Senin, 24 Oktober 2011

Kusampaikan dengan indah ttg cinta
menyapa di hamparan langit biru
Berkumandang di atas sesuatu yang hina
Engkau dan aku bersanding di riak gelombang rindu yg dalam
Teringat kembali akan senyummu
Membara seperti salju di hatiku kering
Kenangan indahmu kembali membanjiri stiap jengkal pengharapanku
Mengutuki tetapi masih mencinta
Menyesali namun masih membayang
Dan hanya mengenangmu disis waktu yang berjalan

Sepertinya cinta ini memaksaku
Utk berkata bahasa roh
Kasihku ....
Masihkah adakah cinta yg kutinggalkan milikku
Apakah dirimu jg merasakan rinduku yg dasyat
Yg siap meledak sprti gunung krakatau
ataukah drimu kini terhenti
Di malam malam pelukan sang kumbang
Menanti nanti driku dari seberang
Tak kunjung datang
Dan dirimu rebahan di ilalang depan rumahmu
Biaskan penantianmu di antara orang yang lalu lalang
Tercium aroma kemapanan akan seorang bangsawan
Terbawa dalam cerita sang kekasih
Meninggalkan yang tlah pergi selamanya
Kekasih yang pernah beriktiarkan kembali ke pangkuan
samapai kapankah aku menanti
Terlewati waktu hentikan penantian
Terdengarkah nyanyian rinduku
Abadikah cinta yg tlah ku titipkan
Mengapa tak ada tanya darinya
Terjebakkah dia di gedung gedung tua
Atau tertidurkah dia di hamparan kemunafikan
Tersalib dlam seribu kepecundangan
Malu untuk kembali pulang

Kusandarkan cinta tertawa dalam kisah penggalan
Kupergi dengan cinta terselubung
Antara langit dan bumi
Perbedaan antara kisah yg tlah melayang
Lelaki yg miskin dan penuh kesengsaraan
Anak yatim piati yg tak kenal ayah dan ibu
Di gubuk tua mengharap belas kasih
Berjuang sendiri dengan mimpi yg terjual
Hanya langit biru yang menjadi teman
Dan secuil tanda lahir bahwa aku pernah ada
Hidup diantara manusia serakah
Dibuang ke sungai tak punya nama

Senyum menyapa diantara perjalan jauh
Tawa hadir berjalan di lorong lorong pintu yang pernah terlewati
menahan napas menanti kejutan
Masa kecil yg penuh kesendirian
Kucari cari wajah wajah yg dlu
Menjadi sahabat menembus waktu
Tertawa dan bercanda
Dipukulin dan di ludahin
Dicaci dan dimaki
Berlari lari mengejar matahari dan tertidur dlm dekapan risau hati
Apakah mentari kembali menyapa


Jauh kutatap nanar wajah tua
Kerutnya terlihat terbelenggu dalam penderitaan yang dalam
Suaranya teriakkan namaku di bibirnya yg kering
Lidah enggan dengan lantang memanggilku
Aku berlari dengan sedikit berpikir
Kudekat dan memelukku tubuhnya
Airmata berjatuhan dengan riaknya
Menembus kesepian menoleh kepadaku
Ada guratan keterkejutan dan kegemparan akan sosok tubuhku
Kupandangi wajah mereka dengan senyuman
Tp mereka membalas dengan senyuman seadanya
Senyum mereka tidak seindah yg dlu
Terlihat kaum tetangga yang kaya lusuhnya sperti pengemis
Mereka sprti mayat yg berjalan
Tak punta harapan dan perjalanan
Mereka hanya terdiam dimana mereka berdiri
Seakan aku sesosok penampakan yang biasa bgi mereka
''Ada apa gerangan dengan semua ini,apa yang tlah terjadi ibu"tanyaku dengan suara menderu
Dengan isak tangis si ibupun tertegun menatap mataku"setelah kepergianmu raja kita mangkat dri tahta dan digantikan oleh sang pangeran.kami mengharapkan pangeran itu sebijaksana dgn ayahnya tetapi tidak seperti yg kami harapkanmdia memperbudak kaum kita,berpesta pora dan memperkosa setiap anak dara negeri ini menjadi gundignya,dia menetapkan biaya pajak yg setiap tahun naik .siapapun yang melanggar perintahnya akan di cap pembelot kerajaan dan englkau tahu sahabatmu masa kecilmu terbelenggu di penjara martabe dan di hukum gantung tanpa ada pembelaan yg semestinya"sekejap saja airmtanya membasahi pipinya yang berkerut .ibu tua itu menangis sejadi jadinya di pelukanku.lanjutnya"baiknya engkau tlah kembali dari negeri seberang,laparkah dirimu,anakku."

Kurangkai kembali sisa hidupku yng tlah berjalan diantart dunia penuh dusta
Kucoba menahan seribu dendam pemberontakan
Terlahir kembali menggapai galau risau dalam

hidup adalah penuh dengan kehormatan

aku tidak menghormati orang yang memiliki segalanya dengan ijasah maupun yang di beli dengan menggadai persawahan bapaknya
karena ijasah dan perangkat pemerintahan di negeri ini bisa dibeli dengan keagungan sang materi tapi aku mau menghormati orang yg berjuang menapaki kerikil tajam dengan segala keinginan yg tersimpan di hatinya untuk maju di depan
aku tidak mau menghormati para kacung kacung polisi karena seragamnya sama halnya dengan noda darah yag tersirat diatas para pengecut
tapi aku mau menghormati tukang sampah dimana dengan usahanya dan keringtnya menapaki hidup untuk tetap tersenyum
aku paling benci apa yang namanya kesombongan karena kesombongan sama halnya dengan ketidak jujuran
tapi aku menghormati kaum inteltualyang mau bersama denganku untuk selalu mendoakan negeri ini
sama halnya dengan aku,aku hanyalah puisi puisi yang terselip di buku buku para kaum moderat
pemberontakanku adalah awal dari kekalahanku,aku terkubur seperti halnya para pengecut
aku dikalahkan negeri ini untuk berlari ke negeri lain
ketika pendidikan adalah emas di jembatan bailonia
di tawarin dengan kilauan kedurhakaan dan kemewahan
itu adalah aku dan napasku hanya sedekat kematian
biarkanlah semuanya terjadi di bawah garis tangan
hidup adalah penuh dengan penghormatan
dan mati juga disambut dengan sukaci8ta
teriakkanlah semua idealismemu di atas awan seperti halnya para burung yng terbang berkejaran,dan kejarlah semua mimpimu dengan semua tenagamu

negeri tercinta

dengan rasa haru aku hanya bisa tertawa menatap satu persatu kisah kisah yang tlah terlewati dan kini bersandar pada naungan sebiji harapan krna hari harapanku kurasakan bangkit kembali
banyak cerita yg ingin kusandarkan padam,u saudara tapi hati ini hanya bisa tertawa dalam keheningan malam tertidur dalam batu yang jayh dari tanah
seperti itunya hal aku
bernazar dan bernapas hanyalah sebuah cinta cinta yang bertepi dalam satu pemandangan ttg bangsa ini yang tlah diobrak abrik tangan tangan pemerintahan yg rakus dan tak bertuhan.kita lihat bagaimana negeri ini hanyalah bisa berharap dan menanti tetapi apakah yang kita tunggu tunggu akan datang,dan apakah kita hanya akan juga mendiam di sawah sawah berselimutkan ijasah yang hanya membeku di langit impian kita yg kosong dan apakah kita hanya bisa melihat merasakan seolah tak mahu tahu,pikirkanlah ini saudaraku
kita sudah di injak injak bahkan kita sdah tenggelam di samudera yang namanya juga tak terdaftar di ambangan daratan negeri ini,ketidak adilan para penguasa tlah memperkosa mimpi mimpi anak anak kita,ilhamkanlah dri kita ,kita adalah bagian yang terakhir yang terbuang di negeri sendiri kita bangkita untuk bertanya.kemanakah keadilan itukan di tegakkan?adakah terdengar pangeran dri bukit bukit,dari hutan rimba,samudra apakah ada ksatria dari hutan rimba untuk berlari menancapkan reformasi....
ada baiknya bersama sama ,mengorganisir kita yang didasari pancasila mengangkat bendera tegakkan keadilan dan kebenaran walau mentari enggan untuk menyinari kita kan selalu berada di depan menerjang kerakusan para pemnguasa. kita sdah melihat segalanya sudah berubah,mereka sepekat tlah meracuni anak bangsa dengan dalih keagungan para penguasa,yang kaya dan bangsawan tlah mempoerbudak kita di bawa bangkir bangkir dan finance finance yang tak kenal lelah dan malu memperkosa hak kita ,sebenarnya mereka meludahi dimana kepandaian mereka di jadikan tameng untuk menghakimi orng orang bodoh di negeri ini.kita sudah di jajah oleh kaum inteletual yang di prakarsai dari negeri kulit kuning,idealisme kita bergotong royang tlah dibuang jauh menjadi berkeping keping tak tersisa kita dijadikan seperti kaca yang di pecahkan terbagi bagi saling memfitnah,sdaling mencurigai yang dilandasi dengan individu individu yang langsung diangkut dri kaum borjuis.moral dan etika kita tidak lagi berlandaskan pada ketuhanan yang maha esa melainkan siapa yang kaya itulah tuan segalanya,kita melihat langsung bagaimana para milyunert di negeri ini dengan kesombongan mereka berdansa di altar alatr istana yang megah,mereka bernayayi bagaikan kerajaan abad pertengahan anggun dan mewah,mereka berlari sangat kencang dengan segala keangkuhan negerui ini para koruptor berdansa di tahanan para lelaki si hidung belang,mereka mereplika sandiwara bagaikan sinetron sinetron cinderella dimana para artis dan tokohnya adalah para perampok di negeri ini.senyapkah kita hanya bisa melihat para babi bai koruptor mencari celah untuk diampuni bukankah lebih baik mereka mati,malukah dirinya dengan segala kejahatannya...mereka berdansa saudara dan menikmati semuanya didinding dinding kemegahan hukum denagn kucing garongnya mahkamah konsitutusi yang bisa dibeli dengan selembar kain kafan

salam dari para manusia yang dimanapun saudara berada jika anda membaca apa yang menjadi idelogi dri pemikiran ini sama halnya dengan melihat kemunafikan segalanay yg mereka pertontonkan,koalisi partai,jebak jebakn,tuduh menuduh dan masalah swasembada partai hangat untuk di jual belikan dan aku juga mengapa para penyiar itu juga mempertontonkan semua itu apakah tidah baiknya mereka menyoroti kehidupan masyarakat dimana hingga kini selalu penuh dengan kesusahan.,pengangguran bertambah,pendidikan dan kesehatan berubah menjadi serigala mencekik kaum miskin.menjadi bijak bukanlah untuk menertawai pemikiran yang dilandasi pada acuan suatu metode yang tersirat menapaki sisa sisa dri kekalahan tetapi kita menawarkan sesuatu yang terhilang untuk datang kemabli dan menajdikan sesuatu yang datang itu untuk berarti karena semuanya apa yang ada bagi kaum muda yang intelek,berjiwa besar dan tertinggal bersamalah kita bergandengan tangan menerobos kezaliman para penguasa dengan kekuatan doa dan pastinya harapan,seperti halnya aku dan kamu kita adalah generasi yang langsung berdiri apa yang sepantas kita perjuangkan meskipun butuh pengorbanan marilah kita beranjak danmenapaki bahwa cukup sampai disini mereka mempertontonkan keangkuhan bangsa ini.semuanya adalah bagian yang terkecil,datar dan menyerupai suatu sentuhan tentang imajinasi kita untuk bersama dengan segala kelemahan dan keterbelakangan ,bahu membahu serta bergerak menjadi sebuah kekuatan yang dilandasi bhineka tunggal ika.kita mewujudkan demokrasi yang hakiki dan harga mati tentang HAM menegakkan keadilan dimanapun kita berada tanpa memandang keterbelakangan siapa yang membutuhkan pertolongan wajib di tolong tanpa mengaharapkan imbalan seperti halnya sebuah kemerdekaan yang tlah diraih para pahlwan kita baiknya kita juga menjadikan sebagian tubuh kita untuk berjuang kembali di negeri ini karena negeri ini kita sdah melihat sendiri ketika kebodohan mampu dibeli dengan kekuasaan dan memahkotai kebodohan menjadi penguasa,semua terbeli dan terpasung menghakimi kaum inteletual yg tlah menghabiskan waktu memikirkan bangsa ini dan menajdikan kita barisan para pengecut yang tercuil di negeri ini.

bangkit adalah harga mati ,dasarilah kalbu ini dengan pemberontakan dan kedamaian,menjadi bijak adalah sesuatu yang tertanam di dalam sanubari para generasi untuk melangkah lebih awal sebelum ayam berkokok dan mentari keluar dari istananya
teriakakanlah tentang jiwa jiwa yang bersembunyi di hutan hutan untuk kembali menjadi bagian dri sejarah mengambil peranan untuk menegakkan keadilan setinggi tingginya.
bangkitlah engkau saudaraku nagkitlah dengan segala kehormatan dan napas dunia
bergeraklah seperti ait di sungai sungai

seperti halnya engkau para anak negeri
hari ini dan selamanya waktu yang kita nanti
pakaikanlah jubahmu dengan keberanian dan pengorbanan
tawarkanlah takutmu dengan selaksa kemenangan
kejarlah mimpimu ke gunung gunung dan ke segala penjuru
teriakkanlah semangatmu di dinding ketuhananmu
sebab sampai kapanpun
kita akan terlahir dari tetek ibu
jadikanlah dirimu menjadi pemberontak untuk kemunafikan bangsa ini
karena pemberontakan ini adalah awal dri sebuah harapan
harapan yang ditawar dengan kematian
tidak dibeli
tidak korupsi dan di kasihani
merdekakanlah negeri ini dari para perampok yang berdasi putih

Jumat, 21 Oktober 2011

negeri terasing di dadaku

Jauh kulambai lambai sebuah berita
Kutautkan pada sebuah ketakutanku
Tahukah dirinya
Kusimpan. Sebuah rahasia
Waktupun berlalu seperti khalifah
Dipanggil dia membuang mata
Kutriak dia berlari tanpa suara
Dengarkah dirinya
Interigtas bangsa di pertanyakan
Presidennya hanya menggonggong
Mentrinya sperti bola sepak
Diganti ganti
Mengubah cerita
Reshufle kembali berkumandang
Bodohkah yg di sanayan
Atau binatang kah mereka yng berdentang
atau aku yg jalang mempertanyakan gugatan yg terbuang
Kusam wajah para jelata
Tangis bayi di pom bensin
Wanita tua bertelanjang dada
Terselip di akhir cerita
Situan adil bijaksana
Tebar senyum di televisi
Dia adalah arjuna dri cikeas
Terkutuk di tangan para koruptor
Century terlahir dan pergi
Hanya sebentar tp tak bertepi
Blt menjadi singa
Banyak nyawa tergadai di pintu surga
Mengangkangi terbang garuda
Enggan hinggap di tanah pertiwi
FPI menjadi hakim baru
Tak terjamah dan tak kenal takut
Kebenaran di tegakkan dengan kekerasan
Surban putih jd taruhan
Akahkah semuanya terpampang
Di dinding situan penuh kesombongan
Gayus berlari dri kegelapan
Bagai hantu menyerupai manusia
Membeli siapa saja yg bisa di beli
di atas sajadah selimut kemunafikan akan dosa kita terselubung bagaikan waktu yang berdentang
kata katanya terdengar jauh ke negeri para pengecut untuk bangkit saja sangat riskan untuk berlari
kita dikalahkan oleh keraguan yang mendalam
terdampar pada sejuta beban yang tertancap di tanah
kita hanya bisa berharap pada hati mulia
menanti datangnya sang adil
menanti dtangnya sang bijaksana
hanya kita bisa terasing di negerio sendiri

mati

Kepadanya kupanjatkan sebuah doa
Doa yang terbungkus dlam kain kafan
Mengapa kita tertawa
Dalam derap langkah. Hitam dunia
Sepertinya waktuku untuk menunggu
Hening tak lagi bernyanyi

pemberontakan

Aku bkan chairil anwar dan ak bkan jg wr rendra
Ak adalah anak siantar yg punya mimpi seperti merka
Mulutku adalah syair dan pikiranku adalah pemberontakan
Ak adalah sejarah yg terlupakan mencoba untuk bangkit
Mengingatkan kita akan sepenggal kisah tragedi
Ketika kita di pertanyakan anak bangsa
Sedetik kata menyongsong mentari
Waktu itu jg lukiskan kesombongan ketika mimpiku bertabrakan dengan kisahku
Aku dibesarkan di tetek ibuku yg serba kekurangan
Ak di timang seorang lelaki yang perkasa
Bagiku dia adalah perjuanganku
Mengabadikan namanya di barisan terhormat yg kusanjung

Ak adalah manusia yg pernah kalah
Puisi adalah napasku
Ak tertanam dlam kehidupan terjerat para sarjana terbeli
Aku hanya tamat sma
Tp didadaku adalah replika perjuanganku yg tiada henti
Aku berjuang di barisan depan
Menggempur lawan lawanku dengan ingatan yg cemerlang
Seperti sang pemikir seperti itu jgalah aku
Ak berjalan sperti hantu hingga si anak emas kuatirkanku
Dendamnya mengutukiku di telapak tangan orang tuanya
Hingga fajar pun tak lagi seindah yg dlu
Ak simiskin dri siantar menunggu mati
Tenggelam dalam kehampaan sebuah pertanyaan
Bangkitpun aku enggan
Krna kata katanya tlah memerah
Membunuhku dgn ganasnya
Idealismeku terapung di samudra biru

Ak adalah sebuah lukisan perjuangan
Ak bangkit dari yg mati hidup kembali
Ketika pikiran bernyanyi dengan perjalanan
Mimpi itupun pergi seiring senyum mentari
Disini ak berani bernyanyi lebih berani
karna hidup hanya sekali
Terbeli dan tergadai
Takdirpun gentar menawanku
Hitam langkahku gentarkan semua lawanku
Ak anjing dri kegelapan itu yg kutahu namaku
Siapa saja aku hentakkan bertmu dgn pencipta
Semuanya terdiam seperti halilintar
Menerjang kebaikan dan kebenaran
Menyeret kesombongan pada siku kepahlawanan
Biarlah tuhan menjadi hakim dlm dosaku

Aku adalah serigala dri siantar
Aku bermimpi tentang hal pertapa
Membantu anak bangsa menjadi bijak
menaburi tanah dengan benih
Bekerja dengan cinta
Berjalan dengan bergandengan
Hingga akupun terjatuh dlam pengasingan
Aku adalah puisi
Puisiku hanya bisa tertawa
Beban langkah terasa terzalimi
Ternoda dlm sehimpit keruangan kesombongan
Darah mengalir dlm dekapan
Penuh noda dan dosa
Mati adalah akhirnya
Terpasung dlm hidup pemberontakan

mimpi dr kemiskinan

Kemiskinan ini adalah awal dr sbuah penantian
Penantian yg dtng tak mnghmpiri
Rasa kecewa terbungkus dlam kubangan sawah
Menanti tua dibalik senja
Kita terpenjara dalam kubangan pengharapan
Seperti awan kupernah melukis mimpi
Ada mimpi yang harus kita raih
Ada perjuangan di atas kepala
Menyapa sauadar kita berangkat ke pacuan
Hidup adalah sebuah perjalana
Tp perjalanan kah jika izasah kering di lemari
Membisu sperti orang gila
Mengutuki prestasi dihamparan ilalang
Ilalangpun hanya bisa tersenyum
ada sarjana gila terhilang
Dicaci mentari
Malamnya digilir bintang diinjak debu
Kita hanya bisa
Waktukan berdendang
Semua hanya terkapar tak berdaya
Hidup adalah waktu ygkan pergi
Jejakkan kaki di hamparan para nafdu situan pintar
Jejali kita tentang indahnya surga
Kita berhasrat meraih sebuah kata kata
Kata apa yg akan kita sampaikan
Agar meraka tahu
Jgan jalimi kami kekuasaan yang di perintah oleh kemenangan
Dimana kemenangan yg di dasari kekuatan materi dan nepotisme
Tp berikanlah kami harapan utk berjuang kembali
Krna hri ini adalah hari untuk kami
Terlahir dri kemiskinan,kekalahan,terpinggirkan dan yg tlah mati
Berikanlah kami awal dri sebuah kemenangan
kemenangan yg kami raih dri otak dan prestasi
aliri kami dengan tanggung jawab seamplop dengan kejujuran
lihatlah dan katakanlah kita hanyalah ilalang kecil yang ingin di goyang angin
bermimpilah anak bangsa hingga mimpimu itu membunuhmu dengan segala kebodohan

Selasa, 18 Oktober 2011

mawar dri hati yang dalam

dsisni ada cerita yang mengalir
satu persatu kurangkai menjadi sebuah syair
rindu yang datang masih seperti dulu mengagumimu tanpa engkau pun tahu
malu..
iwa ini terasa lugu
jantung berdebar bagaikan tsunami menerjang pertahanaan kejantananku
aku mati saat dekat denganmu
pecah pikiranku tlah teracuni bijaksanamu
wibawaku seakan pergi entah kemana
jauh jauh dan enggan untuk kembali
inikah cinta wahai dewi
inikah sinaran kehidupan itu
memukul mukul otakku untuk berdiri bangkit tersenyum
memacu otakku untuk tak tahu malu
membongkar tulangku untuk menyambut senyumnya

ada cinta terindah
terdiamku dihamparan para sang pemikir
memikirkanmu adalah hal terindah untukku
berhari hari bahkan tlah mengisi waktuku
dirimu bagai hantu dipusara hati
apakah cintakukan bersemi
hanya inikah yang bisa kunanti
cintaku tlah memperkosa bathinku

manusia durjana

tergadaikah napas para pemuda
gelombang kehidupan menanti pembalasan
menanti waktu anggukkan kepahaman yang tertancap dinaluri para durjana
memakai topeng wajahnya rupawan laksana sang dewa
menipu siapa saja yang tersesat
memanusiakan manusia dibalik kesderhanaan menjelma menjadi serigala yang rakus
kitapun hanya tertwan dalam dendam sejarah
kita ibaratkan hanyalah debu
berserakan meregang nyawa tanpa ada yag perduli
senyum mereka acuhkan gendam palu yang sarat dgn kemunafikan dans ejuta kesombongan
mereka seperti para jendral
pion pion berserakan di hamparan persawahan
mengangguk seperti kumpulan para dhuafa
napasnya terbeli di segenggam kekuasaan yang terbeli di pasungan para moderat
akankah sejuta cinta itu mengalir seperti para gembala
pergi ke jauhnya kehidupan melanglang buana dengan dekapan sang malam
apakah pikiran kita jg hampa
sederas kebodohan hanya bisa seperti binatang
apakah kita tidak memikirkan
segumpal kekayaan hanyalah sebuah ujung duinia
apakah kita hanya terdiam
kita menanti saatnya terpasung dalam kebenaran
saat satu satu keadilan itu dibelokkan ke istana para bangsawan

manusia durjana berdiri dengan sebilah pedang
darahnya memancar laksana singa jantan dari balik keagungan sejarah
cakarnya membanjiri sungai sungai dengan darah
aungannya menakuti bocah bocah untuk berlari menyongsong mentari
takkan terlahir napas ksatria takkan ada jiwa sang pendamai
kita hanyalah menunggu waktu

apakah ada yang kan berdiri dengan sejuta kebenaran
apakah yang ada martir demi sjuta rakyat yg teraniyaya
apakah singa itu mau membasuh darahnya
menutupi seribu dosanya dengan kebaikan
menantang kezaliman m,embuka mata
adakah doa doa para janda kan terkabulkan
dihamparan tanah gersang kami hanya mengharap
datangkah mereka yang tlah dijanjikan
kapan mereka kan terlahir ataukah mereka sama layaknya seperti kami
poengecut yang tiarap di gua gua
ataukah mereka hanyalah sebuah janji dikala sang rembulan dengan sombongnyanya tersenyum menyindir ketuhanan kami
tak perduli meski raga tlah tertutupi debu

Rabu, 12 Oktober 2011

doa untuk tuhan

tuhan....
banyak perkara yang datang silih berganti
banyak persoalan yang dtang tak kenal ampun
aku terdiam seperti orang gila
dan pasrah menghadapi segalanya
aku rela menjadi pasungan dari manusia manusia yang bersiap seperti singa menerkamku dan menelanjangiku
aku kalah dengan segala kekuatanku
pikiranku tlah ternoda dengan nafsu duniawai
aku tlah berpaling dari jalanmu
kutlah cecerkan segala kebaikanmu di persimpangan ke golgota
aku tlah kalah tuhan menghadapi nya

tuhan
kemanakah langkah inikan mengalir
aku simanusia serakah berjalan sendiri dengan pakaian seperti orang gila
menrtawai semua kebaikan yg tlah kuberikan
menangis menyadari bahwa aku tlah jauh dari tahta surgamu
adakah pintu tobat bagiku
aku yang tlah menjauh dari kekuasaanmu
apakah terdengar tuhan jerit tangisku dimalam hari
nyanyikan lagu mengharap belas kasihmu
ketika keadilan itu menghampiriku koyakkan jubahku
aku tahu aku tak pernah jujur pada mereka
aku putar balikkan semua keadailan demi segelintir kebahagian
kutukar kekeuasaanku menjadi ular beludak
hingga mereka juga mencampakkanku seperti kotoran di jamban
kutertinggal menadah di hamparan lautan kosong
hanya rumput yg bisa ku jadikan santapan
aku sendiri berjalan tanpa tujuan
dimana sahabatku yang dlu bersamamku
berlari dari kamar ke kamar para pelacur
erangan tawa dan meludahi simanusia hina
dengan setangguk anggur kita bercerita hingga fajar menyingsing
hingga pagi kita telanjang dengan si gadis sembelihan
nanar terasa hampa di kubangan para sampah
kutatap mereka tawarkan sejuta kedamaian
tangan mereka kotor penuh luka bersandingan dengan sisa hidup yng tertawan
menanti mati
itu adalah akhlaknya
mereka menerimaku dengan segala senyuman
digubuk tampak rapuh
mereka menyanyikan lagu pujian dan doa doa yang terlahir dari tempat tidurnya yg basah
mereka bernyanyi dengan riang hingga jantungku terasa ingin juga berdendang
kumasuk dengan suara serau basah bersatu dengan mereka
hingga fajar menyapa mereka tertidur dalam sejuta mimpinya
aku hanya tertegun menatapi wajah mereka satu persatu
aku diam sediam bintang di langit
hingga mata terpejam di balik selimut hitam

tuhan.....
kem,arin dan hari ini adalah sebuah malapetaka bagiku
ada kekuatan yg mengalir di benakku untuk bangkit kembali
melanjutkan apa yang engkau kuduskan
berharap ditanah perjanjian meraih haknya
mengangkat bergandengan tangan meraih hak mereka
hentikan perang dan merampas segala kemunafikan di istana para bangsawan
membentengi diri dari nafsu dunia
melahirka para ksatria perang dari tanah yg gersang
merebut sebidang tanah untuk bertani
hingga jauh dari keserakan para serigala jalanan
kita mengampuni orang yg pernah menancapkan pedeang di dahi kita
kita adalah segerombolan manusia kalah bangkit untuk menyerang
tuhan biarkanlah kami meilih untuk martir ditangan para pejuang
mati dengan terhormat di kota pengasingan

tuhan......
kemanakah langkahku......
adakah suara nafirikan menyapa
ataukah api yangkan membalaskan dosaku
atauakah aku hanyalah kan terdiam di bumi
seperti hantu yang enggan untuk dibangkitkan
tuhan......
apakah pembalsan yang kan engkau berikan padaku
aku kini lebih kejam dari yang dulu
membunuh dan dibunuh
aku mengajarkan anak anakmu di ujung pedang
aku membangkitkan jutaan saudaraku untuk berdiri bersamaku
menumpas keserakan para bangsawan
mereka rela mati demi kebebasan
mereka bertarung demi kebaikan
apakah ini yang engkau inginkan
jawablah aku dengan segala dosaku..
layakkah aku menjadi raja bagi mereka
meraih kemenangan dengan segala pengorbanan
banyak anak anak tergadai karena aku
kulihat mereka berserakan di hamparan tanah yg luas
diam seperti tak peduli
karena mereka menginginkan
mati adalah akhit dri segala perbudakan dan awal kebebasan bagi generasi berikutnya
kemerdekaan adalah tujuannya dan butuh pengorbanan seperti kami]

tuhan.......
dibalik tubuh renta
aku tlah memberikan mereka kemakmuran
tubuhku tidak kekar lagi seperti yang dulu
aku membangun monumen yang megah untuk mengenang meraka
aku membangun baitmu di kota kota seperti bintang dilangit
aku memberikan segalanya bagi mereka para pahlawan yang dititpkan padaku
segalanya
hingga ajalkan menjemputku
mereka menangis terharu dan mentasbihkan namalku di doa doa mereka
mereka menyebutmu ........berseru..
tuhan.....
ijinkanlah aku memasuki rumah surgamu
pertemukanlah aku dengan mereka yang tlah mati disisiku
seiring tawa dihamparan surgamu yang hijau dan bersalju



doaku diatasa semua mimpiku biarlah tuhan yang langsung menyampaikan padaku

takkan terlupa

Masih terdiam disudut kehampaan
Lelah perjalanan bertautan dgn pikiran
Masih terbayang sejuta resah menanti
Ditepian pantai tak lagi sedamai senja
Mengobrak abrik mimpi terapung diatas kekalahan

Terasing dihaluan yang tak di kenal
Senyumanmu dikala senja sinari langkahku
Terbayangkan semuanya hadir menyapa
Genggam jemari dengan sdkit tenaga
Pisahkan perbedaan yg menjurus pada kemunafikan
Bertarung dgn segala kehormatan
Apa yangng bisa kuberi
Hanya seberkas penantian
Kupergi melangkah dengan tangis yg dalam
Hanya terpaku menatap kegelisahan wajahmu
Kukan mengembara mencari tujuan hidup
Berharap semua hanyalah sebuah perjalanan
Kepakkan sayap patahku bertautan mencari keabadian
Senyum mereka menghasut jantungku untuk tegar
Cinta adalah cinta
Cinta hadir dengan keindahan
Membawa sejuta kemegahan
Dan ak menghormati para pecinta

Senja $menyapa dengan segala gundah yg menanti
Kuhadapkan cinta diantar pintu pintu uyg kulewati

Sabtu, 08 Oktober 2011

kisah kristus

Siapakah ak yg berjalan sambil memikul salibnya?
Adakah tertawan sejenak kisah yg abadi
Dia mati demi kehidupan
Adakah yg bernubuat ttgnya
Sepenggal perjalanan yg larut dalam naungan sandiwara
Hamparan begitu luas samudra kemunafikan
Bersandar pada satu haluan
Membinasakan detik demi detik kejujuran
Adakah dia berarti bagimu
Siapakah ak yang menawarkan kehidupan!
Terdengarkah langkah sang waktu
Berimbas pada dalamnya jurang kehidupan
Terdiam bagai cerminan yg berganti biasnya
Kepakkan langkah si manusia menderu
Koarkan semua kedengkian yg mnejlar pada satu sudut
Sudut yg dinamakan kehampaan ilahi
Dia bukan mati untuk dunia
Dia mati untuk siapa saja yg mendengarnya
Dia bangkit dari kegelapan menuju terang
Dia berikan segalanya dengan cinta
Cinta ug terlahir drkekristusan
Siapakah kristus itu?
Adakah dia juru selamat itu
Apakah dia sama seperti kita
Melakukan dosa semena mena
Mengangkat dalil sejarah untuk di perdebatkan
Menyinggung para nabi nabi di sombongnya mentari
Menertawai injildengan tlapak kedua tangan
Dan menyudahinya dengan sgla kebisuan
Setanpun tertawa mengangkai
Satu persatu merayap bagai kelenjer nista
Siapakah kristus itu?
Kristus itu adalah apa yg kita ciptakan
Bentuklah kasihnya di lautanmu yg kosong
Taburilah dgn kebaikan
Peliharalah dengan puisi puisi para pemazmur
Sepanjang jalan dan sepanjang masa
Kan kekal selamanya
Dia pergi ke pintu yg satu
Kepintu yg lain
Kasihnya suci dan abadi
Kristus itu adalah tuhan
Raja di sgla raja

Minggu, 02 Oktober 2011

dengarkah tuhan

Saat kulihat jauh ke langit atas
Saat kurenungkan arti dari perjalanan ini
Saat mata tak lagi tertahan
Tertidur dalam seribu mimpi
Bisikan semua harapan menjelma menjadi sebuah inspirasi
Membuat terang bagi yg kalah
Kerja keras dengan untaian kata doa
Menepis keraguan yang hadir menyapa
Bangkit dari dunia mati
Berlari mengejar waktu yang sombong
Terdiam di puncak bukit sinabung
Dengarkah tuhan

Banyak cerita yang datang seperti tsunami
Menyakitkan dan melukai
Semangat membara padam tersiram air keserakahan
Merka bergandengan saling menjaga
Saling menghormati menjaga kekuasaan agar tak di rampok
Mentasbihkan keadilan di ujung jari tangan
Pada siapakah merka berbicara
Pada siapakah mereka bertanya
Apakah masih ada keadilan di dinding dinding yg diam
Apakah tuhan mendengarkan
Tersusun rencana di bawah semangat nasionalis
Berselimutkan harapan yg terbungkus di altar para pemberani
Masihkah ada sejuta erangan tawa para pengecut
Kami di zalimi tak berdaya di bawah tembok kepengecutan
Dengarkah tuhan

Bukankah semua manusia itu bisa untuk menunjuk satu bintang
Sadarkah kita apa yang kita tawarkan
Mampukah kita bijaksana dengan segala rintangan
Kuatkah kita berjalan di hamparan salju artik
Yang stap detik menanti panggilan dai tuhan
Meledak
Hempaskan kita dalam jurang yang dalam
Apakah nasionalisme itu jgkan terkubur
Banggakah anda terduduk di keraton para sandiwara
Tertawakah saudara di ujung teriakan yng menggema
Anda meraihnya dengan harkat yang terbeli
Dimana kita menanti
Akhir dari dunia ini
Dengarkah tuhan

Tak ada seorangpun yangkan mengganggu
Hebatmu tlah membuat penghuni bumi gemetar
Persengkokolanmu dengan kaum intelekmu
Membuat propaganda yang sangat perkasa
Dengarkah tuhan