Sabtu, 31 Maret 2012

Hati hati terhadap ahli ahli taurat yg suka berjalan jalan memekai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar.yg suka duduk terdepan di rumah rumah ibadah dan di tempat terhormat dlm perjamuan.
Diberkatilah dia yg dtng dlm nama tuhan

Selasa, 27 Maret 2012

negara ini membutuhkan seorang yang bertangan besi dimana tangan kanannya tersematkan kejujuran
Dan ditangan kiri kerakyatan yang dilandasi pancasila
1.Ambil alih perusahaan asing seperti telkomsel,indosat dan perusahhan lainya yg menjadi kebutuhan pokok bangsa ini
2.Ganti semua pemerintah yang kompeten dimana berumur 4o ke atas di pensiunkan
3.KPK mutlak haknya di atas presiden dan MPR dan ketua KPK dipilih langsumg oleh rakyat
4.Bubarkan MPR diganti dengan badan musyawarah pancasila(!BMP)
5.Mengambil alih sekolah sekolah swasta menjadi negeri beserta yg fungsinya menjadi po para guru menjadi PNS dimana gaji guru di sejahterakan dan berikan biaya sekolah seringan ringannya dengan semboyan...tak ada yang gak sekolah
6.Membangun jembatan lintas antara pulau pulau besar dmna dgn sendirinya mengurangi pengeluaran pemasaran mobil,motor dan tidak meluli BBM selalu naik
7.Mengirim mahasiswa yang kompeten tanpa ada rekayasa publik ttg kepintarannya dimana membuang jauh nepotisme dan kejujuran yang hadir keluar negeri 100.000 pertahun
8.Membubarkan polisi dan menggantinya dengan sebutan
9.Gaji buruh dan kesejahteraanya menjadi landasan negara ini diberikan demi kemakmuran bangsa
10.Mengilegalkan perjudian dengan syarat syarat
11.Membubarkan ormas ormas yang sering membuat onar
12.Rumah sakit diberi label merah bila kemanusiaan yg mereka jalankan bertentangan dengan undang undang
13.Hak penyiaran televisi di jaga ketat oleh pemerintah
14.Koruptor di penjara selaiknya selama 30 tahun
15.Memberikan kebebasan pers sebesar besarnya
16.Stop mengimpor beras dan menjadikan kembali indonesia menjadi raja maritim dan agaria
17.Batam di jadikan pintu herbang pasar internasional
18.Membangun stadioan olahraga bertaraf internasional di stiap provinsi
Dan mendanai langsung sarana dan prasarana sebesar 20 persen APBN provinsi
19.Memberikan secara langsung bantuan kewirausahaan dengan tanpa syarat dan nepotisme
Dimana peraturannya di atur langsung perundang undangan
20.Membuka sebesar besarnya para investor dengan pajak yg memadai dab gaji buruh yang di selaraskan. Dgn kesejahteraan bangsa


Percayalah bangsa ini bukan membutuhkan orang pintar,sang ahli bangsa ini tlah mejadikan nepotisme sebagai keluarganya yg membuat bangsa ini berantakan
Jujur di negeri ini apapun bisa di beli tetapi orang jujur tidak bisa terbeli.

Ingat orang jujur itu tidak selamanya dri pesantern dari gereja jg bisa,vihara dan lain lain
Siapapun nanti pemimpin bangsa ini agar mempertimbangkan usulan ini
Kerakyatan ini tlah memudar
Dulu aku berlari dengan para manusia yang tak kenal lelah
Kini aku berjalan dengan mahasiwa yang harga dirinya bisa dibeli di selakangan otoriter bangsa
A

sama siapa kami bicara,mahasiswa

Begitu hebatkah waktu yang di kala ini
Hebatnya membuatku mulutku gentar untuk menantang
Tanganku gemetar sking hebatnya
Stiap jaman di ganti dengan semboyan bru
Menciptakan lebih banyak dri pada menjalankan
membuat kita hanya terpaku diambang dua kehidupan
Pasrah akan nasib yng tlah diukir di nisan nisan di tanah lering
Tak ada lgi airmta
Tak ada lagi cinta
Semua tlah kembali ke alam sadar
Menanti mati adalah terbaik
Untuk kita renungkan

Sekali lagi mataku memerah tetapi tak segarang yg kemarin saudara
Ktika kehormatan ada diatas langit pertiwi
Kita berdiri bersama merongrong persaudaraan
Kutak melihat lagi manusia manusia gagah
Kutak melihat lgi manusia manusia yang siap mati
Dan kutak melihat lagi yang mau mati mememluk pertiwi
Satu persatu aku mengingati
Semanggi
Wajah mereka yang tak pernah habis di pikiranku
Apakah negeri terkubur ditangan pendatang baru yang mengerti sejarah
Kukan merindumu di seberang lautan kemiskinan
Saudara engkau dengarkah suara ini
Apakah engkau enggan tuk melawan
Apakah harga diri kerakyatan bisa dijilatin seperti sapi perahan
Kemana kalian saudaraku..
Kemana kalian para pengecut
Kemana kalian para penakut
Kemana kalian yang mengaku para demokrat
Pembaruan,sang nasionalis
Apakah klalian gentar menatap hentakan penguasa
Katakan padaku
Ungkapkan kepadaku
Apakah kita terlahir seperti para pengecut
Yang bertelanjang dada di pasar kerakyatan

Enggan aku menjawab semuanya
Kuhanya tertunduk lesu membusung ke tanah
Malu aku mengatakan
Benci aku untuk menyampaikan
Telingaku tlah menjadi karatan mendengar pendritaan bangsa ini
Di ujung dunia para nelayan enggan untuk berlayar
Para petani menunggu mati di sawah sawah yg kering
Mahasiswa terlahir seperti pengecut
Yg engganm untuk hidup
Dan kumasih teringat wajah mereka
Yang diam di rumput semanggi

Senin, 19 Maret 2012

Tak ada yg perlu ditakutkan dlm hidup bila kita selalu berbuat baik

Satu hal yang kutakuti adalah melukai hati orng baik krna orang baik sangatlah susah dicari


Kepakkanlah sayapmu seperti sang garuda terbanglah setingginya hingga angin bosan membelaimu

Cita cita akan menajdi indah bila para pengecut tidak laknat memperdaya para pengecut di senayan

Sabtu, 17 Maret 2012

Sebab segalanya tak mungkin seperti harapan kita baiknya kita bersikap realistis pada kebijakan nurani,menjdikan hidup menjadi indah adalah di saat kita mampu menjadi orang yang paling bodoh

Kebenaran hanya terjadi sekali dan hasilnya kan menjadi abadi

Mulut berhias dengan lipstik tetapi hati yang bersih mampu menyelamatkan ribuan bangsa

Kemenangan adalah sebuah episode,bersambung tiada henti
Dan menceeritakan yang tlah menjadi akhir kisah tetapi cintaku kan suci seperti sungai di siantar


Satu hal yg kunantikan adalah menjadi gitar ,menghibur siapa saja yang mendengar

Orang pintar biasanya orng yg berbicara dgn wajah melihat ke bawah dan mengatakan pada dirinya dia adalahj seorang pengecut

pedang keadilan

Dan sprti anak yg disapih
Hidupku ada berdiri pada dinding yang tak bersuara
Speri api yanhg berada di bukit bukit karmel
Tempat singa betina dan singa jantan mengaum
Sehingga diantar ketakutanku aku hanya bisa terdiam
Sebab sesungguhya di negeri ini tidak ada lgi kejujuran

Apakah kecuranganmu tak terdengar para pencari tuhan
Dr ujung negeri yg satu ke ujung negeri yg lain
Tak ada pancasila yg menjadi ideologi bangsa
Sunyi sepi segenap negeri dengan kedurjanaan para moderta
Berapa lama lgi negerikan menjadi tandus
Sebab pedang kekalahan hanya berdiam dlm cengkeraman maut

Kamis, 15 Maret 2012

pikiranku menodai

Kepalaku tak biasanya mampu
Bertahan untuk menatap keningmu
Enyahlah pikiranku dari jelmaan wujudmu
Seperti angin yang benaran menamparku
Ingatkanku dlu perkasa seperti hutan
Kini darahku membanjiri pemikiranku dengan keengganaan hidup

Dulu pernah ada warna itu
Sekejap saja aku tlah terkesima
Ribuan puisi kuparkirakan di lubuk hatimu
Enggan aku bertanya
Enggan aku mempersoalkan
Kecantikanmu mengalahkan keagungan sang dirgantara
Burung pun hanya membisu
Kegilaanku terbawa dlm pemikirannya
Seperti inikah waktukan menjelang
Tersembunyi di kesombongan senyummu
Engkau bagaiakan debu
Sedikit saja beri kehangatan tetapi bisa menahan luka yang dlam
Membuunuh saja bagi orang yang tak mengerti pancasila

Aku terlahir dri cinta yang tlah pergi
Cinta itu terbawa di makam makam orang tuaku
Aku diajarkanya ttg falsafah negara
Aku di berkati dia dgn cinta yang tak pernah berhenti berbuah
Dan dendam itu tidak terpancar dri hidupku yang lunglai
Tiap waktu ak berubah menjadi bijaksana
Tiap jam aku berubah menjadi ksatria
Tiap hari napasku menjadi nafas kebenaran
Dan biarkanlah aku menancapkan pedangku ke langit nusantara
Berdiri di hadapan para pembelot bangsa
Bicara lantang dengan sdkit permainan
Dan di akhir hari dosa itu bisa terhapuskan


Dan biarlah semuanya menjadi kebanggaan
Di sini tak ada lagi kejujuran
Dan aku berdiri sprti tentara romawi
Terkubur dikubangan kejajahanaman penguuasa bamgsa ini

cinta simiskin

Tlah kuakui cinta ini
Dibalik dinding yang putih penuh noda
Lelah sudah aku membawanya
Menjadi beban di tiap langkah
Merasakan sebuah kerlipan yang berlinang
Cinta tak selamnya pelangi
Kehitamannya terlihat seperti parasit
Menjengkali hidupku yng miskin
Kularut dlam keheningan malam
Seperti biasa aku membelaimu di laguku
Dan biarlah aku bercermin pada dunia
Inilah aku apa adanya
Simiskin dri siantar

Minggu, 11 Maret 2012

erangan kebisuan

Sampaikan apakah ada cinta yang tersipu dibalik purnama
Dan katakan juga apa yang hadir di balik senyum
Indahmu bagaikan seroja
Membuatku gila membayangkan lingkaranmu
Memerah mewarnai kain hitam
Terperosok dalam kisah yaang berdebu
Mencintaimu dengan senafsu binatang
Kucinta caramu
Memanjakanku
Tergilaku di erangan deras keringatmu
Mengucur dan bergelora membuatku merinding
Hampir menjadi senyawa dlam gemerlap malam
Menembusi ke tulang menularkan bius yang putih
Meneriakimu dgn kata kata romantika
Sesaat menghembuskan cinta yg terlarang

guratan jiwa

Terbilangkan sudah guratan jiwa
Yg bak sampah membusuk di rongga dada
Kedipan malam menelanjangi sepi
Kita terbawa dalam kemerosotan moral
Kehilanganmu adalah ujung dunia tak tergantikan
Meski raut wajahmu kian menampar
Menggoreskan nama diatas panorama dunia

Jumat, 09 Maret 2012

masihkah engkau mengingatnya kawan

Dibalik surya kugenggam sebuah cerita
Beralaskan mimpi kuterbangun dri kesesakan dunia
Terhimpit di dua jurang yang saling berselisih
Ketika kehidupan tersalib di kubah jalanan
Menghempaskan kepintaran dikantung celana

Kita pernah berbagi kawan
Ketika hujan masihkah engkau mengingatnya
Ketika kita bercerita tentang sansiro
Ditepian sekolah dengan keberanian yang tersingkap di balik celana
Butuh usaha untuk pergi kesana
Menapaki waktu yang tlah berani menghapus satu persatu
Mimpi mimpi yang tlah lama menertawai
Tak satupun kita tepati

Berdentang sepi di bawah awan kulihati lagi bintang yang berbarisan di langit malam
Terbayarkan sudah aku mencoba mengingati mimpi kita
Terbayarkah mimpumu kawan
Tak terdengar kabar drimu
Disanakah dirimu berteriak dengan kencang seperti dilapangan sekolah
Atau aku dan engkaupun menjadi sembelihan
Terkiyak di ambangan kekalahan
Mati adalah awal dri kepengecutan
Uang merah berserakan di laci laci para journalis
Enggan untuk berbicara lantang ttg keruntuhan kesejahteraan rakyat
Berdelimutkan cerita yang usang
Berkelana seperti orang gila
Yang bajunya wangi
Debupun malu untuk menyapa

Seribu kemalangan hadir menyapa
Terpenjara di barisan para puisi
Berharap orang jujur menyimak
Apa uang kukatakan dengan seribu kicauan
Masihkah engaku mengingat kawan
Ketika senja masih tersirat
Enggan untuk tertidur
Mendengar lagu kita
Dan semuanya seperti kertas yang tak lagi perawan
Krna aku bukanlah aku lagi
Ada hantu di dalam napasku
Menunggu mati adalah akhlaknya
Masihkah engkau mengingatnya kawan

dilema cinta

Diantara luka yang masih menggema
Kebodohanku kurelakan menjadi ruang dlam segerombolan kekalahanku
Kita terpaku dlm dua cinta yg berbeda
Menapaki waktu yg tlah terhina
Menggapai kehormatan kemunafikan cnta
Sehelai wajah terllukis di kemerahan sang jingga
Senyumnya luluhkan seribu mentari yg tlah tenggelam
Karam sejauh samudera terhadir dlam kesepian
Kita terpenjara di hidangan para pecinta