Senin, 12 Desember 2011

ada surga di depan istana

Terlihat sprti ada sebuah tawa
Merangkai waktu yang tiba dengan sebuah pertanyyaan
Tertawan jingga bumi indonesia
Menyerupai sandiwara akan kelaknatan seorang pemimpin
Berbicara menerjang seperti kutu busuk
Hingga ada yang terbakar kemarin
Suaranya bisu terdengar tpi janjikan revolusi
Gagahnya sejajar dengan bung tomo
Pendidikannya selaras dgn idealismenya
Dan akupun hanya berduka di teras rumah kusampaikan salam
Langit biru yg kita tunggu pun mengheningkan awan putih
Bergelombang menari nyanyikan lagu perjuangan
Selamat jalan sondang napitupulu

Kita adalah semut kecil yang berjalan memapah masa depan
Ada anak bangsa yg tersalibkan kepengecutan
Ada anak bangsa yang terdampar di pulau kemalasan
Ada anak bangsa yg membeli seragam polisinya dengan ratusan harta bapaknya
Semua di perdebatkan di nusantara indonesia
Kezaliman situan laknat tlah lama terdengar
Lukisan kehancuran bangsa ternoda dengan orang orang bengal
Merampas hidup orng banyak
Koruptor ibarat gedung di senayan yang berwajah monster
Menakuti kaum kusta dengan keserakahan dan tak terjamah
Presidennya hanya bisa berdendang dengan permaisuri seperti pelacur
Terlalu sibuk dengan romantika percintaan
Seniman bberbulu domba itu acuh layaknya sang pangeran
Negeri menangis dan hanya pasrah
Yerdengarkah engkau wahai pata pengecut
Anak bangsa terbakar di depan istanamu
Dengan harapan engkaukan mengheningkan cipta
Nyanyikan lagu perjuangan di altar para pahlawan
selamat jalan sondang napitupulu

Engaku pergi. Diantara galau sahabatmu
Kami kehilangan satu lagi bintang bangsa
Gagahmu kan selalu kami ingat
meski jantungkan berhenti
Indonesia tetap indonesia
Kita bangga dengan kebanggaan dan kita kan selaalu tetap bersama
Selamat jalan sondang napitupulu

Sabtu, 26 November 2011

lorong beraspal rumahku

sendiri mata ini berkelahi dengan angin yang tertampar dari kaca busku
ada ceita yang datang seperti awan putih membuatku tersenyum
fajar menyingsing tlah merapat di atas langit kampungku
menghampiri tepian rimbunan pohon pohon yang berbaris terlewati
kecil dikala itu
rupawan bagaikan tanah kosong
gersang mengisi prabu jiwantara ahti yang rapuh
menari diatas kepala kosong
dimana hati dan napasnya tlah mati
jauh sebelum merah putih berkibar
kita sebarisan dari manusia kalah yang bertarung ke negeri seberang
mati adalah yang kita cari
ketika kekalahan hanyalah terselamatkan di kuatnya rupiah
mon

Senin, 21 November 2011

kata terakhir

hanya sebait kata yang terakhir
kulukis bunga sebagai tanda cintaku yang tak bertepi
kuteteskan sedetik air mata untukmu
dan kurangkai dengan sebuah doa
selamat menempuh hidup baru sahabatku

kita bisa

kudekap dengan segenap mimpi yang hadir menyapa
kudkap erat dengan segenap jiwa
kupertaruhkan yang ada dengan napas terakhir
berkibarlah trus merah putih
berkibarlah ke langit dengan satria
bangkitkanlah para pejuang yang terlahir di basuh garuda
kita bisa
kita berdiri
kitakan menjadi pemenang di atas langit indonesia

jaman osilo bambang yudhono

menari diatas awan bersama cinta yang tlah datang
merngkai kata di dalam nadi yang terdiam
seperti pujangga yang enggan lagi untuk memberontak
terzalimi jaman yang tlah berubah
dimana ketika kekayaan hanyalah sebuah patung
menawarkan kecantikan tetapi seperti ular ketika mata terpejam
hangat sedalam anggun nya mentari namun bisa menjelma dalam hitungan detik menjadi serigala
aku terpenjara dalam kubangan doa
didalam kesendirian kurobek kehormatanku
kengerian hati bercerita dalam syair menatap negeri tak lagi seperti bertuhan
merangsang kesombongan dan mengakari kejahatan,penghianatan,pembunuhan
bersama menerjang membentuk p[ersengkokolan yang maha dashyat
segenap jiwa menumpas kebaikan
sedikit saja pun tak di ijinkan mendekap
menggoeres manusia kebijaksanaan untuk diam serentak
begitulah adanya negeri
terpasung dlam keagungan tuhan
ribuan anak egeri bertelanjang dada terpapah dalam keharmonisan angin malam
bertatapan dengan seribu kenanaran
hampa dan kosong
haknya tlah dimerdekaan dengan kesia siaan
harga diri terbakar di altar kemewahan penatua agama
bijak hatinya berbaju kubah lentera yang terang
tpi hatinya berbicara kemunafikan di ruangan yang kosong
mencaci dan menjadi karang di hati yang penuh kedamaian
memperolok kemerdekaan orang orang bijaksana
dan menebar racun menghitamkan akan harapan dan tersimpan
menakuti anak bangsa
kelaknatan itu hadir menyapa
meneriakain kejaliman dengan sebuah doa dan harapan
harapan adalah napas yang mengalir mendekap sebuah mimpi yang datang dengan segala kemenangan
nmun membutuhkn penantian yang panjang
karena tak ada yang datang tanpa di pikirkan
dan baiknya lah kita untuk bersama untuk menjdi kerikil yang tajam
langkah bangsa tertancap tepat di atas sajadah pertiwi
siapapun berhak untuk berkata
apakah masih ada telinga untuk mendengar
bagi pertanyaan kami yang tarapung diatas samudera korupsi dan nepotisme
kemanakah langkah jejak century..
mengapa si gayus tertawa terpenjara di waktu tujuh tahun
dengan milyaran di lemari berkeramik soeharto
menerobos gelap ditambah si nazaruddin hitamkan langkah demokrat
presiden seprti unyil belajar mengaji
kitapun tertawa dalam selimut yang memerah
seperti gembala yang hanya terdiam di atas kegalauan sang penguasa
menertawai diatas kepala dengan sebilah pedang di tangan
keadilan yang diteriakkan yang datang perang
tua dan muda menjembatani kegelisan kekuasaan
dengan segenap kekuatan bertarung merebut kedamaian
semuanya hadir terhilang dalam satu jaman
yang namanya jaman sosoli bambang yudhono

Senin, 14 November 2011

kabarmu kawan

detak waktu membisu seirama detak jantungku
mendengar kabar dari kawan dri negeri seberang
ilmu itu penting ,itu katamu
raihlah mimpimu ke pulau jawa itu juga katamu
lima tahun dan berlalu
kabar terdengar engkokan pulang
ada cinta dan rindu berdentang menyambut mentari
disudut rumah kutahbiskan pagi untukmu
menantimu
jelang waktu melangkah seorang pria
hitam rambutnya terlihat garang
bajunya kemeja denganuntaian safari batik
peci dikeppala semangat pejuang
dengan senyum engko hardik tatapanku
langkahmu berani menuju ke rumahku.
selamat pagi hendra....
engkau adalah sahabat terbaikku..
hadiah drimu dri negeri jakarta
kotak kecil bersampul merah
kubuka dan kurobek
"laskar pelangi"pelukku tubuhnya dalam genggaman
terimaksih sahabat karena masih mengingatku"bisikku dalam hati



banyak diantara kita yang tlah pergi merantau ,setelah mereka sukses mereka melupakan masa kecilnya bahkan untuk sahabat terbaiknya
ingat....mengingat sahabat masa kecil,sekolah adalah mengingat kita untuk tertawa dan bersemangat kembali ketika jatuh untuk kembali berjuang....
setengah perjalanan kita yang terindah adalh dimana kita untuk berusaha menjadi yang terbaik nbagi hidup

Sabtu, 12 November 2011

sang penyair

aku dikatakan adalah awal dri sebuah pertanyaan hati,jiwaku melayang seperti bintang dilangit kadang terang kadang tak terlihat dan kadang pergio seperti pengecut bahkan kadang ak tidak bersinar karena keangkuhan sang bulan kadang memperkosaku.lihat dan rasakanlah ,air dan udara berdamai tawanya menaklukkan para raja raja untuk selalu berdiri di bukit bukit doa mengucapkan kata kata yang terlahir dri kalbu berlutut kepada pemilik segalanya yang tidak bangga dengan apa yang dia lakukan,menjadi bagian dari keinginan itu lah yang ada dipikirannya.sunyi malam kadang juga menjadi batu sandungan bagiku,ketika dinginya menjalin ikatan dengan alam membuka mataku untuk terbawa dalam ingatan masa masa lalu dikala kecil di kampung desa tanah kelahiranku.namun tidakkah kita hanyalah sedekat kematian,kita beranjak merajai segalanya,memiliki permata yang berkilau di bawah kasur kita tapi apakah itu kan menjadi awal dri permulaan yang terhinggap seperti sang waktu diam dan tak bernapas menjadi saksi sejarah dan hilang dikala waktu itu juga menjadi bandit di gurun pasir,mengangkangi kita dengan falsafah pemberontakan yang namanya terdaptar di penjara penjara orang terbuang.semuanya terlihat begitu nyata bahkan kadang aku tertawa menapaki sisa hidupku yang terlair dari kaum kusam,berjuang layaknya sang patriot,berlari mengejar mimpi dibalik buku yang terpasung di kantung celana,uang adalah hak hakiki yang menjadi penguasa sejati yang mampu mengerahkankekuatannya untuk memperdaya manusia manusia yang buas seperti binatang.menghentikan darah yang mengalir dengan satu senyuman ketika uang adalah racun dunia yang mengalir dari suangi kecil di kota kota dimana airnya bersih mampu mengubah hidup dengan seikat jiwa mempertanyakan keilhaman surga dan neraka.tanpa batas meludahi kehidupan tak bermoral dihitannya dunia yang semakin tak menentu kemana akhirnya,kesombongan sudah menjadi sahabat terbaik bagi para insan,kemunafikan tlah bertapa di hati para manusia bijaksana,kerakusan tlah mengalirdi hati para pendeta ktik semuanya berjalan beriringan satupun tak mampu untuk menantang persengkokolan mereka sudah seperti jembatan,sambung menymbung dr anak cucu ke anak cucu bertahta.
kan kukenang di dalam sanubari dan kuingat di sepanjang sejarah,peristiwa peristiwa yang pernah hadir di bumi indonesia,ada cerita tragedi dimana bencana selalu menjadi topik pilihan ada kemunafikan bangsa ketika agama di perdebatkan ada kerakusan kaum intelektual yang otoriter berbicara lauaknya sang maestro yang menyimpan dalih dalih dunia menghina bangsa sendiri ada penghianata di barisan garda bangsa ketika kebiadaban para pejabat berdansa di altar altar para kezaliman semua beradu dengan argumentasi si kaum bodoh tertawa dan menahbiskan dirinya di sungai mahakam mungkin menjadi suatu pilihan.membisu layyaknya sang pengecut di bukit bukit doa,menyiratkan seseorang akan di kirm sang pencipta untuk mentahbiskan sesautu harapan di sepanjang kehidupan,yang terlahir dari perut ibu yang adil dan darahnya dialiri dengan kejujuran dimana tangan kanannya menggenggam erat pedang kebaikan dan di kirinya rantai bumi yang siap menghanguskan kaumsa bertanya ,berjilat liodah,berbohong,provokator penghancur bangsa dan sebagainya yang bisa membuat pancasula enggan untuk terbang di langit bumi nusantara
dimanakah kita kan mencari sesuatu kebijaksaan yang terlahir beralaskan kejujuran,apakah mereka bersembunyi jauh di pulau pulau,bertapa menanti saatnya merek untuk menyebar ,menawarkan sejuta kebaikan tersalib di depan rumah situan yang bejat,terdengarkah langkah sang pangeran yang berjalan dengan sandal yang terpampang di pinggang,yang tlah berjalan dari timur ke selatan dan begitu jg sebaliknya yang mengatakan bahwa tibalah saatnya kita mentahbiskan sebagian dari nama kita untuk di perdebaytkan di rumah rumah ibadah,menunnjuk salah satu diantara kita untuk menjadi pemimpin bangsa dan kita hanyalah bisa berharap sepenggal perjalanan kan indah rasanya meski nyawa anak bangsa tergadai diperangan melonjak dan bersama seperti layaknya serigala yang haus akan dendam dan merobek robek daging manusia yang sehat dan segar untuk dijadikan sembelihan anak bangsa.kita jadikan diri kita menjadi dinding dinding pemberontakan,kita berlari dari istana ke istana yang lain untuk mempertanyakan dimana hasil panen saudaraku yang kemarin,dimana rumah ibu ku yang kemarin dan dimana anak gadisku yang kemarin yang kau rampok dengan kerakusan serigala dan begitu jga kita layaknya darah di balas darah serigala yang kirim kerumahku kubalas dengan serigala yangkan kuhabisi di tahta istanamu.tatapi apakah kitakan keka;l selamanya ,jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan,tidak saudaraku baiknya kita menbghitung hari dengan kita mempertanyakankehjaliman dosa dosa mereka dihadapan juri yang kita anggap suci,para ibu ibu dan anak anak yang mengerti tentang ilahi.kesabaran kita adalah ujung tombak pemberontakan,kita bergerilya bergerilya dari daerah ke daerah lain,kita membentuk imperialisme dan koloni koloni yang berajaskan kesukarelawan dan cinta tanah air .kita berlari dengan seiramana detak jantung menghadang ribuan tentara yang dibuat oleh pemerintah,kita mengajari anak kita apa arti dari ketuhanan,perang dan kebersamaan dan saling menghormati biar kelak kita kalah mereka mampu untuk melanjutkan apa yang sepantasnya mereka perjuangkan dan mereka tidak pengecut seperti kita dimana stngah hidup kita di jadikan oleh kaum intelek menjadi sapi perahan bangsa.terdampar di hamparan sebuah kejaliman bangsa dimana ketika para penguasa yang hanya bisa menyalakan api,membakar semua kesejahteraan rakyat,mereka para koruptor seperti hantu yang bergentayangan mencekik siapa saja yang bisa di cekik membuat sejarah untuk mereka bahwa mereka adalah binatang berbuli domba tapi singa di dalam jantungnya,si raja tega.

sudahimu di hamparan hidupmu

masih selalu saja angan ini melayang
dri hari kehari masih seperti dulu
terbawa dan hinggap sebentar saja
memikirkanmu di senja menunggui sesuatu yang pernah engkau janjikan
jantung berdebar setiap tahun yang kunanti
ditanggal yang sama dan dibangku taman yang sama
engkau katakan dengan suara manjamu
dan kini n itu seperti utang yg kupegang teguh dibawah kakiku
menantimu
hinggap dan berlalu
sudahimu dihamparan awan putih
berat seperti ku tlah tertawan penjara cintamu
hantumu dan segenap kenangan itu masih selalu merasuki
membuatku seperti patung yang berdiri
dimana pikirannya tlah tercampak di kedustaan yang tak bertepi
menghalau jauh seperti kegetiran malam
menopang ketidakberdayaan tubuh
pasrah terdiam dialtar para manusia terhina
gilakah aku dengan cinta yang tlah kutancapkan di gerbang kotaku

senja menamparku dengan hujan yang menderu diatas rumahku
kurebahan beralaskan sebuah kebodohan
kembali mencari cari wajahmu yg enggan bernyanyi
kusebut namamu dikegetiran sebuah realita janji yang terpendam
adakah cintamukan bersamaku selamanya
ataukah in hanyalah sbuah kutukan padaku
janjimu seakan akan tlah menertawaiku
cintamu tlah menghembuskan kegilaanku tentang sang malam
apakah malam tak lagi bersekutu tentangku
pergikah dia dengan sang kekasih
disini kutlah tancapkan sebuah birahi percintaan
kegalauan hati yang mewangi hempaskan noda noda hakiki
bertanya tapi tak dijawab
seperti apakah cinta yg engkau berikan ini adinda
mengpa engkau jerat aku seperti sang binatang
kau tuntun cintamu dengan segenap keikhlasan
sang penyanjung melewati sebongkah harapan pergi dan tak berpamitan
aku cinta diatas langit malam
dan biarkanlah cinta ini menjadi pedang bagiku
penantian yang tersisih hilang sperti jamur di batang batang tua
senja itu mengingatkanku
mengenangmu adalah serigala bagiku
kelaparanku kan menjadi batu sejarah kebangkitan bangsa bangsa
dan cintaku kan terlahir bersemi di atas bukit kemegahan

Rabu, 09 November 2011

kerinduan ku

Kankukenangdrimu diatas sajadah cinta
Kisah itu mengalir membuka jiwa matiku untuk berkelana
Mencari wajahmu di balik bodohku tuk menggapainya
Kisah itu seakan menyelimutiku untuk memelukmu
mencinatai tanpa henti
Hingga waktupun memaki
Bersemi diantara perbedaan yang memerah

Engkau hanya pergi dengan sejuta kata
Mimpi yg terpasung bersanding dengan kisah
Leburkan kedamaian kenistaan akan sebuah pertanyaan
Ketika kepntaranku hanyalah jendela kekalahanku
Bersemi diantara kegelapan
Menyeberang ke samudera tak bertepi
Hinggap dan terganjal dalam relung kemiskinan
Terperosok jauh ke jembatan prangkubowono
Menanti waktu membelah pikiran
Penghianat di garis peristiwa
Kelam menghinggapi menampar di kejauhan kebenaran
Seperti babi terperangkap dijebakan pangeran senayang
Aku hanyalah buain kebodohan terganjal dibalik kepentaran
Sewaktu waktu hanyalah sebuah harapan
Ketika negeri menawarkan segalanya dengan sebongkah emas dan permata

Ceritakanlah padaku sebuah realita cinta
Lintang samudera membuka mataku
Lihatlah ak tlah berdiri diatas samudera
Aku cymbal

Senin, 24 Oktober 2011

Kusampaikan dengan indah ttg cinta
menyapa di hamparan langit biru
Berkumandang di atas sesuatu yang hina
Engkau dan aku bersanding di riak gelombang rindu yg dalam
Teringat kembali akan senyummu
Membara seperti salju di hatiku kering
Kenangan indahmu kembali membanjiri stiap jengkal pengharapanku
Mengutuki tetapi masih mencinta
Menyesali namun masih membayang
Dan hanya mengenangmu disis waktu yang berjalan

Sepertinya cinta ini memaksaku
Utk berkata bahasa roh
Kasihku ....
Masihkah adakah cinta yg kutinggalkan milikku
Apakah dirimu jg merasakan rinduku yg dasyat
Yg siap meledak sprti gunung krakatau
ataukah drimu kini terhenti
Di malam malam pelukan sang kumbang
Menanti nanti driku dari seberang
Tak kunjung datang
Dan dirimu rebahan di ilalang depan rumahmu
Biaskan penantianmu di antara orang yang lalu lalang
Tercium aroma kemapanan akan seorang bangsawan
Terbawa dalam cerita sang kekasih
Meninggalkan yang tlah pergi selamanya
Kekasih yang pernah beriktiarkan kembali ke pangkuan
samapai kapankah aku menanti
Terlewati waktu hentikan penantian
Terdengarkah nyanyian rinduku
Abadikah cinta yg tlah ku titipkan
Mengapa tak ada tanya darinya
Terjebakkah dia di gedung gedung tua
Atau tertidurkah dia di hamparan kemunafikan
Tersalib dlam seribu kepecundangan
Malu untuk kembali pulang

Kusandarkan cinta tertawa dalam kisah penggalan
Kupergi dengan cinta terselubung
Antara langit dan bumi
Perbedaan antara kisah yg tlah melayang
Lelaki yg miskin dan penuh kesengsaraan
Anak yatim piati yg tak kenal ayah dan ibu
Di gubuk tua mengharap belas kasih
Berjuang sendiri dengan mimpi yg terjual
Hanya langit biru yang menjadi teman
Dan secuil tanda lahir bahwa aku pernah ada
Hidup diantara manusia serakah
Dibuang ke sungai tak punya nama

Senyum menyapa diantara perjalan jauh
Tawa hadir berjalan di lorong lorong pintu yang pernah terlewati
menahan napas menanti kejutan
Masa kecil yg penuh kesendirian
Kucari cari wajah wajah yg dlu
Menjadi sahabat menembus waktu
Tertawa dan bercanda
Dipukulin dan di ludahin
Dicaci dan dimaki
Berlari lari mengejar matahari dan tertidur dlm dekapan risau hati
Apakah mentari kembali menyapa


Jauh kutatap nanar wajah tua
Kerutnya terlihat terbelenggu dalam penderitaan yang dalam
Suaranya teriakkan namaku di bibirnya yg kering
Lidah enggan dengan lantang memanggilku
Aku berlari dengan sedikit berpikir
Kudekat dan memelukku tubuhnya
Airmata berjatuhan dengan riaknya
Menembus kesepian menoleh kepadaku
Ada guratan keterkejutan dan kegemparan akan sosok tubuhku
Kupandangi wajah mereka dengan senyuman
Tp mereka membalas dengan senyuman seadanya
Senyum mereka tidak seindah yg dlu
Terlihat kaum tetangga yang kaya lusuhnya sperti pengemis
Mereka sprti mayat yg berjalan
Tak punta harapan dan perjalanan
Mereka hanya terdiam dimana mereka berdiri
Seakan aku sesosok penampakan yang biasa bgi mereka
''Ada apa gerangan dengan semua ini,apa yang tlah terjadi ibu"tanyaku dengan suara menderu
Dengan isak tangis si ibupun tertegun menatap mataku"setelah kepergianmu raja kita mangkat dri tahta dan digantikan oleh sang pangeran.kami mengharapkan pangeran itu sebijaksana dgn ayahnya tetapi tidak seperti yg kami harapkanmdia memperbudak kaum kita,berpesta pora dan memperkosa setiap anak dara negeri ini menjadi gundignya,dia menetapkan biaya pajak yg setiap tahun naik .siapapun yang melanggar perintahnya akan di cap pembelot kerajaan dan englkau tahu sahabatmu masa kecilmu terbelenggu di penjara martabe dan di hukum gantung tanpa ada pembelaan yg semestinya"sekejap saja airmtanya membasahi pipinya yang berkerut .ibu tua itu menangis sejadi jadinya di pelukanku.lanjutnya"baiknya engkau tlah kembali dari negeri seberang,laparkah dirimu,anakku."

Kurangkai kembali sisa hidupku yng tlah berjalan diantart dunia penuh dusta
Kucoba menahan seribu dendam pemberontakan
Terlahir kembali menggapai galau risau dalam

hidup adalah penuh dengan kehormatan

aku tidak menghormati orang yang memiliki segalanya dengan ijasah maupun yang di beli dengan menggadai persawahan bapaknya
karena ijasah dan perangkat pemerintahan di negeri ini bisa dibeli dengan keagungan sang materi tapi aku mau menghormati orang yg berjuang menapaki kerikil tajam dengan segala keinginan yg tersimpan di hatinya untuk maju di depan
aku tidak mau menghormati para kacung kacung polisi karena seragamnya sama halnya dengan noda darah yag tersirat diatas para pengecut
tapi aku mau menghormati tukang sampah dimana dengan usahanya dan keringtnya menapaki hidup untuk tetap tersenyum
aku paling benci apa yang namanya kesombongan karena kesombongan sama halnya dengan ketidak jujuran
tapi aku menghormati kaum inteltualyang mau bersama denganku untuk selalu mendoakan negeri ini
sama halnya dengan aku,aku hanyalah puisi puisi yang terselip di buku buku para kaum moderat
pemberontakanku adalah awal dari kekalahanku,aku terkubur seperti halnya para pengecut
aku dikalahkan negeri ini untuk berlari ke negeri lain
ketika pendidikan adalah emas di jembatan bailonia
di tawarin dengan kilauan kedurhakaan dan kemewahan
itu adalah aku dan napasku hanya sedekat kematian
biarkanlah semuanya terjadi di bawah garis tangan
hidup adalah penuh dengan penghormatan
dan mati juga disambut dengan sukaci8ta
teriakkanlah semua idealismemu di atas awan seperti halnya para burung yng terbang berkejaran,dan kejarlah semua mimpimu dengan semua tenagamu

negeri tercinta

dengan rasa haru aku hanya bisa tertawa menatap satu persatu kisah kisah yang tlah terlewati dan kini bersandar pada naungan sebiji harapan krna hari harapanku kurasakan bangkit kembali
banyak cerita yg ingin kusandarkan padam,u saudara tapi hati ini hanya bisa tertawa dalam keheningan malam tertidur dalam batu yang jayh dari tanah
seperti itunya hal aku
bernazar dan bernapas hanyalah sebuah cinta cinta yang bertepi dalam satu pemandangan ttg bangsa ini yang tlah diobrak abrik tangan tangan pemerintahan yg rakus dan tak bertuhan.kita lihat bagaimana negeri ini hanyalah bisa berharap dan menanti tetapi apakah yang kita tunggu tunggu akan datang,dan apakah kita hanya akan juga mendiam di sawah sawah berselimutkan ijasah yang hanya membeku di langit impian kita yg kosong dan apakah kita hanya bisa melihat merasakan seolah tak mahu tahu,pikirkanlah ini saudaraku
kita sudah di injak injak bahkan kita sdah tenggelam di samudera yang namanya juga tak terdaftar di ambangan daratan negeri ini,ketidak adilan para penguasa tlah memperkosa mimpi mimpi anak anak kita,ilhamkanlah dri kita ,kita adalah bagian yang terakhir yang terbuang di negeri sendiri kita bangkita untuk bertanya.kemanakah keadilan itukan di tegakkan?adakah terdengar pangeran dri bukit bukit,dari hutan rimba,samudra apakah ada ksatria dari hutan rimba untuk berlari menancapkan reformasi....
ada baiknya bersama sama ,mengorganisir kita yang didasari pancasila mengangkat bendera tegakkan keadilan dan kebenaran walau mentari enggan untuk menyinari kita kan selalu berada di depan menerjang kerakusan para pemnguasa. kita sdah melihat segalanya sudah berubah,mereka sepekat tlah meracuni anak bangsa dengan dalih keagungan para penguasa,yang kaya dan bangsawan tlah mempoerbudak kita di bawa bangkir bangkir dan finance finance yang tak kenal lelah dan malu memperkosa hak kita ,sebenarnya mereka meludahi dimana kepandaian mereka di jadikan tameng untuk menghakimi orng orang bodoh di negeri ini.kita sudah di jajah oleh kaum inteletual yang di prakarsai dari negeri kulit kuning,idealisme kita bergotong royang tlah dibuang jauh menjadi berkeping keping tak tersisa kita dijadikan seperti kaca yang di pecahkan terbagi bagi saling memfitnah,sdaling mencurigai yang dilandasi dengan individu individu yang langsung diangkut dri kaum borjuis.moral dan etika kita tidak lagi berlandaskan pada ketuhanan yang maha esa melainkan siapa yang kaya itulah tuan segalanya,kita melihat langsung bagaimana para milyunert di negeri ini dengan kesombongan mereka berdansa di altar alatr istana yang megah,mereka bernayayi bagaikan kerajaan abad pertengahan anggun dan mewah,mereka berlari sangat kencang dengan segala keangkuhan negerui ini para koruptor berdansa di tahanan para lelaki si hidung belang,mereka mereplika sandiwara bagaikan sinetron sinetron cinderella dimana para artis dan tokohnya adalah para perampok di negeri ini.senyapkah kita hanya bisa melihat para babi bai koruptor mencari celah untuk diampuni bukankah lebih baik mereka mati,malukah dirinya dengan segala kejahatannya...mereka berdansa saudara dan menikmati semuanya didinding dinding kemegahan hukum denagn kucing garongnya mahkamah konsitutusi yang bisa dibeli dengan selembar kain kafan

salam dari para manusia yang dimanapun saudara berada jika anda membaca apa yang menjadi idelogi dri pemikiran ini sama halnya dengan melihat kemunafikan segalanay yg mereka pertontonkan,koalisi partai,jebak jebakn,tuduh menuduh dan masalah swasembada partai hangat untuk di jual belikan dan aku juga mengapa para penyiar itu juga mempertontonkan semua itu apakah tidah baiknya mereka menyoroti kehidupan masyarakat dimana hingga kini selalu penuh dengan kesusahan.,pengangguran bertambah,pendidikan dan kesehatan berubah menjadi serigala mencekik kaum miskin.menjadi bijak bukanlah untuk menertawai pemikiran yang dilandasi pada acuan suatu metode yang tersirat menapaki sisa sisa dri kekalahan tetapi kita menawarkan sesuatu yang terhilang untuk datang kemabli dan menajdikan sesuatu yang datang itu untuk berarti karena semuanya apa yang ada bagi kaum muda yang intelek,berjiwa besar dan tertinggal bersamalah kita bergandengan tangan menerobos kezaliman para penguasa dengan kekuatan doa dan pastinya harapan,seperti halnya aku dan kamu kita adalah generasi yang langsung berdiri apa yang sepantas kita perjuangkan meskipun butuh pengorbanan marilah kita beranjak danmenapaki bahwa cukup sampai disini mereka mempertontonkan keangkuhan bangsa ini.semuanya adalah bagian yang terkecil,datar dan menyerupai suatu sentuhan tentang imajinasi kita untuk bersama dengan segala kelemahan dan keterbelakangan ,bahu membahu serta bergerak menjadi sebuah kekuatan yang dilandasi bhineka tunggal ika.kita mewujudkan demokrasi yang hakiki dan harga mati tentang HAM menegakkan keadilan dimanapun kita berada tanpa memandang keterbelakangan siapa yang membutuhkan pertolongan wajib di tolong tanpa mengaharapkan imbalan seperti halnya sebuah kemerdekaan yang tlah diraih para pahlwan kita baiknya kita juga menjadikan sebagian tubuh kita untuk berjuang kembali di negeri ini karena negeri ini kita sdah melihat sendiri ketika kebodohan mampu dibeli dengan kekuasaan dan memahkotai kebodohan menjadi penguasa,semua terbeli dan terpasung menghakimi kaum inteletual yg tlah menghabiskan waktu memikirkan bangsa ini dan menajdikan kita barisan para pengecut yang tercuil di negeri ini.

bangkit adalah harga mati ,dasarilah kalbu ini dengan pemberontakan dan kedamaian,menjadi bijak adalah sesuatu yang tertanam di dalam sanubari para generasi untuk melangkah lebih awal sebelum ayam berkokok dan mentari keluar dari istananya
teriakakanlah tentang jiwa jiwa yang bersembunyi di hutan hutan untuk kembali menjadi bagian dri sejarah mengambil peranan untuk menegakkan keadilan setinggi tingginya.
bangkitlah engkau saudaraku nagkitlah dengan segala kehormatan dan napas dunia
bergeraklah seperti ait di sungai sungai

seperti halnya engkau para anak negeri
hari ini dan selamanya waktu yang kita nanti
pakaikanlah jubahmu dengan keberanian dan pengorbanan
tawarkanlah takutmu dengan selaksa kemenangan
kejarlah mimpimu ke gunung gunung dan ke segala penjuru
teriakkanlah semangatmu di dinding ketuhananmu
sebab sampai kapanpun
kita akan terlahir dari tetek ibu
jadikanlah dirimu menjadi pemberontak untuk kemunafikan bangsa ini
karena pemberontakan ini adalah awal dri sebuah harapan
harapan yang ditawar dengan kematian
tidak dibeli
tidak korupsi dan di kasihani
merdekakanlah negeri ini dari para perampok yang berdasi putih

Jumat, 21 Oktober 2011

negeri terasing di dadaku

Jauh kulambai lambai sebuah berita
Kutautkan pada sebuah ketakutanku
Tahukah dirinya
Kusimpan. Sebuah rahasia
Waktupun berlalu seperti khalifah
Dipanggil dia membuang mata
Kutriak dia berlari tanpa suara
Dengarkah dirinya
Interigtas bangsa di pertanyakan
Presidennya hanya menggonggong
Mentrinya sperti bola sepak
Diganti ganti
Mengubah cerita
Reshufle kembali berkumandang
Bodohkah yg di sanayan
Atau binatang kah mereka yng berdentang
atau aku yg jalang mempertanyakan gugatan yg terbuang
Kusam wajah para jelata
Tangis bayi di pom bensin
Wanita tua bertelanjang dada
Terselip di akhir cerita
Situan adil bijaksana
Tebar senyum di televisi
Dia adalah arjuna dri cikeas
Terkutuk di tangan para koruptor
Century terlahir dan pergi
Hanya sebentar tp tak bertepi
Blt menjadi singa
Banyak nyawa tergadai di pintu surga
Mengangkangi terbang garuda
Enggan hinggap di tanah pertiwi
FPI menjadi hakim baru
Tak terjamah dan tak kenal takut
Kebenaran di tegakkan dengan kekerasan
Surban putih jd taruhan
Akahkah semuanya terpampang
Di dinding situan penuh kesombongan
Gayus berlari dri kegelapan
Bagai hantu menyerupai manusia
Membeli siapa saja yg bisa di beli
di atas sajadah selimut kemunafikan akan dosa kita terselubung bagaikan waktu yang berdentang
kata katanya terdengar jauh ke negeri para pengecut untuk bangkit saja sangat riskan untuk berlari
kita dikalahkan oleh keraguan yang mendalam
terdampar pada sejuta beban yang tertancap di tanah
kita hanya bisa berharap pada hati mulia
menanti datangnya sang adil
menanti dtangnya sang bijaksana
hanya kita bisa terasing di negerio sendiri

mati

Kepadanya kupanjatkan sebuah doa
Doa yang terbungkus dlam kain kafan
Mengapa kita tertawa
Dalam derap langkah. Hitam dunia
Sepertinya waktuku untuk menunggu
Hening tak lagi bernyanyi

pemberontakan

Aku bkan chairil anwar dan ak bkan jg wr rendra
Ak adalah anak siantar yg punya mimpi seperti merka
Mulutku adalah syair dan pikiranku adalah pemberontakan
Ak adalah sejarah yg terlupakan mencoba untuk bangkit
Mengingatkan kita akan sepenggal kisah tragedi
Ketika kita di pertanyakan anak bangsa
Sedetik kata menyongsong mentari
Waktu itu jg lukiskan kesombongan ketika mimpiku bertabrakan dengan kisahku
Aku dibesarkan di tetek ibuku yg serba kekurangan
Ak di timang seorang lelaki yang perkasa
Bagiku dia adalah perjuanganku
Mengabadikan namanya di barisan terhormat yg kusanjung

Ak adalah manusia yg pernah kalah
Puisi adalah napasku
Ak tertanam dlam kehidupan terjerat para sarjana terbeli
Aku hanya tamat sma
Tp didadaku adalah replika perjuanganku yg tiada henti
Aku berjuang di barisan depan
Menggempur lawan lawanku dengan ingatan yg cemerlang
Seperti sang pemikir seperti itu jgalah aku
Ak berjalan sperti hantu hingga si anak emas kuatirkanku
Dendamnya mengutukiku di telapak tangan orang tuanya
Hingga fajar pun tak lagi seindah yg dlu
Ak simiskin dri siantar menunggu mati
Tenggelam dalam kehampaan sebuah pertanyaan
Bangkitpun aku enggan
Krna kata katanya tlah memerah
Membunuhku dgn ganasnya
Idealismeku terapung di samudra biru

Ak adalah sebuah lukisan perjuangan
Ak bangkit dari yg mati hidup kembali
Ketika pikiran bernyanyi dengan perjalanan
Mimpi itupun pergi seiring senyum mentari
Disini ak berani bernyanyi lebih berani
karna hidup hanya sekali
Terbeli dan tergadai
Takdirpun gentar menawanku
Hitam langkahku gentarkan semua lawanku
Ak anjing dri kegelapan itu yg kutahu namaku
Siapa saja aku hentakkan bertmu dgn pencipta
Semuanya terdiam seperti halilintar
Menerjang kebaikan dan kebenaran
Menyeret kesombongan pada siku kepahlawanan
Biarlah tuhan menjadi hakim dlm dosaku

Aku adalah serigala dri siantar
Aku bermimpi tentang hal pertapa
Membantu anak bangsa menjadi bijak
menaburi tanah dengan benih
Bekerja dengan cinta
Berjalan dengan bergandengan
Hingga akupun terjatuh dlam pengasingan
Aku adalah puisi
Puisiku hanya bisa tertawa
Beban langkah terasa terzalimi
Ternoda dlm sehimpit keruangan kesombongan
Darah mengalir dlm dekapan
Penuh noda dan dosa
Mati adalah akhirnya
Terpasung dlm hidup pemberontakan

mimpi dr kemiskinan

Kemiskinan ini adalah awal dr sbuah penantian
Penantian yg dtng tak mnghmpiri
Rasa kecewa terbungkus dlam kubangan sawah
Menanti tua dibalik senja
Kita terpenjara dalam kubangan pengharapan
Seperti awan kupernah melukis mimpi
Ada mimpi yang harus kita raih
Ada perjuangan di atas kepala
Menyapa sauadar kita berangkat ke pacuan
Hidup adalah sebuah perjalana
Tp perjalanan kah jika izasah kering di lemari
Membisu sperti orang gila
Mengutuki prestasi dihamparan ilalang
Ilalangpun hanya bisa tersenyum
ada sarjana gila terhilang
Dicaci mentari
Malamnya digilir bintang diinjak debu
Kita hanya bisa
Waktukan berdendang
Semua hanya terkapar tak berdaya
Hidup adalah waktu ygkan pergi
Jejakkan kaki di hamparan para nafdu situan pintar
Jejali kita tentang indahnya surga
Kita berhasrat meraih sebuah kata kata
Kata apa yg akan kita sampaikan
Agar meraka tahu
Jgan jalimi kami kekuasaan yang di perintah oleh kemenangan
Dimana kemenangan yg di dasari kekuatan materi dan nepotisme
Tp berikanlah kami harapan utk berjuang kembali
Krna hri ini adalah hari untuk kami
Terlahir dri kemiskinan,kekalahan,terpinggirkan dan yg tlah mati
Berikanlah kami awal dri sebuah kemenangan
kemenangan yg kami raih dri otak dan prestasi
aliri kami dengan tanggung jawab seamplop dengan kejujuran
lihatlah dan katakanlah kita hanyalah ilalang kecil yang ingin di goyang angin
bermimpilah anak bangsa hingga mimpimu itu membunuhmu dengan segala kebodohan

Selasa, 18 Oktober 2011

mawar dri hati yang dalam

dsisni ada cerita yang mengalir
satu persatu kurangkai menjadi sebuah syair
rindu yang datang masih seperti dulu mengagumimu tanpa engkau pun tahu
malu..
iwa ini terasa lugu
jantung berdebar bagaikan tsunami menerjang pertahanaan kejantananku
aku mati saat dekat denganmu
pecah pikiranku tlah teracuni bijaksanamu
wibawaku seakan pergi entah kemana
jauh jauh dan enggan untuk kembali
inikah cinta wahai dewi
inikah sinaran kehidupan itu
memukul mukul otakku untuk berdiri bangkit tersenyum
memacu otakku untuk tak tahu malu
membongkar tulangku untuk menyambut senyumnya

ada cinta terindah
terdiamku dihamparan para sang pemikir
memikirkanmu adalah hal terindah untukku
berhari hari bahkan tlah mengisi waktuku
dirimu bagai hantu dipusara hati
apakah cintakukan bersemi
hanya inikah yang bisa kunanti
cintaku tlah memperkosa bathinku

manusia durjana

tergadaikah napas para pemuda
gelombang kehidupan menanti pembalasan
menanti waktu anggukkan kepahaman yang tertancap dinaluri para durjana
memakai topeng wajahnya rupawan laksana sang dewa
menipu siapa saja yang tersesat
memanusiakan manusia dibalik kesderhanaan menjelma menjadi serigala yang rakus
kitapun hanya tertwan dalam dendam sejarah
kita ibaratkan hanyalah debu
berserakan meregang nyawa tanpa ada yag perduli
senyum mereka acuhkan gendam palu yang sarat dgn kemunafikan dans ejuta kesombongan
mereka seperti para jendral
pion pion berserakan di hamparan persawahan
mengangguk seperti kumpulan para dhuafa
napasnya terbeli di segenggam kekuasaan yang terbeli di pasungan para moderat
akankah sejuta cinta itu mengalir seperti para gembala
pergi ke jauhnya kehidupan melanglang buana dengan dekapan sang malam
apakah pikiran kita jg hampa
sederas kebodohan hanya bisa seperti binatang
apakah kita tidak memikirkan
segumpal kekayaan hanyalah sebuah ujung duinia
apakah kita hanya terdiam
kita menanti saatnya terpasung dalam kebenaran
saat satu satu keadilan itu dibelokkan ke istana para bangsawan

manusia durjana berdiri dengan sebilah pedang
darahnya memancar laksana singa jantan dari balik keagungan sejarah
cakarnya membanjiri sungai sungai dengan darah
aungannya menakuti bocah bocah untuk berlari menyongsong mentari
takkan terlahir napas ksatria takkan ada jiwa sang pendamai
kita hanyalah menunggu waktu

apakah ada yang kan berdiri dengan sejuta kebenaran
apakah yang ada martir demi sjuta rakyat yg teraniyaya
apakah singa itu mau membasuh darahnya
menutupi seribu dosanya dengan kebaikan
menantang kezaliman m,embuka mata
adakah doa doa para janda kan terkabulkan
dihamparan tanah gersang kami hanya mengharap
datangkah mereka yang tlah dijanjikan
kapan mereka kan terlahir ataukah mereka sama layaknya seperti kami
poengecut yang tiarap di gua gua
ataukah mereka hanyalah sebuah janji dikala sang rembulan dengan sombongnyanya tersenyum menyindir ketuhanan kami
tak perduli meski raga tlah tertutupi debu

Rabu, 12 Oktober 2011

doa untuk tuhan

tuhan....
banyak perkara yang datang silih berganti
banyak persoalan yang dtang tak kenal ampun
aku terdiam seperti orang gila
dan pasrah menghadapi segalanya
aku rela menjadi pasungan dari manusia manusia yang bersiap seperti singa menerkamku dan menelanjangiku
aku kalah dengan segala kekuatanku
pikiranku tlah ternoda dengan nafsu duniawai
aku tlah berpaling dari jalanmu
kutlah cecerkan segala kebaikanmu di persimpangan ke golgota
aku tlah kalah tuhan menghadapi nya

tuhan
kemanakah langkah inikan mengalir
aku simanusia serakah berjalan sendiri dengan pakaian seperti orang gila
menrtawai semua kebaikan yg tlah kuberikan
menangis menyadari bahwa aku tlah jauh dari tahta surgamu
adakah pintu tobat bagiku
aku yang tlah menjauh dari kekuasaanmu
apakah terdengar tuhan jerit tangisku dimalam hari
nyanyikan lagu mengharap belas kasihmu
ketika keadilan itu menghampiriku koyakkan jubahku
aku tahu aku tak pernah jujur pada mereka
aku putar balikkan semua keadailan demi segelintir kebahagian
kutukar kekeuasaanku menjadi ular beludak
hingga mereka juga mencampakkanku seperti kotoran di jamban
kutertinggal menadah di hamparan lautan kosong
hanya rumput yg bisa ku jadikan santapan
aku sendiri berjalan tanpa tujuan
dimana sahabatku yang dlu bersamamku
berlari dari kamar ke kamar para pelacur
erangan tawa dan meludahi simanusia hina
dengan setangguk anggur kita bercerita hingga fajar menyingsing
hingga pagi kita telanjang dengan si gadis sembelihan
nanar terasa hampa di kubangan para sampah
kutatap mereka tawarkan sejuta kedamaian
tangan mereka kotor penuh luka bersandingan dengan sisa hidup yng tertawan
menanti mati
itu adalah akhlaknya
mereka menerimaku dengan segala senyuman
digubuk tampak rapuh
mereka menyanyikan lagu pujian dan doa doa yang terlahir dari tempat tidurnya yg basah
mereka bernyanyi dengan riang hingga jantungku terasa ingin juga berdendang
kumasuk dengan suara serau basah bersatu dengan mereka
hingga fajar menyapa mereka tertidur dalam sejuta mimpinya
aku hanya tertegun menatapi wajah mereka satu persatu
aku diam sediam bintang di langit
hingga mata terpejam di balik selimut hitam

tuhan.....
kem,arin dan hari ini adalah sebuah malapetaka bagiku
ada kekuatan yg mengalir di benakku untuk bangkit kembali
melanjutkan apa yang engkau kuduskan
berharap ditanah perjanjian meraih haknya
mengangkat bergandengan tangan meraih hak mereka
hentikan perang dan merampas segala kemunafikan di istana para bangsawan
membentengi diri dari nafsu dunia
melahirka para ksatria perang dari tanah yg gersang
merebut sebidang tanah untuk bertani
hingga jauh dari keserakan para serigala jalanan
kita mengampuni orang yg pernah menancapkan pedeang di dahi kita
kita adalah segerombolan manusia kalah bangkit untuk menyerang
tuhan biarkanlah kami meilih untuk martir ditangan para pejuang
mati dengan terhormat di kota pengasingan

tuhan......
kemanakah langkahku......
adakah suara nafirikan menyapa
ataukah api yangkan membalaskan dosaku
atauakah aku hanyalah kan terdiam di bumi
seperti hantu yang enggan untuk dibangkitkan
tuhan......
apakah pembalsan yang kan engkau berikan padaku
aku kini lebih kejam dari yang dulu
membunuh dan dibunuh
aku mengajarkan anak anakmu di ujung pedang
aku membangkitkan jutaan saudaraku untuk berdiri bersamaku
menumpas keserakan para bangsawan
mereka rela mati demi kebebasan
mereka bertarung demi kebaikan
apakah ini yang engkau inginkan
jawablah aku dengan segala dosaku..
layakkah aku menjadi raja bagi mereka
meraih kemenangan dengan segala pengorbanan
banyak anak anak tergadai karena aku
kulihat mereka berserakan di hamparan tanah yg luas
diam seperti tak peduli
karena mereka menginginkan
mati adalah akhit dri segala perbudakan dan awal kebebasan bagi generasi berikutnya
kemerdekaan adalah tujuannya dan butuh pengorbanan seperti kami]

tuhan.......
dibalik tubuh renta
aku tlah memberikan mereka kemakmuran
tubuhku tidak kekar lagi seperti yang dulu
aku membangun monumen yang megah untuk mengenang meraka
aku membangun baitmu di kota kota seperti bintang dilangit
aku memberikan segalanya bagi mereka para pahlawan yang dititpkan padaku
segalanya
hingga ajalkan menjemputku
mereka menangis terharu dan mentasbihkan namalku di doa doa mereka
mereka menyebutmu ........berseru..
tuhan.....
ijinkanlah aku memasuki rumah surgamu
pertemukanlah aku dengan mereka yang tlah mati disisiku
seiring tawa dihamparan surgamu yang hijau dan bersalju



doaku diatasa semua mimpiku biarlah tuhan yang langsung menyampaikan padaku

takkan terlupa

Masih terdiam disudut kehampaan
Lelah perjalanan bertautan dgn pikiran
Masih terbayang sejuta resah menanti
Ditepian pantai tak lagi sedamai senja
Mengobrak abrik mimpi terapung diatas kekalahan

Terasing dihaluan yang tak di kenal
Senyumanmu dikala senja sinari langkahku
Terbayangkan semuanya hadir menyapa
Genggam jemari dengan sdkit tenaga
Pisahkan perbedaan yg menjurus pada kemunafikan
Bertarung dgn segala kehormatan
Apa yangng bisa kuberi
Hanya seberkas penantian
Kupergi melangkah dengan tangis yg dalam
Hanya terpaku menatap kegelisahan wajahmu
Kukan mengembara mencari tujuan hidup
Berharap semua hanyalah sebuah perjalanan
Kepakkan sayap patahku bertautan mencari keabadian
Senyum mereka menghasut jantungku untuk tegar
Cinta adalah cinta
Cinta hadir dengan keindahan
Membawa sejuta kemegahan
Dan ak menghormati para pecinta

Senja $menyapa dengan segala gundah yg menanti
Kuhadapkan cinta diantar pintu pintu uyg kulewati

Sabtu, 08 Oktober 2011

kisah kristus

Siapakah ak yg berjalan sambil memikul salibnya?
Adakah tertawan sejenak kisah yg abadi
Dia mati demi kehidupan
Adakah yg bernubuat ttgnya
Sepenggal perjalanan yg larut dalam naungan sandiwara
Hamparan begitu luas samudra kemunafikan
Bersandar pada satu haluan
Membinasakan detik demi detik kejujuran
Adakah dia berarti bagimu
Siapakah ak yang menawarkan kehidupan!
Terdengarkah langkah sang waktu
Berimbas pada dalamnya jurang kehidupan
Terdiam bagai cerminan yg berganti biasnya
Kepakkan langkah si manusia menderu
Koarkan semua kedengkian yg mnejlar pada satu sudut
Sudut yg dinamakan kehampaan ilahi
Dia bukan mati untuk dunia
Dia mati untuk siapa saja yg mendengarnya
Dia bangkit dari kegelapan menuju terang
Dia berikan segalanya dengan cinta
Cinta ug terlahir drkekristusan
Siapakah kristus itu?
Adakah dia juru selamat itu
Apakah dia sama seperti kita
Melakukan dosa semena mena
Mengangkat dalil sejarah untuk di perdebatkan
Menyinggung para nabi nabi di sombongnya mentari
Menertawai injildengan tlapak kedua tangan
Dan menyudahinya dengan sgla kebisuan
Setanpun tertawa mengangkai
Satu persatu merayap bagai kelenjer nista
Siapakah kristus itu?
Kristus itu adalah apa yg kita ciptakan
Bentuklah kasihnya di lautanmu yg kosong
Taburilah dgn kebaikan
Peliharalah dengan puisi puisi para pemazmur
Sepanjang jalan dan sepanjang masa
Kan kekal selamanya
Dia pergi ke pintu yg satu
Kepintu yg lain
Kasihnya suci dan abadi
Kristus itu adalah tuhan
Raja di sgla raja

Minggu, 02 Oktober 2011

dengarkah tuhan

Saat kulihat jauh ke langit atas
Saat kurenungkan arti dari perjalanan ini
Saat mata tak lagi tertahan
Tertidur dalam seribu mimpi
Bisikan semua harapan menjelma menjadi sebuah inspirasi
Membuat terang bagi yg kalah
Kerja keras dengan untaian kata doa
Menepis keraguan yang hadir menyapa
Bangkit dari dunia mati
Berlari mengejar waktu yang sombong
Terdiam di puncak bukit sinabung
Dengarkah tuhan

Banyak cerita yang datang seperti tsunami
Menyakitkan dan melukai
Semangat membara padam tersiram air keserakahan
Merka bergandengan saling menjaga
Saling menghormati menjaga kekuasaan agar tak di rampok
Mentasbihkan keadilan di ujung jari tangan
Pada siapakah merka berbicara
Pada siapakah mereka bertanya
Apakah masih ada keadilan di dinding dinding yg diam
Apakah tuhan mendengarkan
Tersusun rencana di bawah semangat nasionalis
Berselimutkan harapan yg terbungkus di altar para pemberani
Masihkah ada sejuta erangan tawa para pengecut
Kami di zalimi tak berdaya di bawah tembok kepengecutan
Dengarkah tuhan

Bukankah semua manusia itu bisa untuk menunjuk satu bintang
Sadarkah kita apa yang kita tawarkan
Mampukah kita bijaksana dengan segala rintangan
Kuatkah kita berjalan di hamparan salju artik
Yang stap detik menanti panggilan dai tuhan
Meledak
Hempaskan kita dalam jurang yang dalam
Apakah nasionalisme itu jgkan terkubur
Banggakah anda terduduk di keraton para sandiwara
Tertawakah saudara di ujung teriakan yng menggema
Anda meraihnya dengan harkat yang terbeli
Dimana kita menanti
Akhir dari dunia ini
Dengarkah tuhan

Tak ada seorangpun yangkan mengganggu
Hebatmu tlah membuat penghuni bumi gemetar
Persengkokolanmu dengan kaum intelekmu
Membuat propaganda yang sangat perkasa
Dengarkah tuhan

Senin, 19 September 2011

kekasih

terdiamku hanya biasa tersenyum
menatap wajahmu bersandingan dengan dirinya
kuhanya membisu seakan tak perduli
meski raga ini lemah tak berarti

kugenggam tanganmu dan kusampaikan kisah
bahagiamu adalah segalanya bahagiaku
menjadi terang penuntun langkahmu
lupakanlah aku dengan semuanya kenangan yang ada


sedlamat tinggal kekasih hatiku
kupergi jauh dan takkan pernah kembali
doaku kan selalu di jalanmu
bahagiamu adalah bahagiaku
kepakkanlah sayapmu dan terbanglah
berikanlah sinarmu terangilah jalannya

karuniamu

kasihmu yang mengalir bukanlah kekutanku
kasihmu menyapa dihamparan manusia kalah
berdiri tegak menyongsong sang mentari
disinilah kami berasal
terdiam diantara kebobrokan bangsa ini
berlari ke sudut sudut kehampaan bangsa ini
terpancar sebuah adegan adegan yang menjijikkan
hilang dan pergi berganti kembali
seperti para kecoa hanya mampir sejenak tawarkan aroma busuk sedetik
lalu pergi ke gelap terowongan
membuat kita gelengkan kepala

tuhan engkau dengarkah tangisan para manusia kalah
mengangkat tombak dengan sekuat tenaga
enggan engkau menyapa dibalik awan awan
atau apakah ini hanya sebuah pertanda
kekeringan melanada negeri dengan tangisan si miskin
bijakkah kami hanya selalu bertapa
inikah pembalasan dari semua doa doa kami
hanya menanti
hanya menunggu
saat saat itu menjadi sebuah kenangan
keputus asaan kami tlah menyebar laiknya seperti pasir di tepian tebing
bingung dan kalah tlah menyelimuti tidur kami
apakah kami hanya diam saja
atauakah kami melakukan pemberontakan diantara kaum kaum bangsa
geramkah para manusia laknat
tersentuhkah nurani p[ara kaum biujaksana ataukah kami hanyalah sebuah cerita berakhir di adegan tanpa ada kata tanya

tuhan
janganlah kiranya engkau hanya terdiam
pasangkanlah telingamu dihamparan langit biru
kami bernyanyi dan kami bermazmur
bukakanlah sedikit pengasihanmu
tawarkanlah tubuh kami dengan sedekat kematian
jadikanlah kami menjadi hamba hambamu
membelah samudera dan mengalahkan kegelapan
berikanlahn kami sesuatu yang sangat mustahil
bekali tubuh kami dengan beban beban yang melebihi dari berat tubuh kami
mungkinkah akhir dari segalanya
kasih mu yang kami nanti
cintamu yang kami tunggu
berikanlah sejenak sedekat kematian
kasih karuniamu mengalir selamanya tanpa terbatas
kami sambut dengan riang dan seruling kecapi

Kamis, 15 September 2011

Sunyi itu adalah napas kekalahanku
Gamabaran sebuah keputusasaan
Aku terdiam dialtar sebuah jubah kemunafikan
Hanya diam tak terpikirkan
Kesombongan tlah meracuni kisahku
Biarkanlah menjadi sebuah nisan
Tertulis si pengecut dri Siantar

Dalam kubangan para manusia laknat
Sedikit keperkasaan merjai sebuah di lema
Kita tertinggar di persimpangan jalan

wanita terhormat

Aku yang tak pernah terpikirkanmu
Aku yg hanya mengagumimu
Memandangi wajahmu dari sebuah kebodohan
Ada cinta yang mengalir
Ada puisi tercipta untukmu


Pernahkah drimu menyadari arti dari senyumku
Banyak cerita mengalir di bawah kemiskinanku
Menyadari sesuatu yg takkan mungkin
Hanya doa yanng bisa kusampaikan
Hanya bayangmu menjadi kekuatanku


Engkaulah wanita terhormat
Engakaulah yang bisa gantikan ibuku
Kesederhanaanmu ajarkan aku ttg hidup
Tutur katamu putihkan pikiranku ttg kasihmu
Engkaulah wanita tulang rusukku
Engkaulah yang bisa menjadi pelangiku
Terang jalanku pancarkan sisa hidupku
Berdiri bagkit menyambut mentari

Minggu, 11 September 2011

kita selamanya

pernah engkau dengar suara para laknant di televisi
tataplah matanya dengan sekilas wajahnya penuh dengan kepalsuan
layakkah mereka menjadi sang penguasa
dibalik bodohnya tertawa dalam kehbisingan kota jakarta
dulu hingga sekarang mereka membeli jabatan dengan uang
uang mereka tawarkan hanya sementara ditangan para moderat mereka menjadi singa
sibodoh ini mengembangkan kebodohannya ke anak bangsa
turun temurun berkuasa karena sudah tradisi
masa depan bangsa ini sudah dijanjikan dalam sejarah
simikin menjadi miskin
sikaya berpelukan di ranjang para bangsawan
segelas anggur teman sejati
pengantar ngantuk dikamar perawan

tentara dan polisi saling mencengkeram
habis sudah keringat negeri bercucuran
merebut lahan yang bisa di genggam
anak negeri yg menjadi tameng
atau kembalikan modal selangkangan dengan seragam yang membusuk tak punya kehormatan
seragamnya hanyalah lukisan permadani yang sangat mahal
hingga nasionalismepun direnggut si janda kembang
semuanya diatur dengan uang

hakim hakim dan perangat sibuat kebenaran
keadilan itu diperjualbelikan
menjadi budak situan laknat
kita tertawa keadilan hanya semata
hukum nya tertutup rapat tak terjamah
sungguh mencengangkan
jubahnya di tawari dengan sehelai kegelapan

para pemenang

kugenggam semua apa yang ada padaku
kupaksakan mataku agar terus terjaga
dibalik jantungku yang berdetakan tak seirama napasku
terbaring ditanah dengan senjata dipelukan
mengintai intai layaknya sang penjaga makam
menanti ancangan untuk bertempur
karena mati adalah akhir segalanaya
mati demi indonesia
kebanggaan yang takkan pernah hilang
meski para kurcaci menikmati kemerdekaan
kita akann selalu menjadi para pemenang

kekelahan sang pecinta

dengarkanlah cintaku sebuah puisi untukmu
hanya sebatas dentangan kerinduan yang dalam
kemarin cinta itu masih hadir menyapa
kini hanya sebuah kisah yang tertinggal menanti pergi

tak mengapa jika itu hanyalah se=buah kata
tapi harus engkau mengerti bahwa cinta inikan selamanya abadi
hingga ujung dunia
mengagumimu di balik kekuranganku
kemiskinan sedekat dengan kekalahanku
yang tak bisa
memilikimu

kurangkai kembali puisi puisi yang menjadi sebuah kisah yang tlah membeku
seperti para penyair yng terdiam di gua gua
menanti sebuah keajaiban kcil
menghampiri
terlinatas sejenak sesauatu yag tlah pergi
dan kini menyeruak memperkosa waktuku yg kosong
akankah cinta inikan menjadi tawar
meski tlah terbawa gelombang sang waktu
indah wajahmu masih terjaga dari pencapaian lelahku

diantara seribu cinta yang ada hanyalah sebuah kekalahan
aku kalah karena didalam hidupku aku tergantung pada satu pilihan
aku terlahir dari para pemberani
tapi aku pengecut dari cerita cinta
menghancurkan semua rangakain masa depan
dengan kata cinta
aku yang kalah dalam cinta tpi pejuang dalam hal kehidupan
elamat tinggal semua yang tlah pergi
selamat tinggal waktu yang kosong
dendangkanlah lagiu rinduku padamu hanyalah puisi puisi ini yang biasa kukatakan dibalik sebuah kata kepengecutanku
hanyalah riah cinta

sang pelacur

engkau hanya seorang pelacur
bagiku engkau hanyalah lukisan dalam kemalasanku
tak mengerti dan tak semudah itu engkau hanya pergi
campakkan semua janji yg pernah kubuang
tak bertepi

engkau hanya pembawa sial bagiku'satu persatu mimpiku
terbawa jalan hidupku tentang senyummu
dan engkau tahu
engkau membuangnya dengan sekejap saja
sangat bergarga bagiku tapi kutahu siapakah diriku
aku tak sehebat si cina dari negeri kecil
aku tak sehebat si melayu simalas
aku hanya anak indonesia yang punya cinta
dan semuanya hanya tulus kuberikan untukmu
pelacur.........

teriakkanlah pada dunia malam
tertawalah pada situan kecilmu
mandikanlah tubuhmu di bawah sang rembulan
berikanlah kepuasa yang menikmati tubuhmu
jika ada dusta hanya sesaat
tawarkan dunia dengan pelukan si gadis malas
jejalilah tubuhmu dengan lafal allah
bukankah hidup ini butuh perjuangan
dan kemalasanmu tergadai bak emas dan permata
mandiukan dosa dengan arungan napasmu
monyetpun tergoda menjilat tubuhmu....


wahai pelacur
bukankah engkau pelacur
poelacur malam dengan mimpi dan takdirnya
menjengkal negeri dengan tetes airmata
demi cinta dipertanyakan di hakim hakim
siapakah sang pendosa?
apakah kita yang belajar berdoa
atau kita kumpulan si peci putih
tanyakanlah kepada para khalifah
demi cinta kita bertaruing dengan sang pencipta
kita tukar raga demi kebebasan semata
begitulahkita
dan menanti sang pengghakim yang bijaksana
kita hanyalah sebarisan para manusia laknat

pelacur................
hanya seorang pelacur...........

untukmu sby

Sabtu, 10 September 2011

bintang

bintang itu tak lagi bisa untuk bersinar
karena angkuhnya tlah terjebak di langit putih
ada sesuatu masa lalu mengubur mimpinya
hingga dirinya enggan untuk bercerita
baiknya kita menjadi seusatu yang sangat di benci daripada kuta mempertaruhkan yang tak ada menjadi ada
lakukanlah sekarang menjadi sebuah inspirasi
bagi orang orang yang perlu bagi anda

tragedi

terdiam diantara seribu kisah yang menanti
engkau hadir dengan sejuta tawa
engkau basuh lukaku dengan cerita kehidupan
bangkitkan aku untuk kembali berdiri
bijk hatimu membuatku bangga
berlari menyongsong dengan sebuah harapan
kembali berdiri menjaid penantang
bangkitkan para penyair kembali di pikiranku
lahirkan semangatku yang tlah lama mati
hentakan mulutku untuk berbicara seperti meriam di masa perang
menantang situan rasul berjas surban berjenggot
putih
menantang pemikiran situan nabi nabi
yang meletakkan di keadilan di kandang babi
idealisme negeri diganti dengan imperialisme kesombongan
agamis di jadikan sebuah kekuatan keserakahan
propaganda untuk saling menjebak
menghasut kebaikan menjadi pemberontakan
melahirkan para penghianat di negeri ini
merongrong pancasila dengan buatan mereka


kekesihku terdengarkah aku kembali menyapa
terdengarkah jiwa ini kembali terjatuh
benar adanya aku berbicara dengan lantangnya
tpi mereka bribu ribu banyaknya
sedangkan aku
aku hanya sendiri
tak ada yang mengert apa yang aku perjuangkan
karena otak mereka tlah tersisi ajaran ajaran sejarah
kemunafikan mereka tlah terisi penuh
hingga kebaikan tak ada tempat bagi mereka
mereka serentak meludahi aku
menendang bahkan menarik narik aku
bahkan ada juga teriakin aku untuk disalibkan

keksihku
cantikmu laksana sang rembulan
aku tlah kembali menelan kepahitan hidup[ ini
biarkanlah aku disini bersama dengan dentakan jantungku
kerna ,mati mungkin penawarnya bagiku

mengagumimu

menatap indah senyummu dibawah bodohku mengagumimu tanpa engkaupun tahu
hanya sedetik kupejamkan mata mengenangmu di hamparan rindu yang dalam
terlahir sebuah ide di khatuslistiwa membenamkan mataku menyebut namamu
bahagiaku seakan menghampiri relung hati penyendiri tertawankan cintamu
adacinta yang mengalir seperti aroma bunga seroja
menghiasai setiap jengkal langkahku
ada cinta segudang rasa
ada tertanam cinta yang menyapa
cinta ini sedikit hanya tersipu
waktukan merangkai seiring sang pengecut
mengagumimu tanpa ijinmu
hanya itu yang kubisa

Jumat, 09 September 2011

cemburu

Jelaskan padaku jangan hanya membisu
Uraikanlah dengan kebencian jika masih ada cinta
Rahasiamu jgnlah menjadi senjata pemusnah
Selagi waktu hanya menjadi saksi
Tawarkanlah nafsu cintaku dengan ratapan sedihmu
Buanglah jauh semua cintamu sebelum aku terjungkal
Berdiri layaknya sang pengecut
Kemanakah cinta ini bertautan
Adakah cintamu yg tulus putih itu memerah
Terdampar di tepian pantai lelaki bijaksana
Cintamu tak lagi seperti senyum mentari

risahlah hati

tiada kata yang indah terbawa dalam sebuah makna
Tiada cinta yang hilang di dalam sebuah tanya
Biarkanlah sepi menjelma menjadi tawanan
Menuntun waktu terbeli mimpi di hamparan kekeringamn sawah petani
Terdiam sendiri pandangi langit
Kita beranjak dan berdiri
Berlari lari dengan nafsu sorgawi

Erangan malam mengisi sejuta rindu
Terdampar di haluan tanah yg datar
Bisikan bisikan kelaparan sangat kelas menggema
Teriakan keganasan meledak ledak
Kawahnya hadirkan sejuta dendam
Meneriakin siapa saja yglemah
Bagai hantu menjelma memotonh nadi
Terlihat jelas bahkan nampak nyata
Satu satu anak bangsa menutup mata
Beramai ramai menanti disembelih
Biarkanlah kita hanya meratapi
Begitu banyak bahkan terlewatkan
Ada berkumandang suara azan
Membelai rambut lembut segarkan sejenak
Lalu tertawa dalam kebohongan belaka

Jika kita hanyalah penuh rasa
Ada bahasa menjelma menjadi harapan
Sejenak kita renungkan wahai saudara
Hentikan langkah waktu sombongnua penguasa kezaliman
Terdiam diam bagai angin
Siapakah kita yang berjalan bersama
Dihamparan waktu kita satu tujuan
Bersama membangun negeri....

tuhan

tuhan............
kebahagian apa yang kan kurasakan dikala malam menampar wajahku
hujan membasahi bumi dengan angkuhnya menghentikan semua langkahku
terjagaku dari tidur yang sejenak menepi dalam gelombang dinginnya malam
berselimutkan koran kucoba memeluk bayangan yg tersisa
hadirkan sejuta rindu yang datang dan tak mau pergi
merasuki pikiranku dengan kata kata yang menyerang laksana raja rimba
beraksi dengan sembaran kilat menerkam tubuhku yang lemah

tuhan...............
banyak perkara yang kutanggung dengan seutas harapan
dibalik doa doa terdengarkah rintihan aku hambamu
adakah tersentuh hatimu yang pemurah mendengar dekapan kerinduan yang tersisa
dikota ini kutautkan sebuah waktu berdinding harapan
beranjak dari kemiskinan menuju kota yang asing bagiku
mimpikah aku dimalam ini


tuhan..................
tubuhku lemah hanya sebuah bayangan
haus menjelma bagaikan kumbangan penuh sampah
bertemankan kebajikan kudendangkan lagu keserakahan
terlambatkah aku untuk mengenang
tentang bayangan orang yg dicinta hadir menyapa
genggam sebuah keraguan di atas sebuah kebodohan
aku yang mencampakkan noda merah uuntuk keluarga terasing sendiri tanpa ada suara
bertemankan sebuah kekalahan kutapaki kerikil jalanan
sombongnya mentari menjadi raja bagiku
adakah pintu rumahkan terbuka membasuh tubuhku
lewati malam bagaikan sejuta hari
jiwa miskin hanya bisa menyadari
terpuruk dalam lubang hitam dunia

tuhan........
senadainya aku hanya bisa melihat
angkuhnya situan polan menampar pipi bapakku
apakah aku hanya membisu menggemgam kedua tangan ketika situan polan meludahi kening bapakku
apakah ditubuh ini tidak mengalir nafsu serigala
membara meledak layaknya kapal menabrak karang
begitu juga aku...
aku kepalkan kedua tangan jatuhakan perkara
kuberlari berlayar ke samudra biru
terdampar disini dengan sejuta hampa
pakah ada jalan terbaik akan kusesali
di balik jubah kubertarung meraih mimpi

tuhan...................
dimanakah sang mempelaiku
apakah dia juga takut untuk menatap mataku
yang penuh dosa
puisi puisi tlah tertanam dan bunganya tlah layu
pada siapakah cinta ini kutautkan
siapakah gerangan dirinya
tawarkanlah aku pada sebuah kemegahan pencinta
takdirku
menapaki sebuah tragedi
mencintai tanpa dicintai
hanya itu yang bisa kulakukan mengagumi
di bawah langkah sang pengecut


tuhan....................
biarkanlah waktukan menjadi istilah dalam sebuah pencarian
harapan itu bertemankan dengan impian agar jiwaku hanya bisa tertawa
kebahagian mengalir bersama gelombang pelangi
menantikuku hadir kembali bersama yang tlah kutinggalkan
karena kuyakin dan kupercaya
cintamu tuhan kan selalu mewarnai hidupku
selamanya hingga ajal menanti

Kamis, 08 September 2011

sang putri

indah wajahmu kembali menyeruak di istana hitam langitku
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh

senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku

mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada

cerita cinta

seperti apakah dirimu wahai perempuanku
cantikkah engkau bagai bidadariku
anggun kag drimu mengalahkan kecantikan bangunan borobudur
apakah =cantikmu mendamaikan dunia
atau bencana bagiku
atau dirimu hanya lukisan seribu kemunafikan


kupeluk dan kubasuh tubuhnu dengan rintihan rindu sang ksatria
mampukah dirimu memperjuangkan semuanya yg tertinggal
apakah cintamu slmanay kan abadi
jika suatu saat nanti aku terdiam dialtar para raja raja
aku butuh dirimu dengan segala kesederhanaan
aku u butuh kawanan dombamu yng bersih dan gemuk
aku hanya ingin engkau mengerti
sambutlah aku dengan segala kelemahanku
damaikanlah aku di ranjang semakmu
hingga fajar menyingsing cinta ini hanya milikmu

kita hanya penonton

dengan seribu kekalahan tlah kucampakkan sebuah penderitaan
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali

langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana

banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa

Kamis, 01 September 2011

cinta yg pergi

Jelas sudah apa yang akan aku tanyakan
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya

hanya padamu

Tuhan berikan aku kekuatan
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata

Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah

Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu

Selasa, 30 Agustus 2011

hitam langit dengan gagahnya bersinar
Sang jendral hanya terpaku di tepian pantai
Menghitung harinya bersatu dengan alam
Membawa sejuta gundah di pelupuk malam
Banyak cerita yangkan mengalir
Tentang negeri uyang sangkut di tuan serakah
Kemerdekaan hanya milik pulau jawa
Sumatra hanya bagian dri ter
Apa yang bisa aku katakan
Apa yang bisa aku sampaikan
Ketika merah putih enggan berkibar
Diam membisu sediam sang samudera
Hening dan tak bersuara membelai sang angin
Ada apa gerangankah semuanya ini
Mengapa ada cerita terlahir di balik sejarah
Menipu dengan sajadah kiblat merah
Tawarkan rindu di sajadah kenangan
Terlintas satu persatu kebobrokan bangsa ini
Kita hanya melihat
Kita hanya mendengar
Kita hanya menjadi penonton
Dari cerita yng lahir monoton
Tanpa ada aktor si terdakwa terbelenggu di barisan penghianat bangsa
Siapakah kita di gelombang kemajuan bangsa
Apakahj ada yang bicara lantang di gedung penghakiman
Yang merobek robek dasinya di hamparan kemiskinan bangsa
Berdiri dengan gagah layaknya sisingamangaraja
menjadi taring di kegelapan cakrawala
Menjadi besi membasmi si manusia serakah
Aku hanya bicarak hanya barisan kata kegelisahan
Ketika para monyet di senayan telanjang dada
bicara layaknya seperti sang koruptor

Rabu, 24 Agustus 2011

cerita usang

kuhanya mampu untuk membisu di balik sNG PUJANGGA
SYAIRKU TLAH MENYERUAK BAK SERIGALA DI LOLONGAN GETIRNYAS MALAM
NAPASKU TLAH BERUBAH SEKALI KALI DENGAN DENTUMAN MERIAM
MEMACU APA SAJA YANG TERSISA DI BALIK KERINGAT YANG MENDERU
AKU MASIH SAJA DIAM DIATAS SEBUAH KEBODOHAN
TERCAMPAK DI HAMPARAN DUNIA KOSONG
BERMIMPI SENJAKAN DATANG DENGAN SEJUTA KEDAMAIAN
AKANKAH ADA HARAPAN
AKANKAH SANG PENCERAHKAN terlahir
bangkit dari pintu pintu orang bijaksana
yang pedangnya dialiri suara keadilan
apakah ada yangkan mendengar setiap lafal kebobrokan negeri ini
si presiden hanya bisa terdiam di altar istana dengan kecapi melambai lambai layaknya seperti pengecut berpakaian wanita
menghibur si manusia bijaksana dengan kemarahan yang terpendam
kemanakah perginya si century
akankah diakan berpaling dari kebodohan bangsa ini
terdengarkah kemerdekaan si gayus
terabaikan dengan derap langkah komplotan penghianatan negeri
masih banyak lagi
hingga satupun berlalu seperti hantu
lapindo menyendiri dikamar bagasi mobil mewah
hotel berdiri layaknya seperti surga
kucing garong,kambing jantan ataupun itu berpesta dengan sekuntum keharmonisan
menerbarkan cinta yang terjual di tanah pegadaian
dan ical pun tersenyum di balik meja dengan dasinya memutih
berkaca di hamparan topeng yang di perdebatkan
ada tangis menyeruak hingga kini
suaranya melambai lambai terdengar lalu pergi
kembali sinazaruddin bak sampah yang tergadai di selokan
menghakimi si tikud tikus dengan kumisnya
membumi hanguskan kaum bijak dengan kecohan segelas kopi
hatipun tertawa semuanya terkubur di lemari besi
waktu hanya tersenyum di balik keserakahan anak bangsa
semuanya seperti harta karun yang tak terbeli
pergi begitu saja
dihapus sejarah situan susilo
si mega hanya terdiam disisi prabowo
seperti kakek dan nenek menanti hancurnya negeri ini

akankah ada ksatria dari siantar
pancarkan sejuta pelangi di pelupuk timur
menyambut sang mentari dengan untaian puisi puisi kedamaian

Selasa, 23 Agustus 2011

ada

Ada kata terlahir dr sbuah tanya
Ada jiwa yang mati di hamparan tepian ke kalahan
Berlari riak di tepian kegelisaan
Siapakah ak yang berlalu seperti angin

ada

Ada kata terlahir dr sbuah tanya
Ada jiwa yang mati di hamparan tepian ke kalahan
Berlari riak di tepian kegelisaan
Siapakah ak yang berlalu seperti angin

Kamis, 18 Agustus 2011

Di manakah sang pujangga
Adakah sang garuda akan datang
Terlihatkah hentakan langkah sang penguasa
Diambang kemayoran hampa terasa
Kemerdekaan hanya bagian dri sbuah tanya
Dimakan senja sebelum mentari tertidur
Tujuh belasan hanya seperti kentut tertawa

Senin, 01 Agustus 2011

risah

hentaian angin malam meneriaki ku dengan seribuan fajar menyingsing
terlalu riuh aku melambai pada suatu akhir cerita
diam hanya bisa aku lakukan bersanding dengan segala risau hati
biarkanlah waktu menjadi saksi kisahku
kumelambai lambai riak menyapa weajah wajah terhormat
kuberharap fajarkan menyingsing laksana kicauan burung bernyanyi
damaikan gemuruh bijaknya nafasku mengalir seperti air terjun niagara
genderang perang tlah bertabuh di pelupuk mata
siap tempur adalah hakikatnya siapakah kita yang bertarung di angkuhnya malam
pernahkah kita teringati di hamparan sawah desa.....

Sabtu, 16 Juli 2011

Hanya pengecut yang pernah menjadi kalah
Tp orang kalah yang bisa sekali menjadi pengecut
Berani mati adalah akhlaknya
Demi indonesia ragapun di berikan

Minggu, 26 Juni 2011

hitam langit

kita hanyalah sebagian dri sebuah keserakahan
menjelma menjadi sebuah malapetaka
perih mendera bak senjata dalam kantung
merampas dengan bijaksana hingga fajar menyapa kita tetap tak berubah
darah yang mengalir warnanya tak merah lagi
sepertinya tanah tlah mengutuk setiap jengkal kematian
bangkit berdiri mentari tlah menjauh
berlatri menyapa sang bulan tlah tertidur
terbang ke awan sang langit pun diam tanpa kata
hanya tersirat wajah wajah tak bersahabat
cacian,makian dan tamparan

Selasa, 21 Juni 2011

kita hanya bisa bertanya

erangan sebuah penderitaan dihamparan langit kamarku
terbayangkan indah sebuah kisah
menantang setiap jengkal tanah harapan
keadilan menderu seoerti suara sirine perang
kita dizaLIMI TAK BERDAYA
napas napas ilahi berdiri menantang tapi terjatuh di sombongnya tamparan sang angin
kita dikalahkan oleh kejamnya hidup ini
tak berdaya tapi tak mengapa
siapakah musuh terbesar kita
haruskah kita hanya bertanya..
diamkah kita sebijak sang senja
kalah kita ditepian lautan
kita terkurung tak berdaya
pikirannya di perkosa oleh penguasa kota
kita hanya bisa bertanya........

SANG PECINTA

cinta membnuhku diantara dua simpang waktu yang berbeda
mencintaimu adalah akhir sebuah perjuangan
langit bertahta seiring gelombang sang waktu
menertawai di sepanjang jalan kehidupan
tawarkan segudang jiwa yang hilang
kemanakah sang waktu kan terbang
adakah cinta inikan abadi
ataukah cinta ini persis seperti sang debu
hilang di persimpangan jalan
kembangkanlah sayapmu wahai sang pecinta
kita ditakdirkan untuk menjaDI PENCINTA

Senin, 09 Mei 2011

sahabat

sahabat.......
diam penamu terdiam diatas mejamu
kemanakah langkahmu pergi di kala mentari tertidur
adakah seuntai sebuah idealisme tentang sebuah tanggung jawabmu
engkau pikulkah kemana harapan anak negeri..
kudengar kemarin
tawamu memecah di barisan dendang lagu komunis
kencang bermatraikan keserakahan
pengecut menari nari dihadapan sang borjuis

tak diam

tak diam...
jangan engkau membisu
beranjaklah dan berjuanglah
mentari talah kembali
kalahkan mereka dengan untaian kata katamu
ceritakanlah pada mereka
kemanakan keadilan itu pergi.........

nyanyian rindu

kemarau tlahberanjakmeninggalkansebuah penggalankisahlama
terhimpit dikala rindu berjuang diatas para kekalahan
ternyata ada cinta yang terdiam di altar para manuisakalah
lama detak gendang bersua dalan untaian lagu lagu
nyanyian itu kembali membuka pikiran tentang sebuah perjanjian
menjelma menjadi hukuman para penderma
terseok tersisih dalamkubangan sang waktu
siapakah kita....


ada cerita terlahir dari sebuah keserakan
ada waktu yang tlah pergi tanpa ada sebuah harapan
tersising nyanyian sang fajar
mendekap sang bulan di untaian seribu puisi puisi cinta
hanya bisa mengarang dan merangkai
apakah cinta kan kembali seperti indahnya sang memtari.....
sang pncerah darti timur

dalamkeheningan malam terdiam aku hanya mampu tersenyum
tertawa di sebuah perjalanan cinta yuang tertidur di bawahbantal
menawan wajahnya dengan nyanyian kekalahan
dimanakah dirimu oohhh..sang perawan
dengarkah drimu nyanyian rinduku
apakah suaramu juga merindukan desahan kata kata indah
merangkai menyelimuti sajadah hidupmu yang panjang
mentarikan menjadi kumbang
dan akukan menjadi tawanan dalam setiap detik hidupmu

Selasa, 03 Mei 2011

harapan

setiap detik adalah sebuah harapan
sebuah harapan mungkinkah sebuah kemenangan
jiwa yang mati tak lagi sedamai indah mentari
membusuk di liang kezaliman bangsa ini
ketika kekalahan bersandar pada manuisa lemah
siapakah yang terpana
di sudut sudut kegelapan malam
bintang pun bercerita layaknya sang permaisuri
cantiknya tlah terbayar di antara kemarahan besar
adakah sebuah harapan
harapan yang terlahir dari tengah samudera
melambai lambai layaknya sang pertapa
terdiam diantara para dewa dewa.....

Kamis, 10 Maret 2011

embun pagi

kemilau awan menerawang melompati batinku
Serentak kata tertaancap di kemerahan mentari
Ada cinta terlahir di aakhir perjalaanaan
Meneriaki setengaah dendam yaang menyapa
Kaata hati hitaamkaan sebongkaah alasan
Mengapa pagi tak laagi merekah
Te

Selasa, 08 Maret 2011

mati

tak lagi aku berani
kata kata tlah pergi menghitung hari
langkahku hanya selangkah
sepi seperti di alam ghaib
malaikat tersenyum menghampiriku
kurebahkan tubuhku i atas lelah hidup ini
berhenti melangkah
selamanya

sebuah rahasia

mataku tak bisa lagi membodohi pikirku
aku hanya bisa...
hanya memandangi wajahmu dari meja kelasku
indahmu kalah kan keanggunan puri keraton
kederhanaanmu lambangkan putri indonesia
aku tersipu ..
ketika mentari tertidur menanti malam
biarkanlah waktu yang berdentang
cintaku terdiam di hamparan kekalahanku

hanya sebuah mimpi

aku dilahirkan di atas manusia kalah
lihatlah saudara..
aku dan kamu adalah berasal dari tanah yang sama
mimpi kita adalah mimpi para manusia bijaksana
kita kan beriringan seiring waktu yang berputar
meraih mimpi dri kekalahan
bangkit dari penderitaan
berlari dari cengkeraman pengecut
bermimpilah para kawanan
sebelum mimpi itu menjadi musuhmu
perjalanan bukanlah sebuah persahabatan
dan bukan juga sebuah peristiwa menjengkelkan
perjalanan adalah sebuah perubahan
perubahan untuk berani maju di depan
meraih pelangi di angkasa
kembali di saat senja tertidur di balik bulan

hidup hanya sekali

tertawalah ..
smapaikan resahmu di balik bunga seroja
bawalah sekuintum harapan di balik kehampaan malam
tersembunyi sebuah misteri beralaskan sebuah mimpi

bijaklah dengan hatimu
jangan karamkan kejujuranmu demi sangkakala kemewahan
taburilah perkataanmu mu dengan sinar pelangi
bukankah hidup sekali
tergugatkah saudara dialtar penghakiman semesta

tanyakanlah ....
apakah mimpi itu berasal dari tempat tidur
sekalipun kita hanya tersenyum
mungkin kita hanya tertawa
apakah ada cinta yang mengalir
sejernih di hamparan bukit bukit sang khatulistiwa

teriakkkanlah...........
buatlah semua penghuni bumi bergetar
suarakanlah kata hatimu bagi setiap yang mendengar
menjadi bijak adalah hakiki
jangan jadikan napasmu berbau keserakahan
hidup hanya sekali
kita hanyalah para tawanan

Kamis, 03 Maret 2011

segenggam rindu yang bersemi

diamku ...........
tanpa tujuan akupun bimbang
hanya sediam penghuni lautan
tersisa sebuah harapan
tergantung mimpi yang tak bertepi
rindu yang dalam tentang mempelai
derasnya hujan meneriaki napasku akan sebuah kekalahan
meraih tahta cintamupun aku tak bisa
hilang dan pergi entah kemana
cinta bertemu karang
aku terperdaya
karam i lautan harapan

pasrah

kupasrah................
kuhanya diam di antara dosa
mencaci adalah awal dri kesombongan
biarlah mimpi terkubur di selangkang kekuasaan

sang waktu

kini...
waktu enggan tuk berlari
menyapapun enggan dia lakukan
banyak peristiwa
hinggap i kepala
menangispun aku tak bisa
kubasuh lentera jiwa yang sempat padam
kudendangkan lagi nyanyian para penyair
hening seperti yang dulu dulu
membawahi setisp garis kerutan i dahiku
ada cerita
hilang dan pergi tanpa permisi
kuhanya mengakali dengan seuntai harapan
mungkinkah esok lebih baik dari sekarang
anganku melukis rupa sang angin
tanyaku seperti selosong peluru yang ganas
akankah saat ini akan tiba
wajah putih diam tak serupa
kan terdiam dialtar sebuah kemunafikan
akankah bala bantuan akan terselamatkan
menjangkau hingar bingar sebuah kesombongan
dirangkai dengan sebuah kebaikan
enggan aku bertanya pada sang waktu
masih terlihat kesombongan
masih merekah
gilakah aku jika waktupun menjauh
aku sejenak tersipu
lucu............
tertawalah di lautan
seberangilah
waktupun akan mencari
sisa hidup menawan dendam

rindu buat ibu

awan putih hadir begitu saja membelai pelangi
mentari hanya pasrah di tawan malam
angin sekali kali memecah lamunanku
apa yang tertinggal di akhir perjalananku
riuh gelombang lauatan memacu sebuah kisah
tlah kutancapkan semua hinbgga tak tersisa
kuseberangi lautan laksanan sang pejuang
terkikis di hamparan jembatan kehidupan
bangkit ketika harapan itu masih ada
ada cerita yang mengalir di dalam sedihku
satu yang pasti sebuah penghormatan
kenangan yang kan menjadi sahabat terbaikku
biarkanlah semua waktu terheran heran
karena pelukan demi pelukannya akan selalu abadi
diantar batas realita ku pertaruhkan segalanya
apapun kulakukan di atas nasehat para nabi
menjadi bintang di langit penantian sebuah keajaiban
saatnya aku pulang
kembali di dalam sbuah pertanyaan
rindu mengalir di setiap waktu
bergantungan di atas setiap langkahku
seperti daun seroja yang musuh di alam kesepian

air dan mimpi yang terbeli di atas sajadah negeri

jika waktunya aku mati
jika angin tak lagi sedamai lautan
buat apa aku bertanya pada gelombang
kabar apa yang dia bawa untuk hati yang luluh di hamparan kekalahan
kuhanya sebatang dengan insan yang tertawar di tanah yang gersang
alam tak lagi mampu untuk bercerita
mengenang masa yang lampau dengan tawa
bersama air mata kita hanya mengharap
terbentang di harapan menjelma menjadi halangan
air tak lagi sejernih cakrawala
bualan tentang singasana menjadi penghibur hati yang lara
jauh di kala mentari di ufuk tertiur menyeringai
menanati fajar menyapa dengan mimpi yang terdiam di altar para pemerkosa
siapakah kita....
aku tak merasa sep[erti indonesia
begitu juga burung garuda
hanya terbang ke langit tak di ijinkan berpijak
terlalu lama kita terpesona
manisnya bualan si tuan bijak
terhipnotis akan mewahnya si harmoni
terlelap hingga tak pernah mengerti
kita pernah punya sebuah cerita di dunia
debu menjadi sahabat terbaik
di pelukan malam di hamaparan warna pelangi
masih ada sebuah bayangan semu
menjalar di saku baju tentang sebuah kemenangan
harga diri menjadi detik sebuah akhir tanyaku
kemanakah para kaum susah
gertakan di kiri dan di kanan tubuhku
semangati napasku terlempar ke dasar neraka
moral mu dimana para biadab
dakah saudara tahu bintang enggan bersinar
meski langit terang dengan laksana bulan
aku terheran melihatmu para kawanan
kemana semua mimpi anak negeri

Selasa, 01 Maret 2011

peristiwa kecil

daun daun tua hanya tertawa
satu satu disambut angin bersatu dengan alam
hidup hanyalah sebuah peristiwa
ada cerita di balik layar
percayalah pada pilihanmu
tegaklah jika hidup ini tak seindah seperti sangkakala
kita ditakirkan hidup hanya sekali

jumiati itu kusebut namanya

di hamparan jauhnya pikiranku
aku terlarut dalam sebuah cerita yang benar
aku terdampar di hamparan kesombongan sang mentari
aku berjalan memusuhi langit beserta penciptanya
aku menjungkalkan kebenaran ketika aku berada di atas gunung kelimpahan
diam diam diantara lelah perjalannanku
kesederhanaanmu
luluhkan nafsuku
apa yang aku perjuangakan engkau pertanyakan
apa yang menjadi tujuanku engkau perdebatkan hingga akupun terpesorok alam sejuta keindahan
engkau ajarkan indahnya hidup
engkau selimuti masalalaku dengan tawamu
ayat ayat itu kembali lagi berdering di telingaku
apakah ada yang namanya keagungan selain nikmatnya hidup[ bersama tuhan
darahku yang hitam pekat kini merah spetti anggur di jerusalaem
pikiranku terang benderang sperti warna pelangi
menggugat semua musuhku menyapa sang pencerah
apakah ini akhir dari sang mempelai
ketika cinta ini hanyalah sebagian serpihan kertas buram
aku hanya enggan kini menjelma menjadi sebuah lingkaran
setengah mati aku meraihmu
setengah mati aku merebutmmu
ribuan doa ku isi dengan berserah padamau
ketika dirimu berpaling dri nyanyian cintaku
aku berontak di altar para pecinta
hingga dirimu tersungkur dalam balutan selimut rinduku
misteri cinta terlahir dari risau hati yang gelisah
engkau adalah wanita segambaran ibuku
tutur katamu melebihi sang tercinta diam di istana megahku(ibuku)
kebaikanmu sederajat dengan sang penakluk yang kuseput ayah
keserderhanaanmu membuat alampun tersenyum
berjanji untuk selalu menggugah hatimu yang pemarah
berhenti sejenak di hamparan hijaunya langkahmu
berteriak bak samudra mengerang menjelma menjadi tsunami
hancurkan karang hatiku
aku hanya terdiam berharap dirimu tertawa
kugapai wajahmu dan melerai tubuhmu
dihamparan hitam langit kita menjadi dewasa
setialah untuk slalu disisiku

untukmu....??????

hamparan dari pertanyaan merasa enggan kembali terlahir
mataku hanya memandangi tingkahmu yang lucu
wajahmu mempesonakan kedua mataku
seakan enggan beralri dari senyummu
inikah cinta yang terhilang diakhir bel sekolah
tanyaku.....
jangankan aku
alampunkan terkesima memandangmu
aromamu bersih seperti hutan di kapernaum
menggugat sang ilahi dengan dentuman parasmu
aku memandangmu layaknya sang penyair
mengaagumi mu tanpa ijinmu
aku bagian cerita tersisih di atas cintamu
jujur....
hanya itu yang bisa kureka
di meja kelasku

tulus

jika aku menjadi sang garuda
apakah langitkan menjadi sahabatku
jika akuhanyalah sebuah kebenaran
siapakah yangkan menjadi musuhku
berpikirlah bijak sauadaraku
jangan jadikan kebenaran sebagai lambang dri keserakan
baiklah kiranya diammu menjadi senjata pamungkasmu
karena di negeri ini di butuhkan
manusia yang adail dan beradab

aku manusia kalah

berikanlah apa yang pantas engkau berikan padaku
ludahilah kepalaku dengan pikiranmu
karena aku hanyalah kerikil bagi jalanmu
aku musuhmu seperi layaknya duri dalam dagimngmu
bunuhlah aku dengan tanganmu yang benar
biarkanlah burung burung itu memangsa tubuhku
haram tubuhku bersatu dengan sang alam
kebenaran tlah kujadikan sebagai imbalan kehidupan
janganlah merasa iba bagiku
karena aku tlah membunuh seribu kaummu di rumahku
kejahatanku dah seperti gunung menanti pembalasan
basuhlah darahku di tiang tiang nisan saudaramu
roh mereka jugakan membalaskan dendamnya di akhirat
menguliti tubuhku layaknya seperti kurban sembelihan
agar semesta tahu
aku terlahir sebagai manusia kalah

cinta suci

di dalam relung hati
tersaji warna kehidupan
membelah seperti lautan di samudra
rasa cinta mengalir menanjak serindu rindunya
ada tawa yang terlepas
ada kenangan yang terdampar membeku
membekaskan sejuta alasan betapa cinta ini larut
terpenggal seperti sebuah cerita yang tak berpikir ttg duniawi
berlari bersama resah terbakar di birahi
ada cinta terlahir dari sebuah kesederhanaan
mungkinkah ini akhir dri sebuah cinta yang kalah
seperti angin bertarung di dasar hutan
menangisi sebuah kehampaan mentari
enggan mengerang memberikan cahaya
ataupun seperti hujan yang hanya bertatap muka
senyum sinis tercibir di pengasaingan di belantara alam
akankah cinta ini bersemi
bersama sama datangnya bulan di akhir tahun
ataukah cinta terdiam di tanah yang gersang
memusuhi keadilan dengan seribu tragedi
apakah semuanya terlahir sedemikian rupa
adakah sebuah penggugat akan menangisi sang perjaka
cinta bertanya dalam gerangan tawa si pendiam
siapakah gerangan sang dewi
terdengarkah derap para sang pencinta
dimana diamnya adalah sebilah pedang
pikiran syair cinta menghampiri hidupnya
berbunga tanpa ada yang memanen
jiwa ini terselip diakhir cerita cinta yang menyedihkan
ketika kekalahan dan masa lalu di perdebatkan para penatua
pada siapakah aku bersandar
aku terkulai di hamparan pantai biru
aku tersalib di bagian jurang yang sangat dalam
mencintai menjkadi derita bagiku
tiada akhir tapi inilah kenyataannya
ketika kemewahan dilapisi permata turun ke bumi
semua tersenyum mengenang indahnya surga
campakkanlah apa yang pantas bagiku
sejurus dalam sebuah singgasana
dan layaknya simiskin menjadi sapi perahan
tertawalah di atas para pemenang
menangmu adalah akhir dri kisahmu
terselamatkanlah kebenaranmu
bulan meratapi kekakalahanmu
hari ini
sebagian dari napasmu yang bisa merayakan
nafsumu beringas laksana domba di gurun pasir
haus akan cinbta yang suci
hingga pulan purnama sendirimu membunuhmu di atas keserakahan