Kusampaikan dengan indah ttg cinta
menyapa di hamparan langit biru
Berkumandang di atas sesuatu yang hina
Engkau dan aku bersanding di riak gelombang rindu yg dalam
Teringat kembali akan senyummu
Membara seperti salju di hatiku kering
Kenangan indahmu kembali membanjiri stiap jengkal pengharapanku
Mengutuki tetapi masih mencinta
Menyesali namun masih membayang
Dan hanya mengenangmu disis waktu yang berjalan
Sepertinya cinta ini memaksaku
Utk berkata bahasa roh
Kasihku ....
Masihkah adakah cinta yg kutinggalkan milikku
Apakah dirimu jg merasakan rinduku yg dasyat
Yg siap meledak sprti gunung krakatau
ataukah drimu kini terhenti
Di malam malam pelukan sang kumbang
Menanti nanti driku dari seberang
Tak kunjung datang
Dan dirimu rebahan di ilalang depan rumahmu
Biaskan penantianmu di antara orang yang lalu lalang
Tercium aroma kemapanan akan seorang bangsawan
Terbawa dalam cerita sang kekasih
Meninggalkan yang tlah pergi selamanya
Kekasih yang pernah beriktiarkan kembali ke pangkuan
samapai kapankah aku menanti
Terlewati waktu hentikan penantian
Terdengarkah nyanyian rinduku
Abadikah cinta yg tlah ku titipkan
Mengapa tak ada tanya darinya
Terjebakkah dia di gedung gedung tua
Atau tertidurkah dia di hamparan kemunafikan
Tersalib dlam seribu kepecundangan
Malu untuk kembali pulang
Kusandarkan cinta tertawa dalam kisah penggalan
Kupergi dengan cinta terselubung
Antara langit dan bumi
Perbedaan antara kisah yg tlah melayang
Lelaki yg miskin dan penuh kesengsaraan
Anak yatim piati yg tak kenal ayah dan ibu
Di gubuk tua mengharap belas kasih
Berjuang sendiri dengan mimpi yg terjual
Hanya langit biru yang menjadi teman
Dan secuil tanda lahir bahwa aku pernah ada
Hidup diantara manusia serakah
Dibuang ke sungai tak punya nama
Senyum menyapa diantara perjalan jauh
Tawa hadir berjalan di lorong lorong pintu yang pernah terlewati
menahan napas menanti kejutan
Masa kecil yg penuh kesendirian
Kucari cari wajah wajah yg dlu
Menjadi sahabat menembus waktu
Tertawa dan bercanda
Dipukulin dan di ludahin
Dicaci dan dimaki
Berlari lari mengejar matahari dan tertidur dlm dekapan risau hati
Apakah mentari kembali menyapa
Jauh kutatap nanar wajah tua
Kerutnya terlihat terbelenggu dalam penderitaan yang dalam
Suaranya teriakkan namaku di bibirnya yg kering
Lidah enggan dengan lantang memanggilku
Aku berlari dengan sedikit berpikir
Kudekat dan memelukku tubuhnya
Airmata berjatuhan dengan riaknya
Menembus kesepian menoleh kepadaku
Ada guratan keterkejutan dan kegemparan akan sosok tubuhku
Kupandangi wajah mereka dengan senyuman
Tp mereka membalas dengan senyuman seadanya
Senyum mereka tidak seindah yg dlu
Terlihat kaum tetangga yang kaya lusuhnya sperti pengemis
Mereka sprti mayat yg berjalan
Tak punta harapan dan perjalanan
Mereka hanya terdiam dimana mereka berdiri
Seakan aku sesosok penampakan yang biasa bgi mereka
''Ada apa gerangan dengan semua ini,apa yang tlah terjadi ibu"tanyaku dengan suara menderu
Dengan isak tangis si ibupun tertegun menatap mataku"setelah kepergianmu raja kita mangkat dri tahta dan digantikan oleh sang pangeran.kami mengharapkan pangeran itu sebijaksana dgn ayahnya tetapi tidak seperti yg kami harapkanmdia memperbudak kaum kita,berpesta pora dan memperkosa setiap anak dara negeri ini menjadi gundignya,dia menetapkan biaya pajak yg setiap tahun naik .siapapun yang melanggar perintahnya akan di cap pembelot kerajaan dan englkau tahu sahabatmu masa kecilmu terbelenggu di penjara martabe dan di hukum gantung tanpa ada pembelaan yg semestinya"sekejap saja airmtanya membasahi pipinya yang berkerut .ibu tua itu menangis sejadi jadinya di pelukanku.lanjutnya"baiknya engkau tlah kembali dari negeri seberang,laparkah dirimu,anakku."
Kurangkai kembali sisa hidupku yng tlah berjalan diantart dunia penuh dusta
Kucoba menahan seribu dendam pemberontakan
Terlahir kembali menggapai galau risau dalam
Senin, 24 Oktober 2011
hidup adalah penuh dengan kehormatan
aku tidak menghormati orang yang memiliki segalanya dengan ijasah maupun yang di beli dengan menggadai persawahan bapaknya
karena ijasah dan perangkat pemerintahan di negeri ini bisa dibeli dengan keagungan sang materi tapi aku mau menghormati orang yg berjuang menapaki kerikil tajam dengan segala keinginan yg tersimpan di hatinya untuk maju di depan
aku tidak mau menghormati para kacung kacung polisi karena seragamnya sama halnya dengan noda darah yag tersirat diatas para pengecut
tapi aku mau menghormati tukang sampah dimana dengan usahanya dan keringtnya menapaki hidup untuk tetap tersenyum
aku paling benci apa yang namanya kesombongan karena kesombongan sama halnya dengan ketidak jujuran
tapi aku menghormati kaum inteltualyang mau bersama denganku untuk selalu mendoakan negeri ini
sama halnya dengan aku,aku hanyalah puisi puisi yang terselip di buku buku para kaum moderat
pemberontakanku adalah awal dari kekalahanku,aku terkubur seperti halnya para pengecut
aku dikalahkan negeri ini untuk berlari ke negeri lain
ketika pendidikan adalah emas di jembatan bailonia
di tawarin dengan kilauan kedurhakaan dan kemewahan
itu adalah aku dan napasku hanya sedekat kematian
biarkanlah semuanya terjadi di bawah garis tangan
hidup adalah penuh dengan penghormatan
dan mati juga disambut dengan sukaci8ta
karena ijasah dan perangkat pemerintahan di negeri ini bisa dibeli dengan keagungan sang materi tapi aku mau menghormati orang yg berjuang menapaki kerikil tajam dengan segala keinginan yg tersimpan di hatinya untuk maju di depan
aku tidak mau menghormati para kacung kacung polisi karena seragamnya sama halnya dengan noda darah yag tersirat diatas para pengecut
tapi aku mau menghormati tukang sampah dimana dengan usahanya dan keringtnya menapaki hidup untuk tetap tersenyum
aku paling benci apa yang namanya kesombongan karena kesombongan sama halnya dengan ketidak jujuran
tapi aku menghormati kaum inteltualyang mau bersama denganku untuk selalu mendoakan negeri ini
sama halnya dengan aku,aku hanyalah puisi puisi yang terselip di buku buku para kaum moderat
pemberontakanku adalah awal dari kekalahanku,aku terkubur seperti halnya para pengecut
aku dikalahkan negeri ini untuk berlari ke negeri lain
ketika pendidikan adalah emas di jembatan bailonia
di tawarin dengan kilauan kedurhakaan dan kemewahan
itu adalah aku dan napasku hanya sedekat kematian
biarkanlah semuanya terjadi di bawah garis tangan
hidup adalah penuh dengan penghormatan
dan mati juga disambut dengan sukaci8ta
negeri tercinta
dengan rasa haru aku hanya bisa tertawa menatap satu persatu kisah kisah yang tlah terlewati dan kini bersandar pada naungan sebiji harapan krna hari harapanku kurasakan bangkit kembali
banyak cerita yg ingin kusandarkan padam,u saudara tapi hati ini hanya bisa tertawa dalam keheningan malam tertidur dalam batu yang jayh dari tanah
seperti itunya hal aku
bernazar dan bernapas hanyalah sebuah cinta cinta yang bertepi dalam satu pemandangan ttg bangsa ini yang tlah diobrak abrik tangan tangan pemerintahan yg rakus dan tak bertuhan.kita lihat bagaimana negeri ini hanyalah bisa berharap dan menanti tetapi apakah yang kita tunggu tunggu akan datang,dan apakah kita hanya akan juga mendiam di sawah sawah berselimutkan ijasah yang hanya membeku di langit impian kita yg kosong dan apakah kita hanya bisa melihat merasakan seolah tak mahu tahu,pikirkanlah ini saudaraku
kita sudah di injak injak bahkan kita sdah tenggelam di samudera yang namanya juga tak terdaftar di ambangan daratan negeri ini,ketidak adilan para penguasa tlah memperkosa mimpi mimpi anak anak kita,ilhamkanlah dri kita ,kita adalah bagian yang terakhir yang terbuang di negeri sendiri kita bangkita untuk bertanya.kemanakah keadilan itukan di tegakkan?adakah terdengar pangeran dri bukit bukit,dari hutan rimba,samudra apakah ada ksatria dari hutan rimba untuk berlari menancapkan reformasi....
ada baiknya bersama sama ,mengorganisir kita yang didasari pancasila mengangkat bendera tegakkan keadilan dan kebenaran walau mentari enggan untuk menyinari kita kan selalu berada di depan menerjang kerakusan para pemnguasa. kita sdah melihat segalanya sudah berubah,mereka sepekat tlah meracuni anak bangsa dengan dalih keagungan para penguasa,yang kaya dan bangsawan tlah mempoerbudak kita di bawa bangkir bangkir dan finance finance yang tak kenal lelah dan malu memperkosa hak kita ,sebenarnya mereka meludahi dimana kepandaian mereka di jadikan tameng untuk menghakimi orng orang bodoh di negeri ini.kita sudah di jajah oleh kaum inteletual yang di prakarsai dari negeri kulit kuning,idealisme kita bergotong royang tlah dibuang jauh menjadi berkeping keping tak tersisa kita dijadikan seperti kaca yang di pecahkan terbagi bagi saling memfitnah,sdaling mencurigai yang dilandasi dengan individu individu yang langsung diangkut dri kaum borjuis.moral dan etika kita tidak lagi berlandaskan pada ketuhanan yang maha esa melainkan siapa yang kaya itulah tuan segalanya,kita melihat langsung bagaimana para milyunert di negeri ini dengan kesombongan mereka berdansa di altar alatr istana yang megah,mereka bernayayi bagaikan kerajaan abad pertengahan anggun dan mewah,mereka berlari sangat kencang dengan segala keangkuhan negerui ini para koruptor berdansa di tahanan para lelaki si hidung belang,mereka mereplika sandiwara bagaikan sinetron sinetron cinderella dimana para artis dan tokohnya adalah para perampok di negeri ini.senyapkah kita hanya bisa melihat para babi bai koruptor mencari celah untuk diampuni bukankah lebih baik mereka mati,malukah dirinya dengan segala kejahatannya...mereka berdansa saudara dan menikmati semuanya didinding dinding kemegahan hukum denagn kucing garongnya mahkamah konsitutusi yang bisa dibeli dengan selembar kain kafan
salam dari para manusia yang dimanapun saudara berada jika anda membaca apa yang menjadi idelogi dri pemikiran ini sama halnya dengan melihat kemunafikan segalanay yg mereka pertontonkan,koalisi partai,jebak jebakn,tuduh menuduh dan masalah swasembada partai hangat untuk di jual belikan dan aku juga mengapa para penyiar itu juga mempertontonkan semua itu apakah tidah baiknya mereka menyoroti kehidupan masyarakat dimana hingga kini selalu penuh dengan kesusahan.,pengangguran bertambah,pendidikan dan kesehatan berubah menjadi serigala mencekik kaum miskin.menjadi bijak bukanlah untuk menertawai pemikiran yang dilandasi pada acuan suatu metode yang tersirat menapaki sisa sisa dri kekalahan tetapi kita menawarkan sesuatu yang terhilang untuk datang kemabli dan menajdikan sesuatu yang datang itu untuk berarti karena semuanya apa yang ada bagi kaum muda yang intelek,berjiwa besar dan tertinggal bersamalah kita bergandengan tangan menerobos kezaliman para penguasa dengan kekuatan doa dan pastinya harapan,seperti halnya aku dan kamu kita adalah generasi yang langsung berdiri apa yang sepantas kita perjuangkan meskipun butuh pengorbanan marilah kita beranjak danmenapaki bahwa cukup sampai disini mereka mempertontonkan keangkuhan bangsa ini.semuanya adalah bagian yang terkecil,datar dan menyerupai suatu sentuhan tentang imajinasi kita untuk bersama dengan segala kelemahan dan keterbelakangan ,bahu membahu serta bergerak menjadi sebuah kekuatan yang dilandasi bhineka tunggal ika.kita mewujudkan demokrasi yang hakiki dan harga mati tentang HAM menegakkan keadilan dimanapun kita berada tanpa memandang keterbelakangan siapa yang membutuhkan pertolongan wajib di tolong tanpa mengaharapkan imbalan seperti halnya sebuah kemerdekaan yang tlah diraih para pahlwan kita baiknya kita juga menjadikan sebagian tubuh kita untuk berjuang kembali di negeri ini karena negeri ini kita sdah melihat sendiri ketika kebodohan mampu dibeli dengan kekuasaan dan memahkotai kebodohan menjadi penguasa,semua terbeli dan terpasung menghakimi kaum inteletual yg tlah menghabiskan waktu memikirkan bangsa ini dan menajdikan kita barisan para pengecut yang tercuil di negeri ini.
bangkit adalah harga mati ,dasarilah kalbu ini dengan pemberontakan dan kedamaian,menjadi bijak adalah sesuatu yang tertanam di dalam sanubari para generasi untuk melangkah lebih awal sebelum ayam berkokok dan mentari keluar dari istananya
teriakakanlah tentang jiwa jiwa yang bersembunyi di hutan hutan untuk kembali menjadi bagian dri sejarah mengambil peranan untuk menegakkan keadilan setinggi tingginya.
bangkitlah engkau saudaraku nagkitlah dengan segala kehormatan dan napas dunia
bergeraklah seperti ait di sungai sungai
seperti halnya engkau para anak negeri
hari ini dan selamanya waktu yang kita nanti
pakaikanlah jubahmu dengan keberanian dan pengorbanan
tawarkanlah takutmu dengan selaksa kemenangan
kejarlah mimpimu ke gunung gunung dan ke segala penjuru
teriakkanlah semangatmu di dinding ketuhananmu
sebab sampai kapanpun
kita akan terlahir dari tetek ibu
jadikanlah dirimu menjadi pemberontak untuk kemunafikan bangsa ini
karena pemberontakan ini adalah awal dri sebuah harapan
harapan yang ditawar dengan kematian
tidak dibeli
tidak korupsi dan di kasihani
merdekakanlah negeri ini dari para perampok yang berdasi putih
banyak cerita yg ingin kusandarkan padam,u saudara tapi hati ini hanya bisa tertawa dalam keheningan malam tertidur dalam batu yang jayh dari tanah
seperti itunya hal aku
bernazar dan bernapas hanyalah sebuah cinta cinta yang bertepi dalam satu pemandangan ttg bangsa ini yang tlah diobrak abrik tangan tangan pemerintahan yg rakus dan tak bertuhan.kita lihat bagaimana negeri ini hanyalah bisa berharap dan menanti tetapi apakah yang kita tunggu tunggu akan datang,dan apakah kita hanya akan juga mendiam di sawah sawah berselimutkan ijasah yang hanya membeku di langit impian kita yg kosong dan apakah kita hanya bisa melihat merasakan seolah tak mahu tahu,pikirkanlah ini saudaraku
kita sudah di injak injak bahkan kita sdah tenggelam di samudera yang namanya juga tak terdaftar di ambangan daratan negeri ini,ketidak adilan para penguasa tlah memperkosa mimpi mimpi anak anak kita,ilhamkanlah dri kita ,kita adalah bagian yang terakhir yang terbuang di negeri sendiri kita bangkita untuk bertanya.kemanakah keadilan itukan di tegakkan?adakah terdengar pangeran dri bukit bukit,dari hutan rimba,samudra apakah ada ksatria dari hutan rimba untuk berlari menancapkan reformasi....
ada baiknya bersama sama ,mengorganisir kita yang didasari pancasila mengangkat bendera tegakkan keadilan dan kebenaran walau mentari enggan untuk menyinari kita kan selalu berada di depan menerjang kerakusan para pemnguasa. kita sdah melihat segalanya sudah berubah,mereka sepekat tlah meracuni anak bangsa dengan dalih keagungan para penguasa,yang kaya dan bangsawan tlah mempoerbudak kita di bawa bangkir bangkir dan finance finance yang tak kenal lelah dan malu memperkosa hak kita ,sebenarnya mereka meludahi dimana kepandaian mereka di jadikan tameng untuk menghakimi orng orang bodoh di negeri ini.kita sudah di jajah oleh kaum inteletual yang di prakarsai dari negeri kulit kuning,idealisme kita bergotong royang tlah dibuang jauh menjadi berkeping keping tak tersisa kita dijadikan seperti kaca yang di pecahkan terbagi bagi saling memfitnah,sdaling mencurigai yang dilandasi dengan individu individu yang langsung diangkut dri kaum borjuis.moral dan etika kita tidak lagi berlandaskan pada ketuhanan yang maha esa melainkan siapa yang kaya itulah tuan segalanya,kita melihat langsung bagaimana para milyunert di negeri ini dengan kesombongan mereka berdansa di altar alatr istana yang megah,mereka bernayayi bagaikan kerajaan abad pertengahan anggun dan mewah,mereka berlari sangat kencang dengan segala keangkuhan negerui ini para koruptor berdansa di tahanan para lelaki si hidung belang,mereka mereplika sandiwara bagaikan sinetron sinetron cinderella dimana para artis dan tokohnya adalah para perampok di negeri ini.senyapkah kita hanya bisa melihat para babi bai koruptor mencari celah untuk diampuni bukankah lebih baik mereka mati,malukah dirinya dengan segala kejahatannya...mereka berdansa saudara dan menikmati semuanya didinding dinding kemegahan hukum denagn kucing garongnya mahkamah konsitutusi yang bisa dibeli dengan selembar kain kafan
salam dari para manusia yang dimanapun saudara berada jika anda membaca apa yang menjadi idelogi dri pemikiran ini sama halnya dengan melihat kemunafikan segalanay yg mereka pertontonkan,koalisi partai,jebak jebakn,tuduh menuduh dan masalah swasembada partai hangat untuk di jual belikan dan aku juga mengapa para penyiar itu juga mempertontonkan semua itu apakah tidah baiknya mereka menyoroti kehidupan masyarakat dimana hingga kini selalu penuh dengan kesusahan.,pengangguran bertambah,pendidikan dan kesehatan berubah menjadi serigala mencekik kaum miskin.menjadi bijak bukanlah untuk menertawai pemikiran yang dilandasi pada acuan suatu metode yang tersirat menapaki sisa sisa dri kekalahan tetapi kita menawarkan sesuatu yang terhilang untuk datang kemabli dan menajdikan sesuatu yang datang itu untuk berarti karena semuanya apa yang ada bagi kaum muda yang intelek,berjiwa besar dan tertinggal bersamalah kita bergandengan tangan menerobos kezaliman para penguasa dengan kekuatan doa dan pastinya harapan,seperti halnya aku dan kamu kita adalah generasi yang langsung berdiri apa yang sepantas kita perjuangkan meskipun butuh pengorbanan marilah kita beranjak danmenapaki bahwa cukup sampai disini mereka mempertontonkan keangkuhan bangsa ini.semuanya adalah bagian yang terkecil,datar dan menyerupai suatu sentuhan tentang imajinasi kita untuk bersama dengan segala kelemahan dan keterbelakangan ,bahu membahu serta bergerak menjadi sebuah kekuatan yang dilandasi bhineka tunggal ika.kita mewujudkan demokrasi yang hakiki dan harga mati tentang HAM menegakkan keadilan dimanapun kita berada tanpa memandang keterbelakangan siapa yang membutuhkan pertolongan wajib di tolong tanpa mengaharapkan imbalan seperti halnya sebuah kemerdekaan yang tlah diraih para pahlwan kita baiknya kita juga menjadikan sebagian tubuh kita untuk berjuang kembali di negeri ini karena negeri ini kita sdah melihat sendiri ketika kebodohan mampu dibeli dengan kekuasaan dan memahkotai kebodohan menjadi penguasa,semua terbeli dan terpasung menghakimi kaum inteletual yg tlah menghabiskan waktu memikirkan bangsa ini dan menajdikan kita barisan para pengecut yang tercuil di negeri ini.
bangkit adalah harga mati ,dasarilah kalbu ini dengan pemberontakan dan kedamaian,menjadi bijak adalah sesuatu yang tertanam di dalam sanubari para generasi untuk melangkah lebih awal sebelum ayam berkokok dan mentari keluar dari istananya
teriakakanlah tentang jiwa jiwa yang bersembunyi di hutan hutan untuk kembali menjadi bagian dri sejarah mengambil peranan untuk menegakkan keadilan setinggi tingginya.
bangkitlah engkau saudaraku nagkitlah dengan segala kehormatan dan napas dunia
bergeraklah seperti ait di sungai sungai
seperti halnya engkau para anak negeri
hari ini dan selamanya waktu yang kita nanti
pakaikanlah jubahmu dengan keberanian dan pengorbanan
tawarkanlah takutmu dengan selaksa kemenangan
kejarlah mimpimu ke gunung gunung dan ke segala penjuru
teriakkanlah semangatmu di dinding ketuhananmu
sebab sampai kapanpun
kita akan terlahir dari tetek ibu
jadikanlah dirimu menjadi pemberontak untuk kemunafikan bangsa ini
karena pemberontakan ini adalah awal dri sebuah harapan
harapan yang ditawar dengan kematian
tidak dibeli
tidak korupsi dan di kasihani
merdekakanlah negeri ini dari para perampok yang berdasi putih
Jumat, 21 Oktober 2011
negeri terasing di dadaku
Jauh kulambai lambai sebuah berita
Kutautkan pada sebuah ketakutanku
Tahukah dirinya
Kusimpan. Sebuah rahasia
Waktupun berlalu seperti khalifah
Dipanggil dia membuang mata
Kutriak dia berlari tanpa suara
Dengarkah dirinya
Interigtas bangsa di pertanyakan
Presidennya hanya menggonggong
Mentrinya sperti bola sepak
Diganti ganti
Mengubah cerita
Reshufle kembali berkumandang
Bodohkah yg di sanayan
Atau binatang kah mereka yng berdentang
atau aku yg jalang mempertanyakan gugatan yg terbuang
Kusam wajah para jelata
Tangis bayi di pom bensin
Wanita tua bertelanjang dada
Terselip di akhir cerita
Situan adil bijaksana
Tebar senyum di televisi
Dia adalah arjuna dri cikeas
Terkutuk di tangan para koruptor
Century terlahir dan pergi
Hanya sebentar tp tak bertepi
Blt menjadi singa
Banyak nyawa tergadai di pintu surga
Mengangkangi terbang garuda
Enggan hinggap di tanah pertiwi
FPI menjadi hakim baru
Tak terjamah dan tak kenal takut
Kebenaran di tegakkan dengan kekerasan
Surban putih jd taruhan
Akahkah semuanya terpampang
Di dinding situan penuh kesombongan
Gayus berlari dri kegelapan
Bagai hantu menyerupai manusia
Membeli siapa saja yg bisa di beli
di atas sajadah selimut kemunafikan akan dosa kita terselubung bagaikan waktu yang berdentang
kata katanya terdengar jauh ke negeri para pengecut untuk bangkit saja sangat riskan untuk berlari
kita dikalahkan oleh keraguan yang mendalam
terdampar pada sejuta beban yang tertancap di tanah
kita hanya bisa berharap pada hati mulia
menanti datangnya sang adil
menanti dtangnya sang bijaksana
hanya kita bisa terasing di negerio sendiri
Kutautkan pada sebuah ketakutanku
Tahukah dirinya
Kusimpan. Sebuah rahasia
Waktupun berlalu seperti khalifah
Dipanggil dia membuang mata
Kutriak dia berlari tanpa suara
Dengarkah dirinya
Interigtas bangsa di pertanyakan
Presidennya hanya menggonggong
Mentrinya sperti bola sepak
Diganti ganti
Mengubah cerita
Reshufle kembali berkumandang
Bodohkah yg di sanayan
Atau binatang kah mereka yng berdentang
atau aku yg jalang mempertanyakan gugatan yg terbuang
Kusam wajah para jelata
Tangis bayi di pom bensin
Wanita tua bertelanjang dada
Terselip di akhir cerita
Situan adil bijaksana
Tebar senyum di televisi
Dia adalah arjuna dri cikeas
Terkutuk di tangan para koruptor
Century terlahir dan pergi
Hanya sebentar tp tak bertepi
Blt menjadi singa
Banyak nyawa tergadai di pintu surga
Mengangkangi terbang garuda
Enggan hinggap di tanah pertiwi
FPI menjadi hakim baru
Tak terjamah dan tak kenal takut
Kebenaran di tegakkan dengan kekerasan
Surban putih jd taruhan
Akahkah semuanya terpampang
Di dinding situan penuh kesombongan
Gayus berlari dri kegelapan
Bagai hantu menyerupai manusia
Membeli siapa saja yg bisa di beli
di atas sajadah selimut kemunafikan akan dosa kita terselubung bagaikan waktu yang berdentang
kata katanya terdengar jauh ke negeri para pengecut untuk bangkit saja sangat riskan untuk berlari
kita dikalahkan oleh keraguan yang mendalam
terdampar pada sejuta beban yang tertancap di tanah
kita hanya bisa berharap pada hati mulia
menanti datangnya sang adil
menanti dtangnya sang bijaksana
hanya kita bisa terasing di negerio sendiri
mati
Kepadanya kupanjatkan sebuah doa
Doa yang terbungkus dlam kain kafan
Mengapa kita tertawa
Dalam derap langkah. Hitam dunia
Sepertinya waktuku untuk menunggu
Hening tak lagi bernyanyi
Doa yang terbungkus dlam kain kafan
Mengapa kita tertawa
Dalam derap langkah. Hitam dunia
Sepertinya waktuku untuk menunggu
Hening tak lagi bernyanyi
pemberontakan
Aku bkan chairil anwar dan ak bkan jg wr rendra
Ak adalah anak siantar yg punya mimpi seperti merka
Mulutku adalah syair dan pikiranku adalah pemberontakan
Ak adalah sejarah yg terlupakan mencoba untuk bangkit
Mengingatkan kita akan sepenggal kisah tragedi
Ketika kita di pertanyakan anak bangsa
Sedetik kata menyongsong mentari
Waktu itu jg lukiskan kesombongan ketika mimpiku bertabrakan dengan kisahku
Aku dibesarkan di tetek ibuku yg serba kekurangan
Ak di timang seorang lelaki yang perkasa
Bagiku dia adalah perjuanganku
Mengabadikan namanya di barisan terhormat yg kusanjung
Ak adalah manusia yg pernah kalah
Puisi adalah napasku
Ak tertanam dlam kehidupan terjerat para sarjana terbeli
Aku hanya tamat sma
Tp didadaku adalah replika perjuanganku yg tiada henti
Aku berjuang di barisan depan
Menggempur lawan lawanku dengan ingatan yg cemerlang
Seperti sang pemikir seperti itu jgalah aku
Ak berjalan sperti hantu hingga si anak emas kuatirkanku
Dendamnya mengutukiku di telapak tangan orang tuanya
Hingga fajar pun tak lagi seindah yg dlu
Ak simiskin dri siantar menunggu mati
Tenggelam dalam kehampaan sebuah pertanyaan
Bangkitpun aku enggan
Krna kata katanya tlah memerah
Membunuhku dgn ganasnya
Idealismeku terapung di samudra biru
Ak adalah sebuah lukisan perjuangan
Ak bangkit dari yg mati hidup kembali
Ketika pikiran bernyanyi dengan perjalanan
Mimpi itupun pergi seiring senyum mentari
Disini ak berani bernyanyi lebih berani
karna hidup hanya sekali
Terbeli dan tergadai
Takdirpun gentar menawanku
Hitam langkahku gentarkan semua lawanku
Ak anjing dri kegelapan itu yg kutahu namaku
Siapa saja aku hentakkan bertmu dgn pencipta
Semuanya terdiam seperti halilintar
Menerjang kebaikan dan kebenaran
Menyeret kesombongan pada siku kepahlawanan
Biarlah tuhan menjadi hakim dlm dosaku
Aku adalah serigala dri siantar
Aku bermimpi tentang hal pertapa
Membantu anak bangsa menjadi bijak
menaburi tanah dengan benih
Bekerja dengan cinta
Berjalan dengan bergandengan
Hingga akupun terjatuh dlam pengasingan
Aku adalah puisi
Puisiku hanya bisa tertawa
Beban langkah terasa terzalimi
Ternoda dlm sehimpit keruangan kesombongan
Darah mengalir dlm dekapan
Penuh noda dan dosa
Mati adalah akhirnya
Terpasung dlm hidup pemberontakan
Ak adalah anak siantar yg punya mimpi seperti merka
Mulutku adalah syair dan pikiranku adalah pemberontakan
Ak adalah sejarah yg terlupakan mencoba untuk bangkit
Mengingatkan kita akan sepenggal kisah tragedi
Ketika kita di pertanyakan anak bangsa
Sedetik kata menyongsong mentari
Waktu itu jg lukiskan kesombongan ketika mimpiku bertabrakan dengan kisahku
Aku dibesarkan di tetek ibuku yg serba kekurangan
Ak di timang seorang lelaki yang perkasa
Bagiku dia adalah perjuanganku
Mengabadikan namanya di barisan terhormat yg kusanjung
Ak adalah manusia yg pernah kalah
Puisi adalah napasku
Ak tertanam dlam kehidupan terjerat para sarjana terbeli
Aku hanya tamat sma
Tp didadaku adalah replika perjuanganku yg tiada henti
Aku berjuang di barisan depan
Menggempur lawan lawanku dengan ingatan yg cemerlang
Seperti sang pemikir seperti itu jgalah aku
Ak berjalan sperti hantu hingga si anak emas kuatirkanku
Dendamnya mengutukiku di telapak tangan orang tuanya
Hingga fajar pun tak lagi seindah yg dlu
Ak simiskin dri siantar menunggu mati
Tenggelam dalam kehampaan sebuah pertanyaan
Bangkitpun aku enggan
Krna kata katanya tlah memerah
Membunuhku dgn ganasnya
Idealismeku terapung di samudra biru
Ak adalah sebuah lukisan perjuangan
Ak bangkit dari yg mati hidup kembali
Ketika pikiran bernyanyi dengan perjalanan
Mimpi itupun pergi seiring senyum mentari
Disini ak berani bernyanyi lebih berani
karna hidup hanya sekali
Terbeli dan tergadai
Takdirpun gentar menawanku
Hitam langkahku gentarkan semua lawanku
Ak anjing dri kegelapan itu yg kutahu namaku
Siapa saja aku hentakkan bertmu dgn pencipta
Semuanya terdiam seperti halilintar
Menerjang kebaikan dan kebenaran
Menyeret kesombongan pada siku kepahlawanan
Biarlah tuhan menjadi hakim dlm dosaku
Aku adalah serigala dri siantar
Aku bermimpi tentang hal pertapa
Membantu anak bangsa menjadi bijak
menaburi tanah dengan benih
Bekerja dengan cinta
Berjalan dengan bergandengan
Hingga akupun terjatuh dlam pengasingan
Aku adalah puisi
Puisiku hanya bisa tertawa
Beban langkah terasa terzalimi
Ternoda dlm sehimpit keruangan kesombongan
Darah mengalir dlm dekapan
Penuh noda dan dosa
Mati adalah akhirnya
Terpasung dlm hidup pemberontakan
Langganan:
Postingan (Atom)
