Minggu, 08 November 2009

dunia berjalan sendiri

dunia berjalan sendiri
tak terlihat bintang menemani
tak terlihat bulan yang mengikuti
terasa hampa mengembara di jagad raya
hidupku hanya sedekat kematian
tersesat di hitam langit
dengan pikiran yang telah ternoda
di basuh dengan nasionalis
di aliri tanggung jawab
ketika bangsaku di pertanyakan di meja-meja keadilan
aku melihat para moderat berpesta di ruang-ruang kemegahan
aku menatap para politisi berdebat tantang kesombongan
aku melihat seragam sekolah terkulai di parit-parit
aku menatap langit tak sedamai yang dulu
dan aku terkulai setelah traktor jalanan memperkosa mimpiku
aku hanya diam dengan gitarku
laguku adalah tangis yang mengalir
di dinding rumah tak berpenghuni kunyatakan tentang mimpi
tertidur di deras angkuhnya negeri ini

bertanyalah kepada bintang-bintang
tanyakanlah mengapa di sudut kebaikan yang jahat berpesta
tanyaku mengapa jalan ini selalu menawarkan tangis yang dalam
menghapus dilema kehidupan dengan segumpal rindu
aku ingin pulang
aku rindu dekapan sang ibu
aku rindu tawa sang ayah
perjalan ini mengubur mimpiku
ketika dunia hanya berjalan sendiri

sebuah suara

teriakkanlah mengapa sejuta anak hanya terdiam di sudut pencakar langit
katakanlah apa tujuan dari rencana tersusun di senayan
bicarakanlah ribuan sang ayah tak tertidur di masa depan anaknya
jawablah napasku dengan seuntai kata-kata
kini saatnya kebenaran yang terlahir
kini saatnya kebaikan yang menjadi raja
kini saatnya yang sabar mendapatkan hidupnya
kebodohan jangan jadikan harga yang mahal
katakanlah kepada saksi-saksi sejarah
negeriku diambang ke bimbangan
para demokrat hanya berdansa di taman-taman
dengan buku yan g tersusun rapi di lemari tanpa tersentuh
para politisi hanya hebat berjilat lidah
mengangkangi setiap kebenaran dengan segumpal uang
menjadi cerita yang terbelenggu di balik kekuasaan
menapsirkan mimpi dengan imajinasi di taman eden
para pecinta terdiam di sudut malamdengan tangisan sang anak
rela diperkosa dengan waktu yang tak terbeli
membuat terowongan kebusukan bangsa ini
aku hanya melihat
aku hanya mendengar
tetapi aku bukan buta
aku bukan tuli
tapi aku hanya lah seperti tangis menangisi bangsaku sendiri
sedetik tak terpikirkan
cinta di pertanyakan menjadi sebuah realita
sinetron menjadi santapan yang hina
ketika sejarah diputar balikkan
hingga para penggugat terlahir kembali
merusak masa depan generasi dengan cinta yang berlebihan

benci tapi sebuah kata cinta

jika antara cinta dan dusta seperti taman kehidupan
mengapa tuhan memberikan hujan sebagai pendamai
kita adalah butiran debu yang terbungkus dalam napas
mennati saatnya sang alam memeluk dengan rindu di tepian waktu
hidup hanya sedetik hari
tak ada cinta yang terlahir dari rasa benci
tak ada kasih yang mengalir tanpa ada pertanyaan
sama dengan nya kita yang hanya membisu
di senja ketika mentari tertidur di ufuk barat
lalu kita melipat kedua tangan
tersenyum ke lautan lepas
sekali lagi cinta membelengguku di sudut kehampaan
cinta melahirkan rasa benci
berakar di balik awan melukis wajahnya
rasa benci mewarnai menjadi rasa cinta
rasa benci menjengkalkan penderitaanku
rindu yang terlahir sejuta desahan napasmu
menyelimuti tubuhku di atas selimut tentangmu
benciku terdampar di gelombang pasifik
cintaku merindukanmu di altar rasa hinaku
aku mencintaimu dengan rasa benci

Rabu, 04 November 2009

aku dengan duniaku

aku lahir di indonesia,bukan rahasia
aku orang amerika,aku orang persia
dan tanpa maksud menyinggung para penguasa di seluruh dunia
pahlawan di seantero dunia
dan kalau bersedia
aku bersedia mengorbankan hidupku
demi terwujudnya kedamaian di seluruh dunia
tanpa disuruh
tanpa memeras siapapun

tangisan yang dikalahkan

jawabanku merindingkan bulu kudukmu
hatiku bergetar ketika takbir kebenaran memerdekakan pikiranku
satu kata yang menjadi musuhmu
berlari seperti hantu rebahkan tubuhmu
hanya tangis tanganmu terikat di jaring yang gelap
dibalik tangis anak dan istrimu
hanya peduli menatap langit kosong
terpaku di dasar laut yang dalam aku manusia yang terhina
darahmu mengalir darah yang tak mewangi
membesarkan kesombongan dengan mendekap keserakahan
mempersenjatai dirimu dengan raungan harimau
menakuti yang lebih kecil darimu
membinasakan pemberontakan di altar kebebasan

pikiranmu tak habisnya sepetri botol anggur
berserakan di sampah-sampah negeri ini
bersujud mohon ampun
berseru dengan jubah penyesalan
tersimpan di kerangkeng pembinasaan
menghirup udara ketakutan di masa yang akan datang
biarlah tuhan merancang hukuman mereka
ketika hukum hanya tawaan sang durjana

aku dan puisiku

kuhanya puisi-puisi yang hilang di sudut keangkuhan
kuhanya bisa berbicara di ruang ahtiku
lahir dari kumpulan yang terbuang
mendekam dengan semangat yang takkan mati
memperjuangkan segala yang kupertaruhkan untuk menjadi yang lebih baik
beranjak dari kebodohan menembusi kegelapan
dan mempersenjatai pikiranku dengan cinta

kuhanya puisi-puisi yang terdampar di tepi pantai
kuhanya bis atersenyum ketika pencakar langit
menunjukkan kesombongan
di atas rumah tuaku
kuhanya bisa berlari ke gelapan
meninju hitamnya langit
tangis bayi mencekam di malam hari
dingin membunuhnya di tenda pengungsian
ada bencana menghantui

kuhanya puisi-puisi yang bernyanyi di atas pelangi
nyanyikan lagu kemerosotan moral bangsa ini
ketika jiwa-jiwa pemberani
menikam diri di ruang yang sunyi
tertunduk takluk kepada langit
tanpa ada yang pertanyaan
namanya terukir di nisan-nisan kehormatan
seperti daun jatuh ke bumi
serigala bertaring penguasa bangsa ini
korupsi tumbuh sepert jamur
tanpa ada yang seperti merpati
dengan sayapnya memerangi

kuhanya puisi-puisi yang terdengar di balik berita
kuhanya menghitung hari tanpa perduli
mahasiswa hanya mampu bertani
ijasah di tukar dengan traktor putih
di balik mimpi-mimpi
diam di tanah ilalang
kuhanya mampu bertanya
tanyakan jiwa yang mati
ketika ideologi ditukar dengan serban putih
teroris merangkak di tanah pertiwi
yang diam menjawab dengan kejeniusan
yang bodoh di senayan tertawa dengan keserakahan
uang adalah akhir pembeli kekuasaan


kuhanya puisi-puisi di sinetron-sinetron
melukiskan kebudayaan negeri ini
teknologi menjadi si tuan penghayal
mendidik generasi dari awal hingga akhir
ketika pendidikan hanya proposal di meja kantor
merongrong keangkuhan para kurcaci
di tertawai alam
merah putih tersungkur di tanah yang merah
malu artis di jadikan sang pembawa cinta
kuhanya membasuh diam di langit biru
ketika darahnya memacuku untuk bersorak
merah putih berkibar dengan gagah
si anak garuda lelah bertarung dengan emas di dada
terdiam di dalam kibaran
orang-orang yang tak perlu di hormati

aku dan puisiku

bersamamu

bersamamu adalah kisah seperti pelangi
cintamu tawarkaknku dari dosa dunia
cantikmu membasuhku tentang sang pencipta
tutur katamu seperti azan menghibur hati yang lemah
hanya tiupan angin yang mampu membuatku
memikirkamu di pelukan malam
memelukmu layaknya mempelaimu

Minggu, 01 November 2009

rinduku

hanya mimpi yang kan menjadi selimut bagiku
ketika hujan menawarkan dingin menjadi sahabatku
membayangkan wajahmu di sebelahku
menciummu dengan cinta putih
membelai rambutmu damaikan hatiku
terlukiskan cinta yang sepenuhnya
terlahir dari hati yang rindu
rinduku untuk seseorang

hanyalah cinta

kekalahanku hanyalah sebuah hadiah
kemenanganmu adalah emas dan permata
memilikimu adalah akhir segalanya
karena cantikmu laksana sang dewi
hanya mampu membisu
memandang wajahmu dengan segenggam cinta
tanpa ijinmu menyebut namamu di mimpiku
aku kalah karena engkau sama laknatnya dengan awan hitam
kecantikanmu berubah menjadi sebuah perhiasan
dan hanya orang tertentu yang mampu membelinya
pertanyaan ini hanyalah sebuah ungkapan
seperti hujan di tengah gurun dengan sombongnya
ketika cintamu hanyalah seprti patung

lahirnya sang pemberontak

kusampaikan suara yang terlahir dari kekalahan
menyapa siapa saja yang bertanya
melambaikan sebuah harapan di garis tangan
menembusi raga yang diam seperti binatang
mempesona si tuan pelangi beralaskan keserakahan
terikat di tiang-tiang kemiskinan
terlelap di dinding-dinding kesombongan
menanti saatnya mentari terbit di upuk barat
dan saatnya kedamaian di tangan para pemberontak

aku hanya barisan puisi dengan kata sederhana
aku hanya seorang manusia yang telanjang turun ke dunia
aku hanya sebuah ciptaan tuhan yang di kalahkan angkuhnya bangsa ini
dan ternyata bukan cuma aku
dan ternyata sebagian generasi sepertiku bersembunyi di bawah meja
dan mengapa jiwa-jiwa pemalas bersepatu kaca
memakai topeng di balik wajah pengecutnya
dan berteriak ketika dia jauh ketinggalan
hilang di masa muda naik tahta di usia senja
bangkit ketika tubuhnya mendekati maut
semuanya seperti lukisan pelangi
gambaran yang nyata bagi kaum pemuda
ketika satu hilang tertanam seribu
tertidur di bayangi kekalahan

ceritamu hanya sebagian dongeng masa lalu
engkau tancapkan darahmu mengalir menguliti tubuhku
seperti mata air jiwa yang baru terlahir
kembalikan segenggam napas nasionalisme
sedikit tanya dengan banyak rencana
sedikit berita dimanakah kini
sang pemberontak memberontak kedamaian
yang kedua kakinya berakar demokrasi
yang tangannya menara keadilan
memperkosa keserakahan dengan napsu hutan rimba
namanya di warnai dengan merah darah
di dinding-dinding sang pemberontak

Sabtu, 31 Oktober 2009

sang mempelai

hujan dengan petir berbagi tangisku
ketika kemarin kudengar ratapanmu tentang mempelaimu
kini bersandar di pelukanmu
menghianati cinta yang kualiri dengan segenggam rindu
suci seperti es di antartika
mencair mengalir menertwakanku
hanya air mata
di dinding dusta
iklas mulutku menjawab
tetapi hatiku bertanya mengapa
mengapa bintang pilihan itu ada padanya
tanyaku......................
jawabmu..................
segenggam napas kehidupan
berubah menjadi serigala
hewan yang bertahtahkan kehancuran
menunggu mati tanpa terluka
jiwanya telah hilang
di hamparan rindu yang terbuang
sang mempelai terakhir indah
dengan cintanya di sebelah si raja hutan
hilang di waktu
terobati cerita sang kekesdih

Senin, 19 Oktober 2009

mimpi terjual

jika aku hanya sebagian puisi yang terselip diantara kata-kata
kukan mendiam seperti pena yang hanya berlari mengejar mim pi
mengubur semua kenangan yang ada
di balik puisi yang hilang di makan waktu
seijinnya tertanam di dalam gerakan
merdeka adalah akhir pertarungannya

keanggunan putri bumi

suara hati membakar setiap mimpi
bersandarkan pada hijau daun
aku hanya berharap di balik dinding penantian
suatu suara seperti tiupan angin surga
mengajarkanku tentang indah nya cinta
terlukiskan sebuah cinta yang tak berakhir dengan air mata
adakah seorang mempelaikan mendengar
jeritan rinduku di setiap napas kehidupan yang bermula
mengempaskan sayapku terjatuh ke alam bumi
mengembara menjadi manusia seutuhnya
menukar dewanya demi cinta
hanya sepenggal cinta
terlahir dari sungai-sungai efraim
membelah dua bangsa-bangsa
menjadi dua lambang nusantara
merebutkan sebuah putri berpakaian sutra
cantiknya membuat burung enggan bernyanyi
menikmati wajahnya di setiap detik tingkahnya
mendebarkan jantung seakan meledak
mengendapkan keraguan akan ketulusan
memerdekakan insan yang larut dari tertawaan
cinta ini hanya untuk si tuan putri

Jumat, 16 Oktober 2009

menuntut keadilan

kepakkanlah kedua tanganmu
kelangit kesegala penjuru
menegakkan kebenaran di balik kursi tua
menggugat bintang akan keserakahan
menawan bulan di bentengi cahaya gemerlap
menuntut kebenaran terlahir di rantai bumi
sepenjang masa hingga waktu
hanya bisa membisu
terdiam di sepanjang jaman

kuhanya membisu

hanya bisa tersenyum
ketika taraktor itu membelah tempat tinggalku
kuhanya bisa tertawa
menatap ayah berlari
menyelamatkan perabot rumah
kuhanya terdiam
barisan berseragam tertawa di balik kemanusiaan
kuhanya bisa seketika menangis
buku-bukuku berserakan di tanah
menjadi sahabat terpenting
menantang bodohnya aku

Senin, 12 Oktober 2009

puisi cinta

hanya diam berselimutkan rasa takut
kuhanya membisu ketika engkau mempertanyakanku
hanya mampu memandang wajahmu tanpa mengerti
jantung berdebar seperti larva menenerjang ke bumi
engkau laksana bidadari seindah permata
dan kuhanya diam
tersenyum menertawaiku
ada cinta
ada rasa
ada napas
dan ada kebahagian
mimpiku hanya sedetik lagi
ada cinta diantara kita
aku lelaki yang seperti dinding'
ternata cintamu hanya untukku

andaikan waktu mengulang kembali

kemana langkah ini
hanya sebuah bayangan terselip diantara pertanyaan
menanti sebuah jawaban
tentang arti kita hidup
untuk mengulang kembali seprti sedia kala
adakah jalan kembali
membasuh luka yang kering

adakah waktukan mengulang
masa kecil terlihat seperti tanah tandus
terselip cerita kemarau panjang
hanya air mata akhir dari tanya
saat mentari terbenam di sebelah barat
esoknya dengan segala doa kita menantang kedamaian
adakah damai kita sepanjang cinta
kita mencari
tak ditemukan

adakah akhir dari segalanya
wajah tak terlihat memancarkan roh kehidupan
keriput mengalir di sekujur tubuh
menghantui akan kematian yang mencekam
menanti saatnya tubuh dingin tak bernapas
hilang berganti
tertulis hanya sebuah nama

adakah tawa sekuat halilintar
adakah tanyakan berakhir dengan jawaban
andaikan waktu mengulang kembali

cantikmu

cantikmu bukanlah suatu harapan
sebuah masa depan yang indah seperti pelangi
cantikmu bukanlah segalanya
tertidur dengan jiwa menikmati tubuhmu dengan harga mati
cantikmu adalah anugrah
seperti firman membasuh setiap tubuhmu yang lelah
mennanti saatnya tertidur di dalam cinta
menawarkan cerita tanpa ada resah
bersembunyi di kelambu malam
dalam dekapan sang cinta

sebuah pertanyaan

jika engkau hanya terdiam di balik kebodohanmu
aku akan menggemparkan seisi dunia
kemarin masih ada sejuta di balik setiap langkahku
sekarang hanya sebuah lembaran yang terbang di tahta belalang
engkau tertidur di indahnya dunia
tanpa ada sebuah hutang dengan jeratan
memutar serselimutkan sejuta kebohongan
iapa saja yang melihat
tertidur b

masa lalu berganti

sang surya kembali mengepakkan sayapnya
di balik kebodohanku beranjak untuk dewasa
tertinggal ketika tanggung jawab menuntut
siapakah diri kita sebenarnya
aku bukan khalil gibran
aku bukan abu ghazali
aku bukan sang isa
dan aku juga bukab pahlawan
aku hanya manusia biasa
tertinggal diantara waktu
hanya puisi menjadi pena
menuntun kesendirianku
berselimutkan kekalahan
menjembatani hidupku
esok lebih baik dari sekarang

Sabtu, 10 Oktober 2009

kosong

aku hanya sehelai kertas
terdampar di lauatan rindu
aku terlahir di perut seorang wanita terhormat
di beri cinta terindah
bernaluri seperti ksatria
meng enang seorang yang bertemu dengan mentari
di balik awan tersimpan sejuta kata
aku bangga di dekapan malam
menyebut namamudi balik mimpiku

Kamis, 08 Oktober 2009

tentang tujuan

lihat semuanya telah berubah
pikirkan tak ada lagi seperti pelangi
renungkan mengapa jalan ini tak ada tujuan
pastika langkahmu berjalan
menuju surga

hidup kita untuk peduliit

aku hanya bisa menahan senyum
ketika bocah kecil menawarkan sehelai koran padaku
dengan tawa penuh harap
ku tahu kebaikan yang terdalam
bajunya seperti kenlap
di dapur rumahku
hanya sedetik kubasuh air mataku
ketika hujan membasahi bumi
kembali membuatku tak berdaya
dia duduk di sampingku
sehelai kertas di baca
bergetar jantungku bertanya
mengeja kata demi kata
mencoba untuk membaca
tersirat rintihan yang amat dalam
tubuhnya kurus tak ber-ayah
rambutnya kumal tak-ibu
bertemankan dengan waktu
menghibur diri sendiri
berjalan tanpa ada tujuan
di samping mobil-mobil mewah yang parkiran
membisu di balik rindunya pada belaian
inikah indonesiaku
hanya mampu berdoa
di balik dosa-dosa masa lalu
hai........
kalian yang terlahir dari besi
bentuklah dirimu menjadi samurai
membinasakan jiwa
dengan cinta
membunuh raksasa dengan ketapel
mengatakan kita adalah insan
insan bertanyakan pengharapan
untuk memenangkan setiap insan
terdiam tanpa ada tujuan
menjadi bahu
ketika bahu yang lain leleh
tanpa ada imbalan
memberontak melawan keadilan
uantuk menjadi hakim di dalam kebenaran
memenangkan insan satu persatu
di indonesiaku ini

bunga

ku bukan dewa
kubukan raja
ku bukan angin tapi aku hanya ingin
hidup seperti bunga di taman
mewarnai dengan ikhlas
mewangi
damaikan setiap insan yang memandang

rindu ayah

kuhanya terpaku di dalam kehampaan
ketika suaramu terdengar tak segagah yang dulu
emosi berkecamuk seperti aungan serigala
menerkam di sisa ketuaanmu
selimutmu tak lagi setia menahan kedinginanmu
engkau sandarkan tubuhmu berbalut keriput
memandang langit menghisap sebatang tembakau
dengan tajam pikiranmu berkelana
ke langit ke tujuh
mengingat istrimu tercinta
aku tahu
tapi aku hanya membisu
bila lonceng natal berbunyi
aku juga sama
merindukan mempelaimu
inginku bercerita
inginku bernyanyi
rindu ini menjelma seperti sebuah tangisan rindu
kusebut diantara sudut yang bersiku
di langit inginku sampaikan rindu ayahku yang dalam
di balik kenangan sebuah poto
ketika masih muda
yang kusebut namanya ibu

Senin, 05 Oktober 2009

novel

hujan membasahi bumi,petir bertahta di saat ini dengan rakusnya menghabisi pohon-pohon yang terdiam di runtuhan dahan-dahannya.listrik mati,mungkin gardu listrik juga korban berikutnya mungkin banyak juga korban berikutnya tetapi aku hanya berharap tulangku(paman,adik ibu atau bapak sebutan orang batak) tidak apa-apa karena ia belum pulang kerumah dari pangkalan becak sejak hujan itu merobek-robek semesta."tuhan temanin tulangku,agar di luput dari kemarahan sang alam"ucapku dalam hati. kembali lagi aku membaca naskah skripsi seniorku di sinari lilin kecil yang sangat menarik bagiku karena sesuai dengan tesis skripsiku tapi keselamatan tulangku sangat aku risaukan.aku gak athu mengapa,aku menyebut tulang karena ia bukan orang batak tetapi tulangku pernah mengatakan bahwa ayahku dengannya sahabat akrab beserta ayahnya si boby yang juga satu kamarku.tulangku ini adalah sebagai ayah bagi kami berdua karena kami di besarkan sejak kami berusia 5 tahun,dia memiliki putri yang sangat cantik dan istri yang sangat baik meski pernah kudengar dari tetangga mantan seorang pelacur tapi bagi kami berdua ia adalah dewi yang kami anggap ibu .entah mengapa?tapi di balik wajahnya yang melankolis aku tahu banyak kisah yang di pendam dia.pernah suatu hari aku dan boby bertannya dimana keluarga kami?

Minggu, 04 Oktober 2009

putri sion

ada cinta seperti embun pagi
terlihat damai hatiku saat melihatmu
meski tanpa ijinmu
mengagumimu di balik kebodohanku
kesederhanaanmu tawarkan kesombonganku
cantikmu mengalahkan keindahan simarjurunjung
dan tutur katamu bisikkan setiap telinga yang mendengar
terpesona
engkaulah bunga itu
kunanti diantara doaku
cintamu mengalahkan aku
membawaku ke jalan surga
engkaukah putri sion itu
apakah ada rasa yang sama
sembunyi di antara rindu yang dalam
sama seperti halnya aku
merindukan sang mempelainya
menanti cinta berselimutkan kedamaian

kusebut namanya ayah

jemarimu sedetik tak engkau ijinkan
menikmati indahnya dunia
matamu liar mencari yang tertinggal
semuanya engkau berikan hanya untukku
menantang mentari bila senja telah tiba
menggapai senyum itulah yang terindah
saat fajar tiba melihat senyum anakmu
di gubuk tua itupun milik si tuan kaya
laksana hujan membasahi bumi
engkau tetap gagah seperti pahlawan spartha
melukiskan surga di setiap tutur katamu
tak ada lelah....
tak ada gentar
sendirian menuntut kedamaian anakmu
di tanganmu terlukiskan masa depan anakmu
di otakkmu terlihat senyum anakmu
demi cinta engkau bertemankan dengan kelelahaan

siapakah jiwa ini........
dari desa turun kekota
menemukan permaisurinya diantara keramaian kota
berjanji sehidup semati
meneruskan waktu ke waktu
agar tak hilang dari jiwa yang terkalahkan
beriiringan saling menjaga
mencintai seperti bulan dan bintang
dan aku adalah salah satu bintang itu
terlukiskan kehebatan sang lelaki
kusebut namanya AYAH



terimakasih ayah atas semua cintamu,hanya doa dan pengharapan yang tulus dan murni

hanya diam

terlahir jiwa yang baru
di balik dinding gedung tua
sisa-sisa kerinduan yang ternoda
berkecamuk seperti badai di gurun sahara
menerkam siapa saja
hingga waktu lahirkan jiwa yang baru
kita terpanggil untuk bertanya
ketika kerinduan kebenaran membungkam
sisa-sisa kebodohan bangsa ini
banyak anak-anak hanya bisa bermimpi
di sudut jalan dengan harapan
esok mentari menyelimutinya
banyak sarjana-sarjana negeri ini
terdiam diruangan gelap
menusuk jiwa dengan sebilah keputus asaan
menghabisi hidupnya dengan seribu pertanyaan
sampaikan salam rinduku wahai langit
bagi mereka di enam tahun yang lalu
di pusara mu terlihat tak lagi seperti taman
hanya sebuah kenangan yang sangat menghantui

Kamis, 01 Oktober 2009

cinta

kukan terbang ke langit biru
kukan katakan kepada setiap yang bernapas
aku adalah butiran debu
terbang ke arah lautan
merindukan pantai
memelukknya dengan sekuat cinta
memporakporandakan kebimbangan
aku lelah mencintaimu
aku lelah menjadi butiran debu
bersembunyi di balik lingkaran

wanita terhormat

denganmu kurasakan sejuta indah
denganmu ada tawa sehangat mentari
mengisi nadiku dengan senyummu
kurasakan ada sesuatu yang baru
terlahir begitu aja
mengubur masa laluku
dan kurasakan sejuta cinta yang sesungguhnya
engkau hadir dengan kesederhanaanmu
seperti bintang di tengah malam
menemani bulan menunggu mentari
engkau selimutiku dengan hidup
tanpa ada tanya
engkau mengusap airmata kehidupanku
menjadi tiang di saat aku rapuh
dan menjadi pahlawanku
ketika aku lemah di kalahkan sang waktu
engkau adalah segalanya bagiku
engkau adalah putri sion yang telah lama kunanti
bukan karena cantikmu
bukan karena hebatmu
semua seperti awan putih
ketika di pagi hari
aku mendengar indah bernyanyi
suaramu jatuhkan setiap kemalasanku
bangkitkan kebodohanku untuk bangkit kembali
meninggalkan setiap jengkal masa lalu
untuk bangkit berdiri
katakan kepada dunia
aku hidup bukan karena waktu yang kupuja
tetapi karena cinta yang pernah mengalahkanku

Rabu, 30 September 2009

bencana menanti

dentang waktu membawa langkahku meninggalkan yang tersisa
bersama sang awan aku menanti sebuah keajaiban
bencana kembali terdengar di sebelah barat
kembali negeriku tersentuh
ada apa dengan negeriku!
ku hanya terdiam
ketika alam membalaskan sejuta kematian
kita hanya membisu di altar-altar mesjid
memohon ampun bersujud

kemarin benar sekumpulan pengusaha
membuat gundul ratusan gunung
kemarin memang benar ibu-ibu membuang sampah di lautan
kemarin bom menghentak batu-batu karang muda
sekarang kumendengar manusia-manusia berdosa di teror alam
menangis hanya jawaban terakhir
tersenyum hanyalah akhir penantian
rumah-rumah hancur seperti debu
banyak nyawa yang melayang
tangisan seperti ayunan kecapi
menyayat hati demi si tuan kecoa
merampok senditian negeri ini


ku tanyakan kepada langit
tangan siapa yang membangkitkan kemarahan alam
siapa...............
kuhanya satu jawaban di balik tangisan bocah-bocah
semalam ada ayah sekarang hanya diam membisu
jawablah kami......................
mengapa ada hotel-hotel megah
di atas tanah rumah kumuh kami kemarin
semua itu adalah akhir segalanya
ketika alam tak lagi berjalan menuju tujuan yang sama

Selasa, 29 September 2009

ada janji menghitung hari

di atas pusaramu
aku seperti orang gila
banyak mimpimu
terukir untukku
tapi aku hanya manusia biasa
hilang di kabut malam
aku hanya mengingat
tapi aku tak bisa melawan
cambukan itu menelanjangiku
mengubur rasa patriotku
aku tak bisa
aku tak mampu
jangan paksa aku
melawan pemberontakan mereka

janji

hari ini aku hanya bisa tersenyum
wajahmu melukiskan padaku
sebuah harapan terakhir
menjadi orang besar
bersahabat dengan mimpi
berdiri diantara ke dua belas bintang

alam menangis di balik keserakahan

ungkapkanlah apa yang tersirat di dalam benakmu
katakanlah agar setiap yang bernapas mengerti
apa arti dari semua bencana ini
bicarakanlah dengan lantang sesuai apa yang terjadi
dan biarkanlah daun-daun berbunga sedia kala
mendamaikan setiap insan yang haus kebahagiaan
agar alam tak lagi menaruh dendam yang panjang

di sana gelombang memarahi lautan
tangan-tangannya membalaskan dendam
jauh di sana dengan amarahnya tanah memejamkan mata
orang-orang tak berdosa
bersatu dengan alam
di sini angin menampar sebuah kota
hancurkan kegagahan gedung-gedung yang angkuh berdiri seperti tembok berlin
tak berdaya
aku juga tak berdaya menatap tangis mereka
aku juga meneteskan airmata
mengapa alam memusuhi kita
mengapa kita larut tanpa ada kata maaf
kita menumpas kehidupan mereka
bukit-bukit berdiri seperti tembok ratapan
pohon-pohon terpajang menjadi penyangga
lauatan seperti gunung sampah
semua berdikari membentuk lingkaran
seperti singa di coloseum romawi
mengintai setiap detik hidup kita
ketika alam tak lagi sedamai mentari

Minggu, 27 September 2009

suara harapan

luka ini semakin perih
luka ini membusuk di ketakutan yang amat panjang
ada sejuta kenyataan yang tak kunjung habis
menertawai setiap jengkal perjalanan
dan kuhanya berharap
sesuatu keajaiban kecil
menyelamatkanku
ketika hidup harus memilih kita hanya bisa tersenyum
semuanya seperti episode baru meski penuh kejutan
tapi mampu menertawai dunia

Jumat, 25 September 2009

aku gila

aku gila
hanya sebuah lukisan
lukisan tentangku kini hanya sebuah garisan
sayapku memusuhiku dengan takdirku
menghujam jantungku dengan sebilah ketakutan
aku di musuhi bangsaku
bangsa yang hanya membisu
ketika haknya di tukar dengan sebuah kesombongan

pernah engkau bertanya
negara ini penuh dengan pemimpi
pernah engkau melihat kesombongan negeri ini
di televisi para kurcaci mainkan perannya seperti kelinci
sebuah cerita kehebatan bangsa ini
sebuah cerita kemewahan negeri ini
ketika cinta menjadi topik yang mahal
ketika anak -anak bangsa hanya tahu bertanya
apakah negeri ni sehebat di sinetron-sinetron
ada mobil mewah
ada rumah seperti istana
anak SD diajarkan bercinta
ada si tuan yang di agungkan

hentikan...........
dengarkanlah suara dari mulut macan ini
meski masih muda mampu meredakan gelombang yang marah
bijakkah engkau menyembunyikan realita bangsa ini

di atas pena aku takdirkan sebuah kisah

kepakkan sayap itu membawa langkahku
memperkenalkanku pada hikayat cinta
semilir angin dan awan terlukiskan sebagai kekasih
bercinta di atas kepalaku tawarkan segenggam rindu
setelah sekian lama waktu mengajakku berkelana
menembusi dan menantang sombongnya mentari

aku pulang.............
ada rindu setebal warna pelangi
ada kemenangan yang terlahir
ada napas yang baru
semua terukir seperti relief sejarah
menghantui masa masa susah
ketika keyakinan dan kekalahan bertabrakan
aku manusia di kalahkan sebuah kemiskinan
di atas pena aku pernah
merajai pikiranku dengan petualangan
menjadi panglima besar
semua masih sperti hantu
menanyakanku ketika mata terpejam
karena mimpi bukan di gedung-gedung birokrat
tak terbentuk bersandar pada hitam langit
tak lebih dan setengahnya aku hanya sehelai layangan
terbawa angin tanpa tujuan
merantau dari ujung ke ujung
kini hanya mimpi.............
mimpi yang tersalib di bukit kekalahan

aku kalah.....
tapi kini aku menang
kini mimpi itu menyelimutiku
menawan jeritan kelelahanku dengan segala pikirku
menancapkan kerja keras dengan harapan
terdiam diantara kebodohan
di hantui rasa kekalahan
tak selamanya pena melukiskan cinta yang sesungguhnya



untukmu ayah,karena engkau hanya tersenyum ketika aku mengatakan bahwa mimpi bukan hanya mampu di raih di kampus-kampus,tetapi menjelajahi hidup menanamkan jati diri yang tak kunjung hilang, merantau dari kota ke kota dalah sebuah perjalanan menuju surga.,.aku tak mau menjadi polisi,guru,kuliah,dan segalanya karena itu mimpi itu hanya sebuah barang yang bisa di beli.terkutuklah mereka dengan hanya bersandarkan kekuatan orang tuanya.

Rabu, 23 September 2009

hujan membasahi bumi,aku masih seperti yang dulu terpaku diantara resahku.entah mengapa sejak aku berkenalan dengan gadis itu aku merasakan sesuatu yang beda ada cinta,ada sayang dan ada aliran listrik 1000 watt.tetapi lupakan aku takkan memikirkan wanita karena aku berjanji di atas pusara para orang-orang bodoh akan menjadi batu sandingan bagi mereka yang serakah.mungkin ini hanya halusinasi bagi aku orang yang bermimpi di terowongan-terowongan tetapi ini benar kini kusandarkan sebuah harapan mengajak ,bercermin dan memehami bahwa saatnya kita untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini.aku bangsa indonesia,aku salah satu anak terpintar di kelasku tetapi aku menerima kekalahanku dan mengakui aku memang pecundang yang di lahirkan di tanah yang gersang.aku tidak menyesali semua ini karena aku tahu tuhan juga takkan memberikan cobaan yang berat untuk kaumnya.orang tuaku hanya sebagian kaum yang tertindas di negeri ini,tapi cinta yang mereka berikan kepada kami anaknya adalah permata yang yang mampu membeli seluruh isi bumi.kekuatan cinta mengajarkan aku apa arti hidup sesungguhnya,menghormati orang dan memberikan yang terbaik untuk negeri ini walaupun akhirnya aku hanya bersandar di kursi yang tua yang penuh imajinasi yang menumpuk.

namaku hendra aku dilahirkan di rumah kontrakan tepatnya kota siantar.mimpi yang tercipta di sini banyak bahkan yang kan kuungkapkan tentang negara ini.karena apapun yang dipikiranku akan tercipta sesuatu perubahan yang dilandasi tanggung jawab moral.aku tahu bung iwan fals dah lelah nyanyikan lagu mengusik mereka yang serakah tapi kini dia tak sendirian lagi bahkan slank sekarang lebih aktiv lagi mengabarkan kepada para bapak-bapak senayan untuk mengutamakan kepentingan rakyat.kini aku walau hanya bermimpi aku hanya ingin agar aku bisa berbuet sesuatu untuk negeri tercinta ini walaupun aku harus berkorban karena aku percaya takkan ada kemenangan tanpa ada perjuangan dan pengorbanan,tak ada yang datang tanpa dipikirkan.semua itu mengganggu tidurku tentang permasalahan negeri ini,bayi-bayi menangis di rumah sakit karena orangtuanya belum melunasi yang harus menjadi tanggung jawabnya,seribu bapak-bapak hanya bersandar pada harapan tentang anaknya yang memerlukan kehidupan yang layak karena baru aja pemogokan kerja dan PHK,para sarjana mengutuki negeri ini karena ijasahnya harus berakhir di lemari dan sebagian dari mereka jualan ice krim,wanita -wanita muda menjual keperawanan mereka demi sebungkus nasi,anak-anak menawarkan mimpi-mimpinya di perempatan jalan,para penguasa hanya bisa merapatkan tentang pesta pora,presiden hanya tahu melakukan pembangunan tetapi tak pernah memikirkan bayi-bayi di malam hari di teras-teras toko berselimutkan koran dan semua nya mengundang air mataku untuk mengajak setiap orang membaca ini untuk mengepalkan tangannya kelangit,"kita jangan hanya mendiam,kita harus bergandengan tangan demi merah putih"

seribu langkah di dalam kebisingan kota jakarta hanya satu yang terlukiskan walaupun aku tak pernah menginjakkan kedua kakiku di sana.aku hanya melihat dan mendengar bahwa di sanalah markas manusia-manusia tertindas dan serakah,semua bercampur satu menciptakan topengnya sendiri tak ada kawan dan sahabat semua bercampur demi kepuasan semata.

Senin, 21 September 2009

ada san siro di kotaku

ada san siro di kotaku
ada tawa yang lepas
ada cinta selembut mentari
ada persahabatan yang takkan mati
meski waktu mengubur segalanya
aku dan kamu
roberto baggio itulah kamu
bertuliskan pada seragammu
kita menantang anak-anak seusia kita
demi kehormatan dan uang jajan
kita sama hebatnya gentarkan semua lawan
mencetak gol mengukir hebatnya kita
di SD JALAN PERWIRA batu-batunya seperti serigala
kaki-kaki seperti terbuat dari baja
tapi kalah bukan akhir segalanya
sampai peluit terakhir berbunyi
takkan ada menyerah
dan itulah kamu...
kita saling menjaga
kita sama tertawa
kita sama menangis

di sini di san siro yang engkau sebutkan
10 tahun telah berlalu
aku berdiri ...........
tak ada lagi seperti dulu
kita yang pernah muda
menanti mentari tertidur di ufuk barat
bermain bola
di san siro
aku mencari wajah-wajah
wajah kecil dengan senyum kepolosan
hujan membasahi bumi
kemarin namamu hanya kenangan
setelah gempuran penyakit
mengajakmu berkelana bersatu dengan alam
tapi senyummu
di san siro
ada roberto baggio mencetak gol
ada nesta si tembok besi

kita dan mimpi
mimpi di senayan
akhir dari segalanya
menunjukkan hebatnya kita
tertidur diantara jembatan
mimpi yang tak kesampaian



cat:banyak anak negeri ini hebat bermain bola tetapi harus menghadapi realita
di kalahkan oleh sang durjana.
wahai para pemuka dengarkanlah jeritan anak bangsa ini jangan jadikan sepak bola menjadi barang yang mahal.seperti san siro di kotaku
itu hanya lapangan upacara sekolah berbentuk L bukan seperti lapangan bola semestinya.tetapi di situ pernah ada roberto baggio dan ada alexsandro nesta.

pada akhirnya

kita akan mengadakan sebuah rencana
kita akan melakukan pemberontakan
kita akan menggemparkan dunia
semua akan menjadi indah
pada akhirnya
jika insan setiap detik
terlahir dari merah putih

rinduku di balik mimpiku

siapakah mempelaiku
adakah dia bersembunyi di gua-gua
sama halnya dengan aku merindukan mempelainya
aku yang lemah di hadapan wanita
jantungku meledak berdebar seperti bom marriot
merenggut nyawa tak berdosa
aku bukan lah sang penyair
bermain kata sejumlah gadis terpesona
mendekap hari mewarnai dunia
aku adalah selembar kertas
penuh dengan coretan
bernapaskan hitam perjalanan
aku bukan juga bukan pemikir seperti karl marx
ilmunya memporakporandakan idealisme dunia
aku bukan el che
berjuang seperti singa mengalahkan kaum burjois
mengatakan pada dunia ancaman imperialisme
aku bukan nelson mandela
sebagian hidupnya mendekam di penjara
demi hak yang sama
serta aku juga bukan martin luther
pemberontak dengan pena mengubah dunia
tetapi aku adalah aku
aku hanya seorang manusia
yang dikalahkan cinta
aku menanti wanita terindah
mengisi hariku dengan awan putih berkarpet salju
hidup tanpa cinta seperti taman yang gersang
tanpa ada kumbang
rinduku di balik mimpiku

kisah cintaku

dunia menangis di balik jendela
satu persatu daun tua berguguran bersatu dengan alam
seiring tanyaku tentang cinta
cinta yang hilang di balik gereja
ada cinta ....
ada senyum....
tentang mu masih seperti hantu
menghantuiku menjelang malam merajai
kusebut namamu di balik bantalku
kupeluk tubuhmu di balik tanyaku
rindu ini telah menjelma menjadi bom kuningan
merenggut setiap waktuku memikirkanmu
adakah engkau merasakan rindu yang dalam
saat-saat ini
aku terlena manisnya getaran cinta

!!!!!!!!!!!!!!!!!

walau kutahu aku hanya sebatang lidi
kuhempaskan kebodohan ini
hidup adalah tujuan
mati akhir segalanya
tapi mengalahkan kehidupan
itu akhir dari perjalan
mimpi lahir di setiap detik harapan
dan hanya harapan membuat kita menjadi besar
menghormati hidup menawan surga

rindukanmu

kan ada tetes airmata
ketika tangan ini membelai wajahmu
rinduku mengalir seperti sungai asahan
terlewati tahun ke masa lampau
kudekap seperti gunung sinabung
dan takkan kulepas
hingga kematian bersandar di sebelah kanan
kan kunyanyikan lagu cinta
sengaja kusimpan di dalam gua kerinduan
tataplah wajahku ini jelita
beranikanlah dirimu
bibirmu kukecup
rebahkanlah cintamu di balik rembulan
engkaulah wanita terhormat di lukisan pelangi impianku

siapakah aku

aku adalah sebatang pena yang melukiskan indahnya
kedamaian mentari
berselimutkan kemiskinan aku menantang
sang sombongnya penguasa
aku tak gentar karena di darahku terlukiskan tentang kematian
di dalam hidupku aku di ajarkan
hidup seperti karang
di tangan kananku kusisipkan sepenggal pemberontakan
sebelum mentari bertahta di negeri ini
satu persatu akan lahir jiwa pemberani
terlahir benar bernapaskan kepakan sayap garuda
di tangan kiriku tersimpan sebuah cerita
seribu airmata negeri ini
nama-nama raja kecil berlambangkan keserakahan
telah lama aku membisu
telah lama aku bersembunyi
di batu-batu yang tak berharga
di sini terdengar tangis bayi di rumah-rumah sakit
rindunya untuk menetek ibunya
disini terdengar seribu bapak-bapak pengangguran
yang bertanya pada tuhannya perihal tangisan nasib anaknya
manusiakah mereka.......
menatap ke langit seperti orang gila
binatangkah mereka.....
mengulurkan kedua tangannya
atau mereka adalah bunga-bunga terasing
di taman tua di tanah gersang

aku melawan kedamaian si tuan jingga
aku berani menantang kebenaran
jiwa ini dipilih untuk dimenangkan
kita dan siapa......
aku atau mengapa.....
sarjana-sarjana muda terempas di sawah-sawah
polisi dan aparat bernyanyi seperti pelacur
merebut singgasana
anak-anak mengubur mimpinya di perempatan jalan
artis -artis bersolek seperti waria
memperkosa setiap insan
aku hanya diam...
di balik kertas
tertuliskan namamu
karena aku sama gilanya denganmu
pemberontakan ini akhir dari tanyaku

bertemankan kematian

jika aku mati
aku tak ingin ada yang meneteskan airmata
biarkanlah jasadku tertanam di tanah yang gersang
tersimpan di setiap orang yang memandang
ternyata hidup hanya sebentar
kukan menanti datangnya menghadap raja semesta
membisikkan sebuah harapan
aku bosan hidup menjadi kutukan

Jumat, 18 September 2009

BODOH ITU PENGECUT

aku di besarkan diatas tikar penuh sejarah
rumahku melukiskan nyata tentang kesusahan
semuanya menjadi satu meracuni jantungku untuk
hebat seperti karang
dan aku sekarang adalah jelmaan serigala hitam
manusia merdeka dari keserakahan
kunyatakan pantangan di balik moral
kuimpikan surga di sebelah kanan
dan menghampirinya ketika mentari berubah menjadi bulan
dan akukan mengatakan kepada setiap orang
agar terdiam didalam keheningan
merenungkan hidup sejenak
seberapa lama lagi kita bertahan di negeri sendiri
apakah kita hanya duduk manis di beranda rumah
menikmati indahnya patamorgana
lalu esoknya kita terbungkus berdindingkan tanah
diantara jumlah keringat yang berdesakan di pori badan
bergeraklah saudara
jangan tanyakan kemakmuran
berontaklah sahabat
demi impian seberat sekilo
singsingkan semangatmu di balik pakaianmu
sirami pemikiranmu dengan masa depan
berontaklah dari kebodohan
bangkitlah dari tidur yang panjang
kita telah di tinggalkan di tepian hutan
laskarilah tubuhmu dengan penderitaan
dan matikan keputusasaan di tangan kirimu
berontaklah seperti pelangi
demi merah putih dan generasi
"TINGGALKAN KEBODOHAN SAMPAI DI SINI"

kata hati

kukan membunuh sepi
dengan rintihan ilalang di tepi hutan
kitakan mengadakan pemberontakan
membagikan kedamaian di sepanjang hari
hinga tak ada seorangpun bersembunyi di balik jendela
mencari alasan mati sebagai pengecut

patriot tua bersenjata sapu lidi

jiwa yang terkubur di balik perjuangan
napas yang terhenti tertembus peluru
mimpi yang terikat di langit nusantara
masih membekas ketika kita bersama
kita masih muda menembusi waktu
hutan dan desahan ketakutan adalah sahabat terdekat
senjata di bahu siap meluncur membisikkan kematian
dan tiap detiknya kematianlah yang membuat kita tertawa
kita masih muda dan engkau mati muda
engkau pegang erat tanganku dan engkau tersenyum
tak ada air mata hanya senyum
kereta menantimu berdamai dengan alam
sepasang peluru bersarang tepat diantara perutmu
memperkosa jantungmu untuk terdiam di balik patriotmu
kita masih muda seperti saudara
meski kutahu kita berbeda bahasa
tapi demi merah putih berkibar
kita menantang sombongnya dunia peradaban
dan tentangmu adalah sejarah bagiku
di pusaramu aku berdiri
dah 60 tahun berlalu
kini pusaramu seperti taman lembu
dihadapanku tertulis namamu
tertutup semak
nisanmu hanya dapat ku eja
di balik warna yang busuknya sama dengan penguasa
dan aku.........
hanya mampu tertunduk
aku hanya sebagai tukang sapu jalan
di balik tua dagingku
aku di khianati negeriku sendiri

Rabu, 16 September 2009

janji terpung di lautan luas

ada rasa kecewa
saat engkau mengingkari janjimu
ada segenggam kebencian
menawarkan pemberontakan
dulu engkau seperti anggur
memabukkan semua yang mendengar terlena
sandarkan engkau ada
banyak yang bernapaskan padamu untuk harapan
tetapi kamu tak jauhnya dengan serigala
meneror setiap jengkal mimpi anak-anak negeri ini
kini hanya pasrah
bertemankan doa
seperti alam berdamai dengan malapetaka
di balik bimbang kami menunggu mati
rencana apa yangkan engkau perlihatkan....
bisikan apa yangkan engkau sampaikan
dan janjimu hanya terapung di lautan
bergerak kearah penjaga alam semesta
hutan-hutan hanya sebuah daratan kosong
laut laut menangisi masa lau
manusia terdiam di balik ketakutan
alam meneror dengan dendam sejuta langit
kami sandarkan mimipi padamu
semua janjimu terapung di lautan luas
janji terdampar di tanah merah
dan kami hanya berharap
tuhan di sebelah kanan kami

Senin, 14 September 2009

PELACUR DAN DIANTARA MIMPI-MIMPINYA

ku hanya terhanyut ketika tangan mungilmu menuntun langkahku
mengajarkanku apa arti hidup ini
menuntun langkahku untuk selalu tersenyum
dan ada tercipta sebuah cerita yang damaikan hatiku
sesungguhnya di dalam mimpi-mimpiku
aku menantikan sinar kecil yang mengubah hidupku
setelah perkenalan itu
jantungku bergetar berlari menawan wajahmu
pelupuk mimpi
ada cinta.........
ada damai............
di balik kesederhanaanmu ada yang lain
di balik senyummu ada sesuatu yang indah
di balik tawamu ada ketabahan yang dashyat
dan desahan napasmu kurasakan ada perjuangan yang takkan berakhir


dalam pelukanmu kurasakan surga yang sesungguhnya
meski jalanmu penuh luka dan airmata
bertemankan bulan yang menjadi saksi
kau jual tubuhmu dengan sebuah materi
dan semua tahu itu bukan karena maumu
tetapi karena mimpi yang gak terbeli
senyummu wahai pelacurku di balik selimut jingga
menerobos pemikiranku untuk hidup selamanya
sucikah engkau atau kau hanya batu sandungan bangsamu
hinakah engkau yang terlahir tak seperti awan putih
bencikah engkau menerima takdirmu
ataupun engkau mengutuki tuhanmu
tapi engkau masih engkau
masih ada pengharapan
ada sejuta cinta
meski menerobos kegelapan
aku pantas memberi hormat padamu
karena hidup kadang memberi kita pilihan
dalam doaku dalam genggaman tanganku
kurasakan cinta suci saat bersamamu
akukan selalu berdiri di depanmu menantang badai
kurela mati .........
karena kau juga manusia.
hingga bangsamu menangisimu di balik merah putih
dengan kertas berselimutkan
"aku dikalahkan oleh bangsaku sendiri
aku memiliki mimpi
tapi mimpi itu hanya ada di pancasila
aku tak mau mati berselimutkan dosa
dan biarkan pancasila terbaring di pusara
aku bangga menjadi bangsa INDONESIA
AKU BANGGA MENJADI PELACUR,PELACUR YANG MIMPINYA TAK TERBELI BANGSA INI"

dosa di balik impian

jika aku berdosa
dan jika aku terhina
aku takkan membatu
seutuhnya akukan bersujud
mohon ampun dengan segala hormat

tak ada seperti kehilangan
jauhku di dalam tanah gersang
menembus kegelapan dengan sebilah pedang bersarungkan kesombongan
menunggu waktu menunjukkan keperkasaan sang allah
aku memperkosa takdirku sendiri
aku menghianati impianku
berlari seperti riak gelombang mengejar kepolosan pasir putih
menjadi hakim kecil
dan semua wajah mengutuki diriku
di hatiku aku adalah pangeran tapi di hati mereka
aku adalah serigala
aku yang membeku di jalan penuh dosa


sesaat ku renungkan ...........
sejenak aku memandang ke langit..............
air mata membanjiri wajahku
seperti sungai tak bermuara
banyak cerita menenggelamkanku
di tepian pagi.........
ku bersujud ......
mohon ampaun dengan segala hormat

Sabtu, 12 September 2009

untuk seseorang pujangga

awan ini akan mengajarkanku tentang cinta
setelah waktu yang sombong menidurkanku di kerinduan yang dalam
andai kata aku bisa menjadi puisi
akukan mewarnai di setiap detik perjalananmu
tak ada tangis,rindu,serta harapan tapi itu 6 tahun yang lalu
benar ada sekuntum mawar
tertunda yang tak pernah kuberikan
itu aku ...........
mengagumimu di balik jendela

masih teringat ketika aku katakan
masih terbayang senyummu yang kemarin
dan masih saja kusimpan puisi cintaku
dan mungkinkah engkaukan tahu.......
di balik bantal kutahu kaulah yang kusebut
mengingat wajahmu seketika matapun terpejam
tapi dimanakah kamu...........
pernahkah kau memikirkanku........
bertanyakah engkau tentangku...........
di balik awan kumenanti rinduku

jangan hanya diam

jumlahkanlah berapa banyak pengecut di negeri ini
jumlahkan berapa banyak pahlawan di negeri
dan jumlahkan berapa banyak anak -anak tak sekolah
serta jumlahkan berapa banyak anak negeri yang mati muda
dekatkan pemikiranmu pada sesuatu yang tak bertumpu
dan renungkan seberapa jauh kau hidup
pernah kau pikirkan negeri ini sedetik aja!
hai para pangecut............
pernahkah kau bayangkan negeri ini
inilah negeriku..........
kumpulan para kurcaci

Kamis, 10 September 2009

aku hanya seekor merpati

kini aku hanya seekor merpati
terbang seperti awan
bertemankan langit
yang tak lagi membutuhkan daratan
yang bernapaskan kemunapikan

aku hanya mendengar
aku tak bisa melihat
ketika anak negeri berselimutkan putus asa
aku hanya mengis tanpa airmata
menatap jauh kehancuran bangsaku
menggugah siapa saja yang melihat
dari pengasingan yang mampu tumbuhkan
helaian sayapku ingin aku menyapa
hentikan kesombongan para pemuka
tapi adakah yang tersenyum untukku
tapi adakah tangan tempatku bersandar
ketika peluru-peluru mereka
mencabik-cabik sayapku
akankah ada .....
terlahir suatu ...
mungkinkah ada
tapi dia hanya diam berpakain tak selajimnya
berontak tapi takut mati
akankah ada merpati kembaran seperti aku
menemaniku di ruangan gelap
dan berbagi waktu
dengan pemikiran revolusi
ataupun seberkas bayangan berwujud seperti hantu
mengajariku dan aku murid terbaiknya
menguatkanku dengan syair perjuangan!
ketika jasadku telah menjadi tanah

aku hanya seekor merpati
terdiam di balik awan
menanti tiba saatnya
bukit-bukit hijau
melahirkan jiwa-jiwa kesatria
dengan pakaian perang serta pedang terhunus
menantang kejaliman
dengan sebatang pena mengukir kemegahan
dan dengan sekuat tenaga bergandengan tangan
hingga matahari pun takut dengan impian mereka

ironis

jalan ini menghentikan langkahku
mataku mengalir seperti sungai ketika kutemukan selimut negeri ini
mengapa masih saja di tutupi
dan badut tertawa di sisinya
melongok seperti kacung
puas menjilatinya

mimpi yang kemarin

hujan membasahi bumi
diantara tanya aku masih seperti dulu
menanti hingga ada seberkas cahaya
dan damaikan hatiku
jauh aku melangkah di dalam kesendirian
seperti angin yang berhembus tanpa tujuan
di kota ini terasa sempit
imajinasiku dibunuh tak tersisa
mati hingga terkapar di tanah tak bernama

airmata sahabat terbaik
doa dan harapan nyanyian surgawi
tak tersirat tawa
tak terpikirkan kata-kata
hidup di negeri orangkah aku......
atau apakah ini suatu lembaran baru
meniup sangkakala di balik bukit
menahan pedih dan napsu duniawi
di negeriku sendiri.

mimpi-mimpi yang dulu bercahaya
kini pudar dan berganti warna
rasa cinta terukir sempurna
berubah menjadi serigala siap menerkam
yang polos hatinya berubah menjadi hitam
tang taat hatinya menjadi pemberontak
yang berani menjadi pengecut
dan yang putus asa,mati muda
terlihat jelas tanpa cerita
ketika anak bangsa di khianati bangsanya sendiri
kami hanya mampu bertanya
di balik mimpi-mimpi senja di ufuk timur

Selasa, 08 September 2009

aku muda

kuhanya membisu
tak ada satupun suara yang kuutarakan
semua tak terpikirkanku di hadapan mereka
jauh aku berbeda
semua telah hilang seperti bukit hijau yang tandus
pemikiranku ketika satu persatu
gagasanku berakhir di jahatnya persengkokolan mereka
pertanyaan dan alasan mereka yang memusuhi langit
aku hanya terpaku
aku tak mau merespon
aku diam seperti padi

akankah aku terima kekalahan ini
ketika setiap kata tak bernyawa
tak seperti misteri bayangan penuh
palsu penuh sandiwara
menggugat dan menjauhi kebenaran
dan menelanjangi pemikiran
negara ini di kotori cerita busuk
negara ini di buat seperti boneka
generasi didik seperti tak berhati
dan kita hanya membisu
tak ada yang melawan
dan aku ........
seperti aku............
beginilah aku......
kembali taringku melayu
mereka bersulang seperti kumpulan bangsawan
terdengar tawa keras
dan aku hanya membisu......
dikalahkan karena aku muda

Senin, 07 September 2009

aku anak siantar
aku bangga jadi anak siantar
kota ini mengajarkanku hidup
tentang cinta dan nurani
aku tinggal di BDB lorong 24
di jalan itu ada kebahagian
yang takkan terlukiskan
aku SD di jalan perwira lorong 23 BDB
dimana kini kau sahabat.......
3 tahun kuhabiskan di SMP negeri 8
masihkah jalan pane di penuhi dengan lubang
titip salam amamu desminar sidabutar
dah berapa anaknya!!!!!!!!!!!
jam enam aku harus online di kamar mandi
biar tak terlambat ke SMU negeri 1
semua berdesakan seperti ikan rebus di dalam bus
uih!!!aku rindu bau yang menyengat di dalamnya
lidia kamu sombong banget sih
pesan di facebookku gak pernah dilirik
ama pak polisi alfredo seragamnya bagus bung
tapi tanya ya ama emaknya ,berapa sih duit dikeluarin untuk beli seragamnya!
pasti mahal dong!!!!!!!!!!!!!ah!!!!!!!!!!!!!!!!!!
kini aku di batam
halo parlin
gimana belum dapat cewek yang cocok ya
kawin dong biar makan enak kita
kawin-----------kawin--------
thanks

realita cinta

jika aku tak mampu lagi............... kukan mendiam
dalam seribu tanya
jika aku tak kuat lagi..........akukan tertidur
dalam seribu mimpiku
kukan tepikan semua mimpiku
kukan bekukan selimut cintaku
biarkan tanganku,merasuk dalam istanamu
untuk terakhir kembali
namun...............
hitam keadilan menerkamku di balik dinding perbedaan
menahanku dan merobekku tanpa nyali
meludahi pemikiranku dan menelanjangi aku
agar aku tertidur berselimutkan ketakutan
dengarkanlah................tertawalah.................
hai.......binatang yang memiliki tanduk di kepala
apakah orang seperti aku tidak berhak mencintai
seorang putri sion
apakah kemiskinan ini menjadi jurang
dan apakah ituyang namanya keadilan
bagi kami yang dikalahkan kehidupan
karena pada saat ini......
ketika mentari bersahabat dengan penghuni alam
di situ aku jugakan menyeret tubuhku
melakukan perjanjian kepadamu
bahwa cinta itu adalah hadiah yang paling berharga
yang diberikan sang isa kepada anaknya
hingga keturunanmu merasakan kejahatanmu
hingga akhir dunia...........
dan mataku tertutup untuk bersatu dengan alam
sendiri menahan kematian
melukiskan indah wajah kekasihku dipelukanku
sampai jumpa di kehidupan yang lain
hingga napas..............
di ujung membisu

aku dan pikiranku

aku adalahseorang patriot
tak ada takut di medan perang
aku seperti titus
menguasai seluruh dunia
tetapi aku tak mau sperti zonah(pelacur)

aku adalah terpelajar
yang mengabdi bagi orang bodoh
aku ingin seperti aristoteles
mewarnai dunia dengan pemikiran
tak mau
seperti rodef

aku adalah diriku
aku yang pernah hilang
telah kembali...............
dan kini aku tahu dan ternyata aku bodoh tetapi kata hatiku bertanya
layakkah aku dikatakan aku bodoh
hatiku adalah pemberontak dan napasku adalah cinta damai
ya memang aku bodoh............
tapi tahukah kamu..........
diamnya seorang binatang hanya yangbbijak tahu

kini aku kembali dan terbangun dari tidur panjangku
setelah tak ada seorangpun yang mengerti arti salibnya
dan jangan salahkan aku
jika aku membakar sisa-sisa kebodohanmu
di hadapan bapaku di surga
kalian senang menyusun peraturan,akan tetapi lebih senang lagi melanggar peraturan
ibarat anak-anak asyik bermain si tepi pantai
dengan penuh semangat meyusun pasir
menjadi
menara yang tinggi
setelah itu menghancurkannya dengan penuh tawa
kalian dapat membuat peraturan
antara baik dan buruk
tapi aku bertanya padamu?
siapakah yang dapat melarang burung pipit
bernyanyi di pagi hari
dan burung itu..........
adalah aku yang terbangun dari kematian
aku kembali bangkit untuk menggugatmu
karena aku tahu bukan karena inginku
tapi tuhan membingbing lidahku untuk menyampaikan perkara ini
pa:bila kau tak menghargaiku
maka aku akan pergi darimu
kembali untuk menyusun rencana kedua
bukan aku sahabat
bukan aku saudara
dan bukan aku yang berbicara
tetapi ada bisikan padaku
dan aku harus menyampaikan ini
"setiap tangan yang mengepal ke angkasa,itulah rasa patriot sebenarnya,aku,kamu,engkau dan kalian persiapkanlah dirimu jika negara ini memanggilmu"

MENANTI SANG NASIONALIS

dengan gagah kau tancapkan merah putih
di tanah kering agar setiap orang tahu
betapa mahal negeri ini
dan betapa kaya bangsa ini
lidahmu tak henti-hentinya berbicara
sampaikan sesuatu kemerosotan moral bangsa ini
meski peluru siap menghabisimu
sedikitpun engkau tak gentar
kerena sekali di lahirkan kita takkan bisa laridari kematian
masih teringat apa yang kau katakan
masih ada sesuatu yang menjadi akar dalam kehidupan
membangunkanku dari mimpi penawar gelisahku
untuk sampaikan kepada negeri ini
sesuatu apa yang dinyatakan tentang nasionalis
tibalah saatnya para mentari kecil akan bangkit dari tidurnya
membawa ribuan puisi tentangmu di pusara
dan berbicara lantang menggurui yang lebih tua dari dia
di tangan kanannya ada keadilan
di tangan kirinya ada kedamaiannya
dan di hatinya ada napas kehidupannya
semangatnya akan seperti badai
menghancurkan setiap jengkal keserakahan penguasa
akan terlihat dari keturunan nya dendam yang dalam
hingga air matanya menggalir seperti sungai ratapan
hingga ia menyesal dilahirkan ke bumi
dia akan memimpin burung-burung untuk bernyanyi
menghibur jiwa yang yang telah mati
memberikan sejumlah emas
membagikan sejumlah kebajikan
menggugat para hakim dan aparat
membersihkan dengan darah mereka sendiri
hingga mayatnya tak di ijinkan bersatu dengan tanah
setiap orang akan meludah dan mengutuk
tapi..........akankah ada yang terlahir
putra-putri bangsa ini
akankah ada jiwa yang terdiam dan terpanggil
apakah ada yang mendengar suara ini
adakah yang akan berdoa di setiap detik waktu berdentang
terlahir SATU JIWA yang darahnya di basuh MERAH PUTIH


HENDRA DAMANIK
AKU INGIN SEPERTI W.S.RENDRA

Minggu, 06 September 2009

tentang nusantara

aku masih terdiam diantara tanya dan jawabku
menatap negeriku yang tandus akan kedamaian
setiap anak lahir di beri tanggung jawab yang pilu
setiap manusia hanya mampu berharap
seperti hujan dengan sombongnya memperkosa alam
dan kita hanya mampu bertanya.............
dan kita hanya mampu melihat..................
di balik selimut merah putih ada harapan
di balik doa kami menunggu
penguasa kumpulan para pemain bola
menendang dan tertawa mencetak gol untuk rakyatnya
gol yang yang terindah di nusantara di genggam dengan rakusnya
dan tahukah kamu...........
dan mengertikah engkau.........
dan menangiskah engkau...............
hai!para penghianat.........
gawang itu adalah kami
yang tertidur di bawah langit
yang tersisih di tanah kelahirannya sendiri
dimana airmatanya seperti hujan.setahun puasa membasahi bumi
haruskah kami membakar nurani kami
akankah kami membuka baju
dan bersama berpegangan tangan
kebodohan apa lagi yangkan kalian sampaikan
politik apa yangkan kalian utarakan
jangan jejali kami dengan kata-kata kalah
kami tak kalah...kami pemenang
orang-orang pintar di negeri ini kau jadikan level terendah
dan orang bodoh yang bertemankan keserakahan
bersamamu menikmati jalan dosamu
bersama memperkosa anak negeri ini
tanyaku !dan mana jawabmu!
bisikku dan dengarkanlah
seharusnya tangan-tangan putihmu
mengalir dan mengepal
membentang ke seluruh penjuru nusantara
dan katakan pada semua orang untuk mendengar,melihat
INDONESIA BANGKITLAH





HENDRA DAMANIK
SMU NEGERI 1 SIANTAR
HP 081372246714

Sabtu, 29 Agustus 2009

risalah cinta

ku ingin mati
dan mencium pipi dewi isis
kala itu................
kau menamparku dengan tusukan benda tajam,kata yang seperti naga menerkamku
indah dan menyejukkan sehangat pelukan taringnya tepat merobek jantungku
tahukah kau ...........hai putri sion
aku seperti mashugina
yang seperti daun yang tua menanti sombongnya sang alam
tertidur di balik cinta
benarkah cinta ini suci!
atau inikah cinta yang menemaniku
tertidur dari yang hilang setelah perjalanan jauh