senandung lagu rindu
memecahkan lamunanku
di hamparan gelombang laut kuteriaki cinta yang hilang
disini tertanam didalam jiwa yang mati
tak terasa setahun waktu itu tlah hilang
jiwa ini merasakan pedih yang dalam
selamanya dirimu takkan tergantikan
Senin, 20 Desember 2010
Minggu, 19 Desember 2010
cinta yang hilang
gagah engkau bersandar pada dinding tua rumahmu
lamunanmu terbang laksana garuda menembusi awan jingga
diammu hentakkan pkirku kemanakah dirimu berkelana
dahimu sekali kali berkenyut menahan napas
sekali kali tersenyum
rokok yang ditanganmu seiring lamunanmu berkali kali memperkosa bibirmu
dan engkau masih diam
apakah engkau pikirkan para pujangga
dimanakah cinta itu mengalir
engkau artikankah senyuman terakhir sang dewi
memapah cinta kosong hanya pasrah
menantimu bangkit berdiri laksana sisingamangaraja
rebut kembali cinta di garis keangkuhan sang dunia
bosankah engkau di cinta yang kalah
matikah engkau kali ini
pergi jauh dan takkan kembali
dianatar cinta yang hilang
lamunanmu terbang laksana garuda menembusi awan jingga
diammu hentakkan pkirku kemanakah dirimu berkelana
dahimu sekali kali berkenyut menahan napas
sekali kali tersenyum
rokok yang ditanganmu seiring lamunanmu berkali kali memperkosa bibirmu
dan engkau masih diam
apakah engkau pikirkan para pujangga
dimanakah cinta itu mengalir
engkau artikankah senyuman terakhir sang dewi
memapah cinta kosong hanya pasrah
menantimu bangkit berdiri laksana sisingamangaraja
rebut kembali cinta di garis keangkuhan sang dunia
bosankah engkau di cinta yang kalah
matikah engkau kali ini
pergi jauh dan takkan kembali
dianatar cinta yang hilang
risah...
kemanakah aku kan pergi
kemanakah langkah lelah ini kan terhenti
dimanakah saudaraku..
adakah engkau dengar suara rintihanku
aku terjebak di makam para pemberontak
aku terhempas di idealisme oarng gila
aku terdiam di altar seribu tuhan tuhan
merdeka adalah akhir dri penderitaanku.......
kemanakah langkah lelah ini kan terhenti
dimanakah saudaraku..
adakah engkau dengar suara rintihanku
aku terjebak di makam para pemberontak
aku terhempas di idealisme oarng gila
aku terdiam di altar seribu tuhan tuhan
merdeka adalah akhir dri penderitaanku.......
Sabtu, 18 Desember 2010
ibu
mengapa cinta ini masih berkumandang dia altar para manusia dengan segenggam rindu yang dalam
melikis semangat hidupmu yang tak pernah mati
engkau kalahkan panasnya matahari
engkau ajarkan semangat tentara alesandria mengalir di darahku
berjuang dengan tangan yang hampa
tak ada kekalahanhanya ada kemenangan
hidupku adalah aliran doamu
yang selalu setia menyebut namaku di bahasa kalbumu
melikis semangat hidupmu yang tak pernah mati
engkau kalahkan panasnya matahari
engkau ajarkan semangat tentara alesandria mengalir di darahku
berjuang dengan tangan yang hampa
tak ada kekalahanhanya ada kemenangan
hidupku adalah aliran doamu
yang selalu setia menyebut namaku di bahasa kalbumu
cinta sang mempelai
cinta ini tlah mengajarkanku
tentang cinta yang takkan pernah mati
cinta ini tlah menyelamatkanku
dengan sayap patahnya
hadirmu laksana pelangi sehabis hujan
cerahkan pemikiranku tentang ralita hidup yang kalah
kau bangkitkan kembali cerita cinta yang telang hiolang
engkau katakan harapan itu masih ada
dan bangkit adalah akhirnya
cinta ini talah menjadi akar di dlam perjalananku
seperti nayanyian di surgacantikmu tawarkan seribu semngat seperti daud
kelemahanku kau tawarkan dengan senyum terindahmu
engkau lah perempuanku
engkaulah segalanya bagiku
engkaulah terakhir dri segala terakhir
hingga waktukan menyingsing
aku tetap milikmu
=dan biarkanlah mereka terpana cinta ku sedasyat halilintar di langit
dan embun pagipun larut dalam keriangan tiada tara..
tentang cinta yang takkan pernah mati
cinta ini tlah menyelamatkanku
dengan sayap patahnya
hadirmu laksana pelangi sehabis hujan
cerahkan pemikiranku tentang ralita hidup yang kalah
kau bangkitkan kembali cerita cinta yang telang hiolang
engkau katakan harapan itu masih ada
dan bangkit adalah akhirnya
cinta ini talah menjadi akar di dlam perjalananku
seperti nayanyian di surgacantikmu tawarkan seribu semngat seperti daud
kelemahanku kau tawarkan dengan senyum terindahmu
engkau lah perempuanku
engkaulah segalanya bagiku
engkaulah terakhir dri segala terakhir
hingga waktukan menyingsing
aku tetap milikmu
=dan biarkanlah mereka terpana cinta ku sedasyat halilintar di langit
dan embun pagipun larut dalam keriangan tiada tara..
pasrah
kukatakan kata kata di atas lidah tak bertuan
kukatakan sekali lagi
kutanyakan untuk mendamaikan pikiranku
apoakah aku masih di hormati........
sang pengecut berlari dengan tangan diatas
berpasrah dengan keadaan
jiwa yang berduri hanya terpenjara di relung dosa yang hitam
biarkanlah aku berdiam di dingin goa goa ketakutan
membunuhku dengan nisan tanpa anama.....
kukatakan sekali lagi
kutanyakan untuk mendamaikan pikiranku
apoakah aku masih di hormati........
sang pengecut berlari dengan tangan diatas
berpasrah dengan keadaan
jiwa yang berduri hanya terpenjara di relung dosa yang hitam
biarkanlah aku berdiam di dingin goa goa ketakutan
membunuhku dengan nisan tanpa anama.....
ada mimpi
kita adalah debu debu yang berserakan di altar kekalahan
kita adalah jiwa jiwa yang mati di hamparan tanah yang gersang
kita hanyalah suara yang terdengar menjelang suara azan berkumandang
kita adalah bagian yang terkecil yang tertindas negeri
dimana kumpulan para monyet menari di senayan
berkelompok mereka menukik bagai pesawat siap landas hancurkan negri dengan peraturan peraturan yang membingungkan
peraturan yang dibuat dri pabrik universitas tersohor
kumpulan orang pintar kata bapaknya
dan bapoaknya sama bodohnya dengan anaknya
mengangkangi si tuan bodoh dengan belaian uang membeli sarjana
dan angin juga tahu..
mereka menampar kumpulan orng pintar
bersemayam di taman impian
ada ijasah tergadai di ruang jaksa
ada mimpi terbeli di kantor polisi
ada harapan bertarung dengan penderitaan di rumah sakit
semuanya tersirat seprti dongeng di ecrita lama
yang kaya menjadi pahlwan di akhir kata
siapakah kita.....
aku juga bertanyaa
siapakah kita diantar mereka
siapakah sang pahlawan sesungguhnya
para tkw terlindas di negeri awan
para tentara bertinju merebut sang jendral
dan para istana sibuk dengan hari lebaran..
tertawalah di negeri para pencinta penindasan
tersenyumlah di negri para pahlaan
hanya itu yang tersirat
kita hanyalah kumpulan para manusia kalah...
kita adalah jiwa jiwa yang mati di hamparan tanah yang gersang
kita hanyalah suara yang terdengar menjelang suara azan berkumandang
kita adalah bagian yang terkecil yang tertindas negeri
dimana kumpulan para monyet menari di senayan
berkelompok mereka menukik bagai pesawat siap landas hancurkan negri dengan peraturan peraturan yang membingungkan
peraturan yang dibuat dri pabrik universitas tersohor
kumpulan orang pintar kata bapaknya
dan bapoaknya sama bodohnya dengan anaknya
mengangkangi si tuan bodoh dengan belaian uang membeli sarjana
dan angin juga tahu..
mereka menampar kumpulan orng pintar
bersemayam di taman impian
ada ijasah tergadai di ruang jaksa
ada mimpi terbeli di kantor polisi
ada harapan bertarung dengan penderitaan di rumah sakit
semuanya tersirat seprti dongeng di ecrita lama
yang kaya menjadi pahlwan di akhir kata
siapakah kita.....
aku juga bertanyaa
siapakah kita diantar mereka
siapakah sang pahlawan sesungguhnya
para tkw terlindas di negeri awan
para tentara bertinju merebut sang jendral
dan para istana sibuk dengan hari lebaran..
tertawalah di negeri para pencinta penindasan
tersenyumlah di negri para pahlaan
hanya itu yang tersirat
kita hanyalah kumpulan para manusia kalah...
Jumat, 17 Desember 2010
perjalanan cinta
kemanakah langkah sang embun pagi
apakah terdengarnya nayanyian surga
yang meretas di kedua pipi yang merah
selalu terguncang di rindu yang bertepi
masih salalu saja topeng keindahanmu meratapi di haluan malamku
merindumu di balik purnama yang menghitam
mengiringi derap langkah sang pengcut tertancap di busung kerinduan
tiada cderita seprti yang dulu seperti gelombang lauatan dendangkan lagu rindu
di saat sang dewi memeluk pergi berkelana mencari sesuatu yang tersurat di atas kepala
apakah gerangan cinta inikan bersemi...
mengalir seperti sungai di efraim
menghibur para petani dengan benih yang melimpah
para dara menari dengan riang seiring irama biola
menanti musim panen yangkan bertabur seperti bintang di langit
aku hanya tersipu di selimut tidurku kupejamkan mata dengan untaian air mata
sekali lagi dalam pikirku
akankah rindu ini kan bersemi
adakah dia setia menanti kedatanganku dengan cintanya
atau akankah dia tlah berpaling menghujaniku dengan satu senyuman
mati adalah akhir dri hidupku
aku mati bila cintamu hilang
aku hidup berakar atas sajadah cintamu
aku takkan bisa
aku belum bisa oh kekasihku
aku belum bisa untuk kembali
nyanyikan lagu kesukaanmu di balik cerita dongengmu
yang kuananti setelah lelap rindu menyapa
mengapa dirimu seindah mentari mengapa dirimu menunjukkan kesederhanaanmu
meninggalkan tahta putri di kerajan
menjelma layaknya rakyat biasa
meniupkan bunga cinta yang terdiam di altar seribu dewa dewa
aku terpesona dan terbuai di atas cinta yang suci.
engkau hadirkan kisah cinta seperti di arwana
kisah yangkan hidup di sepanjang sejarah
cinta ini membawaku perjalanan seperti sang kesatria bertempur demi kehormatan negeri
menertawaiku dengan sebilah pedang
pedang yang terbasuh demi harga diri para pejuang
darah yang terlahir dari para pahlawan
dan mnati layaknya seperti sang p[angeran
dimanakah dirimu kekasihku..
jika aku terlambat menggapai impianmu
sebelum ayam bernayayi disitulah akuy telah tertidur diatas altar kekalahan
adakah cinta ini yangkan menyalibku
menguburku dengan salib kekalahan
aku mati karena khodrat cinta
adakah doamu bersamaku
adakah namaku engkau sebutkan sebelun di rimu tertidur di palamiananmu
apakah engkau tawarkan dirimu dengan puasa puasa
apakah aku harus bertanya pada sang bintang...
jiea ini mati dengan irimngan kepusasaan
satu persatu keraguan datang menghantui
menghentikan langkahku dengan kemalasan
dah setahun engkau menanti
lelahkah engkau memprjuangkan rindumu
tabahkah engkau mendengar ocehan sahabatmu
menghasutmu dengan kata kata yang gila
meracuni nadimu membunuh namaku
menghardikkan wajahmu berpaling menjauh meninggalkanku
keraguanmu aku takkan kembali lagi......
apakah terdengarnya nayanyian surga
yang meretas di kedua pipi yang merah
selalu terguncang di rindu yang bertepi
masih salalu saja topeng keindahanmu meratapi di haluan malamku
merindumu di balik purnama yang menghitam
mengiringi derap langkah sang pengcut tertancap di busung kerinduan
tiada cderita seprti yang dulu seperti gelombang lauatan dendangkan lagu rindu
di saat sang dewi memeluk pergi berkelana mencari sesuatu yang tersurat di atas kepala
apakah gerangan cinta inikan bersemi...
mengalir seperti sungai di efraim
menghibur para petani dengan benih yang melimpah
para dara menari dengan riang seiring irama biola
menanti musim panen yangkan bertabur seperti bintang di langit
aku hanya tersipu di selimut tidurku kupejamkan mata dengan untaian air mata
sekali lagi dalam pikirku
akankah rindu ini kan bersemi
adakah dia setia menanti kedatanganku dengan cintanya
atau akankah dia tlah berpaling menghujaniku dengan satu senyuman
mati adalah akhir dri hidupku
aku mati bila cintamu hilang
aku hidup berakar atas sajadah cintamu
aku takkan bisa
aku belum bisa oh kekasihku
aku belum bisa untuk kembali
nyanyikan lagu kesukaanmu di balik cerita dongengmu
yang kuananti setelah lelap rindu menyapa
mengapa dirimu seindah mentari mengapa dirimu menunjukkan kesederhanaanmu
meninggalkan tahta putri di kerajan
menjelma layaknya rakyat biasa
meniupkan bunga cinta yang terdiam di altar seribu dewa dewa
aku terpesona dan terbuai di atas cinta yang suci.
engkau hadirkan kisah cinta seperti di arwana
kisah yangkan hidup di sepanjang sejarah
cinta ini membawaku perjalanan seperti sang kesatria bertempur demi kehormatan negeri
menertawaiku dengan sebilah pedang
pedang yang terbasuh demi harga diri para pejuang
darah yang terlahir dari para pahlawan
dan mnati layaknya seperti sang p[angeran
dimanakah dirimu kekasihku..
jika aku terlambat menggapai impianmu
sebelum ayam bernayayi disitulah akuy telah tertidur diatas altar kekalahan
adakah cinta ini yangkan menyalibku
menguburku dengan salib kekalahan
aku mati karena khodrat cinta
adakah doamu bersamaku
adakah namaku engkau sebutkan sebelun di rimu tertidur di palamiananmu
apakah engkau tawarkan dirimu dengan puasa puasa
apakah aku harus bertanya pada sang bintang...
jiea ini mati dengan irimngan kepusasaan
satu persatu keraguan datang menghantui
menghentikan langkahku dengan kemalasan
dah setahun engkau menanti
lelahkah engkau memprjuangkan rindumu
tabahkah engkau mendengar ocehan sahabatmu
menghasutmu dengan kata kata yang gila
meracuni nadimu membunuh namaku
menghardikkan wajahmu berpaling menjauh meninggalkanku
keraguanmu aku takkan kembali lagi......
Rabu, 15 Desember 2010
rinduku bersemi kembali
biarkanlah sedikit angin yang merayumu
di balik lemahku untuk memelukmu
ada kata yang mengalir setiap detik
tanyaku terlahir diatas sajadah rindu
akankah terabaikan seprti angin yang ilalang
terbawa di balik sengatan sang kumbang
itulah kurasakan aroma cintamu
memandangimu dri jauh di bawah bodohku
terlalu lama rasa ini berkelana
menawan sedetik rindu di pelupuk jingga'a
bergetarkah jiwa tiada henti menapaki jalan penuh kerikil
memperkosa si pejantan dengan sebilah harapan
tersudut menggapai imajinasi yang terlempar di balik jendela terpapar masa lalu
kemiskinan sahabat terbaik menertawai di sebelah kekacauan
aapakah cinta yang terhina ternafkahi
aku yang hanya berlari dengan sejuta cerita cinta
simiskin dengan cinta sebesar sungai asahan
mencintai tanpa dicintai
bersanding dengan langkah kekalahan
terlempar di arung jeram lautan yang luas
pada siapakah kutautkan cinta
kepada langit diapun diam menoleh ketanah
kutatap bintang acuhnya membuang jauh raut wajahnya
akankah cinta inikan bersemi kembali
dirindu setebal awan hanya terpaku di sudut kamar
menatap wjah berselimut sutra
kuhanya diam tak setangguh para pejantan
di balik lemahku untuk memelukmu
ada kata yang mengalir setiap detik
tanyaku terlahir diatas sajadah rindu
akankah terabaikan seprti angin yang ilalang
terbawa di balik sengatan sang kumbang
itulah kurasakan aroma cintamu
memandangimu dri jauh di bawah bodohku
terlalu lama rasa ini berkelana
menawan sedetik rindu di pelupuk jingga'a
bergetarkah jiwa tiada henti menapaki jalan penuh kerikil
memperkosa si pejantan dengan sebilah harapan
tersudut menggapai imajinasi yang terlempar di balik jendela terpapar masa lalu
kemiskinan sahabat terbaik menertawai di sebelah kekacauan
aapakah cinta yang terhina ternafkahi
aku yang hanya berlari dengan sejuta cerita cinta
simiskin dengan cinta sebesar sungai asahan
mencintai tanpa dicintai
bersanding dengan langkah kekalahan
terlempar di arung jeram lautan yang luas
pada siapakah kutautkan cinta
kepada langit diapun diam menoleh ketanah
kutatap bintang acuhnya membuang jauh raut wajahnya
akankah cinta inikan bersemi kembali
dirindu setebal awan hanya terpaku di sudut kamar
menatap wjah berselimut sutra
kuhanya diam tak setangguh para pejantan
Selasa, 14 Desember 2010
menanti kebenaran
mimpi...
tertawan di imajinasi orang kaya
merobek lautan dengan kemegahan kekayaan
simiskin berlari dengan tangan menunjuk langit
menanti kebenaran terungkap
biarlah tuhan yang langsung manyampaikannya..
tertawan di imajinasi orang kaya
merobek lautan dengan kemegahan kekayaan
simiskin berlari dengan tangan menunjuk langit
menanti kebenaran terungkap
biarlah tuhan yang langsung manyampaikannya..
semangat sang garuda
engkaulah jawaban atas dirimu
engkaulah untaian kata kata yang berharga
berjuanglah raih mimpimu
pantanglah dirimu untuk menyerah
bangkitlah dengan merah p[utih
doaku di atas sang garuda
demi indonesia
bangkitlah engkau yang kalah
berteriaklah wahai engkau yang malas
bernayanyilah engkau sang pemberontak
sisingkan bajumu tawari napasmu dengan patriot
kartakan kepada dunia
indonesia bisa
berdiri menantang sang mentari
engkaulah untaian kata kata yang berharga
berjuanglah raih mimpimu
pantanglah dirimu untuk menyerah
bangkitlah dengan merah p[utih
doaku di atas sang garuda
demi indonesia
bangkitlah engkau yang kalah
berteriaklah wahai engkau yang malas
bernayanyilah engkau sang pemberontak
sisingkan bajumu tawari napasmu dengan patriot
kartakan kepada dunia
indonesia bisa
berdiri menantang sang mentari
resahmu
mimpi yang tergadai di balik dinding putih
kata yang terhadang di senayan
mimpi yang tersenyum di balik bukit sintai
dan banyak lagi
marilah kita tertawa seakan kita tak ada
kemiskinan hanya candaan di parlemen
ocehan pria berdasi di warung pak lurah....
kata yang terhadang di senayan
mimpi yang tersenyum di balik bukit sintai
dan banyak lagi
marilah kita tertawa seakan kita tak ada
kemiskinan hanya candaan di parlemen
ocehan pria berdasi di warung pak lurah....
relita cinta
sang waktu kembali meneriakiku dengan kata kata kebaikan
aku yang terhempas di jalan hitam penuh tanya
membanjiri keserakahn di lautan cinta
begitulah adanya seperti pengemis di bukit rhodes
aku mengharapkan sesuatu yang hina
tapi aku di berikan sebuah emas yang berlapis permata
wanita tersanjung dengan pedangku
terhempas seprti ilalang di lautan sabana
terhembus angin damaikan hidupku
siapakah sang pecinta
terlalu serakah membagi cinta dengan senyuman surga terbelai di hamparan kedamian
tersanjung terpikat di pantai pasir putih
perkenalan itu menghancvurkan mimpi yang terlahir
mengenalmu hadirkan risau gundah hatiku
mata terjaga melukis wajahmu di langit kamarku
seprti hantu menghantui setiap jengkal lamunanaku
di balik jalanmu dengan seutas kemewahan
aromamu tawarkan nafsu sejuta kembang para kumbang
pelacur yang mengenal akan tuhannya
nyanyianmu dentangkan kesedihan yang mendalam
teteskan para pendenbgar tak tertegun.......
aku yang terhempas di jalan hitam penuh tanya
membanjiri keserakahn di lautan cinta
begitulah adanya seperti pengemis di bukit rhodes
aku mengharapkan sesuatu yang hina
tapi aku di berikan sebuah emas yang berlapis permata
wanita tersanjung dengan pedangku
terhempas seprti ilalang di lautan sabana
terhembus angin damaikan hidupku
siapakah sang pecinta
terlalu serakah membagi cinta dengan senyuman surga terbelai di hamparan kedamian
tersanjung terpikat di pantai pasir putih
perkenalan itu menghancvurkan mimpi yang terlahir
mengenalmu hadirkan risau gundah hatiku
mata terjaga melukis wajahmu di langit kamarku
seprti hantu menghantui setiap jengkal lamunanaku
di balik jalanmu dengan seutas kemewahan
aromamu tawarkan nafsu sejuta kembang para kumbang
pelacur yang mengenal akan tuhannya
nyanyianmu dentangkan kesedihan yang mendalam
teteskan para pendenbgar tak tertegun.......
cinta yang kalah
diamku hanya sebatas dosaku
aku hina terlahir sebagai manusia
keklahan yang terdiam di atas kemiskinan
tetes airmata menjadi sahabat terbaikku
ketika cinta datang tanpa di sapa
aku mencintai dengan seribu tawa
ketika beban menjadi awal malapetaka
akankah cinta gentar dengan keserakahan
kebenaran sang pecinta patut untuk di hukum
menjadi patung sebagai pelukis keabadian
diartikan sebagai dewa segala kebaikan
mengapa cinta tak berpihak kepada manusia yang hina
yang mengagungi haknya di perdebatkan
adakah kebenaran yangkan terlahir
siapakah sang kebenaran
mengapa dia menutup mata akan sebuah kekalahanku
dimanakah dia...
akankah ada bantuan berupa sebilah pedang
adakah yangkan menghakimi dengan kejujuran
diatas cinta sejati yang beralaskan tanah yang dialiriperjuangan
janganlah sungkan wahai malaikat
lihat kemari walau sejenakl
berpikirlah tuhan
cinta ku hanya dialtar gereja
wanitaku bersanding dengan si putra mahkota
hinakah aku..
pantaskah aku...
menggugatmu di atas kekalhan dengan cinta
hendaklah jiwa ini menjadi hamba di segal manusia kalah
s
aku hina terlahir sebagai manusia
keklahan yang terdiam di atas kemiskinan
tetes airmata menjadi sahabat terbaikku
ketika cinta datang tanpa di sapa
aku mencintai dengan seribu tawa
ketika beban menjadi awal malapetaka
akankah cinta gentar dengan keserakahan
kebenaran sang pecinta patut untuk di hukum
menjadi patung sebagai pelukis keabadian
diartikan sebagai dewa segala kebaikan
mengapa cinta tak berpihak kepada manusia yang hina
yang mengagungi haknya di perdebatkan
adakah kebenaran yangkan terlahir
siapakah sang kebenaran
mengapa dia menutup mata akan sebuah kekalahanku
dimanakah dia...
akankah ada bantuan berupa sebilah pedang
adakah yangkan menghakimi dengan kejujuran
diatas cinta sejati yang beralaskan tanah yang dialiriperjuangan
janganlah sungkan wahai malaikat
lihat kemari walau sejenakl
berpikirlah tuhan
cinta ku hanya dialtar gereja
wanitaku bersanding dengan si putra mahkota
hinakah aku..
pantaskah aku...
menggugatmu di atas kekalhan dengan cinta
hendaklah jiwa ini menjadi hamba di segal manusia kalah
s
sang pecinta
senja itu hanya tersenyum di balik wajah nakalku
riak sungai bermanja di kakiku
aku pandangi saja dirimu di balik bodohnya aku
mengagumi tanpa ijinmu
dan hanya tiu yang kubisa
kuijinkan mimpiku terbang ke alam mimpimu
karena cinta tak kenal lelah
riak sungai bermanja di kakiku
aku pandangi saja dirimu di balik bodohnya aku
mengagumi tanpa ijinmu
dan hanya tiu yang kubisa
kuijinkan mimpiku terbang ke alam mimpimu
karena cinta tak kenal lelah
dentang waktu
jauh di dalamjiwa yang terdiam diantara seribu pikiran pikiran yang meluap luap mewarnai dunia aku terdiam diantar idealisme yang tarapung di lautan kekalahan,semuanya hitam terlahir di atas noda hitam seperti sungai yang mengamuk menerjang daratan tanpa ada katakata.kuhanya lah jiwa yang mati diantara kesedihan jiwa yang terpenggal di hitamnya dunia ini,lilin kecil yang menerangi setapak perjalanan seprti masa lalu yang datang menerkam jiaku yang jahat,melahap habis sisa sisa kebodohan dan kesombongan sandarkan aku akan perjalanan yang berdirri megah menantang hidupku bahwa aku ada di jalan takdirku untuk mengangkat sdkit titah kebenaran yang tartawan di keserakahan para pendurhaka.puing puing kemegahan kebaikan telah habis dilahap si tuan yang bertopeng dewa tanpa ada tersisa merasuki insan muda dengan ajaran ajaran yang tak bernyawa,kebaikan di balas dengan kejahatan,kejahatan di balas dengan seribu kejahatan memangsa siapa saja tanpa kenal lelah.aku sudah melihat sedikit kebaikan terpanggang di api yang membara .
Jumat, 24 September 2010
gilakah
aku berpikir
diamku hanya sedekat kematian
aku mati tanpa sebuah nisan
hujan meneriakiku dengan kata gila
aku gila
karena aku berdiri sendiri
menantang dunia dengan seribu kata kata
hingga matipun tiada yang tahu
diamku hanya sedekat kematian
aku mati tanpa sebuah nisan
hujan meneriakiku dengan kata gila
aku gila
karena aku berdiri sendiri
menantang dunia dengan seribu kata kata
hingga matipun tiada yang tahu
resah
aku bukan khalil gibran
aku bukan abu ghazali
dan jangan samakan aku dengan para penyair
aku hanyala aku
dimana raja dan permaisurinya hanya kiasan makna belaka
terdampar di seribu kegalauan hatiku
ketika kebenaran tenggelam di sudut kekalahan
aku meneriaki penguasa dengan kata kata
aku bukan abu ghazali
dan jangan samakan aku dengan para penyair
aku hanyala aku
dimana raja dan permaisurinya hanya kiasan makna belaka
terdampar di seribu kegalauan hatiku
ketika kebenaran tenggelam di sudut kekalahan
aku meneriaki penguasa dengan kata kata
tanyakan padaku
tanyakan padaku
seribu anak bangsa tergadai di malaysia
seribu anak kuliah terhuni di langit hitam negeri ini
seribu seragam sekolah berserakan di selokan
sang presiden menawarkan kedamaian
tapi apakah dia melihat apakah dia merasakan
waktu terus dan berputar dan perut harus di isi...
seribu anak bangsa tergadai di malaysia
seribu anak kuliah terhuni di langit hitam negeri ini
seribu seragam sekolah berserakan di selokan
sang presiden menawarkan kedamaian
tapi apakah dia melihat apakah dia merasakan
waktu terus dan berputar dan perut harus di isi...
kita hanya sedekat kematian
jangan pernah engkau tukar idealismeku
jangan pernah bertanya padaku bahwa aku pernah hidup
aku hidup karena aku sudah mati
sebelum napasku terdiam di altar wewangian
dan para perawan menangisiku
para birokrat mengutukiku
aku adalah aku
aku mengutuki sang durjana
kedua tanganku hanya sebilah pedang
mulutku bertaring bak serigala
menggongi si apapun yang menghianati bangsa ini
napasku hanyalah sebuah kain sutra karena aku juga hanyalah manusia
sama di hamparan sang pencipta
aku hanya sejarah yang terulang di langit negeri ini
satu persatu ada yang hilang
ada yang datang
ada yang pergi dan ada yang mengutuki
kiat hanyalah tubuh renta
tua saatnya dan matipun menyapa
kita hanya sedekat kematian
jangan pernah bertanya padaku bahwa aku pernah hidup
aku hidup karena aku sudah mati
sebelum napasku terdiam di altar wewangian
dan para perawan menangisiku
para birokrat mengutukiku
aku adalah aku
aku mengutuki sang durjana
kedua tanganku hanya sebilah pedang
mulutku bertaring bak serigala
menggongi si apapun yang menghianati bangsa ini
napasku hanyalah sebuah kain sutra karena aku juga hanyalah manusia
sama di hamparan sang pencipta
aku hanya sejarah yang terulang di langit negeri ini
satu persatu ada yang hilang
ada yang datang
ada yang pergi dan ada yang mengutuki
kiat hanyalah tubuh renta
tua saatnya dan matipun menyapa
kita hanya sedekat kematian
hanya itu
zaman berubah perilaku tak berubah
dulu PKI sekarang terorisme
wajah menyeringai si kaum dhuafa
dengan taring seribu keganasan
gandhi yang di cari yang terdampar hanya sebilah pedang komedi
revolusi yang di nanti yang datang azhari
lembaga berdiri gagah perkasa bagai laksana tentara roma
tetapi jubahnya berdarahkan korupsi
century terbang ke singasana para dewa
pendidikan berdiri seperti pasir di pantai
menjual ijasah dengan selangkangan para moderator situan punya harta
mengilhami negeri dengan kerakusan yang semata
sekali lagi rakyat terheran diambang pintu si tuan polan
katanya demi kebaikan nyawapun tergadai di pasungan
SBY hanya tertawa di istana para kumbang
bangga di hamparan para pejuang
sebaris dan sederajat menyangsingkan
adakah di hatimu bertuliskan seribu nurani......
dulu PKI sekarang terorisme
wajah menyeringai si kaum dhuafa
dengan taring seribu keganasan
gandhi yang di cari yang terdampar hanya sebilah pedang komedi
revolusi yang di nanti yang datang azhari
lembaga berdiri gagah perkasa bagai laksana tentara roma
tetapi jubahnya berdarahkan korupsi
century terbang ke singasana para dewa
pendidikan berdiri seperti pasir di pantai
menjual ijasah dengan selangkangan para moderator situan punya harta
mengilhami negeri dengan kerakusan yang semata
sekali lagi rakyat terheran diambang pintu si tuan polan
katanya demi kebaikan nyawapun tergadai di pasungan
SBY hanya tertawa di istana para kumbang
bangga di hamparan para pejuang
sebaris dan sederajat menyangsingkan
adakah di hatimu bertuliskan seribu nurani......
rasa tajkut
hanya tuhan yang tahu
hanya tuhan yang bisa
hanya kita berdiam saja
terdampar di sejuta ketakutan yang menguntit
dri fajar hingga senja
ketika semuanya hanya diam mermbisu
penguasa merebut singasana dengan kelimpahan sejuta harkat yang membanjiri
siapakah kita
yang hanya terjebak di altar rasa takut
kita hanya diam dan menanti
kemanakah negeri ini selanjutnya
pernah nurani yangkan di depan
adakah tangis bayi kecilkan terbalaskan
dan adakah sang penyelamat melimpahi kedamaian
hanya tuhan yang bisa
hanya kita berdiam saja
terdampar di sejuta ketakutan yang menguntit
dri fajar hingga senja
ketika semuanya hanya diam mermbisu
penguasa merebut singasana dengan kelimpahan sejuta harkat yang membanjiri
siapakah kita
yang hanya terjebak di altar rasa takut
kita hanya diam dan menanti
kemanakah negeri ini selanjutnya
pernah nurani yangkan di depan
adakah tangis bayi kecilkan terbalaskan
dan adakah sang penyelamat melimpahi kedamaian
Kamis, 10 Juni 2010
sansiro aku menanti
sesuatu y6g indah akan tiba saatnya
kitya hanyalah sesuatu yg menanti
aku menantimu kawan
di seberang sekolah
ketika bel pulang melaju
bersama menelusuri jalan dgn sejuta mimpi
kita akan ke sansiro
aku intermilan dan kamu ac milan
aku materazzi dan kamu shevenco
dan kta akan bertarung
layaknya sisingamangaraja
dgn ulos dibahu
mengakangkat negeri
aku menanti
engkau tlah pergiu kwan
dengan sejuta skit yg tertahan
diammu di nisanmu
kuhanya terpesona di detik waktu
aku akan diam
jauh menuju sansiro
kitya hanyalah sesuatu yg menanti
aku menantimu kawan
di seberang sekolah
ketika bel pulang melaju
bersama menelusuri jalan dgn sejuta mimpi
kita akan ke sansiro
aku intermilan dan kamu ac milan
aku materazzi dan kamu shevenco
dan kta akan bertarung
layaknya sisingamangaraja
dgn ulos dibahu
mengakangkat negeri
aku menanti
engkau tlah pergiu kwan
dengan sejuta skit yg tertahan
diammu di nisanmu
kuhanya terpesona di detik waktu
aku akan diam
jauh menuju sansiro
mimpi
jika aku hanyalah mimpi di atas para gunung
aku kan rela disisiku sebilah pedang
mengatasnamakan kebenarn di surbanku
menghakimi yg hilang
menista si tuan bejat.......
hingga satupun enggan kembali ke alam
aku kan rela disisiku sebilah pedang
mengatasnamakan kebenarn di surbanku
menghakimi yg hilang
menista si tuan bejat.......
hingga satupun enggan kembali ke alam
terperosok
sehening malam hanya aku berpikir
tak habis mimpi melayang ke surga
hilangnya cinta di ambang dewa isis
kuhanya terperosok diantara cinta yang kalah
tak habis mimpi melayang ke surga
hilangnya cinta di ambang dewa isis
kuhanya terperosok diantara cinta yang kalah
Sabtu, 05 Juni 2010
diamnya aku hanya bersamamu
lihatlah aku adalah sebungkus kata cinta
tataplah aku hanyalah sebagian crita luka
rasakanlah aku hanya diam dan perih di ujung samudra
adakah ada yng mengerti
satu persatu cinta hilang di terjang sang halilintar
menerjang layaknya sang kafir
mengilhami kbnaran dgn nafsu dunia
tertawalah wahai manusia
tertawalah yng keras
hingga semuanya merasa benar
hitam langit yg kau paparkan memerah di senja
fajarpun tertawa menahan pudarmu
siangpun hanya membisu
tak mapu menahan gettir yg engkau ukir...
di balik napas yg mengalir sprti efraim
aku kalah
diam membisu
aku tertawa
hanya sedetik rupa
diamnya aku bioarkanlah bersamamu
tataplah aku hanyalah sebagian crita luka
rasakanlah aku hanya diam dan perih di ujung samudra
adakah ada yng mengerti
satu persatu cinta hilang di terjang sang halilintar
menerjang layaknya sang kafir
mengilhami kbnaran dgn nafsu dunia
tertawalah wahai manusia
tertawalah yng keras
hingga semuanya merasa benar
hitam langit yg kau paparkan memerah di senja
fajarpun tertawa menahan pudarmu
siangpun hanya membisu
tak mapu menahan gettir yg engkau ukir...
di balik napas yg mengalir sprti efraim
aku kalah
diam membisu
aku tertawa
hanya sedetik rupa
diamnya aku bioarkanlah bersamamu
Jumat, 04 Juni 2010
ada rasa
hanya sedetik
mungkin terakhir kali
ataupun semuanya kan kembali
kala itu jika aku bisa
merangkum pikiranku
berjiwa sprti sisingamangaraja
tak melepasmu
dengan seribu kesalahan
mungkin terakhir kali
ataupun semuanya kan kembali
kala itu jika aku bisa
merangkum pikiranku
berjiwa sprti sisingamangaraja
tak melepasmu
dengan seribu kesalahan
aku tercipta sebagai pecundang
jika aku hanyalah air yg berdebaran di hamparan persawahan
adakah sang lintah yangkan mengabadikan napasku
jika aku hanyalah cinyta padamu
adakah terbuka hatimu untukku
jika aku hanyalah manusia hampa
siapakah aku
tanyakanlah kepada bejana bejana di parabotan tua
debu menyapa dri fajar hingga senja menyingsing
sebutkan diantar hluan cinta bertepi
di hamparan puisi kusanjung sang dewi
memeluk laksana bulan di lautan
menertawai bodohku
aku tercipta sebagai pecundang
senjataku hanya di tas sajadah kertas
suaraku hanya diam di lukisan kamarku
terperosot di hitam jauh sang malam
meneriaki sejuta namamu.....
hanya malam yg tahu
cinta ini hanya untukmu
adakah sang lintah yangkan mengabadikan napasku
jika aku hanyalah cinyta padamu
adakah terbuka hatimu untukku
jika aku hanyalah manusia hampa
siapakah aku
tanyakanlah kepada bejana bejana di parabotan tua
debu menyapa dri fajar hingga senja menyingsing
sebutkan diantar hluan cinta bertepi
di hamparan puisi kusanjung sang dewi
memeluk laksana bulan di lautan
menertawai bodohku
aku tercipta sebagai pecundang
senjataku hanya di tas sajadah kertas
suaraku hanya diam di lukisan kamarku
terperosot di hitam jauh sang malam
meneriaki sejuta namamu.....
hanya malam yg tahu
cinta ini hanya untukmu
Senin, 24 Mei 2010
diana marisa
wajahmu luluhkanku dengan idealisku
ketika tuhan menuntunku menyambut senyummu
kuhanya diam di dinding dengan seribu kata
meneriakimu dengan genggaman kebenaran
kembali pulang adalah akhlak sejatinya
engkau terjang terjal jalanmu dengan gagah
dunia menangisimu dengan rindu sang ibu
derita akhir dengan napas yang luluh
diammu tanyaku
tangismu hanyalah naluriku
diana marisa kusebut namamu keisya
engkau terdampar di hamparan gunung singkarak
meletus dan meledak
meneriakimu dengan kata kata bijak
memakimu sprti para pilsapat
membunuhmu dengan serigala malam
di tangan tangan tua yng napsunya memindahkan gunung
mandikan tubuhnu dengan sejuta kenikmatan
beralaskan tanyaku...
diana marisa yang kukatakan hanya seketika pagi hari aku teringat dirimu
menanyaimu dengan sejuta moral
apakah dirimu masih bisa bertanya
apakah matamu tak pernah melihat pelangi
apakah ayat ayat suci itu hanya cerita kitab tua
apakah di hatimu terlukiskan tangis ibumu
jawablah dengan tangismu
kepalkanlah tanganmu dengan kata bertobat
bunuhlah aku jika ini terbaik
makilah aku dengan senyummu seperti \iblis
teriakilah aku dengan kata manismu
itu mauku dan kahir hidupku
yakinlah aku hanya di altar gereja
aku melihat pedihmu dengan hembusan napasku
bijaklah dengan hatimu
aku katakan dengan cinta selembut sang kapernaum
malaikatpun akan tersenyum
membuka tahtamu yang hilang
bersujud dialtarnya di nuansa surgawi
sujudkanlah di seribu doamu
bertanyalah dimana engkaukan berdiri
ketika engkau terbangun dari mimpimu
aku pergi........
aku pergi takkan kembali
aku pergi dan kembali
bila napasmu berbau kebenaran
aku kan menjadi sang pujangga seperti yg engkau lukiskan
nyanyikan laguku hanya untukmu
manjakan tubuhnu dengan cinta di pelukanku
hingga kemtaian menyingsing di ufuk selatan
terbawa angin laut ke pematang desa
diana marisa
ketika tuhan menuntunku menyambut senyummu
kuhanya diam di dinding dengan seribu kata
meneriakimu dengan genggaman kebenaran
kembali pulang adalah akhlak sejatinya
engkau terjang terjal jalanmu dengan gagah
dunia menangisimu dengan rindu sang ibu
derita akhir dengan napas yang luluh
diammu tanyaku
tangismu hanyalah naluriku
diana marisa kusebut namamu keisya
engkau terdampar di hamparan gunung singkarak
meletus dan meledak
meneriakimu dengan kata kata bijak
memakimu sprti para pilsapat
membunuhmu dengan serigala malam
di tangan tangan tua yng napsunya memindahkan gunung
mandikan tubuhnu dengan sejuta kenikmatan
beralaskan tanyaku...
diana marisa yang kukatakan hanya seketika pagi hari aku teringat dirimu
menanyaimu dengan sejuta moral
apakah dirimu masih bisa bertanya
apakah matamu tak pernah melihat pelangi
apakah ayat ayat suci itu hanya cerita kitab tua
apakah di hatimu terlukiskan tangis ibumu
jawablah dengan tangismu
kepalkanlah tanganmu dengan kata bertobat
bunuhlah aku jika ini terbaik
makilah aku dengan senyummu seperti \iblis
teriakilah aku dengan kata manismu
itu mauku dan kahir hidupku
yakinlah aku hanya di altar gereja
aku melihat pedihmu dengan hembusan napasku
bijaklah dengan hatimu
aku katakan dengan cinta selembut sang kapernaum
malaikatpun akan tersenyum
membuka tahtamu yang hilang
bersujud dialtarnya di nuansa surgawi
sujudkanlah di seribu doamu
bertanyalah dimana engkaukan berdiri
ketika engkau terbangun dari mimpimu
aku pergi........
aku pergi takkan kembali
aku pergi dan kembali
bila napasmu berbau kebenaran
aku kan menjadi sang pujangga seperti yg engkau lukiskan
nyanyikan laguku hanya untukmu
manjakan tubuhnu dengan cinta di pelukanku
hingga kemtaian menyingsing di ufuk selatan
terbawa angin laut ke pematang desa
diana marisa
cinta seroja
indahmu ibarat daun seroja
wangimu hanya di dalam ingatku
senyummu menaburi makamku dengan kasihmu
sama kita rasakan berpelukan di malam berkobar
kita bertemu di masa nasionalisme
perang itu yang menyatukan kita
kmu cantik
itu kulukiskan dri tatapan matamu
kamu anggun
semangatmu selalu berkoar dengan senjata di pinggulmu
kamu wanita
aku lelaki
kita punya tujuan yang sma
senyum yang sama
usia yang sama
untuk negeri
diamnya aku hanya sedetik saja
mulutmu berteriak dengan ganas
meneriaki sang tuhan dengan eraNGAN SUARAMU BAK SERIGALA
ketika aku menahan peluru dengan tubuhku
kutahu peluru itu di lukiskan untukmu
aku ikhlas di wajah nanarmu
di rahimmu anakku
aku yangkan bersatu dengan alam
berbahagialah dengan hidupmu
seroja engkau tanam di nisanku
menanti sejuta hangatnya tubuhmu
seroja menjadi pelukan menepiskan rinduku
aku yang tertanam di bawah seoja
wangimu hanya di dalam ingatku
senyummu menaburi makamku dengan kasihmu
sama kita rasakan berpelukan di malam berkobar
kita bertemu di masa nasionalisme
perang itu yang menyatukan kita
kmu cantik
itu kulukiskan dri tatapan matamu
kamu anggun
semangatmu selalu berkoar dengan senjata di pinggulmu
kamu wanita
aku lelaki
kita punya tujuan yang sma
senyum yang sama
usia yang sama
untuk negeri
diamnya aku hanya sedetik saja
mulutmu berteriak dengan ganas
meneriaki sang tuhan dengan eraNGAN SUARAMU BAK SERIGALA
ketika aku menahan peluru dengan tubuhku
kutahu peluru itu di lukiskan untukmu
aku ikhlas di wajah nanarmu
di rahimmu anakku
aku yangkan bersatu dengan alam
berbahagialah dengan hidupmu
seroja engkau tanam di nisanku
menanti sejuta hangatnya tubuhmu
seroja menjadi pelukan menepiskan rinduku
aku yang tertanam di bawah seoja
aku
aku nhanya di balik sejuta rasa
aku hanya di balik sdebelah tangan
aku hanya di dalam hatimu
aku hanya engkau tahu
aku mati dikalahkan bangsaku sendiri
aku hanya di balik sdebelah tangan
aku hanya di dalam hatimu
aku hanya engkau tahu
aku mati dikalahkan bangsaku sendiri
sang durjana
jangan durjana
hentikan semuanya yg ada di pemikiranmu
jangan wahai sang api
bunuhlah aku gantikan duniaku dengan hitam sang penguasa
biarkanlah mereka bernayanyi di bawah derita
biarkanlah sang rembulan di kalahkan oleh bejatnya tiang senggama
biarkalnlah detik waktukan menjadi jaman
sejarah terulang kembali di bawah sang kabut
ceritakanlah diriku dengan pelangi di fajar menyingsing
lukiskanlah siapaun anak manusia yang ingin berjalan di penyisingan sang durjana
tertawa membodohi pikirannya dengan sejuta naluri nafsu belaka
terimpit di dunia yang hilang di hamparan kebisuan
jawablah aku dengan sejuta rasa dengki
kuatkanlah aku dengan kebenaran
sang dyurjana
hentikan semuanya yg ada di pemikiranmu
jangan wahai sang api
bunuhlah aku gantikan duniaku dengan hitam sang penguasa
biarkanlah mereka bernayanyi di bawah derita
biarkanlah sang rembulan di kalahkan oleh bejatnya tiang senggama
biarkalnlah detik waktukan menjadi jaman
sejarah terulang kembali di bawah sang kabut
ceritakanlah diriku dengan pelangi di fajar menyingsing
lukiskanlah siapaun anak manusia yang ingin berjalan di penyisingan sang durjana
tertawa membodohi pikirannya dengan sejuta naluri nafsu belaka
terimpit di dunia yang hilang di hamparan kebisuan
jawablah aku dengan sejuta rasa dengki
kuatkanlah aku dengan kebenaran
sang dyurjana
Senin, 19 April 2010
merdeka
hanya selembar kertas putih yang akan kusampaikan
dianatara jalan gelap menerawang di sudut desa
tak ada suara
tak ada manusia
hening
seakan aku sendiri
aku masih muda aku hanya anak desa
berlari dari desa ke desa yang lain
menyelinap diantar nisan nisan yang membeku di bulan purnama
meneriaki napasku dengan rasa berani
kabarnya kepada negeri
siap untuk menyerang
aku masih muda kawan
aku sebarisan di perang terbuka
senjata di tangan berbaur dengan indonesia raya
mati adalah akhirnya
di nisan tua aku masih muda
mengoyak sang pusaka dengan tubuh terdampar di tanah
tersipu di nanar keberanian
mati di pelikan sang merah putih
dianatara jalan gelap menerawang di sudut desa
tak ada suara
tak ada manusia
hening
seakan aku sendiri
aku masih muda aku hanya anak desa
berlari dari desa ke desa yang lain
menyelinap diantar nisan nisan yang membeku di bulan purnama
meneriaki napasku dengan rasa berani
kabarnya kepada negeri
siap untuk menyerang
aku masih muda kawan
aku sebarisan di perang terbuka
senjata di tangan berbaur dengan indonesia raya
mati adalah akhirnya
di nisan tua aku masih muda
mengoyak sang pusaka dengan tubuh terdampar di tanah
tersipu di nanar keberanian
mati di pelikan sang merah putih
jatuh cinta
diamnya aku hanya sedetik
kalahnya aku hanya sehari
musnahnya aku hanya sebulan
dan aku yang tak pernah di cintai
terpaku di siang malam
di hamparan laut kusematkan cintaku
biarlah tuhan yang langsung mengatakannya
kalahnya aku hanya sehari
musnahnya aku hanya sebulan
dan aku yang tak pernah di cintai
terpaku di siang malam
di hamparan laut kusematkan cintaku
biarlah tuhan yang langsung mengatakannya
ada ceritaku
aku hanya likisan sang pengecut
yg mengalir di atas tahta sang pengemis
sujud di altar kebodohan
diam menepi seperti pasir di tepi selokan
menanti arus pasang menerawang terbentang ke angan angan
angan itu tertanam entah kemana satu persatu hilang seperti century
meneriaki maling dengan sebutan langlinglung
membingungkan telinga si bodoh di selokan
menangisis derap langkah pemulung waktu
bergantung di jalan kerikil
dari jaman hingga matahari terbenam
negeriku melangkah kaki seribu
langkahnya terdengar membisingkan si durjana
penggusuran ........
rumah yg bermimpi anak nak bangsa
tergadai di hitam nya senyum sang penguasa
berakhir di perempatan jalan
koran......koran tak berijasah
semuanya seperti wangi permadani
suara suara merdu beraroma duniawi
tertawanya si tante girang
pelacur jadi barang oplosan.....
aku hanya diam di selokan pasir putih adalah pahlawan terbaikku
menantang di jalimi sudah biasa
si kaya berkaca di dinding permata simiskin berlutut di altar penantian
negeriku tertanam di selokan selokan gedung senayan
yg mengalir di atas tahta sang pengemis
sujud di altar kebodohan
diam menepi seperti pasir di tepi selokan
menanti arus pasang menerawang terbentang ke angan angan
angan itu tertanam entah kemana satu persatu hilang seperti century
meneriaki maling dengan sebutan langlinglung
membingungkan telinga si bodoh di selokan
menangisis derap langkah pemulung waktu
bergantung di jalan kerikil
dari jaman hingga matahari terbenam
negeriku melangkah kaki seribu
langkahnya terdengar membisingkan si durjana
penggusuran ........
rumah yg bermimpi anak nak bangsa
tergadai di hitam nya senyum sang penguasa
berakhir di perempatan jalan
koran......koran tak berijasah
semuanya seperti wangi permadani
suara suara merdu beraroma duniawi
tertawanya si tante girang
pelacur jadi barang oplosan.....
aku hanya diam di selokan pasir putih adalah pahlawan terbaikku
menantang di jalimi sudah biasa
si kaya berkaca di dinding permata simiskin berlutut di altar penantian
negeriku tertanam di selokan selokan gedung senayan
Kamis, 15 April 2010
tanjung priuk
aku melihat
aku mengerti
aku berpikir dan
aku menangis
kembali negeriku memb ara
sejumlah jiwa yang hina bertempur di atas surban
menahan setiap tawa dia atas napas penggusuran
aku hanya diam di balik dinding
aku hanya membisu tak mampu berkata
kuhanya berpikir di balik tetes air mataku
aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku
kemarin masih kita lihat kita bersama
menantang sang penguasa di senayan
kemarin masih jelas kita bergandengan tangan
beriringan menyapa sombongnya di senayan
teriakan kita bergema hingga fajar menyapa
meledak dan bergema sekali negeri kehilangan
korban ditebas di depan mata
korban menangis tertelungkup dengan sebilah balok
bocah kecil melempari batu melindungi si bapak
hentakan negeri dengan sebuah mata nanar
sekali lagi negeri ku menangis
di atas jubah sang ilahi
aku mengerti
aku berpikir dan
aku menangis
kembali negeriku memb ara
sejumlah jiwa yang hina bertempur di atas surban
menahan setiap tawa dia atas napas penggusuran
aku hanya diam di balik dinding
aku hanya membisu tak mampu berkata
kuhanya berpikir di balik tetes air mataku
aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku
kemarin masih kita lihat kita bersama
menantang sang penguasa di senayan
kemarin masih jelas kita bergandengan tangan
beriringan menyapa sombongnya di senayan
teriakan kita bergema hingga fajar menyapa
meledak dan bergema sekali negeri kehilangan
korban ditebas di depan mata
korban menangis tertelungkup dengan sebilah balok
bocah kecil melempari batu melindungi si bapak
hentakan negeri dengan sebuah mata nanar
sekali lagi negeri ku menangis
di atas jubah sang ilahi
Minggu, 04 April 2010
dengan cinta
dengan cinta kukatakan seutas harapan
dengan cinta juga kulukiskan seribu pelangi
kuhanya akar yg berserakan di bawah ;langit
seuntai napas kehidupan terselip di untaian seribu cerita
aku terasing di kota ini
semua bersatu menamparku dengan keras
semua bersama dengan sombongnya mengakali aku
kata kata bakpuisi tetapi na[pasnya berbau ketamakan
aku yg terkalahkan hanya mendengar
impian mereka dibalik jubah hitamnya
pintar berkata bijak berpuisi
senyum ramah dengan segumpalsimpati
tak peduli setetes pengharapan
dengan cinta juga kulukiskan seribu pelangi
kuhanya akar yg berserakan di bawah ;langit
seuntai napas kehidupan terselip di untaian seribu cerita
aku terasing di kota ini
semua bersatu menamparku dengan keras
semua bersama dengan sombongnya mengakali aku
kata kata bakpuisi tetapi na[pasnya berbau ketamakan
aku yg terkalahkan hanya mendengar
impian mereka dibalik jubah hitamnya
pintar berkata bijak berpuisi
senyum ramah dengan segumpalsimpati
tak peduli setetes pengharapan
Kamis, 18 Maret 2010
pasir putih
kuhanya riak gelombang kecil yang rindu deraian pasir putih
kuhanya salah satu anak negeri yang dikalahkan kejaliman penguasa negeriku
kuhanya terdiam di dinding langit malam
membisu menerkan impian terbang ke langit
menghakimi setiap jengkal harapan
kuhanya pasarah tanpa sehelai kain sutra
aku telah ditelanjangi kemunapikan
ketika sati persatu orang pintar menjerit diperkosa kemiskinan
suara yang lantang tersirat pemberaontakan tirani
si manusia jujur telah berubah menjadi serigala
jalanan menjadi kawanannya
mengaum dan memarahi si bejat
kuatahu dibalik baju baju pegawai tersirat orang orang bodoh
kutahu di balik seragam polisi terbaca jelas uang orang dungu
dan yg terlihat di senayan adalah para mucikari bangsa
setiap detik berpikir tanah negeri ini dibursa dagang
setiap menit gadis desa tergadai di jalan hitam
siapakah yang melihat
aku melihat bahkan seluruh negeri ini menatap
tersenyum tertunduk dikalahkan kepengecutan
aku menembusi si durjana dengan ratapan tangisan
aku menghina .....................
aku terhina..................
aku hanyalah riak gelombangdi tepi pantai
diam menanti musim membawa ke langit
aku menanti takdirku di negeri ini
di hatiku aku terasing di negeri sendiri
kuhanya salah satu anak negeri yang dikalahkan kejaliman penguasa negeriku
kuhanya terdiam di dinding langit malam
membisu menerkan impian terbang ke langit
menghakimi setiap jengkal harapan
kuhanya pasarah tanpa sehelai kain sutra
aku telah ditelanjangi kemunapikan
ketika sati persatu orang pintar menjerit diperkosa kemiskinan
suara yang lantang tersirat pemberaontakan tirani
si manusia jujur telah berubah menjadi serigala
jalanan menjadi kawanannya
mengaum dan memarahi si bejat
kuatahu dibalik baju baju pegawai tersirat orang orang bodoh
kutahu di balik seragam polisi terbaca jelas uang orang dungu
dan yg terlihat di senayan adalah para mucikari bangsa
setiap detik berpikir tanah negeri ini dibursa dagang
setiap menit gadis desa tergadai di jalan hitam
siapakah yang melihat
aku melihat bahkan seluruh negeri ini menatap
tersenyum tertunduk dikalahkan kepengecutan
aku menembusi si durjana dengan ratapan tangisan
aku menghina .....................
aku terhina..................
aku hanyalah riak gelombangdi tepi pantai
diam menanti musim membawa ke langit
aku menanti takdirku di negeri ini
di hatiku aku terasing di negeri sendiri
Minggu, 07 Maret 2010
aku
dengan kuat aku mencekam waktu
kuajak berunding dengan tatapan nanar
kumenahan segala kemarahan yg mendatar diatas kekalahan
merobek setipa nyawa dengan segumpal dendam
negri ini sandarkan pd sejuta kediaman
generasi hanya berlutut di kedua kaki layaknya sang binatang
diam mulutnya bau bunga seroja tawarkan aroma ke pengecutan
aku hanya diam diantar sejuta diam
tersudut di hamparan para dewa
menghina aku diantar getaran hitam
kuajak berunding dengan tatapan nanar
kumenahan segala kemarahan yg mendatar diatas kekalahan
merobek setipa nyawa dengan segumpal dendam
negri ini sandarkan pd sejuta kediaman
generasi hanya berlutut di kedua kaki layaknya sang binatang
diam mulutnya bau bunga seroja tawarkan aroma ke pengecutan
aku hanya diam diantar sejuta diam
tersudut di hamparan para dewa
menghina aku diantar getaran hitam
Rabu, 03 Maret 2010
resahku untukmu
diantara seribu cerita hanya awan yg terlihat disana
bersinar diantara burung layangan terbang meraung
tertawa seperti damainya negeri ini
telah berakhir tersenyum di antaraku
memenggal mimpi diantara deritaku
sekali lagi aku dikalahkan bangsaku
hujam memagari bumi dengan sejuta luapan
membanjiri daratan dengan ganasnya
menerkam siapa saja yng menghadang
tak terhenti dan terus meradang
dunia ini sekejam yg tersirat di kitab-kitab
ketika sekali lagi alam menangisi yg terhilang
nyawa hanya sebuah kubangan tertanam tanpa lukisan sebuah nama
sekali lagi si miskin dihitamkan di langit negeriku
bersinar diantara burung layangan terbang meraung
tertawa seperti damainya negeri ini
telah berakhir tersenyum di antaraku
memenggal mimpi diantara deritaku
sekali lagi aku dikalahkan bangsaku
hujam memagari bumi dengan sejuta luapan
membanjiri daratan dengan ganasnya
menerkam siapa saja yng menghadang
tak terhenti dan terus meradang
dunia ini sekejam yg tersirat di kitab-kitab
ketika sekali lagi alam menangisi yg terhilang
nyawa hanya sebuah kubangan tertanam tanpa lukisan sebuah nama
sekali lagi si miskin dihitamkan di langit negeriku
Senin, 22 Februari 2010
hanya seutas do
hanya sebuah harapan
bernapas di kedua kakiku
menyembahmu bersujud dengan seikat keresahan
aku malu menatap sang awan
aku gentar menghadapi mentari
aku jauh tegar lemah seperti burung di langit
aku kalah dengan mulut orang
aku tertidur di pelukan kemiskinan
aku terdiam di hamparan nasionalisme
sedekat jiwa menatap sang embun pagi
aku tak berdaya
aku telah berhenti
aku di sudut kehitaman
bernapas di kedua kakiku
menyembahmu bersujud dengan seikat keresahan
aku malu menatap sang awan
aku gentar menghadapi mentari
aku jauh tegar lemah seperti burung di langit
aku kalah dengan mulut orang
aku tertidur di pelukan kemiskinan
aku terdiam di hamparan nasionalisme
sedekat jiwa menatap sang embun pagi
aku tak berdaya
aku telah berhenti
aku di sudut kehitaman
sang kekasih
laksana angin malam menampar di kedua pipiku
wajahmu mendamaikanku
sehangat pelukan sang alam senyummu
kau tercipta seperti sang pelangi
tebarkan sejuta cinta di pikiran hitamku
tumbuhkan sayap-sayap kemalasanku
bangkit naluriku dari mental sang pengecut
meracuniku dengan sengatan kata-kata nasihat
cerahkan hariku disepanjang hariku
wajahmu mendamaikanku
sehangat pelukan sang alam senyummu
kau tercipta seperti sang pelangi
tebarkan sejuta cinta di pikiran hitamku
tumbuhkan sayap-sayap kemalasanku
bangkit naluriku dari mental sang pengecut
meracuniku dengan sengatan kata-kata nasihat
cerahkan hariku disepanjang hariku
sebuah penantian
jika aku adalah sang mentari
kukan terdiam di kaki para awan
menikmati sisa waktuku
ternyata ak telah jauh
dari rasa muda
berdiam diantara tepian pasir pantai
bertanya tentang realita sebuah keadilan
berlari bersama sang pemberani
mengaliri setiap insan yg bertanya
mengapa jiwa ini terasa tua
lama bahkan jantungku telah lama seakan berhenti
menunggu sebuah harapan
lahirnya jiwa yg baru
kesatria berbaju kesederhanaan
berpedang keberanian
dan bernapas pada sebuah arti kejujuran
selama ini yg terdiam di nrahim-rahim
wanita-wanita terhormat
menakuti jiwanya terlahir diatas sang pengecut
harapku diseribu tanyaku
akankah aku mati dengan terlahir kembali
adakah ygkanm enangisi nisanku
aku yg ditaklukkan di lapangan terbuka
dengan sebilah kejujuran
menaungi kedua tanganku
atau.................
akukan pergi dengan hampa di jantungku'
bisikan para penguasa dengan tawa meludahi jasadku
sibejat telah bersatu dengan alam
selamanya dengan pikiran gilanya
selamnaya menjadi peti mati yg terhina
hingga namanya terkubur seujung mimpinya
kukan terdiam di kaki para awan
menikmati sisa waktuku
ternyata ak telah jauh
dari rasa muda
berdiam diantara tepian pasir pantai
bertanya tentang realita sebuah keadilan
berlari bersama sang pemberani
mengaliri setiap insan yg bertanya
mengapa jiwa ini terasa tua
lama bahkan jantungku telah lama seakan berhenti
menunggu sebuah harapan
lahirnya jiwa yg baru
kesatria berbaju kesederhanaan
berpedang keberanian
dan bernapas pada sebuah arti kejujuran
selama ini yg terdiam di nrahim-rahim
wanita-wanita terhormat
menakuti jiwanya terlahir diatas sang pengecut
harapku diseribu tanyaku
akankah aku mati dengan terlahir kembali
adakah ygkanm enangisi nisanku
aku yg ditaklukkan di lapangan terbuka
dengan sebilah kejujuran
menaungi kedua tanganku
atau.................
akukan pergi dengan hampa di jantungku'
bisikan para penguasa dengan tawa meludahi jasadku
sibejat telah bersatu dengan alam
selamanya dengan pikiran gilanya
selamnaya menjadi peti mati yg terhina
hingga namanya terkubur seujung mimpinya
Jumat, 19 Februari 2010
gerangan hati
hujan memasahi tawa bumi
selintas tanya tentang ada harapan
disudut kenyataan yg tenggelam diantara jembatan yg terpotong
tak tahu kemana kaki melangkah
beranjak dewasa dengan segunung mimpi
hilang sudah fajar ditawan rasa takut
kemana jiwa yg muda bersemayam
di hampa langit dengan mata tak terpejam
adakah esok lebih baik
adakah tawa ygkan dihadirkan
ketika satu persatu diadili rasa kekalahan
selintas tanya tentang ada harapan
disudut kenyataan yg tenggelam diantara jembatan yg terpotong
tak tahu kemana kaki melangkah
beranjak dewasa dengan segunung mimpi
hilang sudah fajar ditawan rasa takut
kemana jiwa yg muda bersemayam
di hampa langit dengan mata tak terpejam
adakah esok lebih baik
adakah tawa ygkan dihadirkan
ketika satu persatu diadili rasa kekalahan
Kamis, 21 Januari 2010
sebuah gugatan
dengan siapakah aku berdiri
ketika satu persatu anak negeri dizalimi
haknya telah di gali di sawah-sawah
kewajibannya di injak injak kaum birokrat
hanya meratapi ijasah yg telah usang
dibalik mimpi ada harapan
sertakanlah semua kehampaan negeri ini
teriakkanlah kegelapan masa depan bangsa ini
tak mampu menahan gejolak tawa
yg tertanam di hamparan bukit tua
menatap mata yg merah tangis darah
yg kaya di jadikan pemimpin bangsa
yg tak bermoral merebut singasana
yg bodoh berbicara dimimbar agama
semuanya menyatu raga sukmma menjadi teladan
merongrong generasi
hanya menawan kenikmatan palsu...........
ketika satu persatu anak negeri dizalimi
haknya telah di gali di sawah-sawah
kewajibannya di injak injak kaum birokrat
hanya meratapi ijasah yg telah usang
dibalik mimpi ada harapan
sertakanlah semua kehampaan negeri ini
teriakkanlah kegelapan masa depan bangsa ini
tak mampu menahan gejolak tawa
yg tertanam di hamparan bukit tua
menatap mata yg merah tangis darah
yg kaya di jadikan pemimpin bangsa
yg tak bermoral merebut singasana
yg bodoh berbicara dimimbar agama
semuanya menyatu raga sukmma menjadi teladan
merongrong generasi
hanya menawan kenikmatan palsu...........
alam menanti
senja datang sampaikan seribu pesan
mentari yng sombong siap menghadang dengan jutaan peluru
aku hanya meradang
lawan tangguh di depan
aku tak gentar
karena inilah yg kunanti
semua manusia akhirnya bersatu dengan alam
mentari yng sombong siap menghadang dengan jutaan peluru
aku hanya meradang
lawan tangguh di depan
aku tak gentar
karena inilah yg kunanti
semua manusia akhirnya bersatu dengan alam
Sabtu, 16 Januari 2010
sebuah harapan
derap langkahku meninggalkan malam
menembusi jiwa yg terlena
di hamparan penderitaanku terselip sebuah harapan
yg terlahir dari kejamnya dunia
aku hanya tersenyum
aku hanya terdiam
tak mampu bertanya
jawaban apa ygkan kudengar
di balik setiap jengkal harapan
ketika kata mimpi terlahir
kucoba kembali menawan sejuta rinduku
membakar setiap menit semangatku
kerahkan semua yg tersisa
dan saatnya aku menunggu....
sebuah harapan yg terselip diantara
satu mimpi diantara dunia
menembusi jiwa yg terlena
di hamparan penderitaanku terselip sebuah harapan
yg terlahir dari kejamnya dunia
aku hanya tersenyum
aku hanya terdiam
tak mampu bertanya
jawaban apa ygkan kudengar
di balik setiap jengkal harapan
ketika kata mimpi terlahir
kucoba kembali menawan sejuta rinduku
membakar setiap menit semangatku
kerahkan semua yg tersisa
dan saatnya aku menunggu....
sebuah harapan yg terselip diantara
satu mimpi diantara dunia
Langganan:
Postingan (Atom)
