Selasa, 21 Februari 2012

jelaskan artimu

Jelaskanlah padaku arti dri bunga bunga
Tersiram di bawah pancaran mentari
Enggan menawarkan wanginya kpd kumbang
Malukah kita menatap negeri ini
Hari berganti tanpa ada tujuan
Penguasa punya mimpi aneh aneh
Kekanakan memangsa situan poniman
menjadi artis lebih bijak daripada menjadi presiden

kutrima semua

Kutrima semua apa yang engkau ucapkan
Caci dan makilah akui sekuat kemarahanmu selagi ada
Teriakkanlah seribu kenajisan di balik tubuh indahmu
Ratakanlah apa yang ada dipikiranmu
Hingga duniapun tersungkur ke alam
Membelakangimu dengan sebutan kekasih

Pernahkah engkau tersirat di bundaran jingga
Disisinya mengalir di dua tujuan

erangan di pagi hari

Senja datang tiba tiba
Enyahkan erangan terpancar di saluran pelangi
Kicauan burung menanti senyuman
Segala risalah hati menyambar menyentuh jiwa

Hari esok akankah kembali
Menurut waktu terpancar kemiskinan anak negeri
Berlari senja menampar kemarahan langit
Terdiam diatas kezaliman penguasa
Bangga akan kebinasaan para laknat di jembatan
Beralaskan kardus dan dinginnya membunuh idealisme
Terlahir pun enggan untuk hidu

Kesepian mentari menyelimuti naluri
Kutanyalan pada pelngi yang tergantung di langit siantar
Tak menyerupai seindah mimpi
Kembali cinta tersudut di ambang persawahan
Tenaga terbayar dengna erangan keserakan
Mengutuki siapa saja yang di depan menantang
Hidup adalah kesejahteraan anak negeri
Terlunaskan di pembangkangan
Pikiran mewarnai dengan seribu kesombongan


Sandaran gelora ketakutan akan sebuah tujuan negeri
Kini di pertanyakan dihadapan mahkamah konstitusi
Penguasa bernyali dlam sederet kecongkakan
Menjadi aktor di kala negeri berkabung
Apa yang harus kita perdebatkan
Hanyalah sandiwara kebodohan
Tenggelam selagi bisa lari
Melihat saja kita tertawa
Apakah masih ada yang ditertawakan
Ketika anjing anjing mentri sibuk nerimajinasi
Apakah masih ada di tawarkan
Ketika anak negeri tersangkur di persawahan
Apakah ada yangkan kita bicarakan
Bila dengkuran sang penguasa menjijikkan
Besok akan tambah lagi penghecut di negeri ini
Menyesal hidup tanah pertiwi

Jumat, 17 Februari 2012

kematian

Kematian datang tak seperti halilintar
Menghanguskan siapa saja yg menantang
Bertemankan kerakusan dia datang tak kenal pilihan
Miskin kaya di tendang ke angkara murka
Siapakah saudara dengan kebijakan penguasa
Berani bicarta dengan lantang tanpa palsafah bangsa
Dengan sengaja membunuh mimpi anak bangsa
Menyeret ke pintu pintu gerbang para pejuang sejarah
Ada saatnya andakan dizolimi di tempat yg berbeda
Dimana tuhan yg langsung mendakwah

cinta

Cinta adalah bisikan kebodohan
Menuai diatas penderitaan yang cukup panjang
Merajai impian ditepi kebodohan
Dan meneriaki kita dgn sejuta kemarahan

kematian adalah kebahagian

Senandung rindu di jiwa yang tlah membisu
Memudar kemerahan terlihat tak lagi perawan
Pujangga menari diatas serpihan kaca kehidupan
Terperanjat dlam realita fatamorgana pelangi hitam putih

Hentakan mentari menyambar nyambar di atas angkuhnya waktu yg sombong
Sedetik saja tak bisa tertawan
Menunggu mati adalah kebahagian
Sebelum kita katanya terhapus dlam sejarah
Apakah ada yang perlu di pertanyakan
Apakah ada yang mampu menjadi bijak
Ketika penguasa berlarian dri bukit
Bertelanjang dada seperti pangeran
Ironis mengatakan kebenaran dan keadilan menyapa kaum dhuafa
Merasa bangga ttg kejayaan di atas perut buncit para manusia laknat
Seribu seragam bisa ditawar dengan celana dalam pra biduan bermata sempit
Menata pribumi dengan erangan serigala
Siapa saja pasti terkejut
Kejam terdiam di dapur si tuan miskin
Kita terpenjara di gulungan jaman yg tak bertuan
Seperti itulah kita
Kita hanya mengakhiri sebuah tanya
Tanapa ada jawaban yg terdengar di ujung dunia
Kematian adalah kebagian yang tak terjamah

siapa yg bijaksana

Siapa yg bijaksana biarlah ia memahami ini
Pintu pintu di sungai sungai tlah dibuka
Engkau penuh kemabukan dan dukacita
Bangsa bangsa tlah mendengar ttg celamu
Anak anak yg pernah engkau tindas akan dtng kepadamu
Dengan pedang merajai diatas langitmu
Dan memperkosa putri ketika matamu tak terjaga
Dan mentasbiskan darahnya didpn wajahmu

Seperti halnya akupunkan tertawa
Menatap nanar wajahmu hilang di hamparan keagungan sang khalik
Dan tertawalah yg menatapmu
Krna jalanmu pedih dan penuh benci
Biarlah itu menjadi saksi
Sejarahkan terukir didlam hati