Kuatkanlah aku dengan puisimu
Kerjakanlah bagiku apa yang baik bagimu
Dan jangan engkau tanyakan
Satu katapun tentangku
Krna aku sudah lama mati
Katakanlah bila aku seorang pengecut
Krna jari ini dan selamanua aku sudah menyerupai debu
Dan jangan engkau pernah engkau menghinaku
Kran ucapanmu bisa membangkitkanku dri kematian
Biarkanlah waktu yang menguning membelai kisahku
Dibalik terang ternyata aku bukanlah seoran insan
Jubahku merah semerah kegatalan kulitku
Menemaniku menanti duniaku yangkan hancur
Tak terkatakan bila aku adalah gila
Kegilaan ini krna aku tak bisa mengatakan
Ada yang lebih penting dri kemerdekaan
Membela kaun susah dihadapan para mahkamah
Minggu, 17 Juni 2012
seperti orang gila aku melihatnya
Tak kukatakan apa lagi yang membius kepala otakku
Biarlah semuanya seperti api yang mencengkeramku
Dihujatan neraka yang bersanding kaum beringas
Dihadapan para raja raja kita terbebas
Seperti keringat yang tak pernah malu
Mengalir dan mengaliri ke tubuh renta
Kembalikankanlah kita di waktu yang tak bertelinga
Seribu persoalan datang menanti di pintu kota
Jeritab bayi meringis menahan lapar
Banyak lagi keserakahan yang tersembunyi di gedung gedung berdinding kaca
Pemuda terpanggang tubuhnya di kesunyian malam
Seperti orang gila aku melihatnya
Seperti hantu kumelihat wajahnya
Sangat tidak berjiwa garuda bila aku menanyakan
Apakah kehormatan negeri ini masih ada!!
Biarlah semuanya seperti api yang mencengkeramku
Dihujatan neraka yang bersanding kaum beringas
Dihadapan para raja raja kita terbebas
Seperti keringat yang tak pernah malu
Mengalir dan mengaliri ke tubuh renta
Kembalikankanlah kita di waktu yang tak bertelinga
Seribu persoalan datang menanti di pintu kota
Jeritab bayi meringis menahan lapar
Banyak lagi keserakahan yang tersembunyi di gedung gedung berdinding kaca
Pemuda terpanggang tubuhnya di kesunyian malam
Seperti orang gila aku melihatnya
Seperti hantu kumelihat wajahnya
Sangat tidak berjiwa garuda bila aku menanyakan
Apakah kehormatan negeri ini masih ada!!
Selasa, 12 Juni 2012
kegalauan hati
Kemanakah langkah inikan pergi,jauh sudah aku mendaki gunung tua yang terjal tetapai kaki ini selalu penasaran untuk mencari hidup lebih berarti.sendiri dikota batam tanpa saudara dan sahabat serta sanak family kujalani waktu dengan senyuman dan sisa engharapanku ttg adanya hidup yg lebih baik dimana sebuah perjalanan yang besar menantiku di ujung waktu yuang tak pernah memikirkanku.dah tiga tahun waktu tlah berjalan tanpa mimpi,cinta dan pengharapan.aku hidup di liang debu yang sumpek,najis dan kehitaman,caci maki dalah hidupku,diludahi adalah takdirku krna semanya demi hidup bahkan angin pun enggan tuk membelaiku krna dosaku mampu mengalahkan cerita kehebatan jaman romawi.dalam diam aku bertanya dalam gelap malam aku mencoba meraba apakah ada insan yang perlu dicinta dan mencinta!apakah ada yangkan menjadi sayap sayapku menerbangkan semua mimpi ini langsung ke sebelah tahta yang kuasa.
Bisikku di dalam hati!!
Apakah ada seseorang yangkan menyelamatkanku??
Bisikku di dalam hati!!
Apakah ada seseorang yangkan menyelamatkanku??
Senin, 11 Juni 2012
menanti waktu
Enggan aku bertanya ttg hembusan debu
Semuanya mati seperti paradigma tak bersalah
Satu bicaara jujur dan satu bicara kejahatan
Bersatu seperti awan dilangit
Teriakin anak negeri enggan untuk terbang
Mencoba berlari dikala musim semi
Kisah yg hadir di balik sandiwara para situan bijak
Menghilang dan sembunyi doi ruangan gelap
Menanti waktu
Kembali memberi kehebatan di akhir dunia
Mengerti dan menghempaskan semua kejiwaan yang kalah diambang pintu rumah saudara
Siapakah kita yang hanya menunggu
Ketika rembulan stngah hati menemani kepakkan bintang di bawah utara
Menerjang kehijauan di atas kebohongan
Semuanya mati seperti paradigma tak bersalah
Satu bicaara jujur dan satu bicara kejahatan
Bersatu seperti awan dilangit
Teriakin anak negeri enggan untuk terbang
Mencoba berlari dikala musim semi
Kisah yg hadir di balik sandiwara para situan bijak
Menghilang dan sembunyi doi ruangan gelap
Menanti waktu
Kembali memberi kehebatan di akhir dunia
Mengerti dan menghempaskan semua kejiwaan yang kalah diambang pintu rumah saudara
Siapakah kita yang hanya menunggu
Ketika rembulan stngah hati menemani kepakkan bintang di bawah utara
Menerjang kehijauan di atas kebohongan
dia
Indah kurangkai kembali
Cerita cinta yang tlah lama mati
Meski dirimu tak lagi seindah yang dlu
Hitam wangimu senggem kekuasaan sang langit
Kankupuji didalam hatiku
Kekuatan terbesarmu mengakui dirmu siapa
Tak kuragykan cinta inikan menjadi kecupan
Selamanya kan menjadi setitik sinar
Sinar kehidupan dibawah cinta yg tlah usang
Jelaskanlah apakah sang nabi jg enggan berpuisi
Ketika bintang bintang dilangit menebarkan aroma kejantanan
Terpaku di velenggu dunia yang biru
Menanti raga bersembunyi di kalbu kejujuran
Waniyta adalah kehormatan sang agung
Cerita cinta yang tlah lama mati
Meski dirimu tak lagi seindah yang dlu
Hitam wangimu senggem kekuasaan sang langit
Kankupuji didalam hatiku
Kekuatan terbesarmu mengakui dirmu siapa
Tak kuragykan cinta inikan menjadi kecupan
Selamanya kan menjadi setitik sinar
Sinar kehidupan dibawah cinta yg tlah usang
Jelaskanlah apakah sang nabi jg enggan berpuisi
Ketika bintang bintang dilangit menebarkan aroma kejantanan
Terpaku di velenggu dunia yang biru
Menanti raga bersembunyi di kalbu kejujuran
Waniyta adalah kehormatan sang agung
Sabtu, 09 Juni 2012
cinta yg terlambat
Hanya diam yang bisa aku lakukan
Ternyata cintamu hilang dihadapanku
Lelah hati ini melukiskan dirimu
Mengagumimu tanpa engkaupun tahu
dlam hidupku hanyalah dirimu
Yg terlukis dlm kesendirian
Mengagumimu di bawah bodohku
Terlahirkan seribu puisi
Samapai kapankah cinta ini terdengar
Bagaikan pelangi di musim hujan
Apakah cintya ini kan berakhir bahagia
Aku yg terlambat mengatakan cinta
Adakah waktuikan menjadi penyelamatku
Bagi hidupku yuang penuh dngan kekalahan
Mengapa harus kurelakan semuanya pergi
Tanpa kusadari engkaulah terbaik untukku
Ternyata cintamu hilang dihadapanku
Lelah hati ini melukiskan dirimu
Mengagumimu tanpa engkaupun tahu
dlam hidupku hanyalah dirimu
Yg terlukis dlm kesendirian
Mengagumimu di bawah bodohku
Terlahirkan seribu puisi
Samapai kapankah cinta ini terdengar
Bagaikan pelangi di musim hujan
Apakah cintya ini kan berakhir bahagia
Aku yg terlambat mengatakan cinta
Adakah waktuikan menjadi penyelamatku
Bagi hidupku yuang penuh dngan kekalahan
Mengapa harus kurelakan semuanya pergi
Tanpa kusadari engkaulah terbaik untukku
Jumat, 08 Juni 2012
guratan jiwa
Dipersimpangan kusimpan sebuah angan
Terbalik dikertas putih tanpa coretan
Kutimang senja yang terhempas dikejauhan malam
Masih adakah waktukan kembali tersenyum
Bagi kami yang tertinggal di keagungan sang rembulan
Kupaksa mata ini patuh pada alibi
Kuakali napasku agar tetap setia menungguiku
Menyepi seperti angin yang pergi ke arah samudera
Berlari tanpa suara di alam raya
Berlalu tanpa ada kesenjangan yang terpatri ditaman taman kehidupan
Gilakah manusia yg beradab yang sisa mimpinya terapung di dunia tanpa kata
Ataukah hanya selembaran yang terhinggap di atas tiang kehidupan
Berbaris satu persatu seperti awan yanh di atas sana
Enggan untuk mengatakan
Kemunafikan tlah menyelimuti hati para kaum bijak
Yang tanpa nama mencoreng jiwa yang terkecil dibutiran debu
apapun yang didepan dengan gagahnya menerjang yang perlu diterjang
Hingga suatu hari nanti kegentaran kaum pemberontak menyesal terlahir kembali
Terbalik dikertas putih tanpa coretan
Kutimang senja yang terhempas dikejauhan malam
Masih adakah waktukan kembali tersenyum
Bagi kami yang tertinggal di keagungan sang rembulan
Kupaksa mata ini patuh pada alibi
Kuakali napasku agar tetap setia menungguiku
Menyepi seperti angin yang pergi ke arah samudera
Berlari tanpa suara di alam raya
Berlalu tanpa ada kesenjangan yang terpatri ditaman taman kehidupan
Gilakah manusia yg beradab yang sisa mimpinya terapung di dunia tanpa kata
Ataukah hanya selembaran yang terhinggap di atas tiang kehidupan
Berbaris satu persatu seperti awan yanh di atas sana
Enggan untuk mengatakan
Kemunafikan tlah menyelimuti hati para kaum bijak
Yang tanpa nama mencoreng jiwa yang terkecil dibutiran debu
apapun yang didepan dengan gagahnya menerjang yang perlu diterjang
Hingga suatu hari nanti kegentaran kaum pemberontak menyesal terlahir kembali
Langganan:
Postingan (Atom)
