Senin, 09 Januari 2012

atas nama hukum

Apa yang salah di pikiran kita
Ingin rasanya ku robek robek suratmu
Terdengar kicauan burung gereja lukiskan memerah wajahmu
Engkau terbaring dlam cengkeraman rajawali emas
Membisu mulutmu tergantung terpenjara laknat
Atas namakan hukum
Malingh sandal terpapah terkandang jeramai besi
Sang koruptor menjadi pahlwan
Membeli apa saja yangh bisa di beli
Selagi kehormtan masih di selakangan
Lakukan apa yang perlu untuk disampaikan
Mengistiarkan kejaliman anjing negara
Jauh di padang sana
Terdampar duka sang ibu
Hanya bisa tersenyum di balik kerudungnuya
Menangisi dua putranya tergadai di jeratan anjing negara
Bersih seperti sungai jordan tanpa irama kesalahan
Saling jegal di atas lapang mengisi kebobrokan bangsa ini
Atas nama hukum
Terdengar hanya sejam
Terbawa berita hanya di seberang
Pergi entah kemana
Hati bimbangpun berkaca dalam ketakutan
Serigala kelabu menghadang di depan
Kemarilah wahai sejenak
Jauh sudah langkah ini tersempit dlm kubangan
Atas nama hukum apakah adanya pembantaian
Anjingkah mereka atau hanya pengecut
Buaskah mereka
Todongkan senjata ke arah sudut kemiskinana
Berdoakah mereka di saat kosong pikiran mengacau
Mentabiskna penghakiman akan kematian di telapak tangan
Atas nama hukum
Pengadil manakah yangkan menjadi penjerat si anjing negara
Tanyakanlah apa yang ingin mereka katakan
Dan tataplah nanar wajah yng tergadai
Ribuan kasih menyambutmu di jantung ketuhanan

Minggu, 08 Januari 2012

masih ada cinta

Kankukenang cerita yg pernah ada
Kan kujadikan sebuah kisah yang indah
melupakanmu adalah akhir dari perjalanan
Selamat tinggal cintaku
Dulu ada cinta yng menyapa
Mentari tersenyum di taman sekolah
Hanya mampu untuk meninkmati cinta yang hadir begitu senja
Kita hadir dengan untaian puisi puisi ilmiah
Metafora bersama idealisme kita tlah tertunduk
Diatas jalur arah yang berbeda
Aku adalah pemuda dari keturunan tak berdaya
Debu adalah sahabatku
Mentari adalah lawanku
Dan waktu yng sombong tlah kutabiskan utk menjadi senjataku
Tertanam di kerikil yang buas
Menapaki sisa hidupku untuk menjadi pedang
Kembali maratapi akhir ujung langkah
Aku tak berdaya
Dan berjuang layaknya sang ksatria
Demi keturunan yg dititipkan ayahku
Membawa keluarga ke gerbang madani
Kelaparan memangsa sesama dengan pembalasan yang serupa
Hanya mengingatmu disisi
Terbaring di pangkuanku
Iti adalah hantu yang selalu kutunggua
Melukis wajahmu di atas beban hidup
Kupercaya membuat langkahku semakin mantap
Napas dalam hidupku kujadikan taruhan
Dirimu adalah asas semua mengapa aku masih hidup
Semakin hangat dan semakin menerka
Terselip bunga seroja di jubah hitamku

Tahukah engkau kini
aku sendirian dan hingga aku ingin bermandikan tubauhku di sungai asahan
Apa yang dititipkan ayahku
Tlah bersatu dengan alam
Semua tlah di sembelih pendekar dari tanah gersang
Keluargaku dan semuanya tlah lenyap
Disalibkan di ilalang terowongan hitam
Aku tertawan dlm dekapan risau hati yng sedih
Kehancuran akan jiwa yh terpenggal
Dan kasih yg dalam
Wajah mereka dan wajahmu selalu hadir hingga ak memnucaki semua nadiku intuk berontak
Hidupku yang putih yang dijejali ayat ayat ketuhanan tlah kutinggalkan di atas gunung sinabung
Aku iktiarkan napas ini bukan lagi mahluik suci
Tubuh ini tidak lagi sepeutih kain kapan
Menjadi serigala adalah akhlaknya
Dan menantang kodrat adalah akhirnya
Hingga malam tiba aku dgn segenap cinta yang tak berdaya
Berontak seperti halilintar
Tanganku sperti tiang keadilan suaralu mengaunh speri serigala
Siapapun uyangh didepan kubantai dengan ganasnyua
Sperti setan aku tlah berontak
Luluhkan semuanya hingga mpenawankupun ketakutan nbegitu dashyat
Kabur ke hutan seperti rusa
Semua tewas di tanganku
Dan aku nerteriak teriak
Seperti orang kesurupan
Bangga tpi nanar terlihat sepi
Rebah di tanah

Jumat, 06 Januari 2012

surat dari kawan

Seperti apakah yang tlah kau kuucapkan
Itu juga yang kusampaikan padanya
""Dengarkanlah dan camkanlah dengan hati yang bergelorta
Kita sdah melihat sendiri bagaimana bangsa ini tidak berjalan seperti yang kita harapkan
Pemerintah hanya punya dalih dengan kebijaksanaan yang selalu merugikanm rakyat
Bbm kembali di naikkan,pendidikan menjadi sperti barang impor,koruptor di sana sini
Keadilan bisa dijadikan sebuah lambang kejaliman ketidak berdayaan kita.
Kita melihat sendiri kerakusan para bangsa ini ketika koruptor yang merugikan rakyat triliunan hanya di penjarta tujuh tahun bahkan ada diantata mereka hingga sampai skrnhg tak tersentuh,aparat polisi sama rakus seperti serigala membunuh dan membanti siapa saja yang menjadi pengjadang tuannya,para buruh di perbudak dengan upah yang tidak memadai dan banyak anak bangsa menangisi masa depannya di lemari rumahnya
Janganlah engaku hanya bisa tertawa saudaraku,bagian kita tlah tergadai di nusantara
Merka tlah merampok dan memperkosa titipan nenek moyang kita.
Apakah kita hanya diam saja,ketika orang tua kita terbaring lemah pesakitan dimana ketika rumah sakit mengabaikanya,merka hanya memikirkanm diri sendiri,merka buas hingga menjual martabat bangsa ini.
TKI di negeri arab dan malaysia digantunh dan di cambuk pemimpin bangsa menangis di altar televisi,kecengengannya terdengar ke tanah pertiwi merasakn aib yng dalam,dan janganlah enhaku jg menangis mendengar kabar ini,jauh di sumatra ratusan anak bangsa tergadai di tanah,nyawa melayang demi tanah yang terbeli di warisan nenek moyang.mereka di bantai saudara dengan laras panjang tp penguasa hanya diam dilkandangnya sperti babi,sibuik dengan cucunya.katakan kepada saudaramu yang nberdarah pancasila.tanamkan dalam dadamu pemberontakan agar pengorbanan hutagalung tidak sia sia menjengkali pemerintah kita.
Kita adalah sebarisan anak bangsa,baiknya kita bersihkan hati kita untuk keluar dari tempat tinggal dengan kain putih di lengan,kita nberontak a pada kejaliamnm dan ketidakpedulian penguasa....

diana

Jam tiga sore di siantar plasa
Kurangkul kembali semangatku yng tlah pergi
Kekembalilkan kembali pengharapan itu di atas kepalaku
Masih adakah insiatif itu menghampiri..aku terjungkal di depan tahta
Gilaku tlah berdami dengan darahku...
Dirinya tersenyum di kejauhan
Kembali $mengombakkanku di tiang tak berujung
Secantik seperti kemarin
Luluhkanku kupernah mendekapmu...

hidupku

Kita adalah sesuatu yang tlah ku kenal
Ibarat kutilang merayap di teras rumah
Menemanimu kawan di seberang pemberontakan
Ketika aku bercermin kulihat dirimu
Tak sebijak yng dlu
Kabur menghitam wajahmu
Dosa apakah yang tlah kau tanamkan
Kini menjelma menjadi menakutkan..
diammu gambaran cerita
Diam tak bergelora
Enggan untuk hidup kembali

kabarmu kawan

Jikalau ada kabar drimui kawan
Dengarkanlah aku walau hanyua sesumbar
Masih adakah di sana pengharapan
Untuk menyambung nyawa di tanah perbudakan
Aku sudah pasrah untuk berdamai
Di tanah kelahiran aku seperi sampah
Menyengat
Bagi merka yg bijaksana

beban langkah

Beban langkah hidup tlah yerbiasa
Berlari tergantung di puing romantika
Kecapan waktu tlah tersandung
Seperti irama musik menampar hidupku kembali
Luka dam membahana
Menerjanh dinding dinding keangkuhanku
Bak senja menghantui dekapan mentari
Terbunuh di kegalauan masa depan
Apakah yg terlahirkan dri persengkokolan
Apakah negeri inikan selalu membujang
Perawan yng tergadai di semenanjung selatan
Bahkan lebih dri lukisan para ningrat
Sembari perih menantang jiwa yg tlah menyerah
Kita berserakan di ambang jendela indonesia
Meneriaki kekalahan di sepanjang jalan
Beriringan dengan kehilangan moral
Terjepit di dua sisi
Sisi yang satu serigala namanya
Sisi yang disini kambing rupanya
Menjelma dan bertutur kata
Bijak dan pemerhati pencaplok angkara
Keheningan senja di tepian lauatan
Tergambarkan memang
Risau hati para bangsaku
Menatap jauh ke langit atas
Mulutnya menengadah ke langit dengan untaian doa
Doa yg terselip diambang kematian
Apakah yang datang menjadi hina?
Surgawi bertepuk dada
Gunung gunung $embanjiri kegelisahan saudara
Hewan berilham akan kebuasan seperti di colosum romawi
Rakyat dibaiarkan tanpa pangeran
Pemimpin mengais kekayaan di bintang tujuh
Korbankan apa yang di korbankan
Beli apa yang namanya kehormatan
Dan jual kemunafikan dengan kesombongan
Jalan darah seperti taman langit
Jalan berdebu bergumam di napas ilahi
Seperti apakah rupawan yang di nanti..
Banyak berbaris anak bangsa di ruas ruas persimpangan
mata lesu menahan lapar
Suaranya lantang kobarkan kerakusan dan matanya merah menuntut keadilan
Bagian terkecil dri pengharapan
Rencana masa depan
Dipertaruhkan di buku buku pejuang
Kita tertinggal dan terjungkal
Berserakan di hamparan langit malam...
Tanpa tujuan dan tanpa masa depan
Di atas pemimpin terlahir sebagi penhecut
Cepat mati susilo...