tuhan............
kebahagian apa yang kan kurasakan dikala malam menampar wajahku
hujan membasahi bumi dengan angkuhnya menghentikan semua langkahku
terjagaku dari tidur yang sejenak menepi dalam gelombang dinginnya malam
berselimutkan koran kucoba memeluk bayangan yg tersisa
hadirkan sejuta rindu yang datang dan tak mau pergi
merasuki pikiranku dengan kata kata yang menyerang laksana raja rimba
beraksi dengan sembaran kilat menerkam tubuhku yang lemah
tuhan...............
banyak perkara yang kutanggung dengan seutas harapan
dibalik doa doa terdengarkah rintihan aku hambamu
adakah tersentuh hatimu yang pemurah mendengar dekapan kerinduan yang tersisa
dikota ini kutautkan sebuah waktu berdinding harapan
beranjak dari kemiskinan menuju kota yang asing bagiku
mimpikah aku dimalam ini
tuhan..................
tubuhku lemah hanya sebuah bayangan
haus menjelma bagaikan kumbangan penuh sampah
bertemankan kebajikan kudendangkan lagu keserakahan
terlambatkah aku untuk mengenang
tentang bayangan orang yg dicinta hadir menyapa
genggam sebuah keraguan di atas sebuah kebodohan
aku yang mencampakkan noda merah uuntuk keluarga terasing sendiri tanpa ada suara
bertemankan sebuah kekalahan kutapaki kerikil jalanan
sombongnya mentari menjadi raja bagiku
adakah pintu rumahkan terbuka membasuh tubuhku
lewati malam bagaikan sejuta hari
jiwa miskin hanya bisa menyadari
terpuruk dalam lubang hitam dunia
tuhan........
senadainya aku hanya bisa melihat
angkuhnya situan polan menampar pipi bapakku
apakah aku hanya membisu menggemgam kedua tangan ketika situan polan meludahi kening bapakku
apakah ditubuh ini tidak mengalir nafsu serigala
membara meledak layaknya kapal menabrak karang
begitu juga aku...
aku kepalkan kedua tangan jatuhakan perkara
kuberlari berlayar ke samudra biru
terdampar disini dengan sejuta hampa
pakah ada jalan terbaik akan kusesali
di balik jubah kubertarung meraih mimpi
tuhan...................
dimanakah sang mempelaiku
apakah dia juga takut untuk menatap mataku
yang penuh dosa
puisi puisi tlah tertanam dan bunganya tlah layu
pada siapakah cinta ini kutautkan
siapakah gerangan dirinya
tawarkanlah aku pada sebuah kemegahan pencinta
takdirku
menapaki sebuah tragedi
mencintai tanpa dicintai
hanya itu yang bisa kulakukan mengagumi
di bawah langkah sang pengecut
tuhan....................
biarkanlah waktukan menjadi istilah dalam sebuah pencarian
harapan itu bertemankan dengan impian agar jiwaku hanya bisa tertawa
kebahagian mengalir bersama gelombang pelangi
menantikuku hadir kembali bersama yang tlah kutinggalkan
karena kuyakin dan kupercaya
cintamu tuhan kan selalu mewarnai hidupku
selamanya hingga ajal menanti
Jumat, 09 September 2011
Kamis, 08 September 2011
sang putri
indah wajahmu kembali menyeruak di istana hitam langitku
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh
senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku
mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada
ada cerita yng tertinggal di seberang waktu yang berlalu
ada cinta mengalir seperti sungai efraim
menapaki sisa hidupku bertarung dengan langkahku
mengangkat kepalaku tegak berdiri berharap kembali menemukanmu
demi negeri bersama kawanan para ksatria terjaga di fajar mentari
di hadapan para banteng yang matanya merah menyala
dibunuh atau membunuh
senyummu dikala itu seperti salju yang membuka pikiranku
tatapanmu bangkitkan gairah hidupku untuk keluar dari jurang yang dalam
dan tutur katamu layaknya seorang putri
dibalik jubahmu tersimpan dilemari hiasmu
berjalan di lorang lorong rumahku dengan nama yang lain
ada cinta menggantung seperti buah apel yng terlihat meanawan
pancarkan lapar yang dalam
melompat untuk meraihmu
ada kebodohan yang membawa kisah cinta
memelukmu di rerumputan hijau
menciummu di balik putih bersih tubuhmu
kita bermain dengan takdir
dan takdir yang membawaku kemari
apa yang dinamakan medan perang
mati demi negeri adalah pahlawan
kami adalah orang orang kenangan
hanya diingat setahun sekali
kaum terbuang diantara kehormatannya di gadai kemiskinan
aku pemuda dari siantar
anak seorang buruh jahit
puisi dan harapan adalah sahabat terbaiiku
biarkanlah puisi puisiku juga kan menjadi temanmu kekasihku
mati adalah akhlak semua yang hidup
setiap hari ada yang mati
ada yang tubuhnya terpisah dri raga
terdengar erangan yng tajam
begitu jg dengan diriku
aku tahu aku bisa berdiri karena doamu besertaku
aku berjanjikan kembali
sang kekasih......
memedu cinta di balik kelambu beruntaikan ilalang
tangisan anak kecil di tetekmu kekasih....
hingga mereka hidup damai tanpa ada perang
sambutlah aku dengan laksana sang pribadi
jangan sambut aku layaknya seorang pahlawan
karena tubuh sudah berantakan
darah mengucur di tubuhku
aku layaknya serigala yang kejam
membunuh siapa saja yang mengangkat pedang di depanku
aku tidak takut kekasihku..
aku tidak gentar meski musuh didepan beribu ribu
aku tidak akan kalah kekasih
semuanya kami pertaruhkan disini demi kedamaian kota
bila kami kalah kalian jugakan tergadai di buasnya dunia rimba
bila suatu saat nanti keranda besi berhenti di depan rumah
sang jendral hanya terbaring diam sedingin salju
jangan menangis kekasih....
cobalah hanya tersenyum....
biarkanlah semuanya menjadi sebuah sejarah
sejarah bangsa bangsa diambang kehancuran
kami yang dianggap hilang dan tergadai di rindu yang dalam
sang mempelai menanti di gerbang istana senyum laksana sang surgawi
aku pulang kerumah bapakku dan aku menanttimu disini
kami yang dianggap tidak ada
cerita cinta
seperti apakah dirimu wahai perempuanku
cantikkah engkau bagai bidadariku
anggun kag drimu mengalahkan kecantikan bangunan borobudur
apakah =cantikmu mendamaikan dunia
atau bencana bagiku
atau dirimu hanya lukisan seribu kemunafikan
kupeluk dan kubasuh tubuhnu dengan rintihan rindu sang ksatria
mampukah dirimu memperjuangkan semuanya yg tertinggal
apakah cintamu slmanay kan abadi
jika suatu saat nanti aku terdiam dialtar para raja raja
aku butuh dirimu dengan segala kesederhanaan
aku u butuh kawanan dombamu yng bersih dan gemuk
aku hanya ingin engkau mengerti
sambutlah aku dengan segala kelemahanku
damaikanlah aku di ranjang semakmu
hingga fajar menyingsing cinta ini hanya milikmu
cantikkah engkau bagai bidadariku
anggun kag drimu mengalahkan kecantikan bangunan borobudur
apakah =cantikmu mendamaikan dunia
atau bencana bagiku
atau dirimu hanya lukisan seribu kemunafikan
kupeluk dan kubasuh tubuhnu dengan rintihan rindu sang ksatria
mampukah dirimu memperjuangkan semuanya yg tertinggal
apakah cintamu slmanay kan abadi
jika suatu saat nanti aku terdiam dialtar para raja raja
aku butuh dirimu dengan segala kesederhanaan
aku u butuh kawanan dombamu yng bersih dan gemuk
aku hanya ingin engkau mengerti
sambutlah aku dengan segala kelemahanku
damaikanlah aku di ranjang semakmu
hingga fajar menyingsing cinta ini hanya milikmu
kita hanya penonton
dengan seribu kekalahan tlah kucampakkan sebuah penderitaan
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali
langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana
banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali
langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana
banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa
Kamis, 01 September 2011
cinta yg pergi
Jelas sudah apa yang akan aku tanyakan
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya
hanya padamu
Tuhan berikan aku kekuatan
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata
Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah
Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata
Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah
Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu
Selasa, 30 Agustus 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
