Jumat, 06 Januari 2012

hidupku

Kita adalah sesuatu yang tlah ku kenal
Ibarat kutilang merayap di teras rumah
Menemanimu kawan di seberang pemberontakan
Ketika aku bercermin kulihat dirimu
Tak sebijak yng dlu
Kabur menghitam wajahmu
Dosa apakah yang tlah kau tanamkan
Kini menjelma menjadi menakutkan..
diammu gambaran cerita
Diam tak bergelora
Enggan untuk hidup kembali

kabarmu kawan

Jikalau ada kabar drimui kawan
Dengarkanlah aku walau hanyua sesumbar
Masih adakah di sana pengharapan
Untuk menyambung nyawa di tanah perbudakan
Aku sudah pasrah untuk berdamai
Di tanah kelahiran aku seperi sampah
Menyengat
Bagi merka yg bijaksana

beban langkah

Beban langkah hidup tlah yerbiasa
Berlari tergantung di puing romantika
Kecapan waktu tlah tersandung
Seperti irama musik menampar hidupku kembali
Luka dam membahana
Menerjanh dinding dinding keangkuhanku
Bak senja menghantui dekapan mentari
Terbunuh di kegalauan masa depan
Apakah yg terlahirkan dri persengkokolan
Apakah negeri inikan selalu membujang
Perawan yng tergadai di semenanjung selatan
Bahkan lebih dri lukisan para ningrat
Sembari perih menantang jiwa yg tlah menyerah
Kita berserakan di ambang jendela indonesia
Meneriaki kekalahan di sepanjang jalan
Beriringan dengan kehilangan moral
Terjepit di dua sisi
Sisi yang satu serigala namanya
Sisi yang disini kambing rupanya
Menjelma dan bertutur kata
Bijak dan pemerhati pencaplok angkara
Keheningan senja di tepian lauatan
Tergambarkan memang
Risau hati para bangsaku
Menatap jauh ke langit atas
Mulutnya menengadah ke langit dengan untaian doa
Doa yg terselip diambang kematian
Apakah yang datang menjadi hina?
Surgawi bertepuk dada
Gunung gunung $embanjiri kegelisahan saudara
Hewan berilham akan kebuasan seperti di colosum romawi
Rakyat dibaiarkan tanpa pangeran
Pemimpin mengais kekayaan di bintang tujuh
Korbankan apa yang di korbankan
Beli apa yang namanya kehormatan
Dan jual kemunafikan dengan kesombongan
Jalan darah seperti taman langit
Jalan berdebu bergumam di napas ilahi
Seperti apakah rupawan yang di nanti..
Banyak berbaris anak bangsa di ruas ruas persimpangan
mata lesu menahan lapar
Suaranya lantang kobarkan kerakusan dan matanya merah menuntut keadilan
Bagian terkecil dri pengharapan
Rencana masa depan
Dipertaruhkan di buku buku pejuang
Kita tertinggal dan terjungkal
Berserakan di hamparan langit malam...
Tanpa tujuan dan tanpa masa depan
Di atas pemimpin terlahir sebagi penhecut
Cepat mati susilo...

Senin, 12 Desember 2011

ada surga di depan istana

Terlihat sprti ada sebuah tawa
Merangkai waktu yang tiba dengan sebuah pertanyyaan
Tertawan jingga bumi indonesia
Menyerupai sandiwara akan kelaknatan seorang pemimpin
Berbicara menerjang seperti kutu busuk
Hingga ada yang terbakar kemarin
Suaranya bisu terdengar tpi janjikan revolusi
Gagahnya sejajar dengan bung tomo
Pendidikannya selaras dgn idealismenya
Dan akupun hanya berduka di teras rumah kusampaikan salam
Langit biru yg kita tunggu pun mengheningkan awan putih
Bergelombang menari nyanyikan lagu perjuangan
Selamat jalan sondang napitupulu

Kita adalah semut kecil yang berjalan memapah masa depan
Ada anak bangsa yg tersalibkan kepengecutan
Ada anak bangsa yang terdampar di pulau kemalasan
Ada anak bangsa yg membeli seragam polisinya dengan ratusan harta bapaknya
Semua di perdebatkan di nusantara indonesia
Kezaliman situan laknat tlah lama terdengar
Lukisan kehancuran bangsa ternoda dengan orang orang bengal
Merampas hidup orng banyak
Koruptor ibarat gedung di senayan yang berwajah monster
Menakuti kaum kusta dengan keserakahan dan tak terjamah
Presidennya hanya bisa berdendang dengan permaisuri seperti pelacur
Terlalu sibuk dengan romantika percintaan
Seniman bberbulu domba itu acuh layaknya sang pangeran
Negeri menangis dan hanya pasrah
Yerdengarkah engkau wahai pata pengecut
Anak bangsa terbakar di depan istanamu
Dengan harapan engkaukan mengheningkan cipta
Nyanyikan lagu perjuangan di altar para pahlawan
selamat jalan sondang napitupulu

Engaku pergi. Diantara galau sahabatmu
Kami kehilangan satu lagi bintang bangsa
Gagahmu kan selalu kami ingat
meski jantungkan berhenti
Indonesia tetap indonesia
Kita bangga dengan kebanggaan dan kita kan selaalu tetap bersama
Selamat jalan sondang napitupulu

Sabtu, 26 November 2011

lorong beraspal rumahku

sendiri mata ini berkelahi dengan angin yang tertampar dari kaca busku
ada ceita yang datang seperti awan putih membuatku tersenyum
fajar menyingsing tlah merapat di atas langit kampungku
menghampiri tepian rimbunan pohon pohon yang berbaris terlewati
kecil dikala itu
rupawan bagaikan tanah kosong
gersang mengisi prabu jiwantara ahti yang rapuh
menari diatas kepala kosong
dimana hati dan napasnya tlah mati
jauh sebelum merah putih berkibar
kita sebarisan dari manusia kalah yang bertarung ke negeri seberang
mati adalah yang kita cari
ketika kekalahan hanyalah terselamatkan di kuatnya rupiah
mon

Senin, 21 November 2011

kata terakhir

hanya sebait kata yang terakhir
kulukis bunga sebagai tanda cintaku yang tak bertepi
kuteteskan sedetik air mata untukmu
dan kurangkai dengan sebuah doa
selamat menempuh hidup baru sahabatku

kita bisa

kudekap dengan segenap mimpi yang hadir menyapa
kudkap erat dengan segenap jiwa
kupertaruhkan yang ada dengan napas terakhir
berkibarlah trus merah putih
berkibarlah ke langit dengan satria
bangkitkanlah para pejuang yang terlahir di basuh garuda
kita bisa
kita berdiri
kitakan menjadi pemenang di atas langit indonesia