Jika ada satu kebodohan orang munafik adalah bila dia hanya beranggapan surga itu tak ada
Langkahku tlah berhenti tepat diatas ke biadaban otakku yangselalu berharap ada keajaiban hadir di depan mata
Senin, 23 Juli 2012
Minggu, 22 Juli 2012
mentari
Tak bosankah engkau mentari memaki tubuhku
Dibalik kesombonganmu terlihat jelas angkuhmu
Mendandani hidupku yang tlah mati
Gusar hati penuh dendang
Terjawab sudah putihnya langit
Diluar sana pun tak ada harapan
Mati adalah ujungnya
Dan viarlah semuanya membisu
Dibalik kesombonganmu terlihat jelas angkuhmu
Mendandani hidupku yang tlah mati
Gusar hati penuh dendang
Terjawab sudah putihnya langit
Diluar sana pun tak ada harapan
Mati adalah ujungnya
Dan viarlah semuanya membisu
Kamis, 19 Juli 2012
Jumat, 13 Juli 2012
Rabu, 11 Juli 2012
Selasa, 10 Juli 2012
Rabu, 04 Juli 2012
Selasa, 03 Juli 2012
sahabatku
apa yang engkau pikirkan sahabnatku
Apa yang engkau inginkan wahai kawan
Bukankah mentari selalu ceria menanti kedatanganmu
Apakah kabar yang engkau ingin sampaikan
Tak bosankah suara azan menjadi penyemangatmu
Jangan bermimpi akan indahnya surga
Itu tidak ada dan tak nyata
Tak ada satupun bersaksi melihat indahnya surga
Biarlah kita bertarung dengan waktu
Hingga tuhanpun tahu ada doa terbungkus dikekalahan
Apa yang engkau inginkan wahai kawan
Bukankah mentari selalu ceria menanti kedatanganmu
Apakah kabar yang engkau ingin sampaikan
Tak bosankah suara azan menjadi penyemangatmu
Jangan bermimpi akan indahnya surga
Itu tidak ada dan tak nyata
Tak ada satupun bersaksi melihat indahnya surga
Biarlah kita bertarung dengan waktu
Hingga tuhanpun tahu ada doa terbungkus dikekalahan
aku bukan penyair
Aku bukan penyair
Datang dari negeri air
Akubukanlah sang ksatria datang dari kota siantar
Aku adalah aku
Apa yang aku lakukan sepertu awan yang diatas
Sana
Setia selalu menjadi saksi kehancuran dunia
Ketika tangan tangan kerakusan berubah menjadi ketamakan
Tak satupun yang mengerti dan peduli
Bahkan aku hanya bisa terdiam
Hutan terabaikan di tanah yang gersang
Aku bukanlah sang penyair
Aku bukanlah sang gelombang
Memangsa penduduk bumi dengan kutukan tsunami
Aku adalah aku
Aku melihat kerakusan para kaum bijaksana
Tepat di mulut mereka
Menjual apa saja kekayaan negeri
Dan menaruhnya di lemari besi
Yang sebagian isinya dimantarai dengan kejujuran yang berdalih diatas kemanusian
Tak terpikirkan apa yang tertahan di gelombang tragedi
Bencana menjadi tangan tuhan yang maha adil
Tak tertawar sedemikian rupa hingga belatung enggan berdiam di bangkai manusia
Aku bukanlah penyair
Aku hanyalah sebagian kisah
Kisahku adalah sebuah perjalananku
Terkalahkan diatas pelangi
Dan diremukkan oleh singasana
Ketika pendidikan milik kaum soeharto
Kemanakah yang pintar melangkah?
Kami berdiam di luabang lubang kenistaan
Membisu dengan sebuah ungkapan
Puisi menjadi sahabat terbaik terselip disenja tlah berkumandang
Berpikir tlah menjadi batu sandungan
Tersenyum menyebabkan kegalauan hati
Mundur adalah terbaik
Diatas harapan yangkan hadir di depan ruimah kita
Berharap tak ada lgi ketakutan
Seperti kami para manusia kalah
Aku bukan penyair. Aku adalah harimau
Aku pembunuh dri siantar
Aku tak gentar pada siapapun
Pedang ditangan sekali berkumandang enggan tak bertanya
Kepakkan sayap mengejar para belalang dimanakah kita yang mengalir
Jauh di hulu terbayang surga
Dan hanya kematian yangkan memanjarakan keberanian
Aku bukanlah sang penyair
Aku adalah sang pemikir
Jangan tanyakan padaku apa arti dari ideologi
Ijinkanlah aku membuka satu persatu kedurhakan si kaum laknat
Banyak cerita yang di pikirkan di selangkangn mereka
Apa daya dan tak terjamah perilaku monyet senayan
KPK terhimpit di gedung tua
Kusam kakinya tak nergerak
Diabaikan adalah kesepakatan si kaum usang
Hingga manusia dari gua
Nyanyiakan adzan di siang bolong
Berontak untuk keagungan
Aku bukanlah sang penyair
Aku bukanlah jg sebagai pangeran
Aku bukanlah sang pemikir
Tapi aku adalah aku
Aku dan engaku satu falsafah
Demi indonesia
Pernah kah kita merenung!!
Apakah negeri ini kebenarannya tlah merdeka!!
Datang dari negeri air
Akubukanlah sang ksatria datang dari kota siantar
Aku adalah aku
Apa yang aku lakukan sepertu awan yang diatas
Sana
Setia selalu menjadi saksi kehancuran dunia
Ketika tangan tangan kerakusan berubah menjadi ketamakan
Tak satupun yang mengerti dan peduli
Bahkan aku hanya bisa terdiam
Hutan terabaikan di tanah yang gersang
Aku bukanlah sang penyair
Aku bukanlah sang gelombang
Memangsa penduduk bumi dengan kutukan tsunami
Aku adalah aku
Aku melihat kerakusan para kaum bijaksana
Tepat di mulut mereka
Menjual apa saja kekayaan negeri
Dan menaruhnya di lemari besi
Yang sebagian isinya dimantarai dengan kejujuran yang berdalih diatas kemanusian
Tak terpikirkan apa yang tertahan di gelombang tragedi
Bencana menjadi tangan tuhan yang maha adil
Tak tertawar sedemikian rupa hingga belatung enggan berdiam di bangkai manusia
Aku bukanlah penyair
Aku hanyalah sebagian kisah
Kisahku adalah sebuah perjalananku
Terkalahkan diatas pelangi
Dan diremukkan oleh singasana
Ketika pendidikan milik kaum soeharto
Kemanakah yang pintar melangkah?
Kami berdiam di luabang lubang kenistaan
Membisu dengan sebuah ungkapan
Puisi menjadi sahabat terbaik terselip disenja tlah berkumandang
Berpikir tlah menjadi batu sandungan
Tersenyum menyebabkan kegalauan hati
Mundur adalah terbaik
Diatas harapan yangkan hadir di depan ruimah kita
Berharap tak ada lgi ketakutan
Seperti kami para manusia kalah
Aku bukan penyair. Aku adalah harimau
Aku pembunuh dri siantar
Aku tak gentar pada siapapun
Pedang ditangan sekali berkumandang enggan tak bertanya
Kepakkan sayap mengejar para belalang dimanakah kita yang mengalir
Jauh di hulu terbayang surga
Dan hanya kematian yangkan memanjarakan keberanian
Aku bukanlah sang penyair
Aku adalah sang pemikir
Jangan tanyakan padaku apa arti dari ideologi
Ijinkanlah aku membuka satu persatu kedurhakan si kaum laknat
Banyak cerita yang di pikirkan di selangkangn mereka
Apa daya dan tak terjamah perilaku monyet senayan
KPK terhimpit di gedung tua
Kusam kakinya tak nergerak
Diabaikan adalah kesepakatan si kaum usang
Hingga manusia dari gua
Nyanyiakan adzan di siang bolong
Berontak untuk keagungan
Aku bukanlah sang penyair
Aku bukanlah jg sebagai pangeran
Aku bukanlah sang pemikir
Tapi aku adalah aku
Aku dan engaku satu falsafah
Demi indonesia
Pernah kah kita merenung!!
Apakah negeri ini kebenarannya tlah merdeka!!
Senin, 02 Juli 2012
ketakutanku
Gelombang lautan menderu diatas kepalaku
Seiring waktu yang tak terbatas mengilhami pemikiranku
Ada sesuatu yang hadir dengan seribu kegalauan
Berani berdiri sedikit lentur
Mencoba menghindar diterkam kekalahan
Segala kebaiakan kin tlah kulihat tak lagi segarang para ksatria
Semua tertanam sedemikian rupa tanpa ada yang mengingatkan
Tak berdaya
Tapi aku melihatnya satu persatu mereka kembali
Memakan apa saja yang perlu dimakan
Kitab tuhanpuan dijadikan metode keserakahan
Tanpa takut akan darah yang mengalir
Dan diperdebatkan di atas taruhan anak bangsa
Sekian dlam hentakan jiwa yang terabaiakan
Aku berkata kepadamu selagi aku bisa melihat
Dan aku berpikir
Semua kebenaran ini akan menjadi perbedaan antara kaum bijaksana yang tenggelam
Dimana menanti waktu yang tepat membelah langit
Menunjukkan pancaran kejujuran
Dan rasa takutku terbukti benar
Satuy persatu garuda bangsa tlah berani
Blak blakan menantang keangkuhan paradigam bangsa yang selalu beradegan layaknya aktor
Ditunjukkan kejaliman harus di gelandang ke sembelihan
Mereka bangkit di atas gelombang
Dan terpilih seperti yang tlah kukatakan kepadamu sebvelumnya
Dimana di hatinya tlah berbunga
Harumnya trntang kebaiakan dan kejujuran
Kaum bawah tlah bersatu ketika mgaruda bangsa di katakan pelacur
Akan bangkit serigala serigala yang siap mati demi kepancasilaan
Mengangkat kepalan tangan
Turun ke jalan dengan ganasnya merobek merah putih di rumah rumah orang kaya
Dam mengibarkan merah putih 45 di atas jendela rumah kita
Aku takut untuk mengatakan ini sebelumnya
Kehancuran bangsa ini tlah jauh berjalan
Kita tak dipimpin selayaknya anak domba
Kita di beringas seperti air yang penuh rawa
Enggan hidup itulah gambarannya
Dan punya wajah yang menjijikkan
Ketakutanku dilandasi lkepada apa yang kulihat dan kupikirkan
Seiring waktu yang tak terbatas mengilhami pemikiranku
Ada sesuatu yang hadir dengan seribu kegalauan
Berani berdiri sedikit lentur
Mencoba menghindar diterkam kekalahan
Segala kebaiakan kin tlah kulihat tak lagi segarang para ksatria
Semua tertanam sedemikian rupa tanpa ada yang mengingatkan
Tak berdaya
Tapi aku melihatnya satu persatu mereka kembali
Memakan apa saja yang perlu dimakan
Kitab tuhanpuan dijadikan metode keserakahan
Tanpa takut akan darah yang mengalir
Dan diperdebatkan di atas taruhan anak bangsa
Sekian dlam hentakan jiwa yang terabaiakan
Aku berkata kepadamu selagi aku bisa melihat
Dan aku berpikir
Semua kebenaran ini akan menjadi perbedaan antara kaum bijaksana yang tenggelam
Dimana menanti waktu yang tepat membelah langit
Menunjukkan pancaran kejujuran
Dan rasa takutku terbukti benar
Satuy persatu garuda bangsa tlah berani
Blak blakan menantang keangkuhan paradigam bangsa yang selalu beradegan layaknya aktor
Ditunjukkan kejaliman harus di gelandang ke sembelihan
Mereka bangkit di atas gelombang
Dan terpilih seperti yang tlah kukatakan kepadamu sebvelumnya
Dimana di hatinya tlah berbunga
Harumnya trntang kebaiakan dan kejujuran
Kaum bawah tlah bersatu ketika mgaruda bangsa di katakan pelacur
Akan bangkit serigala serigala yang siap mati demi kepancasilaan
Mengangkat kepalan tangan
Turun ke jalan dengan ganasnya merobek merah putih di rumah rumah orang kaya
Dam mengibarkan merah putih 45 di atas jendela rumah kita
Aku takut untuk mengatakan ini sebelumnya
Kehancuran bangsa ini tlah jauh berjalan
Kita tak dipimpin selayaknya anak domba
Kita di beringas seperti air yang penuh rawa
Enggan hidup itulah gambarannya
Dan punya wajah yang menjijikkan
Ketakutanku dilandasi lkepada apa yang kulihat dan kupikirkan
aku tak butuh pujianmu
Tak gentar darah ini untuk sekali menantang
Tak takut aku menebas sebuah keangkuhan
Tak rela aku engkaupun tertawa
Di atas gelombang kekalahan kaum dhuafa
Apa yang engkau katakan tak membuatku gentar
Apa yang engkau rasakan membuat darahku muak
Semakin lama engkau berdiri di altar penuh dongeng
Semakin pula aku menawanmu dikelaknatan senja
Jangan sampaikan padaku kemarahan
Dan jangan pula engkau mengaanggapku sempurna
Buang semua prasangkamu
Aku tak butuh perkataanmu
Kata kata yang selalu mengungkap durhaka
Dan biarlah engkau menyampaikannya pada ilalang yang tak kuning
Tak takut aku menebas sebuah keangkuhan
Tak rela aku engkaupun tertawa
Di atas gelombang kekalahan kaum dhuafa
Apa yang engkau katakan tak membuatku gentar
Apa yang engkau rasakan membuat darahku muak
Semakin lama engkau berdiri di altar penuh dongeng
Semakin pula aku menawanmu dikelaknatan senja
Jangan sampaikan padaku kemarahan
Dan jangan pula engkau mengaanggapku sempurna
Buang semua prasangkamu
Aku tak butuh perkataanmu
Kata kata yang selalu mengungkap durhaka
Dan biarlah engkau menyampaikannya pada ilalang yang tak kuning
Langganan:
Postingan (Atom)
