Jumat, 24 September 2010

gilakah

aku berpikir
diamku hanya sedekat kematian
aku mati tanpa sebuah nisan
hujan meneriakiku dengan kata gila
aku gila
karena aku berdiri sendiri
menantang dunia dengan seribu kata kata
hingga matipun tiada yang tahu

resah

aku bukan khalil gibran
aku bukan abu ghazali
dan jangan samakan aku dengan para penyair
aku hanyala aku
dimana raja dan permaisurinya hanya kiasan makna belaka
terdampar di seribu kegalauan hatiku
ketika kebenaran tenggelam di sudut kekalahan
aku meneriaki penguasa dengan kata kata

tanyakan padaku

tanyakan padaku
seribu anak bangsa tergadai di malaysia
seribu anak kuliah terhuni di langit hitam negeri ini
seribu seragam sekolah berserakan di selokan
sang presiden menawarkan kedamaian
tapi apakah dia melihat apakah dia merasakan
waktu terus dan berputar dan perut harus di isi...

kita hanya sedekat kematian

jangan pernah engkau tukar idealismeku
jangan pernah bertanya padaku bahwa aku pernah hidup
aku hidup karena aku sudah mati
sebelum napasku terdiam di altar wewangian
dan para perawan menangisiku
para birokrat mengutukiku
aku adalah aku
aku mengutuki sang durjana
kedua tanganku hanya sebilah pedang
mulutku bertaring bak serigala
menggongi si apapun yang menghianati bangsa ini
napasku hanyalah sebuah kain sutra karena aku juga hanyalah manusia
sama di hamparan sang pencipta
aku hanya sejarah yang terulang di langit negeri ini
satu persatu ada yang hilang
ada yang datang
ada yang pergi dan ada yang mengutuki
kiat hanyalah tubuh renta
tua saatnya dan matipun menyapa
kita hanya sedekat kematian

hanya itu

zaman berubah perilaku tak berubah
dulu PKI sekarang terorisme
wajah menyeringai si kaum dhuafa
dengan taring seribu keganasan
gandhi yang di cari yang terdampar hanya sebilah pedang komedi
revolusi yang di nanti yang datang azhari
lembaga berdiri gagah perkasa bagai laksana tentara roma
tetapi jubahnya berdarahkan korupsi
century terbang ke singasana para dewa
pendidikan berdiri seperti pasir di pantai
menjual ijasah dengan selangkangan para moderator situan punya harta
mengilhami negeri dengan kerakusan yang semata
sekali lagi rakyat terheran diambang pintu si tuan polan
katanya demi kebaikan nyawapun tergadai di pasungan
SBY hanya tertawa di istana para kumbang
bangga di hamparan para pejuang
sebaris dan sederajat menyangsingkan
adakah di hatimu bertuliskan seribu nurani......

rasa tajkut

hanya tuhan yang tahu
hanya tuhan yang bisa
hanya kita berdiam saja
terdampar di sejuta ketakutan yang menguntit
dri fajar hingga senja
ketika semuanya hanya diam mermbisu
penguasa merebut singasana dengan kelimpahan sejuta harkat yang membanjiri
siapakah kita
yang hanya terjebak di altar rasa takut
kita hanya diam dan menanti
kemanakah negeri ini selanjutnya
pernah nurani yangkan di depan
adakah tangis bayi kecilkan terbalaskan
dan adakah sang penyelamat melimpahi kedamaian