Dan sprti anak yg disapih
Hidupku ada berdiri pada dinding yang tak bersuara
Speri api yanhg berada di bukit bukit karmel
Tempat singa betina dan singa jantan mengaum
Sehingga diantar ketakutanku aku hanya bisa terdiam
Sebab sesungguhya di negeri ini tidak ada lgi kejujuran
Apakah kecuranganmu tak terdengar para pencari tuhan
Dr ujung negeri yg satu ke ujung negeri yg lain
Tak ada pancasila yg menjadi ideologi bangsa
Sunyi sepi segenap negeri dengan kedurjanaan para moderta
Berapa lama lgi negerikan menjadi tandus
Sebab pedang kekalahan hanya berdiam dlm cengkeraman maut
Sabtu, 17 Maret 2012
Kamis, 15 Maret 2012
pikiranku menodai
Kepalaku tak biasanya mampu
Bertahan untuk menatap keningmu
Enyahlah pikiranku dari jelmaan wujudmu
Seperti angin yang benaran menamparku
Ingatkanku dlu perkasa seperti hutan
Kini darahku membanjiri pemikiranku dengan keengganaan hidup
Dulu pernah ada warna itu
Sekejap saja aku tlah terkesima
Ribuan puisi kuparkirakan di lubuk hatimu
Enggan aku bertanya
Enggan aku mempersoalkan
Kecantikanmu mengalahkan keagungan sang dirgantara
Burung pun hanya membisu
Kegilaanku terbawa dlm pemikirannya
Seperti inikah waktukan menjelang
Tersembunyi di kesombongan senyummu
Engkau bagaiakan debu
Sedikit saja beri kehangatan tetapi bisa menahan luka yang dlam
Membuunuh saja bagi orang yang tak mengerti pancasila
Aku terlahir dri cinta yang tlah pergi
Cinta itu terbawa di makam makam orang tuaku
Aku diajarkanya ttg falsafah negara
Aku di berkati dia dgn cinta yang tak pernah berhenti berbuah
Dan dendam itu tidak terpancar dri hidupku yang lunglai
Tiap waktu ak berubah menjadi bijaksana
Tiap jam aku berubah menjadi ksatria
Tiap hari napasku menjadi nafas kebenaran
Dan biarkanlah aku menancapkan pedangku ke langit nusantara
Berdiri di hadapan para pembelot bangsa
Bicara lantang dengan sdkit permainan
Dan di akhir hari dosa itu bisa terhapuskan
Dan biarlah semuanya menjadi kebanggaan
Di sini tak ada lagi kejujuran
Dan aku berdiri sprti tentara romawi
Terkubur dikubangan kejajahanaman penguuasa bamgsa ini
Bertahan untuk menatap keningmu
Enyahlah pikiranku dari jelmaan wujudmu
Seperti angin yang benaran menamparku
Ingatkanku dlu perkasa seperti hutan
Kini darahku membanjiri pemikiranku dengan keengganaan hidup
Dulu pernah ada warna itu
Sekejap saja aku tlah terkesima
Ribuan puisi kuparkirakan di lubuk hatimu
Enggan aku bertanya
Enggan aku mempersoalkan
Kecantikanmu mengalahkan keagungan sang dirgantara
Burung pun hanya membisu
Kegilaanku terbawa dlm pemikirannya
Seperti inikah waktukan menjelang
Tersembunyi di kesombongan senyummu
Engkau bagaiakan debu
Sedikit saja beri kehangatan tetapi bisa menahan luka yang dlam
Membuunuh saja bagi orang yang tak mengerti pancasila
Aku terlahir dri cinta yang tlah pergi
Cinta itu terbawa di makam makam orang tuaku
Aku diajarkanya ttg falsafah negara
Aku di berkati dia dgn cinta yang tak pernah berhenti berbuah
Dan dendam itu tidak terpancar dri hidupku yang lunglai
Tiap waktu ak berubah menjadi bijaksana
Tiap jam aku berubah menjadi ksatria
Tiap hari napasku menjadi nafas kebenaran
Dan biarkanlah aku menancapkan pedangku ke langit nusantara
Berdiri di hadapan para pembelot bangsa
Bicara lantang dengan sdkit permainan
Dan di akhir hari dosa itu bisa terhapuskan
Dan biarlah semuanya menjadi kebanggaan
Di sini tak ada lagi kejujuran
Dan aku berdiri sprti tentara romawi
Terkubur dikubangan kejajahanaman penguuasa bamgsa ini
cinta simiskin
Tlah kuakui cinta ini
Dibalik dinding yang putih penuh noda
Lelah sudah aku membawanya
Menjadi beban di tiap langkah
Merasakan sebuah kerlipan yang berlinang
Cinta tak selamnya pelangi
Kehitamannya terlihat seperti parasit
Menjengkali hidupku yng miskin
Kularut dlam keheningan malam
Seperti biasa aku membelaimu di laguku
Dan biarlah aku bercermin pada dunia
Inilah aku apa adanya
Simiskin dri siantar
Dibalik dinding yang putih penuh noda
Lelah sudah aku membawanya
Menjadi beban di tiap langkah
Merasakan sebuah kerlipan yang berlinang
Cinta tak selamnya pelangi
Kehitamannya terlihat seperti parasit
Menjengkali hidupku yng miskin
Kularut dlam keheningan malam
Seperti biasa aku membelaimu di laguku
Dan biarlah aku bercermin pada dunia
Inilah aku apa adanya
Simiskin dri siantar
Minggu, 11 Maret 2012
erangan kebisuan
Sampaikan apakah ada cinta yang tersipu dibalik purnama
Dan katakan juga apa yang hadir di balik senyum
Indahmu bagaikan seroja
Membuatku gila membayangkan lingkaranmu
Memerah mewarnai kain hitam
Terperosok dalam kisah yaang berdebu
Mencintaimu dengan senafsu binatang
Kucinta caramu
Memanjakanku
Tergilaku di erangan deras keringatmu
Mengucur dan bergelora membuatku merinding
Hampir menjadi senyawa dlam gemerlap malam
Menembusi ke tulang menularkan bius yang putih
Meneriakimu dgn kata kata romantika
Sesaat menghembuskan cinta yg terlarang
Dan katakan juga apa yang hadir di balik senyum
Indahmu bagaikan seroja
Membuatku gila membayangkan lingkaranmu
Memerah mewarnai kain hitam
Terperosok dalam kisah yaang berdebu
Mencintaimu dengan senafsu binatang
Kucinta caramu
Memanjakanku
Tergilaku di erangan deras keringatmu
Mengucur dan bergelora membuatku merinding
Hampir menjadi senyawa dlam gemerlap malam
Menembusi ke tulang menularkan bius yang putih
Meneriakimu dgn kata kata romantika
Sesaat menghembuskan cinta yg terlarang
guratan jiwa
Terbilangkan sudah guratan jiwa
Yg bak sampah membusuk di rongga dada
Kedipan malam menelanjangi sepi
Kita terbawa dalam kemerosotan moral
Kehilanganmu adalah ujung dunia tak tergantikan
Meski raut wajahmu kian menampar
Menggoreskan nama diatas panorama dunia
Yg bak sampah membusuk di rongga dada
Kedipan malam menelanjangi sepi
Kita terbawa dalam kemerosotan moral
Kehilanganmu adalah ujung dunia tak tergantikan
Meski raut wajahmu kian menampar
Menggoreskan nama diatas panorama dunia
Jumat, 09 Maret 2012
masihkah engkau mengingatnya kawan
Dibalik surya kugenggam sebuah cerita
Beralaskan mimpi kuterbangun dri kesesakan dunia
Terhimpit di dua jurang yang saling berselisih
Ketika kehidupan tersalib di kubah jalanan
Menghempaskan kepintaran dikantung celana
Kita pernah berbagi kawan
Ketika hujan masihkah engkau mengingatnya
Ketika kita bercerita tentang sansiro
Ditepian sekolah dengan keberanian yang tersingkap di balik celana
Butuh usaha untuk pergi kesana
Menapaki waktu yang tlah berani menghapus satu persatu
Mimpi mimpi yang tlah lama menertawai
Tak satupun kita tepati
Berdentang sepi di bawah awan kulihati lagi bintang yang berbarisan di langit malam
Terbayarkan sudah aku mencoba mengingati mimpi kita
Terbayarkah mimpumu kawan
Tak terdengar kabar drimu
Disanakah dirimu berteriak dengan kencang seperti dilapangan sekolah
Atau aku dan engkaupun menjadi sembelihan
Terkiyak di ambangan kekalahan
Mati adalah awal dri kepengecutan
Uang merah berserakan di laci laci para journalis
Enggan untuk berbicara lantang ttg keruntuhan kesejahteraan rakyat
Berdelimutkan cerita yang usang
Berkelana seperti orang gila
Yang bajunya wangi
Debupun malu untuk menyapa
Seribu kemalangan hadir menyapa
Terpenjara di barisan para puisi
Berharap orang jujur menyimak
Apa uang kukatakan dengan seribu kicauan
Masihkah engaku mengingat kawan
Ketika senja masih tersirat
Enggan untuk tertidur
Mendengar lagu kita
Dan semuanya seperti kertas yang tak lagi perawan
Krna aku bukanlah aku lagi
Ada hantu di dalam napasku
Menunggu mati adalah akhlaknya
Masihkah engkau mengingatnya kawan
Beralaskan mimpi kuterbangun dri kesesakan dunia
Terhimpit di dua jurang yang saling berselisih
Ketika kehidupan tersalib di kubah jalanan
Menghempaskan kepintaran dikantung celana
Kita pernah berbagi kawan
Ketika hujan masihkah engkau mengingatnya
Ketika kita bercerita tentang sansiro
Ditepian sekolah dengan keberanian yang tersingkap di balik celana
Butuh usaha untuk pergi kesana
Menapaki waktu yang tlah berani menghapus satu persatu
Mimpi mimpi yang tlah lama menertawai
Tak satupun kita tepati
Berdentang sepi di bawah awan kulihati lagi bintang yang berbarisan di langit malam
Terbayarkan sudah aku mencoba mengingati mimpi kita
Terbayarkah mimpumu kawan
Tak terdengar kabar drimu
Disanakah dirimu berteriak dengan kencang seperti dilapangan sekolah
Atau aku dan engkaupun menjadi sembelihan
Terkiyak di ambangan kekalahan
Mati adalah awal dri kepengecutan
Uang merah berserakan di laci laci para journalis
Enggan untuk berbicara lantang ttg keruntuhan kesejahteraan rakyat
Berdelimutkan cerita yang usang
Berkelana seperti orang gila
Yang bajunya wangi
Debupun malu untuk menyapa
Seribu kemalangan hadir menyapa
Terpenjara di barisan para puisi
Berharap orang jujur menyimak
Apa uang kukatakan dengan seribu kicauan
Masihkah engaku mengingat kawan
Ketika senja masih tersirat
Enggan untuk tertidur
Mendengar lagu kita
Dan semuanya seperti kertas yang tak lagi perawan
Krna aku bukanlah aku lagi
Ada hantu di dalam napasku
Menunggu mati adalah akhlaknya
Masihkah engkau mengingatnya kawan
dilema cinta
Diantara luka yang masih menggema
Kebodohanku kurelakan menjadi ruang dlam segerombolan kekalahanku
Kita terpaku dlm dua cinta yg berbeda
Menapaki waktu yg tlah terhina
Menggapai kehormatan kemunafikan cnta
Sehelai wajah terllukis di kemerahan sang jingga
Senyumnya luluhkan seribu mentari yg tlah tenggelam
Karam sejauh samudera terhadir dlam kesepian
Kita terpenjara di hidangan para pecinta
Kebodohanku kurelakan menjadi ruang dlam segerombolan kekalahanku
Kita terpaku dlm dua cinta yg berbeda
Menapaki waktu yg tlah terhina
Menggapai kehormatan kemunafikan cnta
Sehelai wajah terllukis di kemerahan sang jingga
Senyumnya luluhkan seribu mentari yg tlah tenggelam
Karam sejauh samudera terhadir dlam kesepian
Kita terpenjara di hidangan para pecinta
Langganan:
Postingan (Atom)
