kurengkuh dengan ketalutan mendengar caranya bicara
Lembut matanya mengayomi sejuta pikiranku terbentang di dalam jiwa
Sampai kpan semua ini menjadi indah
Biarlah talutku gerah menyampaikannya langsung
Krna kupasrah akan keadaan
Tak ada lagi yang perlu kupertahankan
Hidup mungikn tak berakhir di senja kepakan mentari
Selasa, 29 Mei 2012
paradigma bangsa
Datangnya lady gaga disambut meriah kaum FPI
Bagai petir di awan yg cerah menyambar paradigma bangsa
Bobotoh terkulai tak nbernapas di gelora bungkarno
Apakah ada sandiwara di balik ini
Tertipu lagi kemasyarakatan majemuk ttg beragama
HKBP di ungsikan ke arah selatan tanpa ragu
Itu hal yang sdah menjadi buah bibir
Ketika kedaulatan negara takluk seperti babi
Diperjualbelikan kehormatan bangsa
Apakah SBY menjadi pahlawan
Ketika kisah sinetron century pergi ke lembaran sejarah
Tak terjamah dan tergantikan
Malingnya hingga sekarang menari dipusaran perawan
Tanyakan padaku mengapa gayus hanya di cerca begitu mudah
Tanpa ada bom yg meledak
Sesumbar di ujung sore
Kedasyatan si tuan beye
Tlah menghunus seperti belatung yang enggan mati
Keajabaian datang lagi ketika negara di barisan depan membasmi narkoba
Corby menjadi santapan di tv nusantara
Menjadi patung yang harus diungkapkan
Kembalinya otoriter kebangsaan di perdebatkan di langit nusantara
Kejanggalan pendapat menjadi santapan
Kemabli terungkap pahlawankah pak beye..
Biarlah mereka yang menafsirkan sendiri...
Bagai petir di awan yg cerah menyambar paradigma bangsa
Bobotoh terkulai tak nbernapas di gelora bungkarno
Apakah ada sandiwara di balik ini
Tertipu lagi kemasyarakatan majemuk ttg beragama
HKBP di ungsikan ke arah selatan tanpa ragu
Itu hal yang sdah menjadi buah bibir
Ketika kedaulatan negara takluk seperti babi
Diperjualbelikan kehormatan bangsa
Apakah SBY menjadi pahlawan
Ketika kisah sinetron century pergi ke lembaran sejarah
Tak terjamah dan tergantikan
Malingnya hingga sekarang menari dipusaran perawan
Tanyakan padaku mengapa gayus hanya di cerca begitu mudah
Tanpa ada bom yg meledak
Sesumbar di ujung sore
Kedasyatan si tuan beye
Tlah menghunus seperti belatung yang enggan mati
Keajabaian datang lagi ketika negara di barisan depan membasmi narkoba
Corby menjadi santapan di tv nusantara
Menjadi patung yang harus diungkapkan
Kembalinya otoriter kebangsaan di perdebatkan di langit nusantara
Kejanggalan pendapat menjadi santapan
Kemabli terungkap pahlawankah pak beye..
Biarlah mereka yang menafsirkan sendiri...
gentar
Keraguan yg mendalam ttg falsafah
Kemana naluri kan bertanya
Kebodohanku tiap detik tlah memperdayaku
Memaki dengan guratan keserakahan
Pasrah apa aja yang menghadang
Semakin lama gentar jga aku menantang kehidupan
Kemana naluri kan bertanya
Kebodohanku tiap detik tlah memperdayaku
Memaki dengan guratan keserakahan
Pasrah apa aja yang menghadang
Semakin lama gentar jga aku menantang kehidupan
kelud yang bisu
Terjebak di angkuhnya sang waktu
Terdiam seperti daun yg enggan menyapa bumi
Takutku dah sebesar kapal sinabung
Lusuh dan jijik ak menatapnya
Sekali lagi pulang dengannya
Dengan ratapan yang tak ingat di kepala
Tersusun rapi seperti jasad yang korban perang
Berbaur dengan aroma terapi menengadah ke atas langit
Kita hanya pasrah
Kebijakan sikaum usang gagah bersandiwara
Cengkeraman ketidakadilan begitu jebatnya membuat kita tak bisa $embaca
Apa yang harus kukatakan kepada kalian lautan
Sebongkah besi tua melangkah membelah samudera dengan kamar mandi banjir kotoran
Kemakmuran terbeli dengan keangkuhan jeritan si kaum pantai
Udara tersenyum bangga dengan lukisan emas
Sekali jentak tiba di tujuan
Punya harga diri tersematkan di senyuman wanita cantik
Miskin hina dan kaya sama rata di langit nusantara
Lautan nbergemuruh menandakan ombak berlarian
Dri ujung lautan pergi ke samudera
Dari samudera pergi entah kemana
Adilkah kita yang berjalan di rogsokan tua ini
Pelayannya sama seperti lintahnya di daratan julan nasi dengan jamur yamng menantang
Apakah ada sesuatu yang bisa dihargai..
Apakah hidup hanya sebatas sanjungan
Ketika tuan rumah sombongnya seperti hantu
Doaku biarlah samuderapun tahu
Membawamu ke bibir dasar laut
Kesombonganmu biarlaj diadili sang samudera
Waktukan menjadi akhir dri segalanya
Terdiam seperti daun yg enggan menyapa bumi
Takutku dah sebesar kapal sinabung
Lusuh dan jijik ak menatapnya
Sekali lagi pulang dengannya
Dengan ratapan yang tak ingat di kepala
Tersusun rapi seperti jasad yang korban perang
Berbaur dengan aroma terapi menengadah ke atas langit
Kita hanya pasrah
Kebijakan sikaum usang gagah bersandiwara
Cengkeraman ketidakadilan begitu jebatnya membuat kita tak bisa $embaca
Apa yang harus kukatakan kepada kalian lautan
Sebongkah besi tua melangkah membelah samudera dengan kamar mandi banjir kotoran
Kemakmuran terbeli dengan keangkuhan jeritan si kaum pantai
Udara tersenyum bangga dengan lukisan emas
Sekali jentak tiba di tujuan
Punya harga diri tersematkan di senyuman wanita cantik
Miskin hina dan kaya sama rata di langit nusantara
Lautan nbergemuruh menandakan ombak berlarian
Dri ujung lautan pergi ke samudera
Dari samudera pergi entah kemana
Adilkah kita yang berjalan di rogsokan tua ini
Pelayannya sama seperti lintahnya di daratan julan nasi dengan jamur yamng menantang
Apakah ada sesuatu yang bisa dihargai..
Apakah hidup hanya sebatas sanjungan
Ketika tuan rumah sombongnya seperti hantu
Doaku biarlah samuderapun tahu
Membawamu ke bibir dasar laut
Kesombonganmu biarlaj diadili sang samudera
Waktukan menjadi akhir dri segalanya
Selasa, 15 Mei 2012
terhempas
Berlari mengejar waktu yang tlah memudar
Bersama cintayang tenggelam dipusara jingga
Terhempas dlam buaian selendang tanah kanaan
Terbit dikala mentari menghujam dibarat
Apakah ceritakan terlahir kembali
Apakah dustakan menghela kebosanan
dibalik gunung tua diprambanan
Seolah diapun benci mengungkap jatidiri
Bangsa ini diambang kotak penalti
Menanti sang keajaiban diakhir penghakiman
Kemanakah yang jujur bersembunyi
Kemanakah yang bijak bertapa
Apakah diapun merasakan ilham yang sama
Terpenjara di ketakutan situan ical
Terselip di kesombongan si raja beye
Terapung di kemunafikan sibengal anas
Terhempas disudut kepremanan sibengis gayus
Langkah yang berarti di jepitan arah mata angin
Sayup berdendang sperti lagu sangkakala
Menghapus lelah dri pemberhentian kejora fajar
Dan kita tersidang di angin sepoi sepoi
Tertidur dan enggan banglit kembali
Bahkan mati adalah ujung dri kehampaan
Kehormatan terbeli di pintu keadilan
Bersama cintayang tenggelam dipusara jingga
Terhempas dlam buaian selendang tanah kanaan
Terbit dikala mentari menghujam dibarat
Apakah ceritakan terlahir kembali
Apakah dustakan menghela kebosanan
dibalik gunung tua diprambanan
Seolah diapun benci mengungkap jatidiri
Bangsa ini diambang kotak penalti
Menanti sang keajaiban diakhir penghakiman
Kemanakah yang jujur bersembunyi
Kemanakah yang bijak bertapa
Apakah diapun merasakan ilham yang sama
Terpenjara di ketakutan situan ical
Terselip di kesombongan si raja beye
Terapung di kemunafikan sibengal anas
Terhempas disudut kepremanan sibengis gayus
Langkah yang berarti di jepitan arah mata angin
Sayup berdendang sperti lagu sangkakala
Menghapus lelah dri pemberhentian kejora fajar
Dan kita tersidang di angin sepoi sepoi
Tertidur dan enggan banglit kembali
Bahkan mati adalah ujung dri kehampaan
Kehormatan terbeli di pintu keadilan
Senin, 14 Mei 2012
Sabtu, 12 Mei 2012
terlahir kembali
Kenang aku sebagai pengecut
Tawailah ak sebagai martir
Dan bunuhlah aku sebagai penghianat
Rasa ini tak bercampur lagi
Kebutaanku ttng kekalahan sdah hadir di depan mata
Akukan mendiami istana kematian para pemberani
Duduk di sudut sebelah mentari menanti kembali
Mempersenjatai tubuhku dgn rintihan ketakutan
Menambah kebijaksaanaanku di altar para pangeran
Dan terlahir kembali
Ke alam para manusia kalah
Tawailah ak sebagai martir
Dan bunuhlah aku sebagai penghianat
Rasa ini tak bercampur lagi
Kebutaanku ttng kekalahan sdah hadir di depan mata
Akukan mendiami istana kematian para pemberani
Duduk di sudut sebelah mentari menanti kembali
Mempersenjatai tubuhku dgn rintihan ketakutan
Menambah kebijaksaanaanku di altar para pangeran
Dan terlahir kembali
Ke alam para manusia kalah
Jumat, 11 Mei 2012
takut
Tak seperti aku mengharapkan senyumanmu
Tak seharusnya kutersentuh dengan kebodohanmu
Dan tak semestinya cinta ini terpaku dlam pusara cintamu
Tapi aku tak bisa mengatakan
Sesungguhnya aku jg takut kehilanganmu
Tak seharusnya kutersentuh dengan kebodohanmu
Dan tak semestinya cinta ini terpaku dlam pusara cintamu
Tapi aku tak bisa mengatakan
Sesungguhnya aku jg takut kehilanganmu
Jumat, 04 Mei 2012
ilham
hujan membasahi bumi dengan harapan semua yang dibicarakankan menmjadi terang
kemudian terangnya menyinari hati gundah yg kelana menjadi jingga di b alik keraguan anak negeri tentang impian
yang trerdiam di ketakutan yang dalam
banyak cerita yang terindah menggapai kenakalan kitsa bermimpi
banyak kebohongan yang datang ditepian sang mentari yang enggan untuk berlari dan ada masanya kita mengerti dua dunia yang berlain arah
tersudut diambang sebuah keraguan
hanya tuhan yg tahu
hanya kita berdiam di reaqlita yang takkan terdengar oleh kaum kaum nbejat di negeri ini
terhempas kandas didunia yang berbeda
apakah kitakan menjadi lukisan di langit nusantara bila kita hanyalah seperti angin yang berlari tanpa tujuan-
tak seorangpunkan menanyakan
apa ilham yamg kan menjadi taruhan di bukit karmel
apa yang tersendiri di atas kebohongan
dan apa yang perlu disampaikan di balik sejarah
apakah ada yang mengerti tanpa ada tujuan yang hadir begitu rupa seperti kita hanyalah berencana
sepakatilah di dalam hidupmu satu kehidupan yang lebih baik dari yang kemarin
hemntikan kata katamu yang berserakan seperti sampah
terbitkan kejujuran dfi hatimu dengan sejuta senyuman
dan katakan tidak un tuk mereka yang bersandiwara seperti orang gila
lihat terangmu kawan
kemana langkah sang waktu telah pergi
seiring ceritas yang tlah pergio beryaung tentangf perdamaian negeri
bagaimana caramu untuk membuatku tertawa sang kharisma jika kita hanyalh bisa tertawan dalam jauhnya siang dan malam
dengan dekapan kekalahan yang berakhir dimana kita tak mengerti apa yang hjarus kita lakukan
kita hanyalah nseperti angin yang berlalu
dari gunung turun ke lembvash lembah dan dari lembah kitsa berakhir di tamnah y6ang gersang bnersama dengan derap ;langkah sang waktu
kita hanyalh sedekat kematiuan yang tertindas dalam deksapan sdang waktu
Langganan:
Postingan (Atom)
