Senin, 19 April 2010

merdeka

hanya selembar kertas putih yang akan kusampaikan
dianatara jalan gelap menerawang di sudut desa
tak ada suara
tak ada manusia
hening
seakan aku sendiri
aku masih muda aku hanya anak desa
berlari dari desa ke desa yang lain
menyelinap diantar nisan nisan yang membeku di bulan purnama
meneriaki napasku dengan rasa berani
kabarnya kepada negeri
siap untuk menyerang
aku masih muda kawan
aku sebarisan di perang terbuka
senjata di tangan berbaur dengan indonesia raya
mati adalah akhirnya
di nisan tua aku masih muda
mengoyak sang pusaka dengan tubuh terdampar di tanah
tersipu di nanar keberanian
mati di pelikan sang merah putih

jatuh cinta

diamnya aku hanya sedetik
kalahnya aku hanya sehari
musnahnya aku hanya sebulan
dan aku yang tak pernah di cintai
terpaku di siang malam
di hamparan laut kusematkan cintaku
biarlah tuhan yang langsung mengatakannya

ada ceritaku

aku hanya likisan sang pengecut
yg mengalir di atas tahta sang pengemis
sujud di altar kebodohan
diam menepi seperti pasir di tepi selokan
menanti arus pasang menerawang terbentang ke angan angan
angan itu tertanam entah kemana satu persatu hilang seperti century
meneriaki maling dengan sebutan langlinglung
membingungkan telinga si bodoh di selokan
menangisis derap langkah pemulung waktu
bergantung di jalan kerikil
dari jaman hingga matahari terbenam
negeriku melangkah kaki seribu
langkahnya terdengar membisingkan si durjana
penggusuran ........
rumah yg bermimpi anak nak bangsa
tergadai di hitam nya senyum sang penguasa
berakhir di perempatan jalan
koran......koran tak berijasah
semuanya seperti wangi permadani
suara suara merdu beraroma duniawi
tertawanya si tante girang
pelacur jadi barang oplosan.....
aku hanya diam di selokan pasir putih adalah pahlawan terbaikku
menantang di jalimi sudah biasa
si kaya berkaca di dinding permata simiskin berlutut di altar penantian
negeriku tertanam di selokan selokan gedung senayan

Kamis, 15 April 2010

tanjung priuk

aku melihat
aku mengerti
aku berpikir dan
aku menangis
kembali negeriku memb ara
sejumlah jiwa yang hina bertempur di atas surban
menahan setiap tawa dia atas napas penggusuran
aku hanya diam di balik dinding
aku hanya membisu tak mampu berkata
kuhanya berpikir di balik tetes air mataku
aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku
kemarin masih kita lihat kita bersama
menantang sang penguasa di senayan
kemarin masih jelas kita bergandengan tangan
beriringan menyapa sombongnya di senayan
teriakan kita bergema hingga fajar menyapa
meledak dan bergema sekali negeri kehilangan
korban ditebas di depan mata
korban menangis tertelungkup dengan sebilah balok
bocah kecil melempari batu melindungi si bapak
hentakan negeri dengan sebuah mata nanar
sekali lagi negeri ku menangis
di atas jubah sang ilahi

Minggu, 04 April 2010

dengan cinta

dengan cinta kukatakan seutas harapan
dengan cinta juga kulukiskan seribu pelangi
kuhanya akar yg berserakan di bawah ;langit
seuntai napas kehidupan terselip di untaian seribu cerita
aku terasing di kota ini
semua bersatu menamparku dengan keras
semua bersama dengan sombongnya mengakali aku
kata kata bakpuisi tetapi na[pasnya berbau ketamakan
aku yg terkalahkan hanya mendengar
impian mereka dibalik jubah hitamnya
pintar berkata bijak berpuisi
senyum ramah dengan segumpalsimpati
tak peduli setetes pengharapan