bintang itu tak lagi bisa untuk bersinar
karena angkuhnya tlah terjebak di langit putih
ada sesuatu masa lalu mengubur mimpinya
hingga dirinya enggan untuk bercerita
baiknya kita menjadi seusatu yang sangat di benci daripada kuta mempertaruhkan yang tak ada menjadi ada
lakukanlah sekarang menjadi sebuah inspirasi
bagi orang orang yang perlu bagi anda
Sabtu, 10 September 2011
tragedi
terdiam diantara seribu kisah yang menanti
engkau hadir dengan sejuta tawa
engkau basuh lukaku dengan cerita kehidupan
bangkitkan aku untuk kembali berdiri
bijk hatimu membuatku bangga
berlari menyongsong dengan sebuah harapan
kembali berdiri menjaid penantang
bangkitkan para penyair kembali di pikiranku
lahirkan semangatku yang tlah lama mati
hentakan mulutku untuk berbicara seperti meriam di masa perang
menantang situan rasul berjas surban berjenggot
putih
menantang pemikiran situan nabi nabi
yang meletakkan di keadilan di kandang babi
idealisme negeri diganti dengan imperialisme kesombongan
agamis di jadikan sebuah kekuatan keserakahan
propaganda untuk saling menjebak
menghasut kebaikan menjadi pemberontakan
melahirkan para penghianat di negeri ini
merongrong pancasila dengan buatan mereka
kekesihku terdengarkah aku kembali menyapa
terdengarkah jiwa ini kembali terjatuh
benar adanya aku berbicara dengan lantangnya
tpi mereka bribu ribu banyaknya
sedangkan aku
aku hanya sendiri
tak ada yang mengert apa yang aku perjuangkan
karena otak mereka tlah tersisi ajaran ajaran sejarah
kemunafikan mereka tlah terisi penuh
hingga kebaikan tak ada tempat bagi mereka
mereka serentak meludahi aku
menendang bahkan menarik narik aku
bahkan ada juga teriakin aku untuk disalibkan
keksihku
cantikmu laksana sang rembulan
aku tlah kembali menelan kepahitan hidup[ ini
biarkanlah aku disini bersama dengan dentakan jantungku
kerna ,mati mungkin penawarnya bagiku
engkau hadir dengan sejuta tawa
engkau basuh lukaku dengan cerita kehidupan
bangkitkan aku untuk kembali berdiri
bijk hatimu membuatku bangga
berlari menyongsong dengan sebuah harapan
kembali berdiri menjaid penantang
bangkitkan para penyair kembali di pikiranku
lahirkan semangatku yang tlah lama mati
hentakan mulutku untuk berbicara seperti meriam di masa perang
menantang situan rasul berjas surban berjenggot
putih
menantang pemikiran situan nabi nabi
yang meletakkan di keadilan di kandang babi
idealisme negeri diganti dengan imperialisme kesombongan
agamis di jadikan sebuah kekuatan keserakahan
propaganda untuk saling menjebak
menghasut kebaikan menjadi pemberontakan
melahirkan para penghianat di negeri ini
merongrong pancasila dengan buatan mereka
kekesihku terdengarkah aku kembali menyapa
terdengarkah jiwa ini kembali terjatuh
benar adanya aku berbicara dengan lantangnya
tpi mereka bribu ribu banyaknya
sedangkan aku
aku hanya sendiri
tak ada yang mengert apa yang aku perjuangkan
karena otak mereka tlah tersisi ajaran ajaran sejarah
kemunafikan mereka tlah terisi penuh
hingga kebaikan tak ada tempat bagi mereka
mereka serentak meludahi aku
menendang bahkan menarik narik aku
bahkan ada juga teriakin aku untuk disalibkan
keksihku
cantikmu laksana sang rembulan
aku tlah kembali menelan kepahitan hidup[ ini
biarkanlah aku disini bersama dengan dentakan jantungku
kerna ,mati mungkin penawarnya bagiku
mengagumimu
menatap indah senyummu dibawah bodohku mengagumimu tanpa engkaupun tahu
hanya sedetik kupejamkan mata mengenangmu di hamparan rindu yang dalam
terlahir sebuah ide di khatuslistiwa membenamkan mataku menyebut namamu
bahagiaku seakan menghampiri relung hati penyendiri tertawankan cintamu
adacinta yang mengalir seperti aroma bunga seroja
menghiasai setiap jengkal langkahku
ada cinta segudang rasa
ada tertanam cinta yang menyapa
cinta ini sedikit hanya tersipu
waktukan merangkai seiring sang pengecut
mengagumimu tanpa ijinmu
hanya itu yang kubisa
hanya sedetik kupejamkan mata mengenangmu di hamparan rindu yang dalam
terlahir sebuah ide di khatuslistiwa membenamkan mataku menyebut namamu
bahagiaku seakan menghampiri relung hati penyendiri tertawankan cintamu
adacinta yang mengalir seperti aroma bunga seroja
menghiasai setiap jengkal langkahku
ada cinta segudang rasa
ada tertanam cinta yang menyapa
cinta ini sedikit hanya tersipu
waktukan merangkai seiring sang pengecut
mengagumimu tanpa ijinmu
hanya itu yang kubisa
Jumat, 09 September 2011
cemburu
Jelaskan padaku jangan hanya membisu
Uraikanlah dengan kebencian jika masih ada cinta
Rahasiamu jgnlah menjadi senjata pemusnah
Selagi waktu hanya menjadi saksi
Tawarkanlah nafsu cintaku dengan ratapan sedihmu
Buanglah jauh semua cintamu sebelum aku terjungkal
Berdiri layaknya sang pengecut
Kemanakah cinta ini bertautan
Adakah cintamu yg tulus putih itu memerah
Terdampar di tepian pantai lelaki bijaksana
Cintamu tak lagi seperti senyum mentari
Uraikanlah dengan kebencian jika masih ada cinta
Rahasiamu jgnlah menjadi senjata pemusnah
Selagi waktu hanya menjadi saksi
Tawarkanlah nafsu cintaku dengan ratapan sedihmu
Buanglah jauh semua cintamu sebelum aku terjungkal
Berdiri layaknya sang pengecut
Kemanakah cinta ini bertautan
Adakah cintamu yg tulus putih itu memerah
Terdampar di tepian pantai lelaki bijaksana
Cintamu tak lagi seperti senyum mentari
risahlah hati
tiada kata yang indah terbawa dalam sebuah makna
Tiada cinta yang hilang di dalam sebuah tanya
Biarkanlah sepi menjelma menjadi tawanan
Menuntun waktu terbeli mimpi di hamparan kekeringamn sawah petani
Terdiam sendiri pandangi langit
Kita beranjak dan berdiri
Berlari lari dengan nafsu sorgawi
Erangan malam mengisi sejuta rindu
Terdampar di haluan tanah yg datar
Bisikan bisikan kelaparan sangat kelas menggema
Teriakan keganasan meledak ledak
Kawahnya hadirkan sejuta dendam
Meneriakin siapa saja yglemah
Bagai hantu menjelma memotonh nadi
Terlihat jelas bahkan nampak nyata
Satu satu anak bangsa menutup mata
Beramai ramai menanti disembelih
Biarkanlah kita hanya meratapi
Begitu banyak bahkan terlewatkan
Ada berkumandang suara azan
Membelai rambut lembut segarkan sejenak
Lalu tertawa dalam kebohongan belaka
Jika kita hanyalah penuh rasa
Ada bahasa menjelma menjadi harapan
Sejenak kita renungkan wahai saudara
Hentikan langkah waktu sombongnua penguasa kezaliman
Terdiam diam bagai angin
Siapakah kita yang berjalan bersama
Dihamparan waktu kita satu tujuan
Bersama membangun negeri....
Tiada cinta yang hilang di dalam sebuah tanya
Biarkanlah sepi menjelma menjadi tawanan
Menuntun waktu terbeli mimpi di hamparan kekeringamn sawah petani
Terdiam sendiri pandangi langit
Kita beranjak dan berdiri
Berlari lari dengan nafsu sorgawi
Erangan malam mengisi sejuta rindu
Terdampar di haluan tanah yg datar
Bisikan bisikan kelaparan sangat kelas menggema
Teriakan keganasan meledak ledak
Kawahnya hadirkan sejuta dendam
Meneriakin siapa saja yglemah
Bagai hantu menjelma memotonh nadi
Terlihat jelas bahkan nampak nyata
Satu satu anak bangsa menutup mata
Beramai ramai menanti disembelih
Biarkanlah kita hanya meratapi
Begitu banyak bahkan terlewatkan
Ada berkumandang suara azan
Membelai rambut lembut segarkan sejenak
Lalu tertawa dalam kebohongan belaka
Jika kita hanyalah penuh rasa
Ada bahasa menjelma menjadi harapan
Sejenak kita renungkan wahai saudara
Hentikan langkah waktu sombongnua penguasa kezaliman
Terdiam diam bagai angin
Siapakah kita yang berjalan bersama
Dihamparan waktu kita satu tujuan
Bersama membangun negeri....
tuhan
tuhan............
kebahagian apa yang kan kurasakan dikala malam menampar wajahku
hujan membasahi bumi dengan angkuhnya menghentikan semua langkahku
terjagaku dari tidur yang sejenak menepi dalam gelombang dinginnya malam
berselimutkan koran kucoba memeluk bayangan yg tersisa
hadirkan sejuta rindu yang datang dan tak mau pergi
merasuki pikiranku dengan kata kata yang menyerang laksana raja rimba
beraksi dengan sembaran kilat menerkam tubuhku yang lemah
tuhan...............
banyak perkara yang kutanggung dengan seutas harapan
dibalik doa doa terdengarkah rintihan aku hambamu
adakah tersentuh hatimu yang pemurah mendengar dekapan kerinduan yang tersisa
dikota ini kutautkan sebuah waktu berdinding harapan
beranjak dari kemiskinan menuju kota yang asing bagiku
mimpikah aku dimalam ini
tuhan..................
tubuhku lemah hanya sebuah bayangan
haus menjelma bagaikan kumbangan penuh sampah
bertemankan kebajikan kudendangkan lagu keserakahan
terlambatkah aku untuk mengenang
tentang bayangan orang yg dicinta hadir menyapa
genggam sebuah keraguan di atas sebuah kebodohan
aku yang mencampakkan noda merah uuntuk keluarga terasing sendiri tanpa ada suara
bertemankan sebuah kekalahan kutapaki kerikil jalanan
sombongnya mentari menjadi raja bagiku
adakah pintu rumahkan terbuka membasuh tubuhku
lewati malam bagaikan sejuta hari
jiwa miskin hanya bisa menyadari
terpuruk dalam lubang hitam dunia
tuhan........
senadainya aku hanya bisa melihat
angkuhnya situan polan menampar pipi bapakku
apakah aku hanya membisu menggemgam kedua tangan ketika situan polan meludahi kening bapakku
apakah ditubuh ini tidak mengalir nafsu serigala
membara meledak layaknya kapal menabrak karang
begitu juga aku...
aku kepalkan kedua tangan jatuhakan perkara
kuberlari berlayar ke samudra biru
terdampar disini dengan sejuta hampa
pakah ada jalan terbaik akan kusesali
di balik jubah kubertarung meraih mimpi
tuhan...................
dimanakah sang mempelaiku
apakah dia juga takut untuk menatap mataku
yang penuh dosa
puisi puisi tlah tertanam dan bunganya tlah layu
pada siapakah cinta ini kutautkan
siapakah gerangan dirinya
tawarkanlah aku pada sebuah kemegahan pencinta
takdirku
menapaki sebuah tragedi
mencintai tanpa dicintai
hanya itu yang bisa kulakukan mengagumi
di bawah langkah sang pengecut
tuhan....................
biarkanlah waktukan menjadi istilah dalam sebuah pencarian
harapan itu bertemankan dengan impian agar jiwaku hanya bisa tertawa
kebahagian mengalir bersama gelombang pelangi
menantikuku hadir kembali bersama yang tlah kutinggalkan
karena kuyakin dan kupercaya
cintamu tuhan kan selalu mewarnai hidupku
selamanya hingga ajal menanti
kebahagian apa yang kan kurasakan dikala malam menampar wajahku
hujan membasahi bumi dengan angkuhnya menghentikan semua langkahku
terjagaku dari tidur yang sejenak menepi dalam gelombang dinginnya malam
berselimutkan koran kucoba memeluk bayangan yg tersisa
hadirkan sejuta rindu yang datang dan tak mau pergi
merasuki pikiranku dengan kata kata yang menyerang laksana raja rimba
beraksi dengan sembaran kilat menerkam tubuhku yang lemah
tuhan...............
banyak perkara yang kutanggung dengan seutas harapan
dibalik doa doa terdengarkah rintihan aku hambamu
adakah tersentuh hatimu yang pemurah mendengar dekapan kerinduan yang tersisa
dikota ini kutautkan sebuah waktu berdinding harapan
beranjak dari kemiskinan menuju kota yang asing bagiku
mimpikah aku dimalam ini
tuhan..................
tubuhku lemah hanya sebuah bayangan
haus menjelma bagaikan kumbangan penuh sampah
bertemankan kebajikan kudendangkan lagu keserakahan
terlambatkah aku untuk mengenang
tentang bayangan orang yg dicinta hadir menyapa
genggam sebuah keraguan di atas sebuah kebodohan
aku yang mencampakkan noda merah uuntuk keluarga terasing sendiri tanpa ada suara
bertemankan sebuah kekalahan kutapaki kerikil jalanan
sombongnya mentari menjadi raja bagiku
adakah pintu rumahkan terbuka membasuh tubuhku
lewati malam bagaikan sejuta hari
jiwa miskin hanya bisa menyadari
terpuruk dalam lubang hitam dunia
tuhan........
senadainya aku hanya bisa melihat
angkuhnya situan polan menampar pipi bapakku
apakah aku hanya membisu menggemgam kedua tangan ketika situan polan meludahi kening bapakku
apakah ditubuh ini tidak mengalir nafsu serigala
membara meledak layaknya kapal menabrak karang
begitu juga aku...
aku kepalkan kedua tangan jatuhakan perkara
kuberlari berlayar ke samudra biru
terdampar disini dengan sejuta hampa
pakah ada jalan terbaik akan kusesali
di balik jubah kubertarung meraih mimpi
tuhan...................
dimanakah sang mempelaiku
apakah dia juga takut untuk menatap mataku
yang penuh dosa
puisi puisi tlah tertanam dan bunganya tlah layu
pada siapakah cinta ini kutautkan
siapakah gerangan dirinya
tawarkanlah aku pada sebuah kemegahan pencinta
takdirku
menapaki sebuah tragedi
mencintai tanpa dicintai
hanya itu yang bisa kulakukan mengagumi
di bawah langkah sang pengecut
tuhan....................
biarkanlah waktukan menjadi istilah dalam sebuah pencarian
harapan itu bertemankan dengan impian agar jiwaku hanya bisa tertawa
kebahagian mengalir bersama gelombang pelangi
menantikuku hadir kembali bersama yang tlah kutinggalkan
karena kuyakin dan kupercaya
cintamu tuhan kan selalu mewarnai hidupku
selamanya hingga ajal menanti
Kamis, 08 September 2011
sang putri
indah wajahmu kembali menyeruak di istana hitam langitku
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh
senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku
mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh
senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku
mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada
Langganan:
Postingan (Atom)
