hitam langit dengan gagahnya bersinar
Sang jendral hanya terpaku di tepian pantai
Menghitung harinya bersatu dengan alam
Membawa sejuta gundah di pelupuk malam
Banyak cerita yangkan mengalir
Tentang negeri uyang sangkut di tuan serakah
Kemerdekaan hanya milik pulau jawa
Sumatra hanya bagian dri ter
Selasa, 30 Agustus 2011
Apa yang bisa aku katakan
Apa yang bisa aku sampaikan
Ketika merah putih enggan berkibar
Diam membisu sediam sang samudera
Hening dan tak bersuara membelai sang angin
Ada apa gerangankah semuanya ini
Mengapa ada cerita terlahir di balik sejarah
Menipu dengan sajadah kiblat merah
Tawarkan rindu di sajadah kenangan
Terlintas satu persatu kebobrokan bangsa ini
Kita hanya melihat
Kita hanya mendengar
Kita hanya menjadi penonton
Dari cerita yng lahir monoton
Tanpa ada aktor si terdakwa terbelenggu di barisan penghianat bangsa
Siapakah kita di gelombang kemajuan bangsa
Apakahj ada yang bicara lantang di gedung penghakiman
Yang merobek robek dasinya di hamparan kemiskinan bangsa
Berdiri dengan gagah layaknya sisingamangaraja
menjadi taring di kegelapan cakrawala
Menjadi besi membasmi si manusia serakah
Aku hanya bicarak hanya barisan kata kegelisahan
Ketika para monyet di senayan telanjang dada
bicara layaknya seperti sang koruptor
Apa yang bisa aku sampaikan
Ketika merah putih enggan berkibar
Diam membisu sediam sang samudera
Hening dan tak bersuara membelai sang angin
Ada apa gerangankah semuanya ini
Mengapa ada cerita terlahir di balik sejarah
Menipu dengan sajadah kiblat merah
Tawarkan rindu di sajadah kenangan
Terlintas satu persatu kebobrokan bangsa ini
Kita hanya melihat
Kita hanya mendengar
Kita hanya menjadi penonton
Dari cerita yng lahir monoton
Tanpa ada aktor si terdakwa terbelenggu di barisan penghianat bangsa
Siapakah kita di gelombang kemajuan bangsa
Apakahj ada yang bicara lantang di gedung penghakiman
Yang merobek robek dasinya di hamparan kemiskinan bangsa
Berdiri dengan gagah layaknya sisingamangaraja
menjadi taring di kegelapan cakrawala
Menjadi besi membasmi si manusia serakah
Aku hanya bicarak hanya barisan kata kegelisahan
Ketika para monyet di senayan telanjang dada
bicara layaknya seperti sang koruptor
Rabu, 24 Agustus 2011
cerita usang
kuhanya mampu untuk membisu di balik sNG PUJANGGA
SYAIRKU TLAH MENYERUAK BAK SERIGALA DI LOLONGAN GETIRNYAS MALAM
NAPASKU TLAH BERUBAH SEKALI KALI DENGAN DENTUMAN MERIAM
MEMACU APA SAJA YANG TERSISA DI BALIK KERINGAT YANG MENDERU
AKU MASIH SAJA DIAM DIATAS SEBUAH KEBODOHAN
TERCAMPAK DI HAMPARAN DUNIA KOSONG
BERMIMPI SENJAKAN DATANG DENGAN SEJUTA KEDAMAIAN
AKANKAH ADA HARAPAN
AKANKAH SANG PENCERAHKAN terlahir
bangkit dari pintu pintu orang bijaksana
yang pedangnya dialiri suara keadilan
apakah ada yangkan mendengar setiap lafal kebobrokan negeri ini
si presiden hanya bisa terdiam di altar istana dengan kecapi melambai lambai layaknya seperti pengecut berpakaian wanita
menghibur si manusia bijaksana dengan kemarahan yang terpendam
kemanakah perginya si century
akankah diakan berpaling dari kebodohan bangsa ini
terdengarkah kemerdekaan si gayus
terabaikan dengan derap langkah komplotan penghianatan negeri
masih banyak lagi
hingga satupun berlalu seperti hantu
lapindo menyendiri dikamar bagasi mobil mewah
hotel berdiri layaknya seperti surga
kucing garong,kambing jantan ataupun itu berpesta dengan sekuntum keharmonisan
menerbarkan cinta yang terjual di tanah pegadaian
dan ical pun tersenyum di balik meja dengan dasinya memutih
berkaca di hamparan topeng yang di perdebatkan
ada tangis menyeruak hingga kini
suaranya melambai lambai terdengar lalu pergi
kembali sinazaruddin bak sampah yang tergadai di selokan
menghakimi si tikud tikus dengan kumisnya
membumi hanguskan kaum bijak dengan kecohan segelas kopi
hatipun tertawa semuanya terkubur di lemari besi
waktu hanya tersenyum di balik keserakahan anak bangsa
semuanya seperti harta karun yang tak terbeli
pergi begitu saja
dihapus sejarah situan susilo
si mega hanya terdiam disisi prabowo
seperti kakek dan nenek menanti hancurnya negeri ini
akankah ada ksatria dari siantar
pancarkan sejuta pelangi di pelupuk timur
menyambut sang mentari dengan untaian puisi puisi kedamaian
SYAIRKU TLAH MENYERUAK BAK SERIGALA DI LOLONGAN GETIRNYAS MALAM
NAPASKU TLAH BERUBAH SEKALI KALI DENGAN DENTUMAN MERIAM
MEMACU APA SAJA YANG TERSISA DI BALIK KERINGAT YANG MENDERU
AKU MASIH SAJA DIAM DIATAS SEBUAH KEBODOHAN
TERCAMPAK DI HAMPARAN DUNIA KOSONG
BERMIMPI SENJAKAN DATANG DENGAN SEJUTA KEDAMAIAN
AKANKAH ADA HARAPAN
AKANKAH SANG PENCERAHKAN terlahir
bangkit dari pintu pintu orang bijaksana
yang pedangnya dialiri suara keadilan
apakah ada yangkan mendengar setiap lafal kebobrokan negeri ini
si presiden hanya bisa terdiam di altar istana dengan kecapi melambai lambai layaknya seperti pengecut berpakaian wanita
menghibur si manusia bijaksana dengan kemarahan yang terpendam
kemanakah perginya si century
akankah diakan berpaling dari kebodohan bangsa ini
terdengarkah kemerdekaan si gayus
terabaikan dengan derap langkah komplotan penghianatan negeri
masih banyak lagi
hingga satupun berlalu seperti hantu
lapindo menyendiri dikamar bagasi mobil mewah
hotel berdiri layaknya seperti surga
kucing garong,kambing jantan ataupun itu berpesta dengan sekuntum keharmonisan
menerbarkan cinta yang terjual di tanah pegadaian
dan ical pun tersenyum di balik meja dengan dasinya memutih
berkaca di hamparan topeng yang di perdebatkan
ada tangis menyeruak hingga kini
suaranya melambai lambai terdengar lalu pergi
kembali sinazaruddin bak sampah yang tergadai di selokan
menghakimi si tikud tikus dengan kumisnya
membumi hanguskan kaum bijak dengan kecohan segelas kopi
hatipun tertawa semuanya terkubur di lemari besi
waktu hanya tersenyum di balik keserakahan anak bangsa
semuanya seperti harta karun yang tak terbeli
pergi begitu saja
dihapus sejarah situan susilo
si mega hanya terdiam disisi prabowo
seperti kakek dan nenek menanti hancurnya negeri ini
akankah ada ksatria dari siantar
pancarkan sejuta pelangi di pelupuk timur
menyambut sang mentari dengan untaian puisi puisi kedamaian
Selasa, 23 Agustus 2011
ada
Ada kata terlahir dr sbuah tanya
Ada jiwa yang mati di hamparan tepian ke kalahan
Berlari riak di tepian kegelisaan
Siapakah ak yang berlalu seperti angin
Ada jiwa yang mati di hamparan tepian ke kalahan
Berlari riak di tepian kegelisaan
Siapakah ak yang berlalu seperti angin
ada
Ada kata terlahir dr sbuah tanya
Ada jiwa yang mati di hamparan tepian ke kalahan
Berlari riak di tepian kegelisaan
Siapakah ak yang berlalu seperti angin
Ada jiwa yang mati di hamparan tepian ke kalahan
Berlari riak di tepian kegelisaan
Siapakah ak yang berlalu seperti angin
Kamis, 18 Agustus 2011
Senin, 01 Agustus 2011
risah
hentaian angin malam meneriaki ku dengan seribuan fajar menyingsing
terlalu riuh aku melambai pada suatu akhir cerita
diam hanya bisa aku lakukan bersanding dengan segala risau hati
biarkanlah waktu menjadi saksi kisahku
kumelambai lambai riak menyapa weajah wajah terhormat
kuberharap fajarkan menyingsing laksana kicauan burung bernyanyi
damaikan gemuruh bijaknya nafasku mengalir seperti air terjun niagara
genderang perang tlah bertabuh di pelupuk mata
siap tempur adalah hakikatnya siapakah kita yang bertarung di angkuhnya malam
pernahkah kita teringati di hamparan sawah desa.....
terlalu riuh aku melambai pada suatu akhir cerita
diam hanya bisa aku lakukan bersanding dengan segala risau hati
biarkanlah waktu menjadi saksi kisahku
kumelambai lambai riak menyapa weajah wajah terhormat
kuberharap fajarkan menyingsing laksana kicauan burung bernyanyi
damaikan gemuruh bijaknya nafasku mengalir seperti air terjun niagara
genderang perang tlah bertabuh di pelupuk mata
siap tempur adalah hakikatnya siapakah kita yang bertarung di angkuhnya malam
pernahkah kita teringati di hamparan sawah desa.....
Langganan:
Postingan (Atom)
