Kamis, 10 Maret 2011

embun pagi

kemilau awan menerawang melompati batinku
Serentak kata tertaancap di kemerahan mentari
Ada cinta terlahir di aakhir perjalaanaan
Meneriaki setengaah dendam yaang menyapa
Kaata hati hitaamkaan sebongkaah alasan
Mengapa pagi tak laagi merekah
Te

Selasa, 08 Maret 2011

mati

tak lagi aku berani
kata kata tlah pergi menghitung hari
langkahku hanya selangkah
sepi seperti di alam ghaib
malaikat tersenyum menghampiriku
kurebahkan tubuhku i atas lelah hidup ini
berhenti melangkah
selamanya

sebuah rahasia

mataku tak bisa lagi membodohi pikirku
aku hanya bisa...
hanya memandangi wajahmu dari meja kelasku
indahmu kalah kan keanggunan puri keraton
kederhanaanmu lambangkan putri indonesia
aku tersipu ..
ketika mentari tertidur menanti malam
biarkanlah waktu yang berdentang
cintaku terdiam di hamparan kekalahanku

hanya sebuah mimpi

aku dilahirkan di atas manusia kalah
lihatlah saudara..
aku dan kamu adalah berasal dari tanah yang sama
mimpi kita adalah mimpi para manusia bijaksana
kita kan beriringan seiring waktu yang berputar
meraih mimpi dri kekalahan
bangkit dari penderitaan
berlari dari cengkeraman pengecut
bermimpilah para kawanan
sebelum mimpi itu menjadi musuhmu
perjalanan bukanlah sebuah persahabatan
dan bukan juga sebuah peristiwa menjengkelkan
perjalanan adalah sebuah perubahan
perubahan untuk berani maju di depan
meraih pelangi di angkasa
kembali di saat senja tertidur di balik bulan

hidup hanya sekali

tertawalah ..
smapaikan resahmu di balik bunga seroja
bawalah sekuintum harapan di balik kehampaan malam
tersembunyi sebuah misteri beralaskan sebuah mimpi

bijaklah dengan hatimu
jangan karamkan kejujuranmu demi sangkakala kemewahan
taburilah perkataanmu mu dengan sinar pelangi
bukankah hidup sekali
tergugatkah saudara dialtar penghakiman semesta

tanyakanlah ....
apakah mimpi itu berasal dari tempat tidur
sekalipun kita hanya tersenyum
mungkin kita hanya tertawa
apakah ada cinta yang mengalir
sejernih di hamparan bukit bukit sang khatulistiwa

teriakkkanlah...........
buatlah semua penghuni bumi bergetar
suarakanlah kata hatimu bagi setiap yang mendengar
menjadi bijak adalah hakiki
jangan jadikan napasmu berbau keserakahan
hidup hanya sekali
kita hanyalah para tawanan

Kamis, 03 Maret 2011

segenggam rindu yang bersemi

diamku ...........
tanpa tujuan akupun bimbang
hanya sediam penghuni lautan
tersisa sebuah harapan
tergantung mimpi yang tak bertepi
rindu yang dalam tentang mempelai
derasnya hujan meneriaki napasku akan sebuah kekalahan
meraih tahta cintamupun aku tak bisa
hilang dan pergi entah kemana
cinta bertemu karang
aku terperdaya
karam i lautan harapan

pasrah

kupasrah................
kuhanya diam di antara dosa
mencaci adalah awal dri kesombongan
biarlah mimpi terkubur di selangkang kekuasaan

sang waktu

kini...
waktu enggan tuk berlari
menyapapun enggan dia lakukan
banyak peristiwa
hinggap i kepala
menangispun aku tak bisa
kubasuh lentera jiwa yang sempat padam
kudendangkan lagi nyanyian para penyair
hening seperti yang dulu dulu
membawahi setisp garis kerutan i dahiku
ada cerita
hilang dan pergi tanpa permisi
kuhanya mengakali dengan seuntai harapan
mungkinkah esok lebih baik dari sekarang
anganku melukis rupa sang angin
tanyaku seperti selosong peluru yang ganas
akankah saat ini akan tiba
wajah putih diam tak serupa
kan terdiam dialtar sebuah kemunafikan
akankah bala bantuan akan terselamatkan
menjangkau hingar bingar sebuah kesombongan
dirangkai dengan sebuah kebaikan
enggan aku bertanya pada sang waktu
masih terlihat kesombongan
masih merekah
gilakah aku jika waktupun menjauh
aku sejenak tersipu
lucu............
tertawalah di lautan
seberangilah
waktupun akan mencari
sisa hidup menawan dendam

rindu buat ibu

awan putih hadir begitu saja membelai pelangi
mentari hanya pasrah di tawan malam
angin sekali kali memecah lamunanku
apa yang tertinggal di akhir perjalananku
riuh gelombang lauatan memacu sebuah kisah
tlah kutancapkan semua hinbgga tak tersisa
kuseberangi lautan laksanan sang pejuang
terkikis di hamparan jembatan kehidupan
bangkit ketika harapan itu masih ada
ada cerita yang mengalir di dalam sedihku
satu yang pasti sebuah penghormatan
kenangan yang kan menjadi sahabat terbaikku
biarkanlah semua waktu terheran heran
karena pelukan demi pelukannya akan selalu abadi
diantar batas realita ku pertaruhkan segalanya
apapun kulakukan di atas nasehat para nabi
menjadi bintang di langit penantian sebuah keajaiban
saatnya aku pulang
kembali di dalam sbuah pertanyaan
rindu mengalir di setiap waktu
bergantungan di atas setiap langkahku
seperti daun seroja yang musuh di alam kesepian

air dan mimpi yang terbeli di atas sajadah negeri

jika waktunya aku mati
jika angin tak lagi sedamai lautan
buat apa aku bertanya pada gelombang
kabar apa yang dia bawa untuk hati yang luluh di hamparan kekalahan
kuhanya sebatang dengan insan yang tertawar di tanah yang gersang
alam tak lagi mampu untuk bercerita
mengenang masa yang lampau dengan tawa
bersama air mata kita hanya mengharap
terbentang di harapan menjelma menjadi halangan
air tak lagi sejernih cakrawala
bualan tentang singasana menjadi penghibur hati yang lara
jauh di kala mentari di ufuk tertiur menyeringai
menanati fajar menyapa dengan mimpi yang terdiam di altar para pemerkosa
siapakah kita....
aku tak merasa sep[erti indonesia
begitu juga burung garuda
hanya terbang ke langit tak di ijinkan berpijak
terlalu lama kita terpesona
manisnya bualan si tuan bijak
terhipnotis akan mewahnya si harmoni
terlelap hingga tak pernah mengerti
kita pernah punya sebuah cerita di dunia
debu menjadi sahabat terbaik
di pelukan malam di hamaparan warna pelangi
masih ada sebuah bayangan semu
menjalar di saku baju tentang sebuah kemenangan
harga diri menjadi detik sebuah akhir tanyaku
kemanakah para kaum susah
gertakan di kiri dan di kanan tubuhku
semangati napasku terlempar ke dasar neraka
moral mu dimana para biadab
dakah saudara tahu bintang enggan bersinar
meski langit terang dengan laksana bulan
aku terheran melihatmu para kawanan
kemana semua mimpi anak negeri

Selasa, 01 Maret 2011

peristiwa kecil

daun daun tua hanya tertawa
satu satu disambut angin bersatu dengan alam
hidup hanyalah sebuah peristiwa
ada cerita di balik layar
percayalah pada pilihanmu
tegaklah jika hidup ini tak seindah seperti sangkakala
kita ditakirkan hidup hanya sekali

jumiati itu kusebut namanya

di hamparan jauhnya pikiranku
aku terlarut dalam sebuah cerita yang benar
aku terdampar di hamparan kesombongan sang mentari
aku berjalan memusuhi langit beserta penciptanya
aku menjungkalkan kebenaran ketika aku berada di atas gunung kelimpahan
diam diam diantara lelah perjalannanku
kesederhanaanmu
luluhkan nafsuku
apa yang aku perjuangakan engkau pertanyakan
apa yang menjadi tujuanku engkau perdebatkan hingga akupun terpesorok alam sejuta keindahan
engkau ajarkan indahnya hidup
engkau selimuti masalalaku dengan tawamu
ayat ayat itu kembali lagi berdering di telingaku
apakah ada yang namanya keagungan selain nikmatnya hidup[ bersama tuhan
darahku yang hitam pekat kini merah spetti anggur di jerusalaem
pikiranku terang benderang sperti warna pelangi
menggugat semua musuhku menyapa sang pencerah
apakah ini akhir dari sang mempelai
ketika cinta ini hanyalah sebagian serpihan kertas buram
aku hanya enggan kini menjelma menjadi sebuah lingkaran
setengah mati aku meraihmu
setengah mati aku merebutmmu
ribuan doa ku isi dengan berserah padamau
ketika dirimu berpaling dri nyanyian cintaku
aku berontak di altar para pecinta
hingga dirimu tersungkur dalam balutan selimut rinduku
misteri cinta terlahir dari risau hati yang gelisah
engkau adalah wanita segambaran ibuku
tutur katamu melebihi sang tercinta diam di istana megahku(ibuku)
kebaikanmu sederajat dengan sang penakluk yang kuseput ayah
keserderhanaanmu membuat alampun tersenyum
berjanji untuk selalu menggugah hatimu yang pemarah
berhenti sejenak di hamparan hijaunya langkahmu
berteriak bak samudra mengerang menjelma menjadi tsunami
hancurkan karang hatiku
aku hanya terdiam berharap dirimu tertawa
kugapai wajahmu dan melerai tubuhmu
dihamparan hitam langit kita menjadi dewasa
setialah untuk slalu disisiku

untukmu....??????

hamparan dari pertanyaan merasa enggan kembali terlahir
mataku hanya memandangi tingkahmu yang lucu
wajahmu mempesonakan kedua mataku
seakan enggan beralri dari senyummu
inikah cinta yang terhilang diakhir bel sekolah
tanyaku.....
jangankan aku
alampunkan terkesima memandangmu
aromamu bersih seperti hutan di kapernaum
menggugat sang ilahi dengan dentuman parasmu
aku memandangmu layaknya sang penyair
mengaagumi mu tanpa ijinmu
aku bagian cerita tersisih di atas cintamu
jujur....
hanya itu yang bisa kureka
di meja kelasku

tulus

jika aku menjadi sang garuda
apakah langitkan menjadi sahabatku
jika akuhanyalah sebuah kebenaran
siapakah yangkan menjadi musuhku
berpikirlah bijak sauadaraku
jangan jadikan kebenaran sebagai lambang dri keserakan
baiklah kiranya diammu menjadi senjata pamungkasmu
karena di negeri ini di butuhkan
manusia yang adail dan beradab

aku manusia kalah

berikanlah apa yang pantas engkau berikan padaku
ludahilah kepalaku dengan pikiranmu
karena aku hanyalah kerikil bagi jalanmu
aku musuhmu seperi layaknya duri dalam dagimngmu
bunuhlah aku dengan tanganmu yang benar
biarkanlah burung burung itu memangsa tubuhku
haram tubuhku bersatu dengan sang alam
kebenaran tlah kujadikan sebagai imbalan kehidupan
janganlah merasa iba bagiku
karena aku tlah membunuh seribu kaummu di rumahku
kejahatanku dah seperti gunung menanti pembalasan
basuhlah darahku di tiang tiang nisan saudaramu
roh mereka jugakan membalaskan dendamnya di akhirat
menguliti tubuhku layaknya seperti kurban sembelihan
agar semesta tahu
aku terlahir sebagai manusia kalah

cinta suci

di dalam relung hati
tersaji warna kehidupan
membelah seperti lautan di samudra
rasa cinta mengalir menanjak serindu rindunya
ada tawa yang terlepas
ada kenangan yang terdampar membeku
membekaskan sejuta alasan betapa cinta ini larut
terpenggal seperti sebuah cerita yang tak berpikir ttg duniawi
berlari bersama resah terbakar di birahi
ada cinta terlahir dari sebuah kesederhanaan
mungkinkah ini akhir dri sebuah cinta yang kalah
seperti angin bertarung di dasar hutan
menangisi sebuah kehampaan mentari
enggan mengerang memberikan cahaya
ataupun seperti hujan yang hanya bertatap muka
senyum sinis tercibir di pengasaingan di belantara alam
akankah cinta ini bersemi
bersama sama datangnya bulan di akhir tahun
ataukah cinta terdiam di tanah yang gersang
memusuhi keadilan dengan seribu tragedi
apakah semuanya terlahir sedemikian rupa
adakah sebuah penggugat akan menangisi sang perjaka
cinta bertanya dalam gerangan tawa si pendiam
siapakah gerangan sang dewi
terdengarkah derap para sang pencinta
dimana diamnya adalah sebilah pedang
pikiran syair cinta menghampiri hidupnya
berbunga tanpa ada yang memanen
jiwa ini terselip diakhir cerita cinta yang menyedihkan
ketika kekalahan dan masa lalu di perdebatkan para penatua
pada siapakah aku bersandar
aku terkulai di hamparan pantai biru
aku tersalib di bagian jurang yang sangat dalam
mencintai menjkadi derita bagiku
tiada akhir tapi inilah kenyataannya
ketika kemewahan dilapisi permata turun ke bumi
semua tersenyum mengenang indahnya surga
campakkanlah apa yang pantas bagiku
sejurus dalam sebuah singgasana
dan layaknya simiskin menjadi sapi perahan
tertawalah di atas para pemenang
menangmu adalah akhir dri kisahmu
terselamatkanlah kebenaranmu
bulan meratapi kekakalahanmu
hari ini
sebagian dari napasmu yang bisa merayakan
nafsumu beringas laksana domba di gurun pasir
haus akan cinbta yang suci
hingga pulan purnama sendirimu membunuhmu di atas keserakahan