Kamis, 23 Agustus 2012
Sabtu, 18 Agustus 2012
mengenangmu
Bijaknya aku hanya sebentar
Seperti air hujab di vulan september
Mengenangmu di cerita senja
Menawan wajahmu di rindu terdalamku
Kemarin aku masih melihat wajahmu dibalik bodohku
Sekarang aku masih terpaku didindingnya
Menemukan cinta sejati adalah akhirku
Kesakitanku mengatakan sikapku yang acuh
Kesombonganku tlah merajai isi pikiranku
Berwarna jingga cerminkan keangkuhan
Dankini aku di ujung bumi
Bertapa di langit langit malam
Bertinju dengan kekalahan
Dan biarlah sepi menjadi mimpi
Mimpiku berakhir dihembusan debu
Seperti air hujab di vulan september
Mengenangmu di cerita senja
Menawan wajahmu di rindu terdalamku
Kemarin aku masih melihat wajahmu dibalik bodohku
Sekarang aku masih terpaku didindingnya
Menemukan cinta sejati adalah akhirku
Kesakitanku mengatakan sikapku yang acuh
Kesombonganku tlah merajai isi pikiranku
Berwarna jingga cerminkan keangkuhan
Dankini aku di ujung bumi
Bertapa di langit langit malam
Bertinju dengan kekalahan
Dan biarlah sepi menjadi mimpi
Mimpiku berakhir dihembusan debu
Jumat, 17 Agustus 2012
ketakutan
Kumandang jeritan suara dari dlam ketakutan
Berdengung memupus keberanian diatas kepala
Dulu ada cerita yang mengalir
Kini hanyalah sepenggal kisah
Pergi entah kemana
Berlalu terbawa waktu
Hingga tiba saatnya kita sendiri
Tak ada yang perlu di pertanyakan...
Disini kita hadir dengan kekalahan
Berdengung memupus keberanian diatas kepala
Dulu ada cerita yang mengalir
Kini hanyalah sepenggal kisah
Pergi entah kemana
Berlalu terbawa waktu
Hingga tiba saatnya kita sendiri
Tak ada yang perlu di pertanyakan...
Disini kita hadir dengan kekalahan
Kamis, 16 Agustus 2012
dendamku
Dendamku tlah lama berujung duka
Diamku tlah lama terdiam di atas awan
Mataku menanti saatnya waktu yangkan bicara
Seperti apakah aku bila aku hanya pasrah
Menatap wajahmmu dibalik kepengecutan
Bicaramu seperti kaum dhuafa
Menjijikkan
Kurasakan ada jiwa yang enggan tuk kembali bernapas
Diantara luka yang masih memerah
Mengapa ada jiwa enggan tuk bertanya
Kemanakah bangsa ini berjalan
Bisu menghanpiri dengan perkataan
Seperti apa rencana di istana
Terdengarkah nyanyian kemiskinan
Bersama dengan denyutan kekalahan para buruh
Berdiri diatas senja
Berlari menerjang hitam
Terdiam di cengkeraman pencakar langit
Pada siapakah kita bertautan
Lelahkah engkau para pujangga bersyair
Atau apakah tak ada pemberontka kan bangkit
Menengadah menanyai kejaliman bangsa
Diamku tlah lama terdiam di atas awan
Mataku menanti saatnya waktu yangkan bicara
Seperti apakah aku bila aku hanya pasrah
Menatap wajahmmu dibalik kepengecutan
Bicaramu seperti kaum dhuafa
Menjijikkan
Kurasakan ada jiwa yang enggan tuk kembali bernapas
Diantara luka yang masih memerah
Mengapa ada jiwa enggan tuk bertanya
Kemanakah bangsa ini berjalan
Bisu menghanpiri dengan perkataan
Seperti apa rencana di istana
Terdengarkah nyanyian kemiskinan
Bersama dengan denyutan kekalahan para buruh
Berdiri diatas senja
Berlari menerjang hitam
Terdiam di cengkeraman pencakar langit
Pada siapakah kita bertautan
Lelahkah engkau para pujangga bersyair
Atau apakah tak ada pemberontka kan bangkit
Menengadah menanyai kejaliman bangsa
Langganan:
Postingan (Atom)
