Sunyi itu adalah napas kekalahanku
Gamabaran sebuah keputusasaan
Aku terdiam dialtar sebuah jubah kemunafikan
Hanya diam tak terpikirkan
Kesombongan tlah meracuni kisahku
Biarkanlah menjadi sebuah nisan
Tertulis si pengecut dri Siantar
Dalam kubangan para manusia laknat
Sedikit keperkasaan merjai sebuah di lema
Kita tertinggar di persimpangan jalan
Kamis, 15 September 2011
wanita terhormat
Aku yang tak pernah terpikirkanmu
Aku yg hanya mengagumimu
Memandangi wajahmu dari sebuah kebodohan
Ada cinta yang mengalir
Ada puisi tercipta untukmu
Pernahkah drimu menyadari arti dari senyumku
Banyak cerita mengalir di bawah kemiskinanku
Menyadari sesuatu yg takkan mungkin
Hanya doa yanng bisa kusampaikan
Hanya bayangmu menjadi kekuatanku
Engkaulah wanita terhormat
Engakaulah yang bisa gantikan ibuku
Kesederhanaanmu ajarkan aku ttg hidup
Tutur katamu putihkan pikiranku ttg kasihmu
Engkaulah wanita tulang rusukku
Engkaulah yang bisa menjadi pelangiku
Terang jalanku pancarkan sisa hidupku
Berdiri bagkit menyambut mentari
Aku yg hanya mengagumimu
Memandangi wajahmu dari sebuah kebodohan
Ada cinta yang mengalir
Ada puisi tercipta untukmu
Pernahkah drimu menyadari arti dari senyumku
Banyak cerita mengalir di bawah kemiskinanku
Menyadari sesuatu yg takkan mungkin
Hanya doa yanng bisa kusampaikan
Hanya bayangmu menjadi kekuatanku
Engkaulah wanita terhormat
Engakaulah yang bisa gantikan ibuku
Kesederhanaanmu ajarkan aku ttg hidup
Tutur katamu putihkan pikiranku ttg kasihmu
Engkaulah wanita tulang rusukku
Engkaulah yang bisa menjadi pelangiku
Terang jalanku pancarkan sisa hidupku
Berdiri bagkit menyambut mentari
Minggu, 11 September 2011
kita selamanya
pernah engkau dengar suara para laknant di televisi
tataplah matanya dengan sekilas wajahnya penuh dengan kepalsuan
layakkah mereka menjadi sang penguasa
dibalik bodohnya tertawa dalam kehbisingan kota jakarta
dulu hingga sekarang mereka membeli jabatan dengan uang
uang mereka tawarkan hanya sementara ditangan para moderat mereka menjadi singa
sibodoh ini mengembangkan kebodohannya ke anak bangsa
turun temurun berkuasa karena sudah tradisi
masa depan bangsa ini sudah dijanjikan dalam sejarah
simikin menjadi miskin
sikaya berpelukan di ranjang para bangsawan
segelas anggur teman sejati
pengantar ngantuk dikamar perawan
tentara dan polisi saling mencengkeram
habis sudah keringat negeri bercucuran
merebut lahan yang bisa di genggam
anak negeri yg menjadi tameng
atau kembalikan modal selangkangan dengan seragam yang membusuk tak punya kehormatan
seragamnya hanyalah lukisan permadani yang sangat mahal
hingga nasionalismepun direnggut si janda kembang
semuanya diatur dengan uang
hakim hakim dan perangat sibuat kebenaran
keadilan itu diperjualbelikan
menjadi budak situan laknat
kita tertawa keadilan hanya semata
hukum nya tertutup rapat tak terjamah
sungguh mencengangkan
jubahnya di tawari dengan sehelai kegelapan
tataplah matanya dengan sekilas wajahnya penuh dengan kepalsuan
layakkah mereka menjadi sang penguasa
dibalik bodohnya tertawa dalam kehbisingan kota jakarta
dulu hingga sekarang mereka membeli jabatan dengan uang
uang mereka tawarkan hanya sementara ditangan para moderat mereka menjadi singa
sibodoh ini mengembangkan kebodohannya ke anak bangsa
turun temurun berkuasa karena sudah tradisi
masa depan bangsa ini sudah dijanjikan dalam sejarah
simikin menjadi miskin
sikaya berpelukan di ranjang para bangsawan
segelas anggur teman sejati
pengantar ngantuk dikamar perawan
tentara dan polisi saling mencengkeram
habis sudah keringat negeri bercucuran
merebut lahan yang bisa di genggam
anak negeri yg menjadi tameng
atau kembalikan modal selangkangan dengan seragam yang membusuk tak punya kehormatan
seragamnya hanyalah lukisan permadani yang sangat mahal
hingga nasionalismepun direnggut si janda kembang
semuanya diatur dengan uang
hakim hakim dan perangat sibuat kebenaran
keadilan itu diperjualbelikan
menjadi budak situan laknat
kita tertawa keadilan hanya semata
hukum nya tertutup rapat tak terjamah
sungguh mencengangkan
jubahnya di tawari dengan sehelai kegelapan
para pemenang
kugenggam semua apa yang ada padaku
kupaksakan mataku agar terus terjaga
dibalik jantungku yang berdetakan tak seirama napasku
terbaring ditanah dengan senjata dipelukan
mengintai intai layaknya sang penjaga makam
menanti ancangan untuk bertempur
karena mati adalah akhir segalanaya
mati demi indonesia
kebanggaan yang takkan pernah hilang
meski para kurcaci menikmati kemerdekaan
kita akann selalu menjadi para pemenang
kupaksakan mataku agar terus terjaga
dibalik jantungku yang berdetakan tak seirama napasku
terbaring ditanah dengan senjata dipelukan
mengintai intai layaknya sang penjaga makam
menanti ancangan untuk bertempur
karena mati adalah akhir segalanaya
mati demi indonesia
kebanggaan yang takkan pernah hilang
meski para kurcaci menikmati kemerdekaan
kita akann selalu menjadi para pemenang
kekelahan sang pecinta
dengarkanlah cintaku sebuah puisi untukmu
hanya sebatas dentangan kerinduan yang dalam
kemarin cinta itu masih hadir menyapa
kini hanya sebuah kisah yang tertinggal menanti pergi
tak mengapa jika itu hanyalah se=buah kata
tapi harus engkau mengerti bahwa cinta inikan selamanya abadi
hingga ujung dunia
mengagumimu di balik kekuranganku
kemiskinan sedekat dengan kekalahanku
yang tak bisa
memilikimu
kurangkai kembali puisi puisi yang menjadi sebuah kisah yang tlah membeku
seperti para penyair yng terdiam di gua gua
menanti sebuah keajaiban kcil
menghampiri
terlinatas sejenak sesauatu yag tlah pergi
dan kini menyeruak memperkosa waktuku yg kosong
akankah cinta inikan menjadi tawar
meski tlah terbawa gelombang sang waktu
indah wajahmu masih terjaga dari pencapaian lelahku
diantara seribu cinta yang ada hanyalah sebuah kekalahan
aku kalah karena didalam hidupku aku tergantung pada satu pilihan
aku terlahir dari para pemberani
tapi aku pengecut dari cerita cinta
menghancurkan semua rangakain masa depan
dengan kata cinta
aku yang kalah dalam cinta tpi pejuang dalam hal kehidupan
elamat tinggal semua yang tlah pergi
selamat tinggal waktu yang kosong
dendangkanlah lagiu rinduku padamu hanyalah puisi puisi ini yang biasa kukatakan dibalik sebuah kata kepengecutanku
hanyalah riah cinta
hanya sebatas dentangan kerinduan yang dalam
kemarin cinta itu masih hadir menyapa
kini hanya sebuah kisah yang tertinggal menanti pergi
tak mengapa jika itu hanyalah se=buah kata
tapi harus engkau mengerti bahwa cinta inikan selamanya abadi
hingga ujung dunia
mengagumimu di balik kekuranganku
kemiskinan sedekat dengan kekalahanku
yang tak bisa
memilikimu
kurangkai kembali puisi puisi yang menjadi sebuah kisah yang tlah membeku
seperti para penyair yng terdiam di gua gua
menanti sebuah keajaiban kcil
menghampiri
terlinatas sejenak sesauatu yag tlah pergi
dan kini menyeruak memperkosa waktuku yg kosong
akankah cinta inikan menjadi tawar
meski tlah terbawa gelombang sang waktu
indah wajahmu masih terjaga dari pencapaian lelahku
diantara seribu cinta yang ada hanyalah sebuah kekalahan
aku kalah karena didalam hidupku aku tergantung pada satu pilihan
aku terlahir dari para pemberani
tapi aku pengecut dari cerita cinta
menghancurkan semua rangakain masa depan
dengan kata cinta
aku yang kalah dalam cinta tpi pejuang dalam hal kehidupan
elamat tinggal semua yang tlah pergi
selamat tinggal waktu yang kosong
dendangkanlah lagiu rinduku padamu hanyalah puisi puisi ini yang biasa kukatakan dibalik sebuah kata kepengecutanku
hanyalah riah cinta
sang pelacur
engkau hanya seorang pelacur
bagiku engkau hanyalah lukisan dalam kemalasanku
tak mengerti dan tak semudah itu engkau hanya pergi
campakkan semua janji yg pernah kubuang
tak bertepi
engkau hanya pembawa sial bagiku'satu persatu mimpiku
terbawa jalan hidupku tentang senyummu
dan engkau tahu
engkau membuangnya dengan sekejap saja
sangat bergarga bagiku tapi kutahu siapakah diriku
aku tak sehebat si cina dari negeri kecil
aku tak sehebat si melayu simalas
aku hanya anak indonesia yang punya cinta
dan semuanya hanya tulus kuberikan untukmu
pelacur.........
teriakkanlah pada dunia malam
tertawalah pada situan kecilmu
mandikanlah tubuhmu di bawah sang rembulan
berikanlah kepuasa yang menikmati tubuhmu
jika ada dusta hanya sesaat
tawarkan dunia dengan pelukan si gadis malas
jejalilah tubuhmu dengan lafal allah
bukankah hidup ini butuh perjuangan
dan kemalasanmu tergadai bak emas dan permata
mandiukan dosa dengan arungan napasmu
monyetpun tergoda menjilat tubuhmu....
wahai pelacur
bukankah engkau pelacur
poelacur malam dengan mimpi dan takdirnya
menjengkal negeri dengan tetes airmata
demi cinta dipertanyakan di hakim hakim
siapakah sang pendosa?
apakah kita yang belajar berdoa
atau kita kumpulan si peci putih
tanyakanlah kepada para khalifah
demi cinta kita bertaruing dengan sang pencipta
kita tukar raga demi kebebasan semata
begitulahkita
dan menanti sang pengghakim yang bijaksana
kita hanyalah sebarisan para manusia laknat
pelacur................
hanya seorang pelacur...........
bagiku engkau hanyalah lukisan dalam kemalasanku
tak mengerti dan tak semudah itu engkau hanya pergi
campakkan semua janji yg pernah kubuang
tak bertepi
engkau hanya pembawa sial bagiku'satu persatu mimpiku
terbawa jalan hidupku tentang senyummu
dan engkau tahu
engkau membuangnya dengan sekejap saja
sangat bergarga bagiku tapi kutahu siapakah diriku
aku tak sehebat si cina dari negeri kecil
aku tak sehebat si melayu simalas
aku hanya anak indonesia yang punya cinta
dan semuanya hanya tulus kuberikan untukmu
pelacur.........
teriakkanlah pada dunia malam
tertawalah pada situan kecilmu
mandikanlah tubuhmu di bawah sang rembulan
berikanlah kepuasa yang menikmati tubuhmu
jika ada dusta hanya sesaat
tawarkan dunia dengan pelukan si gadis malas
jejalilah tubuhmu dengan lafal allah
bukankah hidup ini butuh perjuangan
dan kemalasanmu tergadai bak emas dan permata
mandiukan dosa dengan arungan napasmu
monyetpun tergoda menjilat tubuhmu....
wahai pelacur
bukankah engkau pelacur
poelacur malam dengan mimpi dan takdirnya
menjengkal negeri dengan tetes airmata
demi cinta dipertanyakan di hakim hakim
siapakah sang pendosa?
apakah kita yang belajar berdoa
atau kita kumpulan si peci putih
tanyakanlah kepada para khalifah
demi cinta kita bertaruing dengan sang pencipta
kita tukar raga demi kebebasan semata
begitulahkita
dan menanti sang pengghakim yang bijaksana
kita hanyalah sebarisan para manusia laknat
pelacur................
hanya seorang pelacur...........
Langganan:
Postingan (Atom)
