seperti apakah dirimu wahai perempuanku
cantikkah engkau bagai bidadariku
anggun kag drimu mengalahkan kecantikan bangunan borobudur
apakah =cantikmu mendamaikan dunia
atau bencana bagiku
atau dirimu hanya lukisan seribu kemunafikan
kupeluk dan kubasuh tubuhnu dengan rintihan rindu sang ksatria
mampukah dirimu memperjuangkan semuanya yg tertinggal
apakah cintamu slmanay kan abadi
jika suatu saat nanti aku terdiam dialtar para raja raja
aku butuh dirimu dengan segala kesederhanaan
aku u butuh kawanan dombamu yng bersih dan gemuk
aku hanya ingin engkau mengerti
sambutlah aku dengan segala kelemahanku
damaikanlah aku di ranjang semakmu
hingga fajar menyingsing cinta ini hanya milikmu
Kamis, 08 September 2011
kita hanya penonton
dengan seribu kekalahan tlah kucampakkan sebuah penderitaan
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali
langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana
banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa
terkembang di hati sanubari seribu peristiwa yang datang seperti malakiat malam
rasa benci terlahir bak singa di gurun sahara
membawa sebuah cerita tertanam di gersangnya kerakusan bangsa
menapaki satu persatu penderitaan anak bangsa
datang dan pergi begitu saja tanpa ada tanya
kita hanya mebisu tapi kita hanya tertawa kita tertawa di balik keangkuhan para penguasa
mengerti tapi hanya bisa terpaku satu persatu cerita baru bangkt kembali
langit masih membiru dengan sejuta hikmahnya
gelagak tawa sang malam kembali menyanyikan lagu duka
dibalik bukit terdengar rintihan seorang ibu hanya bisa memelukki
tubuh anaknya yg dingin
menahan lapar rimbunannya bukit bukit
hanya bisa memandang sinis seakan tidak menahu apayang terjadi
sombongnya layaknya seperti gembala yang berdiri diantara ribuan domba yg gemuk
berani bicara tentang kebaikan simpatik hanya sedetik saja
apakah itu yang kita cari
apakah kita tak punya otak
apakah kita kaum bodoh
sang raja bertapa di istana
banyak masalah yng membuat kita tertawa
banyak cerita di layar tv membuat kita berkomentar
sejuta alasan untuk membuktikan benar
di balik para aktor bergaji milyaran
berjas putih layaknya sang hakim
mencari kesalahan yang bisa untuk di perdebatkan
situan pintar hanya simpatik di balik kain lusuhnya
matanya memandang sinis seakan ingin meludah
pikirnya'' ada anjing di layar tv memperebutkan singasana''
situan bijaksana hanya berdiri seperti patung
tangan nya menggempal di balik jubahnya yang terkoyak
bisiknya di gerangan hatinya yg merah menyala
tuhan seandai saja aku bisa kemarin melanjutkan kuliahku
"aku akan selalu memberikan yg terbaik untuk bangsa ini hingga para anjing anjing itu menyesal untuk terlahir kembali di negeri ini"
hingga sang penyair pun terdiam diantara ribuan kata katanya
"biarkanlah tuhan yang langsung memberikan pembalasan pada mereka"
kita hanya berucap
kita hanya berbicara
kita hanya bisa memandang
kita hanyalah kita
kita terbaring dirantai jalanan
hanya bisa terdiam
hanya bisa melihat
dan hanya bisa terus tersenyum
tahun ke tahun mimpi mimpi anak bangsa di penggal oleh si tuan laknat
berdiri kaki kita di potong
menunjuk tangan kita di gerayangi
yang pintar diberi jebakan
yang adil terpenjara diruangan yang gelap hingga enggan untuk hidup kembali
sedangkan kejujuran hanya pialang yang terdiam dio selokan para kubah
bercerita langsung pada yang kuasa
Kamis, 01 September 2011
cinta yg pergi
Jelas sudah apa yang akan aku tanyakan
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya
Terangkat jg arti dri risau hati
Semuanya ibarat pedang yang tajam
Merobek robek jantungku
Cinta itu hanya sekali aja lewat
Lalu pergi bersama langkahnya
hanya padamu
Tuhan berikan aku kekuatan
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata
Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah
Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu
Menghadapi hidup ini
Lelah kujalani hidup ini
Penuj luka dan airnata
Hanya padamu kupanjatkan doaku
Jangan pernah kau tinggalkan aku
Berikan aku kasihmu
Agar bijak hatiku tuk melangkah
Tiada kata lain selain namamu
Kuisebutmui selalu oh...
Kurasakan kutakkan gentar menghadapi hidup ini
Kuserahkan padamu
Jadilah kehendakmu genapi firmanmu
Selasa, 30 Agustus 2011
Apa yang bisa aku katakan
Apa yang bisa aku sampaikan
Ketika merah putih enggan berkibar
Diam membisu sediam sang samudera
Hening dan tak bersuara membelai sang angin
Ada apa gerangankah semuanya ini
Mengapa ada cerita terlahir di balik sejarah
Menipu dengan sajadah kiblat merah
Tawarkan rindu di sajadah kenangan
Terlintas satu persatu kebobrokan bangsa ini
Kita hanya melihat
Kita hanya mendengar
Kita hanya menjadi penonton
Dari cerita yng lahir monoton
Tanpa ada aktor si terdakwa terbelenggu di barisan penghianat bangsa
Siapakah kita di gelombang kemajuan bangsa
Apakahj ada yang bicara lantang di gedung penghakiman
Yang merobek robek dasinya di hamparan kemiskinan bangsa
Berdiri dengan gagah layaknya sisingamangaraja
menjadi taring di kegelapan cakrawala
Menjadi besi membasmi si manusia serakah
Aku hanya bicarak hanya barisan kata kegelisahan
Ketika para monyet di senayan telanjang dada
bicara layaknya seperti sang koruptor
Apa yang bisa aku sampaikan
Ketika merah putih enggan berkibar
Diam membisu sediam sang samudera
Hening dan tak bersuara membelai sang angin
Ada apa gerangankah semuanya ini
Mengapa ada cerita terlahir di balik sejarah
Menipu dengan sajadah kiblat merah
Tawarkan rindu di sajadah kenangan
Terlintas satu persatu kebobrokan bangsa ini
Kita hanya melihat
Kita hanya mendengar
Kita hanya menjadi penonton
Dari cerita yng lahir monoton
Tanpa ada aktor si terdakwa terbelenggu di barisan penghianat bangsa
Siapakah kita di gelombang kemajuan bangsa
Apakahj ada yang bicara lantang di gedung penghakiman
Yang merobek robek dasinya di hamparan kemiskinan bangsa
Berdiri dengan gagah layaknya sisingamangaraja
menjadi taring di kegelapan cakrawala
Menjadi besi membasmi si manusia serakah
Aku hanya bicarak hanya barisan kata kegelisahan
Ketika para monyet di senayan telanjang dada
bicara layaknya seperti sang koruptor
Rabu, 24 Agustus 2011
cerita usang
kuhanya mampu untuk membisu di balik sNG PUJANGGA
SYAIRKU TLAH MENYERUAK BAK SERIGALA DI LOLONGAN GETIRNYAS MALAM
NAPASKU TLAH BERUBAH SEKALI KALI DENGAN DENTUMAN MERIAM
MEMACU APA SAJA YANG TERSISA DI BALIK KERINGAT YANG MENDERU
AKU MASIH SAJA DIAM DIATAS SEBUAH KEBODOHAN
TERCAMPAK DI HAMPARAN DUNIA KOSONG
BERMIMPI SENJAKAN DATANG DENGAN SEJUTA KEDAMAIAN
AKANKAH ADA HARAPAN
AKANKAH SANG PENCERAHKAN terlahir
bangkit dari pintu pintu orang bijaksana
yang pedangnya dialiri suara keadilan
apakah ada yangkan mendengar setiap lafal kebobrokan negeri ini
si presiden hanya bisa terdiam di altar istana dengan kecapi melambai lambai layaknya seperti pengecut berpakaian wanita
menghibur si manusia bijaksana dengan kemarahan yang terpendam
kemanakah perginya si century
akankah diakan berpaling dari kebodohan bangsa ini
terdengarkah kemerdekaan si gayus
terabaikan dengan derap langkah komplotan penghianatan negeri
masih banyak lagi
hingga satupun berlalu seperti hantu
lapindo menyendiri dikamar bagasi mobil mewah
hotel berdiri layaknya seperti surga
kucing garong,kambing jantan ataupun itu berpesta dengan sekuntum keharmonisan
menerbarkan cinta yang terjual di tanah pegadaian
dan ical pun tersenyum di balik meja dengan dasinya memutih
berkaca di hamparan topeng yang di perdebatkan
ada tangis menyeruak hingga kini
suaranya melambai lambai terdengar lalu pergi
kembali sinazaruddin bak sampah yang tergadai di selokan
menghakimi si tikud tikus dengan kumisnya
membumi hanguskan kaum bijak dengan kecohan segelas kopi
hatipun tertawa semuanya terkubur di lemari besi
waktu hanya tersenyum di balik keserakahan anak bangsa
semuanya seperti harta karun yang tak terbeli
pergi begitu saja
dihapus sejarah situan susilo
si mega hanya terdiam disisi prabowo
seperti kakek dan nenek menanti hancurnya negeri ini
akankah ada ksatria dari siantar
pancarkan sejuta pelangi di pelupuk timur
menyambut sang mentari dengan untaian puisi puisi kedamaian
SYAIRKU TLAH MENYERUAK BAK SERIGALA DI LOLONGAN GETIRNYAS MALAM
NAPASKU TLAH BERUBAH SEKALI KALI DENGAN DENTUMAN MERIAM
MEMACU APA SAJA YANG TERSISA DI BALIK KERINGAT YANG MENDERU
AKU MASIH SAJA DIAM DIATAS SEBUAH KEBODOHAN
TERCAMPAK DI HAMPARAN DUNIA KOSONG
BERMIMPI SENJAKAN DATANG DENGAN SEJUTA KEDAMAIAN
AKANKAH ADA HARAPAN
AKANKAH SANG PENCERAHKAN terlahir
bangkit dari pintu pintu orang bijaksana
yang pedangnya dialiri suara keadilan
apakah ada yangkan mendengar setiap lafal kebobrokan negeri ini
si presiden hanya bisa terdiam di altar istana dengan kecapi melambai lambai layaknya seperti pengecut berpakaian wanita
menghibur si manusia bijaksana dengan kemarahan yang terpendam
kemanakah perginya si century
akankah diakan berpaling dari kebodohan bangsa ini
terdengarkah kemerdekaan si gayus
terabaikan dengan derap langkah komplotan penghianatan negeri
masih banyak lagi
hingga satupun berlalu seperti hantu
lapindo menyendiri dikamar bagasi mobil mewah
hotel berdiri layaknya seperti surga
kucing garong,kambing jantan ataupun itu berpesta dengan sekuntum keharmonisan
menerbarkan cinta yang terjual di tanah pegadaian
dan ical pun tersenyum di balik meja dengan dasinya memutih
berkaca di hamparan topeng yang di perdebatkan
ada tangis menyeruak hingga kini
suaranya melambai lambai terdengar lalu pergi
kembali sinazaruddin bak sampah yang tergadai di selokan
menghakimi si tikud tikus dengan kumisnya
membumi hanguskan kaum bijak dengan kecohan segelas kopi
hatipun tertawa semuanya terkubur di lemari besi
waktu hanya tersenyum di balik keserakahan anak bangsa
semuanya seperti harta karun yang tak terbeli
pergi begitu saja
dihapus sejarah situan susilo
si mega hanya terdiam disisi prabowo
seperti kakek dan nenek menanti hancurnya negeri ini
akankah ada ksatria dari siantar
pancarkan sejuta pelangi di pelupuk timur
menyambut sang mentari dengan untaian puisi puisi kedamaian
Langganan:
Postingan (Atom)
