terdiamku hanya biasa tersenyum
menatap wajahmu bersandingan dengan dirinya
kuhanya membisu seakan tak perduli
meski raga ini lemah tak berarti
kugenggam tanganmu dan kusampaikan kisah
bahagiamu adalah segalanya bahagiaku
menjadi terang penuntun langkahmu
lupakanlah aku dengan semuanya kenangan yang ada
sedlamat tinggal kekasih hatiku
kupergi jauh dan takkan pernah kembali
doaku kan selalu di jalanmu
bahagiamu adalah bahagiaku
kepakkanlah sayapmu dan terbanglah
berikanlah sinarmu terangilah jalannya
Senin, 19 September 2011
karuniamu
kasihmu yang mengalir bukanlah kekutanku
kasihmu menyapa dihamparan manusia kalah
berdiri tegak menyongsong sang mentari
disinilah kami berasal
terdiam diantara kebobrokan bangsa ini
berlari ke sudut sudut kehampaan bangsa ini
terpancar sebuah adegan adegan yang menjijikkan
hilang dan pergi berganti kembali
seperti para kecoa hanya mampir sejenak tawarkan aroma busuk sedetik
lalu pergi ke gelap terowongan
membuat kita gelengkan kepala
tuhan engkau dengarkah tangisan para manusia kalah
mengangkat tombak dengan sekuat tenaga
enggan engkau menyapa dibalik awan awan
atau apakah ini hanya sebuah pertanda
kekeringan melanada negeri dengan tangisan si miskin
bijakkah kami hanya selalu bertapa
inikah pembalasan dari semua doa doa kami
hanya menanti
hanya menunggu
saat saat itu menjadi sebuah kenangan
keputus asaan kami tlah menyebar laiknya seperti pasir di tepian tebing
bingung dan kalah tlah menyelimuti tidur kami
apakah kami hanya diam saja
atauakah kami melakukan pemberontakan diantara kaum kaum bangsa
geramkah para manusia laknat
tersentuhkah nurani p[ara kaum biujaksana ataukah kami hanyalah sebuah cerita berakhir di adegan tanpa ada kata tanya
tuhan
janganlah kiranya engkau hanya terdiam
pasangkanlah telingamu dihamparan langit biru
kami bernyanyi dan kami bermazmur
bukakanlah sedikit pengasihanmu
tawarkanlah tubuh kami dengan sedekat kematian
jadikanlah kami menjadi hamba hambamu
membelah samudera dan mengalahkan kegelapan
berikanlahn kami sesuatu yang sangat mustahil
bekali tubuh kami dengan beban beban yang melebihi dari berat tubuh kami
mungkinkah akhir dari segalanya
kasih mu yang kami nanti
cintamu yang kami tunggu
berikanlah sejenak sedekat kematian
kasih karuniamu mengalir selamanya tanpa terbatas
kami sambut dengan riang dan seruling kecapi
kasihmu menyapa dihamparan manusia kalah
berdiri tegak menyongsong sang mentari
disinilah kami berasal
terdiam diantara kebobrokan bangsa ini
berlari ke sudut sudut kehampaan bangsa ini
terpancar sebuah adegan adegan yang menjijikkan
hilang dan pergi berganti kembali
seperti para kecoa hanya mampir sejenak tawarkan aroma busuk sedetik
lalu pergi ke gelap terowongan
membuat kita gelengkan kepala
tuhan engkau dengarkah tangisan para manusia kalah
mengangkat tombak dengan sekuat tenaga
enggan engkau menyapa dibalik awan awan
atau apakah ini hanya sebuah pertanda
kekeringan melanada negeri dengan tangisan si miskin
bijakkah kami hanya selalu bertapa
inikah pembalasan dari semua doa doa kami
hanya menanti
hanya menunggu
saat saat itu menjadi sebuah kenangan
keputus asaan kami tlah menyebar laiknya seperti pasir di tepian tebing
bingung dan kalah tlah menyelimuti tidur kami
apakah kami hanya diam saja
atauakah kami melakukan pemberontakan diantara kaum kaum bangsa
geramkah para manusia laknat
tersentuhkah nurani p[ara kaum biujaksana ataukah kami hanyalah sebuah cerita berakhir di adegan tanpa ada kata tanya
tuhan
janganlah kiranya engkau hanya terdiam
pasangkanlah telingamu dihamparan langit biru
kami bernyanyi dan kami bermazmur
bukakanlah sedikit pengasihanmu
tawarkanlah tubuh kami dengan sedekat kematian
jadikanlah kami menjadi hamba hambamu
membelah samudera dan mengalahkan kegelapan
berikanlahn kami sesuatu yang sangat mustahil
bekali tubuh kami dengan beban beban yang melebihi dari berat tubuh kami
mungkinkah akhir dari segalanya
kasih mu yang kami nanti
cintamu yang kami tunggu
berikanlah sejenak sedekat kematian
kasih karuniamu mengalir selamanya tanpa terbatas
kami sambut dengan riang dan seruling kecapi
Kamis, 15 September 2011
Sunyi itu adalah napas kekalahanku
Gamabaran sebuah keputusasaan
Aku terdiam dialtar sebuah jubah kemunafikan
Hanya diam tak terpikirkan
Kesombongan tlah meracuni kisahku
Biarkanlah menjadi sebuah nisan
Tertulis si pengecut dri Siantar
Dalam kubangan para manusia laknat
Sedikit keperkasaan merjai sebuah di lema
Kita tertinggar di persimpangan jalan
Gamabaran sebuah keputusasaan
Aku terdiam dialtar sebuah jubah kemunafikan
Hanya diam tak terpikirkan
Kesombongan tlah meracuni kisahku
Biarkanlah menjadi sebuah nisan
Tertulis si pengecut dri Siantar
Dalam kubangan para manusia laknat
Sedikit keperkasaan merjai sebuah di lema
Kita tertinggar di persimpangan jalan
wanita terhormat
Aku yang tak pernah terpikirkanmu
Aku yg hanya mengagumimu
Memandangi wajahmu dari sebuah kebodohan
Ada cinta yang mengalir
Ada puisi tercipta untukmu
Pernahkah drimu menyadari arti dari senyumku
Banyak cerita mengalir di bawah kemiskinanku
Menyadari sesuatu yg takkan mungkin
Hanya doa yanng bisa kusampaikan
Hanya bayangmu menjadi kekuatanku
Engkaulah wanita terhormat
Engakaulah yang bisa gantikan ibuku
Kesederhanaanmu ajarkan aku ttg hidup
Tutur katamu putihkan pikiranku ttg kasihmu
Engkaulah wanita tulang rusukku
Engkaulah yang bisa menjadi pelangiku
Terang jalanku pancarkan sisa hidupku
Berdiri bagkit menyambut mentari
Aku yg hanya mengagumimu
Memandangi wajahmu dari sebuah kebodohan
Ada cinta yang mengalir
Ada puisi tercipta untukmu
Pernahkah drimu menyadari arti dari senyumku
Banyak cerita mengalir di bawah kemiskinanku
Menyadari sesuatu yg takkan mungkin
Hanya doa yanng bisa kusampaikan
Hanya bayangmu menjadi kekuatanku
Engkaulah wanita terhormat
Engakaulah yang bisa gantikan ibuku
Kesederhanaanmu ajarkan aku ttg hidup
Tutur katamu putihkan pikiranku ttg kasihmu
Engkaulah wanita tulang rusukku
Engkaulah yang bisa menjadi pelangiku
Terang jalanku pancarkan sisa hidupku
Berdiri bagkit menyambut mentari
Minggu, 11 September 2011
kita selamanya
pernah engkau dengar suara para laknant di televisi
tataplah matanya dengan sekilas wajahnya penuh dengan kepalsuan
layakkah mereka menjadi sang penguasa
dibalik bodohnya tertawa dalam kehbisingan kota jakarta
dulu hingga sekarang mereka membeli jabatan dengan uang
uang mereka tawarkan hanya sementara ditangan para moderat mereka menjadi singa
sibodoh ini mengembangkan kebodohannya ke anak bangsa
turun temurun berkuasa karena sudah tradisi
masa depan bangsa ini sudah dijanjikan dalam sejarah
simikin menjadi miskin
sikaya berpelukan di ranjang para bangsawan
segelas anggur teman sejati
pengantar ngantuk dikamar perawan
tentara dan polisi saling mencengkeram
habis sudah keringat negeri bercucuran
merebut lahan yang bisa di genggam
anak negeri yg menjadi tameng
atau kembalikan modal selangkangan dengan seragam yang membusuk tak punya kehormatan
seragamnya hanyalah lukisan permadani yang sangat mahal
hingga nasionalismepun direnggut si janda kembang
semuanya diatur dengan uang
hakim hakim dan perangat sibuat kebenaran
keadilan itu diperjualbelikan
menjadi budak situan laknat
kita tertawa keadilan hanya semata
hukum nya tertutup rapat tak terjamah
sungguh mencengangkan
jubahnya di tawari dengan sehelai kegelapan
tataplah matanya dengan sekilas wajahnya penuh dengan kepalsuan
layakkah mereka menjadi sang penguasa
dibalik bodohnya tertawa dalam kehbisingan kota jakarta
dulu hingga sekarang mereka membeli jabatan dengan uang
uang mereka tawarkan hanya sementara ditangan para moderat mereka menjadi singa
sibodoh ini mengembangkan kebodohannya ke anak bangsa
turun temurun berkuasa karena sudah tradisi
masa depan bangsa ini sudah dijanjikan dalam sejarah
simikin menjadi miskin
sikaya berpelukan di ranjang para bangsawan
segelas anggur teman sejati
pengantar ngantuk dikamar perawan
tentara dan polisi saling mencengkeram
habis sudah keringat negeri bercucuran
merebut lahan yang bisa di genggam
anak negeri yg menjadi tameng
atau kembalikan modal selangkangan dengan seragam yang membusuk tak punya kehormatan
seragamnya hanyalah lukisan permadani yang sangat mahal
hingga nasionalismepun direnggut si janda kembang
semuanya diatur dengan uang
hakim hakim dan perangat sibuat kebenaran
keadilan itu diperjualbelikan
menjadi budak situan laknat
kita tertawa keadilan hanya semata
hukum nya tertutup rapat tak terjamah
sungguh mencengangkan
jubahnya di tawari dengan sehelai kegelapan
para pemenang
kugenggam semua apa yang ada padaku
kupaksakan mataku agar terus terjaga
dibalik jantungku yang berdetakan tak seirama napasku
terbaring ditanah dengan senjata dipelukan
mengintai intai layaknya sang penjaga makam
menanti ancangan untuk bertempur
karena mati adalah akhir segalanaya
mati demi indonesia
kebanggaan yang takkan pernah hilang
meski para kurcaci menikmati kemerdekaan
kita akann selalu menjadi para pemenang
kupaksakan mataku agar terus terjaga
dibalik jantungku yang berdetakan tak seirama napasku
terbaring ditanah dengan senjata dipelukan
mengintai intai layaknya sang penjaga makam
menanti ancangan untuk bertempur
karena mati adalah akhir segalanaya
mati demi indonesia
kebanggaan yang takkan pernah hilang
meski para kurcaci menikmati kemerdekaan
kita akann selalu menjadi para pemenang
kekelahan sang pecinta
dengarkanlah cintaku sebuah puisi untukmu
hanya sebatas dentangan kerinduan yang dalam
kemarin cinta itu masih hadir menyapa
kini hanya sebuah kisah yang tertinggal menanti pergi
tak mengapa jika itu hanyalah se=buah kata
tapi harus engkau mengerti bahwa cinta inikan selamanya abadi
hingga ujung dunia
mengagumimu di balik kekuranganku
kemiskinan sedekat dengan kekalahanku
yang tak bisa
memilikimu
kurangkai kembali puisi puisi yang menjadi sebuah kisah yang tlah membeku
seperti para penyair yng terdiam di gua gua
menanti sebuah keajaiban kcil
menghampiri
terlinatas sejenak sesauatu yag tlah pergi
dan kini menyeruak memperkosa waktuku yg kosong
akankah cinta inikan menjadi tawar
meski tlah terbawa gelombang sang waktu
indah wajahmu masih terjaga dari pencapaian lelahku
diantara seribu cinta yang ada hanyalah sebuah kekalahan
aku kalah karena didalam hidupku aku tergantung pada satu pilihan
aku terlahir dari para pemberani
tapi aku pengecut dari cerita cinta
menghancurkan semua rangakain masa depan
dengan kata cinta
aku yang kalah dalam cinta tpi pejuang dalam hal kehidupan
elamat tinggal semua yang tlah pergi
selamat tinggal waktu yang kosong
dendangkanlah lagiu rinduku padamu hanyalah puisi puisi ini yang biasa kukatakan dibalik sebuah kata kepengecutanku
hanyalah riah cinta
hanya sebatas dentangan kerinduan yang dalam
kemarin cinta itu masih hadir menyapa
kini hanya sebuah kisah yang tertinggal menanti pergi
tak mengapa jika itu hanyalah se=buah kata
tapi harus engkau mengerti bahwa cinta inikan selamanya abadi
hingga ujung dunia
mengagumimu di balik kekuranganku
kemiskinan sedekat dengan kekalahanku
yang tak bisa
memilikimu
kurangkai kembali puisi puisi yang menjadi sebuah kisah yang tlah membeku
seperti para penyair yng terdiam di gua gua
menanti sebuah keajaiban kcil
menghampiri
terlinatas sejenak sesauatu yag tlah pergi
dan kini menyeruak memperkosa waktuku yg kosong
akankah cinta inikan menjadi tawar
meski tlah terbawa gelombang sang waktu
indah wajahmu masih terjaga dari pencapaian lelahku
diantara seribu cinta yang ada hanyalah sebuah kekalahan
aku kalah karena didalam hidupku aku tergantung pada satu pilihan
aku terlahir dari para pemberani
tapi aku pengecut dari cerita cinta
menghancurkan semua rangakain masa depan
dengan kata cinta
aku yang kalah dalam cinta tpi pejuang dalam hal kehidupan
elamat tinggal semua yang tlah pergi
selamat tinggal waktu yang kosong
dendangkanlah lagiu rinduku padamu hanyalah puisi puisi ini yang biasa kukatakan dibalik sebuah kata kepengecutanku
hanyalah riah cinta
sang pelacur
engkau hanya seorang pelacur
bagiku engkau hanyalah lukisan dalam kemalasanku
tak mengerti dan tak semudah itu engkau hanya pergi
campakkan semua janji yg pernah kubuang
tak bertepi
engkau hanya pembawa sial bagiku'satu persatu mimpiku
terbawa jalan hidupku tentang senyummu
dan engkau tahu
engkau membuangnya dengan sekejap saja
sangat bergarga bagiku tapi kutahu siapakah diriku
aku tak sehebat si cina dari negeri kecil
aku tak sehebat si melayu simalas
aku hanya anak indonesia yang punya cinta
dan semuanya hanya tulus kuberikan untukmu
pelacur.........
teriakkanlah pada dunia malam
tertawalah pada situan kecilmu
mandikanlah tubuhmu di bawah sang rembulan
berikanlah kepuasa yang menikmati tubuhmu
jika ada dusta hanya sesaat
tawarkan dunia dengan pelukan si gadis malas
jejalilah tubuhmu dengan lafal allah
bukankah hidup ini butuh perjuangan
dan kemalasanmu tergadai bak emas dan permata
mandiukan dosa dengan arungan napasmu
monyetpun tergoda menjilat tubuhmu....
wahai pelacur
bukankah engkau pelacur
poelacur malam dengan mimpi dan takdirnya
menjengkal negeri dengan tetes airmata
demi cinta dipertanyakan di hakim hakim
siapakah sang pendosa?
apakah kita yang belajar berdoa
atau kita kumpulan si peci putih
tanyakanlah kepada para khalifah
demi cinta kita bertaruing dengan sang pencipta
kita tukar raga demi kebebasan semata
begitulahkita
dan menanti sang pengghakim yang bijaksana
kita hanyalah sebarisan para manusia laknat
pelacur................
hanya seorang pelacur...........
bagiku engkau hanyalah lukisan dalam kemalasanku
tak mengerti dan tak semudah itu engkau hanya pergi
campakkan semua janji yg pernah kubuang
tak bertepi
engkau hanya pembawa sial bagiku'satu persatu mimpiku
terbawa jalan hidupku tentang senyummu
dan engkau tahu
engkau membuangnya dengan sekejap saja
sangat bergarga bagiku tapi kutahu siapakah diriku
aku tak sehebat si cina dari negeri kecil
aku tak sehebat si melayu simalas
aku hanya anak indonesia yang punya cinta
dan semuanya hanya tulus kuberikan untukmu
pelacur.........
teriakkanlah pada dunia malam
tertawalah pada situan kecilmu
mandikanlah tubuhmu di bawah sang rembulan
berikanlah kepuasa yang menikmati tubuhmu
jika ada dusta hanya sesaat
tawarkan dunia dengan pelukan si gadis malas
jejalilah tubuhmu dengan lafal allah
bukankah hidup ini butuh perjuangan
dan kemalasanmu tergadai bak emas dan permata
mandiukan dosa dengan arungan napasmu
monyetpun tergoda menjilat tubuhmu....
wahai pelacur
bukankah engkau pelacur
poelacur malam dengan mimpi dan takdirnya
menjengkal negeri dengan tetes airmata
demi cinta dipertanyakan di hakim hakim
siapakah sang pendosa?
apakah kita yang belajar berdoa
atau kita kumpulan si peci putih
tanyakanlah kepada para khalifah
demi cinta kita bertaruing dengan sang pencipta
kita tukar raga demi kebebasan semata
begitulahkita
dan menanti sang pengghakim yang bijaksana
kita hanyalah sebarisan para manusia laknat
pelacur................
hanya seorang pelacur...........
Sabtu, 10 September 2011
bintang
bintang itu tak lagi bisa untuk bersinar
karena angkuhnya tlah terjebak di langit putih
ada sesuatu masa lalu mengubur mimpinya
hingga dirinya enggan untuk bercerita
baiknya kita menjadi seusatu yang sangat di benci daripada kuta mempertaruhkan yang tak ada menjadi ada
lakukanlah sekarang menjadi sebuah inspirasi
bagi orang orang yang perlu bagi anda
karena angkuhnya tlah terjebak di langit putih
ada sesuatu masa lalu mengubur mimpinya
hingga dirinya enggan untuk bercerita
baiknya kita menjadi seusatu yang sangat di benci daripada kuta mempertaruhkan yang tak ada menjadi ada
lakukanlah sekarang menjadi sebuah inspirasi
bagi orang orang yang perlu bagi anda
tragedi
terdiam diantara seribu kisah yang menanti
engkau hadir dengan sejuta tawa
engkau basuh lukaku dengan cerita kehidupan
bangkitkan aku untuk kembali berdiri
bijk hatimu membuatku bangga
berlari menyongsong dengan sebuah harapan
kembali berdiri menjaid penantang
bangkitkan para penyair kembali di pikiranku
lahirkan semangatku yang tlah lama mati
hentakan mulutku untuk berbicara seperti meriam di masa perang
menantang situan rasul berjas surban berjenggot
putih
menantang pemikiran situan nabi nabi
yang meletakkan di keadilan di kandang babi
idealisme negeri diganti dengan imperialisme kesombongan
agamis di jadikan sebuah kekuatan keserakahan
propaganda untuk saling menjebak
menghasut kebaikan menjadi pemberontakan
melahirkan para penghianat di negeri ini
merongrong pancasila dengan buatan mereka
kekesihku terdengarkah aku kembali menyapa
terdengarkah jiwa ini kembali terjatuh
benar adanya aku berbicara dengan lantangnya
tpi mereka bribu ribu banyaknya
sedangkan aku
aku hanya sendiri
tak ada yang mengert apa yang aku perjuangkan
karena otak mereka tlah tersisi ajaran ajaran sejarah
kemunafikan mereka tlah terisi penuh
hingga kebaikan tak ada tempat bagi mereka
mereka serentak meludahi aku
menendang bahkan menarik narik aku
bahkan ada juga teriakin aku untuk disalibkan
keksihku
cantikmu laksana sang rembulan
aku tlah kembali menelan kepahitan hidup[ ini
biarkanlah aku disini bersama dengan dentakan jantungku
kerna ,mati mungkin penawarnya bagiku
engkau hadir dengan sejuta tawa
engkau basuh lukaku dengan cerita kehidupan
bangkitkan aku untuk kembali berdiri
bijk hatimu membuatku bangga
berlari menyongsong dengan sebuah harapan
kembali berdiri menjaid penantang
bangkitkan para penyair kembali di pikiranku
lahirkan semangatku yang tlah lama mati
hentakan mulutku untuk berbicara seperti meriam di masa perang
menantang situan rasul berjas surban berjenggot
putih
menantang pemikiran situan nabi nabi
yang meletakkan di keadilan di kandang babi
idealisme negeri diganti dengan imperialisme kesombongan
agamis di jadikan sebuah kekuatan keserakahan
propaganda untuk saling menjebak
menghasut kebaikan menjadi pemberontakan
melahirkan para penghianat di negeri ini
merongrong pancasila dengan buatan mereka
kekesihku terdengarkah aku kembali menyapa
terdengarkah jiwa ini kembali terjatuh
benar adanya aku berbicara dengan lantangnya
tpi mereka bribu ribu banyaknya
sedangkan aku
aku hanya sendiri
tak ada yang mengert apa yang aku perjuangkan
karena otak mereka tlah tersisi ajaran ajaran sejarah
kemunafikan mereka tlah terisi penuh
hingga kebaikan tak ada tempat bagi mereka
mereka serentak meludahi aku
menendang bahkan menarik narik aku
bahkan ada juga teriakin aku untuk disalibkan
keksihku
cantikmu laksana sang rembulan
aku tlah kembali menelan kepahitan hidup[ ini
biarkanlah aku disini bersama dengan dentakan jantungku
kerna ,mati mungkin penawarnya bagiku
mengagumimu
menatap indah senyummu dibawah bodohku mengagumimu tanpa engkaupun tahu
hanya sedetik kupejamkan mata mengenangmu di hamparan rindu yang dalam
terlahir sebuah ide di khatuslistiwa membenamkan mataku menyebut namamu
bahagiaku seakan menghampiri relung hati penyendiri tertawankan cintamu
adacinta yang mengalir seperti aroma bunga seroja
menghiasai setiap jengkal langkahku
ada cinta segudang rasa
ada tertanam cinta yang menyapa
cinta ini sedikit hanya tersipu
waktukan merangkai seiring sang pengecut
mengagumimu tanpa ijinmu
hanya itu yang kubisa
hanya sedetik kupejamkan mata mengenangmu di hamparan rindu yang dalam
terlahir sebuah ide di khatuslistiwa membenamkan mataku menyebut namamu
bahagiaku seakan menghampiri relung hati penyendiri tertawankan cintamu
adacinta yang mengalir seperti aroma bunga seroja
menghiasai setiap jengkal langkahku
ada cinta segudang rasa
ada tertanam cinta yang menyapa
cinta ini sedikit hanya tersipu
waktukan merangkai seiring sang pengecut
mengagumimu tanpa ijinmu
hanya itu yang kubisa
Jumat, 09 September 2011
cemburu
Jelaskan padaku jangan hanya membisu
Uraikanlah dengan kebencian jika masih ada cinta
Rahasiamu jgnlah menjadi senjata pemusnah
Selagi waktu hanya menjadi saksi
Tawarkanlah nafsu cintaku dengan ratapan sedihmu
Buanglah jauh semua cintamu sebelum aku terjungkal
Berdiri layaknya sang pengecut
Kemanakah cinta ini bertautan
Adakah cintamu yg tulus putih itu memerah
Terdampar di tepian pantai lelaki bijaksana
Cintamu tak lagi seperti senyum mentari
Uraikanlah dengan kebencian jika masih ada cinta
Rahasiamu jgnlah menjadi senjata pemusnah
Selagi waktu hanya menjadi saksi
Tawarkanlah nafsu cintaku dengan ratapan sedihmu
Buanglah jauh semua cintamu sebelum aku terjungkal
Berdiri layaknya sang pengecut
Kemanakah cinta ini bertautan
Adakah cintamu yg tulus putih itu memerah
Terdampar di tepian pantai lelaki bijaksana
Cintamu tak lagi seperti senyum mentari
risahlah hati
tiada kata yang indah terbawa dalam sebuah makna
Tiada cinta yang hilang di dalam sebuah tanya
Biarkanlah sepi menjelma menjadi tawanan
Menuntun waktu terbeli mimpi di hamparan kekeringamn sawah petani
Terdiam sendiri pandangi langit
Kita beranjak dan berdiri
Berlari lari dengan nafsu sorgawi
Erangan malam mengisi sejuta rindu
Terdampar di haluan tanah yg datar
Bisikan bisikan kelaparan sangat kelas menggema
Teriakan keganasan meledak ledak
Kawahnya hadirkan sejuta dendam
Meneriakin siapa saja yglemah
Bagai hantu menjelma memotonh nadi
Terlihat jelas bahkan nampak nyata
Satu satu anak bangsa menutup mata
Beramai ramai menanti disembelih
Biarkanlah kita hanya meratapi
Begitu banyak bahkan terlewatkan
Ada berkumandang suara azan
Membelai rambut lembut segarkan sejenak
Lalu tertawa dalam kebohongan belaka
Jika kita hanyalah penuh rasa
Ada bahasa menjelma menjadi harapan
Sejenak kita renungkan wahai saudara
Hentikan langkah waktu sombongnua penguasa kezaliman
Terdiam diam bagai angin
Siapakah kita yang berjalan bersama
Dihamparan waktu kita satu tujuan
Bersama membangun negeri....
Tiada cinta yang hilang di dalam sebuah tanya
Biarkanlah sepi menjelma menjadi tawanan
Menuntun waktu terbeli mimpi di hamparan kekeringamn sawah petani
Terdiam sendiri pandangi langit
Kita beranjak dan berdiri
Berlari lari dengan nafsu sorgawi
Erangan malam mengisi sejuta rindu
Terdampar di haluan tanah yg datar
Bisikan bisikan kelaparan sangat kelas menggema
Teriakan keganasan meledak ledak
Kawahnya hadirkan sejuta dendam
Meneriakin siapa saja yglemah
Bagai hantu menjelma memotonh nadi
Terlihat jelas bahkan nampak nyata
Satu satu anak bangsa menutup mata
Beramai ramai menanti disembelih
Biarkanlah kita hanya meratapi
Begitu banyak bahkan terlewatkan
Ada berkumandang suara azan
Membelai rambut lembut segarkan sejenak
Lalu tertawa dalam kebohongan belaka
Jika kita hanyalah penuh rasa
Ada bahasa menjelma menjadi harapan
Sejenak kita renungkan wahai saudara
Hentikan langkah waktu sombongnua penguasa kezaliman
Terdiam diam bagai angin
Siapakah kita yang berjalan bersama
Dihamparan waktu kita satu tujuan
Bersama membangun negeri....
tuhan
tuhan............
kebahagian apa yang kan kurasakan dikala malam menampar wajahku
hujan membasahi bumi dengan angkuhnya menghentikan semua langkahku
terjagaku dari tidur yang sejenak menepi dalam gelombang dinginnya malam
berselimutkan koran kucoba memeluk bayangan yg tersisa
hadirkan sejuta rindu yang datang dan tak mau pergi
merasuki pikiranku dengan kata kata yang menyerang laksana raja rimba
beraksi dengan sembaran kilat menerkam tubuhku yang lemah
tuhan...............
banyak perkara yang kutanggung dengan seutas harapan
dibalik doa doa terdengarkah rintihan aku hambamu
adakah tersentuh hatimu yang pemurah mendengar dekapan kerinduan yang tersisa
dikota ini kutautkan sebuah waktu berdinding harapan
beranjak dari kemiskinan menuju kota yang asing bagiku
mimpikah aku dimalam ini
tuhan..................
tubuhku lemah hanya sebuah bayangan
haus menjelma bagaikan kumbangan penuh sampah
bertemankan kebajikan kudendangkan lagu keserakahan
terlambatkah aku untuk mengenang
tentang bayangan orang yg dicinta hadir menyapa
genggam sebuah keraguan di atas sebuah kebodohan
aku yang mencampakkan noda merah uuntuk keluarga terasing sendiri tanpa ada suara
bertemankan sebuah kekalahan kutapaki kerikil jalanan
sombongnya mentari menjadi raja bagiku
adakah pintu rumahkan terbuka membasuh tubuhku
lewati malam bagaikan sejuta hari
jiwa miskin hanya bisa menyadari
terpuruk dalam lubang hitam dunia
tuhan........
senadainya aku hanya bisa melihat
angkuhnya situan polan menampar pipi bapakku
apakah aku hanya membisu menggemgam kedua tangan ketika situan polan meludahi kening bapakku
apakah ditubuh ini tidak mengalir nafsu serigala
membara meledak layaknya kapal menabrak karang
begitu juga aku...
aku kepalkan kedua tangan jatuhakan perkara
kuberlari berlayar ke samudra biru
terdampar disini dengan sejuta hampa
pakah ada jalan terbaik akan kusesali
di balik jubah kubertarung meraih mimpi
tuhan...................
dimanakah sang mempelaiku
apakah dia juga takut untuk menatap mataku
yang penuh dosa
puisi puisi tlah tertanam dan bunganya tlah layu
pada siapakah cinta ini kutautkan
siapakah gerangan dirinya
tawarkanlah aku pada sebuah kemegahan pencinta
takdirku
menapaki sebuah tragedi
mencintai tanpa dicintai
hanya itu yang bisa kulakukan mengagumi
di bawah langkah sang pengecut
tuhan....................
biarkanlah waktukan menjadi istilah dalam sebuah pencarian
harapan itu bertemankan dengan impian agar jiwaku hanya bisa tertawa
kebahagian mengalir bersama gelombang pelangi
menantikuku hadir kembali bersama yang tlah kutinggalkan
karena kuyakin dan kupercaya
cintamu tuhan kan selalu mewarnai hidupku
selamanya hingga ajal menanti
kebahagian apa yang kan kurasakan dikala malam menampar wajahku
hujan membasahi bumi dengan angkuhnya menghentikan semua langkahku
terjagaku dari tidur yang sejenak menepi dalam gelombang dinginnya malam
berselimutkan koran kucoba memeluk bayangan yg tersisa
hadirkan sejuta rindu yang datang dan tak mau pergi
merasuki pikiranku dengan kata kata yang menyerang laksana raja rimba
beraksi dengan sembaran kilat menerkam tubuhku yang lemah
tuhan...............
banyak perkara yang kutanggung dengan seutas harapan
dibalik doa doa terdengarkah rintihan aku hambamu
adakah tersentuh hatimu yang pemurah mendengar dekapan kerinduan yang tersisa
dikota ini kutautkan sebuah waktu berdinding harapan
beranjak dari kemiskinan menuju kota yang asing bagiku
mimpikah aku dimalam ini
tuhan..................
tubuhku lemah hanya sebuah bayangan
haus menjelma bagaikan kumbangan penuh sampah
bertemankan kebajikan kudendangkan lagu keserakahan
terlambatkah aku untuk mengenang
tentang bayangan orang yg dicinta hadir menyapa
genggam sebuah keraguan di atas sebuah kebodohan
aku yang mencampakkan noda merah uuntuk keluarga terasing sendiri tanpa ada suara
bertemankan sebuah kekalahan kutapaki kerikil jalanan
sombongnya mentari menjadi raja bagiku
adakah pintu rumahkan terbuka membasuh tubuhku
lewati malam bagaikan sejuta hari
jiwa miskin hanya bisa menyadari
terpuruk dalam lubang hitam dunia
tuhan........
senadainya aku hanya bisa melihat
angkuhnya situan polan menampar pipi bapakku
apakah aku hanya membisu menggemgam kedua tangan ketika situan polan meludahi kening bapakku
apakah ditubuh ini tidak mengalir nafsu serigala
membara meledak layaknya kapal menabrak karang
begitu juga aku...
aku kepalkan kedua tangan jatuhakan perkara
kuberlari berlayar ke samudra biru
terdampar disini dengan sejuta hampa
pakah ada jalan terbaik akan kusesali
di balik jubah kubertarung meraih mimpi
tuhan...................
dimanakah sang mempelaiku
apakah dia juga takut untuk menatap mataku
yang penuh dosa
puisi puisi tlah tertanam dan bunganya tlah layu
pada siapakah cinta ini kutautkan
siapakah gerangan dirinya
tawarkanlah aku pada sebuah kemegahan pencinta
takdirku
menapaki sebuah tragedi
mencintai tanpa dicintai
hanya itu yang bisa kulakukan mengagumi
di bawah langkah sang pengecut
tuhan....................
biarkanlah waktukan menjadi istilah dalam sebuah pencarian
harapan itu bertemankan dengan impian agar jiwaku hanya bisa tertawa
kebahagian mengalir bersama gelombang pelangi
menantikuku hadir kembali bersama yang tlah kutinggalkan
karena kuyakin dan kupercaya
cintamu tuhan kan selalu mewarnai hidupku
selamanya hingga ajal menanti
Kamis, 08 September 2011
sang putri
indah wajahmu kembali menyeruak di istana hitam langitku
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh
senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku
mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh
senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku
mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada
cerita cinta
seperti apakah dirimu wahai perempuanku
cantikkah engkau bagai bidadariku
anggun kag drimu mengalahkan kecantikan bangunan borobudur
apakah =cantikmu mendamaikan dunia
atau bencana bagiku
atau dirimu hanya lukisan seribu kemunafikan
kupeluk dan kubasuh tubuhnu dengan rintihan rindu sang ksatria
mampukah dirimu memperjuangkan semuanya yg tertinggal
apakah cintamu slmanay kan abadi
jika suatu saat nanti aku terdiam dialtar para raja raja
aku butuh dirimu dengan segala kesederhanaan
aku u butuh kawanan dombamu yng bersih dan gemuk
aku hanya ingin engkau mengerti
sambutlah aku dengan segala kelemahanku
damaikanlah aku di ranjang semakmu
hingga fajar menyingsing cinta ini hanya milikmu
cantikkah engkau bagai bidadariku
anggun kag drimu mengalahkan kecantikan bangunan borobudur
apakah =cantikmu mendamaikan dunia
atau bencana bagiku
atau dirimu hanya lukisan seribu kemunafikan
kupeluk dan kubasuh tubuhnu dengan rintihan rindu sang ksatria
mampukah dirimu memperjuangkan semuanya yg tertinggal
apakah cintamu slmanay kan abadi
jika suatu saat nanti aku terdiam dialtar para raja raja
aku butuh dirimu dengan segala kesederhanaan
aku u butuh kawanan dombamu yng bersih dan gemuk
aku hanya ingin engkau mengerti
sambutlah aku dengan segala kelemahanku
damaikanlah aku di ranjang semakmu
hingga fajar menyingsing cinta ini hanya milikmu
kita hanya penonton
dengan seribu kekalahan tlah kucampakkan sebuah penderitaan
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali
langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana
banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali
langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana
banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa
Kamis, 01 September 2011
cinta yg pergi
Jelas sudah apa yang akan aku tanyakan
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya
hanya padamu
Tuhan berikan aku kekuatan
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata
Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah
Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata
Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah
Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu
Langganan:
Postingan (Atom)
