dunia berjalan sendiri
tak terlihat bintang menemani
tak terlihat bulan yang mengikuti
terasa hampa mengembara di jagad raya
hidupku hanya sedekat kematian
tersesat di hitam langit
dengan pikiran yang telah ternoda
di basuh dengan nasionalis
di aliri tanggung jawab
ketika bangsaku di pertanyakan di meja-meja keadilan
aku melihat para moderat berpesta di ruang-ruang kemegahan
aku menatap para politisi berdebat tantang kesombongan
aku melihat seragam sekolah terkulai di parit-parit
aku menatap langit tak sedamai yang dulu
dan aku terkulai setelah traktor jalanan memperkosa mimpiku
aku hanya diam dengan gitarku
laguku adalah tangis yang mengalir
di dinding rumah tak berpenghuni kunyatakan tentang mimpi
tertidur di deras angkuhnya negeri ini
bertanyalah kepada bintang-bintang
tanyakanlah mengapa di sudut kebaikan yang jahat berpesta
tanyaku mengapa jalan ini selalu menawarkan tangis yang dalam
menghapus dilema kehidupan dengan segumpal rindu
aku ingin pulang
aku rindu dekapan sang ibu
aku rindu tawa sang ayah
perjalan ini mengubur mimpiku
ketika dunia hanya berjalan sendiri
Minggu, 08 November 2009
sebuah suara
teriakkanlah mengapa sejuta anak hanya terdiam di sudut pencakar langit
katakanlah apa tujuan dari rencana tersusun di senayan
bicarakanlah ribuan sang ayah tak tertidur di masa depan anaknya
jawablah napasku dengan seuntai kata-kata
kini saatnya kebenaran yang terlahir
kini saatnya kebaikan yang menjadi raja
kini saatnya yang sabar mendapatkan hidupnya
kebodohan jangan jadikan harga yang mahal
katakanlah kepada saksi-saksi sejarah
negeriku diambang ke bimbangan
para demokrat hanya berdansa di taman-taman
dengan buku yan g tersusun rapi di lemari tanpa tersentuh
para politisi hanya hebat berjilat lidah
mengangkangi setiap kebenaran dengan segumpal uang
menjadi cerita yang terbelenggu di balik kekuasaan
menapsirkan mimpi dengan imajinasi di taman eden
para pecinta terdiam di sudut malamdengan tangisan sang anak
rela diperkosa dengan waktu yang tak terbeli
membuat terowongan kebusukan bangsa ini
aku hanya melihat
aku hanya mendengar
tetapi aku bukan buta
aku bukan tuli
tapi aku hanya lah seperti tangis menangisi bangsaku sendiri
sedetik tak terpikirkan
cinta di pertanyakan menjadi sebuah realita
sinetron menjadi santapan yang hina
ketika sejarah diputar balikkan
hingga para penggugat terlahir kembali
merusak masa depan generasi dengan cinta yang berlebihan
katakanlah apa tujuan dari rencana tersusun di senayan
bicarakanlah ribuan sang ayah tak tertidur di masa depan anaknya
jawablah napasku dengan seuntai kata-kata
kini saatnya kebenaran yang terlahir
kini saatnya kebaikan yang menjadi raja
kini saatnya yang sabar mendapatkan hidupnya
kebodohan jangan jadikan harga yang mahal
katakanlah kepada saksi-saksi sejarah
negeriku diambang ke bimbangan
para demokrat hanya berdansa di taman-taman
dengan buku yan g tersusun rapi di lemari tanpa tersentuh
para politisi hanya hebat berjilat lidah
mengangkangi setiap kebenaran dengan segumpal uang
menjadi cerita yang terbelenggu di balik kekuasaan
menapsirkan mimpi dengan imajinasi di taman eden
para pecinta terdiam di sudut malamdengan tangisan sang anak
rela diperkosa dengan waktu yang tak terbeli
membuat terowongan kebusukan bangsa ini
aku hanya melihat
aku hanya mendengar
tetapi aku bukan buta
aku bukan tuli
tapi aku hanya lah seperti tangis menangisi bangsaku sendiri
sedetik tak terpikirkan
cinta di pertanyakan menjadi sebuah realita
sinetron menjadi santapan yang hina
ketika sejarah diputar balikkan
hingga para penggugat terlahir kembali
merusak masa depan generasi dengan cinta yang berlebihan
benci tapi sebuah kata cinta
jika antara cinta dan dusta seperti taman kehidupan
mengapa tuhan memberikan hujan sebagai pendamai
kita adalah butiran debu yang terbungkus dalam napas
mennati saatnya sang alam memeluk dengan rindu di tepian waktu
hidup hanya sedetik hari
tak ada cinta yang terlahir dari rasa benci
tak ada kasih yang mengalir tanpa ada pertanyaan
sama dengan nya kita yang hanya membisu
di senja ketika mentari tertidur di ufuk barat
lalu kita melipat kedua tangan
tersenyum ke lautan lepas
sekali lagi cinta membelengguku di sudut kehampaan
cinta melahirkan rasa benci
berakar di balik awan melukis wajahnya
rasa benci mewarnai menjadi rasa cinta
rasa benci menjengkalkan penderitaanku
rindu yang terlahir sejuta desahan napasmu
menyelimuti tubuhku di atas selimut tentangmu
benciku terdampar di gelombang pasifik
cintaku merindukanmu di altar rasa hinaku
aku mencintaimu dengan rasa benci
mengapa tuhan memberikan hujan sebagai pendamai
kita adalah butiran debu yang terbungkus dalam napas
mennati saatnya sang alam memeluk dengan rindu di tepian waktu
hidup hanya sedetik hari
tak ada cinta yang terlahir dari rasa benci
tak ada kasih yang mengalir tanpa ada pertanyaan
sama dengan nya kita yang hanya membisu
di senja ketika mentari tertidur di ufuk barat
lalu kita melipat kedua tangan
tersenyum ke lautan lepas
sekali lagi cinta membelengguku di sudut kehampaan
cinta melahirkan rasa benci
berakar di balik awan melukis wajahnya
rasa benci mewarnai menjadi rasa cinta
rasa benci menjengkalkan penderitaanku
rindu yang terlahir sejuta desahan napasmu
menyelimuti tubuhku di atas selimut tentangmu
benciku terdampar di gelombang pasifik
cintaku merindukanmu di altar rasa hinaku
aku mencintaimu dengan rasa benci
Rabu, 04 November 2009
aku dengan duniaku
aku lahir di indonesia,bukan rahasia
aku orang amerika,aku orang persia
dan tanpa maksud menyinggung para penguasa di seluruh dunia
pahlawan di seantero dunia
dan kalau bersedia
aku bersedia mengorbankan hidupku
demi terwujudnya kedamaian di seluruh dunia
tanpa disuruh
tanpa memeras siapapun
aku orang amerika,aku orang persia
dan tanpa maksud menyinggung para penguasa di seluruh dunia
pahlawan di seantero dunia
dan kalau bersedia
aku bersedia mengorbankan hidupku
demi terwujudnya kedamaian di seluruh dunia
tanpa disuruh
tanpa memeras siapapun
tangisan yang dikalahkan
jawabanku merindingkan bulu kudukmu
hatiku bergetar ketika takbir kebenaran memerdekakan pikiranku
satu kata yang menjadi musuhmu
berlari seperti hantu rebahkan tubuhmu
hanya tangis tanganmu terikat di jaring yang gelap
dibalik tangis anak dan istrimu
hanya peduli menatap langit kosong
terpaku di dasar laut yang dalam aku manusia yang terhina
darahmu mengalir darah yang tak mewangi
membesarkan kesombongan dengan mendekap keserakahan
mempersenjatai dirimu dengan raungan harimau
menakuti yang lebih kecil darimu
membinasakan pemberontakan di altar kebebasan
pikiranmu tak habisnya sepetri botol anggur
berserakan di sampah-sampah negeri ini
bersujud mohon ampun
berseru dengan jubah penyesalan
tersimpan di kerangkeng pembinasaan
menghirup udara ketakutan di masa yang akan datang
biarlah tuhan merancang hukuman mereka
ketika hukum hanya tawaan sang durjana
hatiku bergetar ketika takbir kebenaran memerdekakan pikiranku
satu kata yang menjadi musuhmu
berlari seperti hantu rebahkan tubuhmu
hanya tangis tanganmu terikat di jaring yang gelap
dibalik tangis anak dan istrimu
hanya peduli menatap langit kosong
terpaku di dasar laut yang dalam aku manusia yang terhina
darahmu mengalir darah yang tak mewangi
membesarkan kesombongan dengan mendekap keserakahan
mempersenjatai dirimu dengan raungan harimau
menakuti yang lebih kecil darimu
membinasakan pemberontakan di altar kebebasan
pikiranmu tak habisnya sepetri botol anggur
berserakan di sampah-sampah negeri ini
bersujud mohon ampun
berseru dengan jubah penyesalan
tersimpan di kerangkeng pembinasaan
menghirup udara ketakutan di masa yang akan datang
biarlah tuhan merancang hukuman mereka
ketika hukum hanya tawaan sang durjana
aku dan puisiku
kuhanya puisi-puisi yang hilang di sudut keangkuhan
kuhanya bisa berbicara di ruang ahtiku
lahir dari kumpulan yang terbuang
mendekam dengan semangat yang takkan mati
memperjuangkan segala yang kupertaruhkan untuk menjadi yang lebih baik
beranjak dari kebodohan menembusi kegelapan
dan mempersenjatai pikiranku dengan cinta
kuhanya puisi-puisi yang terdampar di tepi pantai
kuhanya bis atersenyum ketika pencakar langit
menunjukkan kesombongan
di atas rumah tuaku
kuhanya bisa berlari ke gelapan
meninju hitamnya langit
tangis bayi mencekam di malam hari
dingin membunuhnya di tenda pengungsian
ada bencana menghantui
kuhanya puisi-puisi yang bernyanyi di atas pelangi
nyanyikan lagu kemerosotan moral bangsa ini
ketika jiwa-jiwa pemberani
menikam diri di ruang yang sunyi
tertunduk takluk kepada langit
tanpa ada yang pertanyaan
namanya terukir di nisan-nisan kehormatan
seperti daun jatuh ke bumi
serigala bertaring penguasa bangsa ini
korupsi tumbuh sepert jamur
tanpa ada yang seperti merpati
dengan sayapnya memerangi
kuhanya puisi-puisi yang terdengar di balik berita
kuhanya menghitung hari tanpa perduli
mahasiswa hanya mampu bertani
ijasah di tukar dengan traktor putih
di balik mimpi-mimpi
diam di tanah ilalang
kuhanya mampu bertanya
tanyakan jiwa yang mati
ketika ideologi ditukar dengan serban putih
teroris merangkak di tanah pertiwi
yang diam menjawab dengan kejeniusan
yang bodoh di senayan tertawa dengan keserakahan
uang adalah akhir pembeli kekuasaan
kuhanya puisi-puisi di sinetron-sinetron
melukiskan kebudayaan negeri ini
teknologi menjadi si tuan penghayal
mendidik generasi dari awal hingga akhir
ketika pendidikan hanya proposal di meja kantor
merongrong keangkuhan para kurcaci
di tertawai alam
merah putih tersungkur di tanah yang merah
malu artis di jadikan sang pembawa cinta
kuhanya membasuh diam di langit biru
ketika darahnya memacuku untuk bersorak
merah putih berkibar dengan gagah
si anak garuda lelah bertarung dengan emas di dada
terdiam di dalam kibaran
orang-orang yang tak perlu di hormati
aku dan puisiku
kuhanya bisa berbicara di ruang ahtiku
lahir dari kumpulan yang terbuang
mendekam dengan semangat yang takkan mati
memperjuangkan segala yang kupertaruhkan untuk menjadi yang lebih baik
beranjak dari kebodohan menembusi kegelapan
dan mempersenjatai pikiranku dengan cinta
kuhanya puisi-puisi yang terdampar di tepi pantai
kuhanya bis atersenyum ketika pencakar langit
menunjukkan kesombongan
di atas rumah tuaku
kuhanya bisa berlari ke gelapan
meninju hitamnya langit
tangis bayi mencekam di malam hari
dingin membunuhnya di tenda pengungsian
ada bencana menghantui
kuhanya puisi-puisi yang bernyanyi di atas pelangi
nyanyikan lagu kemerosotan moral bangsa ini
ketika jiwa-jiwa pemberani
menikam diri di ruang yang sunyi
tertunduk takluk kepada langit
tanpa ada yang pertanyaan
namanya terukir di nisan-nisan kehormatan
seperti daun jatuh ke bumi
serigala bertaring penguasa bangsa ini
korupsi tumbuh sepert jamur
tanpa ada yang seperti merpati
dengan sayapnya memerangi
kuhanya puisi-puisi yang terdengar di balik berita
kuhanya menghitung hari tanpa perduli
mahasiswa hanya mampu bertani
ijasah di tukar dengan traktor putih
di balik mimpi-mimpi
diam di tanah ilalang
kuhanya mampu bertanya
tanyakan jiwa yang mati
ketika ideologi ditukar dengan serban putih
teroris merangkak di tanah pertiwi
yang diam menjawab dengan kejeniusan
yang bodoh di senayan tertawa dengan keserakahan
uang adalah akhir pembeli kekuasaan
kuhanya puisi-puisi di sinetron-sinetron
melukiskan kebudayaan negeri ini
teknologi menjadi si tuan penghayal
mendidik generasi dari awal hingga akhir
ketika pendidikan hanya proposal di meja kantor
merongrong keangkuhan para kurcaci
di tertawai alam
merah putih tersungkur di tanah yang merah
malu artis di jadikan sang pembawa cinta
kuhanya membasuh diam di langit biru
ketika darahnya memacuku untuk bersorak
merah putih berkibar dengan gagah
si anak garuda lelah bertarung dengan emas di dada
terdiam di dalam kibaran
orang-orang yang tak perlu di hormati
aku dan puisiku
bersamamu
bersamamu adalah kisah seperti pelangi
cintamu tawarkaknku dari dosa dunia
cantikmu membasuhku tentang sang pencipta
tutur katamu seperti azan menghibur hati yang lemah
hanya tiupan angin yang mampu membuatku
memikirkamu di pelukan malam
memelukmu layaknya mempelaimu
cintamu tawarkaknku dari dosa dunia
cantikmu membasuhku tentang sang pencipta
tutur katamu seperti azan menghibur hati yang lemah
hanya tiupan angin yang mampu membuatku
memikirkamu di pelukan malam
memelukmu layaknya mempelaimu
Minggu, 01 November 2009
rinduku
hanya mimpi yang kan menjadi selimut bagiku
ketika hujan menawarkan dingin menjadi sahabatku
membayangkan wajahmu di sebelahku
menciummu dengan cinta putih
membelai rambutmu damaikan hatiku
terlukiskan cinta yang sepenuhnya
terlahir dari hati yang rindu
rinduku untuk seseorang
ketika hujan menawarkan dingin menjadi sahabatku
membayangkan wajahmu di sebelahku
menciummu dengan cinta putih
membelai rambutmu damaikan hatiku
terlukiskan cinta yang sepenuhnya
terlahir dari hati yang rindu
rinduku untuk seseorang
hanyalah cinta
kekalahanku hanyalah sebuah hadiah
kemenanganmu adalah emas dan permata
memilikimu adalah akhir segalanya
karena cantikmu laksana sang dewi
hanya mampu membisu
memandang wajahmu dengan segenggam cinta
tanpa ijinmu menyebut namamu di mimpiku
aku kalah karena engkau sama laknatnya dengan awan hitam
kecantikanmu berubah menjadi sebuah perhiasan
dan hanya orang tertentu yang mampu membelinya
pertanyaan ini hanyalah sebuah ungkapan
seperti hujan di tengah gurun dengan sombongnya
ketika cintamu hanyalah seprti patung
kemenanganmu adalah emas dan permata
memilikimu adalah akhir segalanya
karena cantikmu laksana sang dewi
hanya mampu membisu
memandang wajahmu dengan segenggam cinta
tanpa ijinmu menyebut namamu di mimpiku
aku kalah karena engkau sama laknatnya dengan awan hitam
kecantikanmu berubah menjadi sebuah perhiasan
dan hanya orang tertentu yang mampu membelinya
pertanyaan ini hanyalah sebuah ungkapan
seperti hujan di tengah gurun dengan sombongnya
ketika cintamu hanyalah seprti patung
lahirnya sang pemberontak
kusampaikan suara yang terlahir dari kekalahan
menyapa siapa saja yang bertanya
melambaikan sebuah harapan di garis tangan
menembusi raga yang diam seperti binatang
mempesona si tuan pelangi beralaskan keserakahan
terikat di tiang-tiang kemiskinan
terlelap di dinding-dinding kesombongan
menanti saatnya mentari terbit di upuk barat
dan saatnya kedamaian di tangan para pemberontak
aku hanya barisan puisi dengan kata sederhana
aku hanya seorang manusia yang telanjang turun ke dunia
aku hanya sebuah ciptaan tuhan yang di kalahkan angkuhnya bangsa ini
dan ternyata bukan cuma aku
dan ternyata sebagian generasi sepertiku bersembunyi di bawah meja
dan mengapa jiwa-jiwa pemalas bersepatu kaca
memakai topeng di balik wajah pengecutnya
dan berteriak ketika dia jauh ketinggalan
hilang di masa muda naik tahta di usia senja
bangkit ketika tubuhnya mendekati maut
semuanya seperti lukisan pelangi
gambaran yang nyata bagi kaum pemuda
ketika satu hilang tertanam seribu
tertidur di bayangi kekalahan
ceritamu hanya sebagian dongeng masa lalu
engkau tancapkan darahmu mengalir menguliti tubuhku
seperti mata air jiwa yang baru terlahir
kembalikan segenggam napas nasionalisme
sedikit tanya dengan banyak rencana
sedikit berita dimanakah kini
sang pemberontak memberontak kedamaian
yang kedua kakinya berakar demokrasi
yang tangannya menara keadilan
memperkosa keserakahan dengan napsu hutan rimba
namanya di warnai dengan merah darah
di dinding-dinding sang pemberontak
menyapa siapa saja yang bertanya
melambaikan sebuah harapan di garis tangan
menembusi raga yang diam seperti binatang
mempesona si tuan pelangi beralaskan keserakahan
terikat di tiang-tiang kemiskinan
terlelap di dinding-dinding kesombongan
menanti saatnya mentari terbit di upuk barat
dan saatnya kedamaian di tangan para pemberontak
aku hanya barisan puisi dengan kata sederhana
aku hanya seorang manusia yang telanjang turun ke dunia
aku hanya sebuah ciptaan tuhan yang di kalahkan angkuhnya bangsa ini
dan ternyata bukan cuma aku
dan ternyata sebagian generasi sepertiku bersembunyi di bawah meja
dan mengapa jiwa-jiwa pemalas bersepatu kaca
memakai topeng di balik wajah pengecutnya
dan berteriak ketika dia jauh ketinggalan
hilang di masa muda naik tahta di usia senja
bangkit ketika tubuhnya mendekati maut
semuanya seperti lukisan pelangi
gambaran yang nyata bagi kaum pemuda
ketika satu hilang tertanam seribu
tertidur di bayangi kekalahan
ceritamu hanya sebagian dongeng masa lalu
engkau tancapkan darahmu mengalir menguliti tubuhku
seperti mata air jiwa yang baru terlahir
kembalikan segenggam napas nasionalisme
sedikit tanya dengan banyak rencana
sedikit berita dimanakah kini
sang pemberontak memberontak kedamaian
yang kedua kakinya berakar demokrasi
yang tangannya menara keadilan
memperkosa keserakahan dengan napsu hutan rimba
namanya di warnai dengan merah darah
di dinding-dinding sang pemberontak
Langganan:
Postingan (Atom)
