menjadi debu
Terlihat seolah kumbang yg enggan bertarung
Tertidur di selokan selokan berair
Kudis tlah menjadi selimutmu
Dan tangisanmu tlah menjadi air di efrata
Tangan tangan ilahi enggan untuk menyapamu
Tak ada belas kasihan yang datang
sepi hidupmu sendiri di hutan belantara
Kering tanpa sepatah katapun
Terdengar diammu tlah bersama dengan alam
Merasukiku ttg kenistaan di ambang para perawan
Kita berdansa di lubah api yang terjal
Menyantap semua perbudakan di ilalang tanah kering
Menangisi waktu yang kan menjadi musuh
Seperti apakah engkau kini
Lama tak kudengar suaramu
ketika klematian datang tubuhmu talah menjadi debu
Terlihat seolah kumbang yg enggan bertarung
Tertidur di selokan selokan berair
Kudis tlah menjadi selimutmu
Dan tangisanmu tlah menjadi air di efrata
Tangan tangan ilahi enggan untuk menyapamu
Tak ada belas kasihan yang datang
sepi hidupmu sendiri di hutan belantara
Kering tanpa sepatah katapun
Terdengar diammu tlah bersama dengan alam
tangisku
Menatap indah wajahmu di balik kebodohanku
Mengharapkan kejaiban keci yang dtang sperti sengatan lebah
Sadarkanku bahwa cinta ini tak selamanya ondah
Tawamu mendamaikan segenap penghuni surga
Dan tangisku tersisih di kubangan dosa
Perbedaan yang didepan takkan pernah sirna
Dan meskipun akan ada hari yang cerah
kuhanyutkan semuanya tenggelam di samudera kekalahan
Mengharapkan kejaiban keci yang dtang sperti sengatan lebah
Sadarkanku bahwa cinta ini tak selamanya ondah
Tawamu mendamaikan segenap penghuni surga
Dan tangisku tersisih di kubangan dosa
Perbedaan yang didepan takkan pernah sirna
Dan meskipun akan ada hari yang cerah
kuhanyutkan semuanya tenggelam di samudera kekalahan
Rabu, 27 Juni 2012
engkau pelacur malam
Terdiamku mendengar tangisanmu
Tak mampu raga ini membelaimu
Memberikan cerita agar kaupun terhenti
Dari resah hidupmu yang hitam
Engkau berjalan dengan tanganmu
Menghapus luka di balik cerita malam
Dan engkau selalu tak gentar menghadapi hidup
Meski kadang mereka menghina hidupmu
Engkau pelacur malam
Tetaplah tersenyum
Waktunya kan tiba engkaukan tertawa
Engkau pelacur malam jiwakan damai
Sedamai hatimu tuk selalu ter senyum
Tak mampu raga ini membelaimu
Memberikan cerita agar kaupun terhenti
Dari resah hidupmu yang hitam
Engkau berjalan dengan tanganmu
Menghapus luka di balik cerita malam
Dan engkau selalu tak gentar menghadapi hidup
Meski kadang mereka menghina hidupmu
Engkau pelacur malam
Tetaplah tersenyum
Waktunya kan tiba engkaukan tertawa
Engkau pelacur malam jiwakan damai
Sedamai hatimu tuk selalu ter senyum
seberapa lama aku bisa bertahan
Napasku hanya bisamerintih menahan sakit yang dalam
Ketakutan itu kembali menyeruak seperti hantu yang siap menerjang
Aku tak berdaya menantang mentari
Kubiarkan satu persatu bayang bayang itu pergi entah kemana
Lelah menghinggapi menutup semua pintu celah nadiku
Untuk bangkit kembali.
Apakah ada yang kutanyakan ketika hari berganti dengan hari kuhanya bisa tertahan di samudera kekalahan
Pikirku tak lagi segarang yang dulu
Ada dualisme kepengecutan bertunas kembali
Menaburi kisahku dengan debu debu keserakahan
Terjatuhkan aku kembali dalam kubangan kejahatan
Atau adakah pertolongan itu hadir kembali
Secepat apakah aku bisa untuk kembali ke atas
Apakah terlambat aku berlari
Aku melihat tapi pikiranku ada di awang
Enggan kembali krn tlah tersirup dlm keangkuhan
Menanti ajal layaiknya sang pengecut
Hanya itu yang kubisa!!
Seberapa lama aku bisa bertahan???
Ketakutan itu kembali menyeruak seperti hantu yang siap menerjang
Aku tak berdaya menantang mentari
Kubiarkan satu persatu bayang bayang itu pergi entah kemana
Lelah menghinggapi menutup semua pintu celah nadiku
Untuk bangkit kembali.
Apakah ada yang kutanyakan ketika hari berganti dengan hari kuhanya bisa tertahan di samudera kekalahan
Pikirku tak lagi segarang yang dulu
Ada dualisme kepengecutan bertunas kembali
Menaburi kisahku dengan debu debu keserakahan
Terjatuhkan aku kembali dalam kubangan kejahatan
Atau adakah pertolongan itu hadir kembali
Secepat apakah aku bisa untuk kembali ke atas
Apakah terlambat aku berlari
Aku melihat tapi pikiranku ada di awang
Enggan kembali krn tlah tersirup dlm keangkuhan
Menanti ajal layaiknya sang pengecut
Hanya itu yang kubisa!!
Seberapa lama aku bisa bertahan???
Minggu, 24 Juni 2012
Lambat launkan mereka tahu ada saatnya nanti kehormatan yang pernah kalah akan menemukan waktunya untuk kembali berjuang
Aku memilih jalan yang penuh batu dan kerikil dripada aku memilih jalan yang penuh dengan kedamain,krna terkutuklah orang yang menganggap hidup hanya sementara.hidup adalah apa yang ada di hatimu maka bersiaplah jgn jadikan hidupmu penuh dgn kemaksiatan
Menyerah tak ada dalam otakku tp mengalah adalah bagian dr perjlananku
Mewarnai hidup dengan seggenggam keberanian
Melawan dunia dengan seikat kejujuran
Dan menjadi pecundang hanya sekali
Tibalah saatnya kita bangkit dri kebodohan
Aku memilih jalan yang penuh batu dan kerikil dripada aku memilih jalan yang penuh dengan kedamain,krna terkutuklah orang yang menganggap hidup hanya sementara.hidup adalah apa yang ada di hatimu maka bersiaplah jgn jadikan hidupmu penuh dgn kemaksiatan
Menyerah tak ada dalam otakku tp mengalah adalah bagian dr perjlananku
Mewarnai hidup dengan seggenggam keberanian
Melawan dunia dengan seikat kejujuran
Dan menjadi pecundang hanya sekali
Tibalah saatnya kita bangkit dri kebodohan
cinta yang kalah
Dimanakah sesuatu yang indah
Apakahkan kutemukan
Wanita yang bisa membuatku tersenyum
Dikala mentari membunuhku
Tak ada yang bisa aku katakan
Tak mungkin semuanya hanyalah cinta
Bersinar seperti $mentari yang kehijauan
Lalu memerah dengan murka menyakitiku
Gentar menyapa hentakan cahaya fajar
Berselimut erangan kelaparan aku terburai
Ada cinta yang semestinya berbunga
Tengkurap enggan mati di tanah yang tak ada dosa
Bila dunia yang ingin mengalahkan hatimu
Kubiaskan hitam dibelakangku
Semuanya takkan pernah berlalu
Kutakbisa memberi kehormatan di tangan kananmu
Apakahkan kutemukan
Wanita yang bisa membuatku tersenyum
Dikala mentari membunuhku
Tak ada yang bisa aku katakan
Tak mungkin semuanya hanyalah cinta
Bersinar seperti $mentari yang kehijauan
Lalu memerah dengan murka menyakitiku
Gentar menyapa hentakan cahaya fajar
Berselimut erangan kelaparan aku terburai
Ada cinta yang semestinya berbunga
Tengkurap enggan mati di tanah yang tak ada dosa
Bila dunia yang ingin mengalahkan hatimu
Kubiaskan hitam dibelakangku
Semuanya takkan pernah berlalu
Kutakbisa memberi kehormatan di tangan kananmu
Selasa, 19 Juni 2012
rindu
Bila kuingat saat saat yang indah
Terbayangkan sudah betapa kutak mampu
Tuk lupakan cintamu
Hadirkan sejuta kisah yang terindah
Sampai mati cinta inikan abadi
Kukenang kembali waktu yang tlah pergi
Kusimpan semuanya di dalam doaku
Berharap ada kisah yng tersisa
Mengingati kembali cerita yang pernah engkau janjikan
Disini kusetia menanti
Meski enggan ku mencari
Tetapi hatiku ini tak mampu tuk katakan rindu
Yang berlahan ingin pergi
Mengapa kutakbisa tuk melupakan artimu
Dihadapan tahta ku yng tenggelam diantara perbedaan yang menjuangh
Terbayangkan sudah betapa kutak mampu
Tuk lupakan cintamu
Hadirkan sejuta kisah yang terindah
Sampai mati cinta inikan abadi
Kukenang kembali waktu yang tlah pergi
Kusimpan semuanya di dalam doaku
Berharap ada kisah yng tersisa
Mengingati kembali cerita yang pernah engkau janjikan
Disini kusetia menanti
Meski enggan ku mencari
Tetapi hatiku ini tak mampu tuk katakan rindu
Yang berlahan ingin pergi
Mengapa kutakbisa tuk melupakan artimu
Dihadapan tahta ku yng tenggelam diantara perbedaan yang menjuangh
Minggu, 17 Juni 2012
sebuah risalah
Kuatkanlah aku dengan puisimu
Kerjakanlah bagiku apa yang baik bagimu
Dan jangan engkau tanyakan
Satu katapun tentangku
Krna aku sudah lama mati
Katakanlah bila aku seorang pengecut
Krna jari ini dan selamanua aku sudah menyerupai debu
Dan jangan engkau pernah engkau menghinaku
Kran ucapanmu bisa membangkitkanku dri kematian
Biarkanlah waktu yang menguning membelai kisahku
Dibalik terang ternyata aku bukanlah seoran insan
Jubahku merah semerah kegatalan kulitku
Menemaniku menanti duniaku yangkan hancur
Tak terkatakan bila aku adalah gila
Kegilaan ini krna aku tak bisa mengatakan
Ada yang lebih penting dri kemerdekaan
Membela kaun susah dihadapan para mahkamah
Kerjakanlah bagiku apa yang baik bagimu
Dan jangan engkau tanyakan
Satu katapun tentangku
Krna aku sudah lama mati
Katakanlah bila aku seorang pengecut
Krna jari ini dan selamanua aku sudah menyerupai debu
Dan jangan engkau pernah engkau menghinaku
Kran ucapanmu bisa membangkitkanku dri kematian
Biarkanlah waktu yang menguning membelai kisahku
Dibalik terang ternyata aku bukanlah seoran insan
Jubahku merah semerah kegatalan kulitku
Menemaniku menanti duniaku yangkan hancur
Tak terkatakan bila aku adalah gila
Kegilaan ini krna aku tak bisa mengatakan
Ada yang lebih penting dri kemerdekaan
Membela kaun susah dihadapan para mahkamah
seperti orang gila aku melihatnya
Tak kukatakan apa lagi yang membius kepala otakku
Biarlah semuanya seperti api yang mencengkeramku
Dihujatan neraka yang bersanding kaum beringas
Dihadapan para raja raja kita terbebas
Seperti keringat yang tak pernah malu
Mengalir dan mengaliri ke tubuh renta
Kembalikankanlah kita di waktu yang tak bertelinga
Seribu persoalan datang menanti di pintu kota
Jeritab bayi meringis menahan lapar
Banyak lagi keserakahan yang tersembunyi di gedung gedung berdinding kaca
Pemuda terpanggang tubuhnya di kesunyian malam
Seperti orang gila aku melihatnya
Seperti hantu kumelihat wajahnya
Sangat tidak berjiwa garuda bila aku menanyakan
Apakah kehormatan negeri ini masih ada!!
Biarlah semuanya seperti api yang mencengkeramku
Dihujatan neraka yang bersanding kaum beringas
Dihadapan para raja raja kita terbebas
Seperti keringat yang tak pernah malu
Mengalir dan mengaliri ke tubuh renta
Kembalikankanlah kita di waktu yang tak bertelinga
Seribu persoalan datang menanti di pintu kota
Jeritab bayi meringis menahan lapar
Banyak lagi keserakahan yang tersembunyi di gedung gedung berdinding kaca
Pemuda terpanggang tubuhnya di kesunyian malam
Seperti orang gila aku melihatnya
Seperti hantu kumelihat wajahnya
Sangat tidak berjiwa garuda bila aku menanyakan
Apakah kehormatan negeri ini masih ada!!
Selasa, 12 Juni 2012
kegalauan hati
Kemanakah langkah inikan pergi,jauh sudah aku mendaki gunung tua yang terjal tetapai kaki ini selalu penasaran untuk mencari hidup lebih berarti.sendiri dikota batam tanpa saudara dan sahabat serta sanak family kujalani waktu dengan senyuman dan sisa engharapanku ttg adanya hidup yg lebih baik dimana sebuah perjalanan yang besar menantiku di ujung waktu yuang tak pernah memikirkanku.dah tiga tahun waktu tlah berjalan tanpa mimpi,cinta dan pengharapan.aku hidup di liang debu yang sumpek,najis dan kehitaman,caci maki dalah hidupku,diludahi adalah takdirku krna semanya demi hidup bahkan angin pun enggan tuk membelaiku krna dosaku mampu mengalahkan cerita kehebatan jaman romawi.dalam diam aku bertanya dalam gelap malam aku mencoba meraba apakah ada insan yang perlu dicinta dan mencinta!apakah ada yangkan menjadi sayap sayapku menerbangkan semua mimpi ini langsung ke sebelah tahta yang kuasa.
Bisikku di dalam hati!!
Apakah ada seseorang yangkan menyelamatkanku??
Bisikku di dalam hati!!
Apakah ada seseorang yangkan menyelamatkanku??
Senin, 11 Juni 2012
menanti waktu
Enggan aku bertanya ttg hembusan debu
Semuanya mati seperti paradigma tak bersalah
Satu bicaara jujur dan satu bicara kejahatan
Bersatu seperti awan dilangit
Teriakin anak negeri enggan untuk terbang
Mencoba berlari dikala musim semi
Kisah yg hadir di balik sandiwara para situan bijak
Menghilang dan sembunyi doi ruangan gelap
Menanti waktu
Kembali memberi kehebatan di akhir dunia
Mengerti dan menghempaskan semua kejiwaan yang kalah diambang pintu rumah saudara
Siapakah kita yang hanya menunggu
Ketika rembulan stngah hati menemani kepakkan bintang di bawah utara
Menerjang kehijauan di atas kebohongan
Semuanya mati seperti paradigma tak bersalah
Satu bicaara jujur dan satu bicara kejahatan
Bersatu seperti awan dilangit
Teriakin anak negeri enggan untuk terbang
Mencoba berlari dikala musim semi
Kisah yg hadir di balik sandiwara para situan bijak
Menghilang dan sembunyi doi ruangan gelap
Menanti waktu
Kembali memberi kehebatan di akhir dunia
Mengerti dan menghempaskan semua kejiwaan yang kalah diambang pintu rumah saudara
Siapakah kita yang hanya menunggu
Ketika rembulan stngah hati menemani kepakkan bintang di bawah utara
Menerjang kehijauan di atas kebohongan
dia
Indah kurangkai kembali
Cerita cinta yang tlah lama mati
Meski dirimu tak lagi seindah yang dlu
Hitam wangimu senggem kekuasaan sang langit
Kankupuji didalam hatiku
Kekuatan terbesarmu mengakui dirmu siapa
Tak kuragykan cinta inikan menjadi kecupan
Selamanya kan menjadi setitik sinar
Sinar kehidupan dibawah cinta yg tlah usang
Jelaskanlah apakah sang nabi jg enggan berpuisi
Ketika bintang bintang dilangit menebarkan aroma kejantanan
Terpaku di velenggu dunia yang biru
Menanti raga bersembunyi di kalbu kejujuran
Waniyta adalah kehormatan sang agung
Cerita cinta yang tlah lama mati
Meski dirimu tak lagi seindah yang dlu
Hitam wangimu senggem kekuasaan sang langit
Kankupuji didalam hatiku
Kekuatan terbesarmu mengakui dirmu siapa
Tak kuragykan cinta inikan menjadi kecupan
Selamanya kan menjadi setitik sinar
Sinar kehidupan dibawah cinta yg tlah usang
Jelaskanlah apakah sang nabi jg enggan berpuisi
Ketika bintang bintang dilangit menebarkan aroma kejantanan
Terpaku di velenggu dunia yang biru
Menanti raga bersembunyi di kalbu kejujuran
Waniyta adalah kehormatan sang agung
Sabtu, 09 Juni 2012
cinta yg terlambat
Hanya diam yang bisa aku lakukan
Ternyata cintamu hilang dihadapanku
Lelah hati ini melukiskan dirimu
Mengagumimu tanpa engkaupun tahu
dlam hidupku hanyalah dirimu
Yg terlukis dlm kesendirian
Mengagumimu di bawah bodohku
Terlahirkan seribu puisi
Samapai kapankah cinta ini terdengar
Bagaikan pelangi di musim hujan
Apakah cintya ini kan berakhir bahagia
Aku yg terlambat mengatakan cinta
Adakah waktuikan menjadi penyelamatku
Bagi hidupku yuang penuh dngan kekalahan
Mengapa harus kurelakan semuanya pergi
Tanpa kusadari engkaulah terbaik untukku
Ternyata cintamu hilang dihadapanku
Lelah hati ini melukiskan dirimu
Mengagumimu tanpa engkaupun tahu
dlam hidupku hanyalah dirimu
Yg terlukis dlm kesendirian
Mengagumimu di bawah bodohku
Terlahirkan seribu puisi
Samapai kapankah cinta ini terdengar
Bagaikan pelangi di musim hujan
Apakah cintya ini kan berakhir bahagia
Aku yg terlambat mengatakan cinta
Adakah waktuikan menjadi penyelamatku
Bagi hidupku yuang penuh dngan kekalahan
Mengapa harus kurelakan semuanya pergi
Tanpa kusadari engkaulah terbaik untukku
Jumat, 08 Juni 2012
guratan jiwa
Dipersimpangan kusimpan sebuah angan
Terbalik dikertas putih tanpa coretan
Kutimang senja yang terhempas dikejauhan malam
Masih adakah waktukan kembali tersenyum
Bagi kami yang tertinggal di keagungan sang rembulan
Kupaksa mata ini patuh pada alibi
Kuakali napasku agar tetap setia menungguiku
Menyepi seperti angin yang pergi ke arah samudera
Berlari tanpa suara di alam raya
Berlalu tanpa ada kesenjangan yang terpatri ditaman taman kehidupan
Gilakah manusia yg beradab yang sisa mimpinya terapung di dunia tanpa kata
Ataukah hanya selembaran yang terhinggap di atas tiang kehidupan
Berbaris satu persatu seperti awan yanh di atas sana
Enggan untuk mengatakan
Kemunafikan tlah menyelimuti hati para kaum bijak
Yang tanpa nama mencoreng jiwa yang terkecil dibutiran debu
apapun yang didepan dengan gagahnya menerjang yang perlu diterjang
Hingga suatu hari nanti kegentaran kaum pemberontak menyesal terlahir kembali
Terbalik dikertas putih tanpa coretan
Kutimang senja yang terhempas dikejauhan malam
Masih adakah waktukan kembali tersenyum
Bagi kami yang tertinggal di keagungan sang rembulan
Kupaksa mata ini patuh pada alibi
Kuakali napasku agar tetap setia menungguiku
Menyepi seperti angin yang pergi ke arah samudera
Berlari tanpa suara di alam raya
Berlalu tanpa ada kesenjangan yang terpatri ditaman taman kehidupan
Gilakah manusia yg beradab yang sisa mimpinya terapung di dunia tanpa kata
Ataukah hanya selembaran yang terhinggap di atas tiang kehidupan
Berbaris satu persatu seperti awan yanh di atas sana
Enggan untuk mengatakan
Kemunafikan tlah menyelimuti hati para kaum bijak
Yang tanpa nama mencoreng jiwa yang terkecil dibutiran debu
apapun yang didepan dengan gagahnya menerjang yang perlu diterjang
Hingga suatu hari nanti kegentaran kaum pemberontak menyesal terlahir kembali
Langganan:
Postingan (Atom)
