Kamis, 03 Maret 2011

air dan mimpi yang terbeli di atas sajadah negeri

jika waktunya aku mati
jika angin tak lagi sedamai lautan
buat apa aku bertanya pada gelombang
kabar apa yang dia bawa untuk hati yang luluh di hamparan kekalahan
kuhanya sebatang dengan insan yang tertawar di tanah yang gersang
alam tak lagi mampu untuk bercerita
mengenang masa yang lampau dengan tawa
bersama air mata kita hanya mengharap
terbentang di harapan menjelma menjadi halangan
air tak lagi sejernih cakrawala
bualan tentang singasana menjadi penghibur hati yang lara
jauh di kala mentari di ufuk tertiur menyeringai
menanati fajar menyapa dengan mimpi yang terdiam di altar para pemerkosa
siapakah kita....
aku tak merasa sep[erti indonesia
begitu juga burung garuda
hanya terbang ke langit tak di ijinkan berpijak
terlalu lama kita terpesona
manisnya bualan si tuan bijak
terhipnotis akan mewahnya si harmoni
terlelap hingga tak pernah mengerti
kita pernah punya sebuah cerita di dunia
debu menjadi sahabat terbaik
di pelukan malam di hamaparan warna pelangi
masih ada sebuah bayangan semu
menjalar di saku baju tentang sebuah kemenangan
harga diri menjadi detik sebuah akhir tanyaku
kemanakah para kaum susah
gertakan di kiri dan di kanan tubuhku
semangati napasku terlempar ke dasar neraka
moral mu dimana para biadab
dakah saudara tahu bintang enggan bersinar
meski langit terang dengan laksana bulan
aku terheran melihatmu para kawanan
kemana semua mimpi anak negeri

Selasa, 01 Maret 2011

peristiwa kecil

daun daun tua hanya tertawa
satu satu disambut angin bersatu dengan alam
hidup hanyalah sebuah peristiwa
ada cerita di balik layar
percayalah pada pilihanmu
tegaklah jika hidup ini tak seindah seperti sangkakala
kita ditakirkan hidup hanya sekali

jumiati itu kusebut namanya

di hamparan jauhnya pikiranku
aku terlarut dalam sebuah cerita yang benar
aku terdampar di hamparan kesombongan sang mentari
aku berjalan memusuhi langit beserta penciptanya
aku menjungkalkan kebenaran ketika aku berada di atas gunung kelimpahan
diam diam diantara lelah perjalannanku
kesederhanaanmu
luluhkan nafsuku
apa yang aku perjuangakan engkau pertanyakan
apa yang menjadi tujuanku engkau perdebatkan hingga akupun terpesorok alam sejuta keindahan
engkau ajarkan indahnya hidup
engkau selimuti masalalaku dengan tawamu
ayat ayat itu kembali lagi berdering di telingaku
apakah ada yang namanya keagungan selain nikmatnya hidup[ bersama tuhan
darahku yang hitam pekat kini merah spetti anggur di jerusalaem
pikiranku terang benderang sperti warna pelangi
menggugat semua musuhku menyapa sang pencerah
apakah ini akhir dari sang mempelai
ketika cinta ini hanyalah sebagian serpihan kertas buram
aku hanya enggan kini menjelma menjadi sebuah lingkaran
setengah mati aku meraihmu
setengah mati aku merebutmmu
ribuan doa ku isi dengan berserah padamau
ketika dirimu berpaling dri nyanyian cintaku
aku berontak di altar para pecinta
hingga dirimu tersungkur dalam balutan selimut rinduku
misteri cinta terlahir dari risau hati yang gelisah
engkau adalah wanita segambaran ibuku
tutur katamu melebihi sang tercinta diam di istana megahku(ibuku)
kebaikanmu sederajat dengan sang penakluk yang kuseput ayah
keserderhanaanmu membuat alampun tersenyum
berjanji untuk selalu menggugah hatimu yang pemarah
berhenti sejenak di hamparan hijaunya langkahmu
berteriak bak samudra mengerang menjelma menjadi tsunami
hancurkan karang hatiku
aku hanya terdiam berharap dirimu tertawa
kugapai wajahmu dan melerai tubuhmu
dihamparan hitam langit kita menjadi dewasa
setialah untuk slalu disisiku

untukmu....??????

hamparan dari pertanyaan merasa enggan kembali terlahir
mataku hanya memandangi tingkahmu yang lucu
wajahmu mempesonakan kedua mataku
seakan enggan beralri dari senyummu
inikah cinta yang terhilang diakhir bel sekolah
tanyaku.....
jangankan aku
alampunkan terkesima memandangmu
aromamu bersih seperti hutan di kapernaum
menggugat sang ilahi dengan dentuman parasmu
aku memandangmu layaknya sang penyair
mengaagumi mu tanpa ijinmu
aku bagian cerita tersisih di atas cintamu
jujur....
hanya itu yang bisa kureka
di meja kelasku

tulus

jika aku menjadi sang garuda
apakah langitkan menjadi sahabatku
jika akuhanyalah sebuah kebenaran
siapakah yangkan menjadi musuhku
berpikirlah bijak sauadaraku
jangan jadikan kebenaran sebagai lambang dri keserakan
baiklah kiranya diammu menjadi senjata pamungkasmu
karena di negeri ini di butuhkan
manusia yang adail dan beradab

aku manusia kalah

berikanlah apa yang pantas engkau berikan padaku
ludahilah kepalaku dengan pikiranmu
karena aku hanyalah kerikil bagi jalanmu
aku musuhmu seperi layaknya duri dalam dagimngmu
bunuhlah aku dengan tanganmu yang benar
biarkanlah burung burung itu memangsa tubuhku
haram tubuhku bersatu dengan sang alam
kebenaran tlah kujadikan sebagai imbalan kehidupan
janganlah merasa iba bagiku
karena aku tlah membunuh seribu kaummu di rumahku
kejahatanku dah seperti gunung menanti pembalasan
basuhlah darahku di tiang tiang nisan saudaramu
roh mereka jugakan membalaskan dendamnya di akhirat
menguliti tubuhku layaknya seperti kurban sembelihan
agar semesta tahu
aku terlahir sebagai manusia kalah

cinta suci

di dalam relung hati
tersaji warna kehidupan
membelah seperti lautan di samudra
rasa cinta mengalir menanjak serindu rindunya
ada tawa yang terlepas
ada kenangan yang terdampar membeku
membekaskan sejuta alasan betapa cinta ini larut
terpenggal seperti sebuah cerita yang tak berpikir ttg duniawi
berlari bersama resah terbakar di birahi
ada cinta terlahir dari sebuah kesederhanaan
mungkinkah ini akhir dri sebuah cinta yang kalah
seperti angin bertarung di dasar hutan
menangisi sebuah kehampaan mentari
enggan mengerang memberikan cahaya
ataupun seperti hujan yang hanya bertatap muka
senyum sinis tercibir di pengasaingan di belantara alam
akankah cinta ini bersemi
bersama sama datangnya bulan di akhir tahun
ataukah cinta terdiam di tanah yang gersang
memusuhi keadilan dengan seribu tragedi
apakah semuanya terlahir sedemikian rupa
adakah sebuah penggugat akan menangisi sang perjaka
cinta bertanya dalam gerangan tawa si pendiam
siapakah gerangan sang dewi
terdengarkah derap para sang pencinta
dimana diamnya adalah sebilah pedang
pikiran syair cinta menghampiri hidupnya
berbunga tanpa ada yang memanen
jiwa ini terselip diakhir cerita cinta yang menyedihkan
ketika kekalahan dan masa lalu di perdebatkan para penatua
pada siapakah aku bersandar
aku terkulai di hamparan pantai biru
aku tersalib di bagian jurang yang sangat dalam
mencintai menjkadi derita bagiku
tiada akhir tapi inilah kenyataannya
ketika kemewahan dilapisi permata turun ke bumi
semua tersenyum mengenang indahnya surga
campakkanlah apa yang pantas bagiku
sejurus dalam sebuah singgasana
dan layaknya simiskin menjadi sapi perahan
tertawalah di atas para pemenang
menangmu adalah akhir dri kisahmu
terselamatkanlah kebenaranmu
bulan meratapi kekakalahanmu
hari ini
sebagian dari napasmu yang bisa merayakan
nafsumu beringas laksana domba di gurun pasir
haus akan cinbta yang suci
hingga pulan purnama sendirimu membunuhmu di atas keserakahan