kita adalah debu debu yang berserakan di altar kekalahan
kita adalah jiwa jiwa yang mati di hamparan tanah yang gersang
kita hanyalah suara yang terdengar menjelang suara azan berkumandang
kita adalah bagian yang terkecil yang tertindas negeri
dimana kumpulan para monyet menari di senayan
berkelompok mereka menukik bagai pesawat siap landas hancurkan negri dengan peraturan peraturan yang membingungkan
peraturan yang dibuat dri pabrik universitas tersohor
kumpulan orang pintar kata bapaknya
dan bapoaknya sama bodohnya dengan anaknya
mengangkangi si tuan bodoh dengan belaian uang membeli sarjana
dan angin juga tahu..
mereka menampar kumpulan orng pintar
bersemayam di taman impian
ada ijasah tergadai di ruang jaksa
ada mimpi terbeli di kantor polisi
ada harapan bertarung dengan penderitaan di rumah sakit
semuanya tersirat seprti dongeng di ecrita lama
yang kaya menjadi pahlwan di akhir kata
siapakah kita.....
aku juga bertanyaa
siapakah kita diantar mereka
siapakah sang pahlawan sesungguhnya
para tkw terlindas di negeri awan
para tentara bertinju merebut sang jendral
dan para istana sibuk dengan hari lebaran..
tertawalah di negeri para pencinta penindasan
tersenyumlah di negri para pahlaan
hanya itu yang tersirat
kita hanyalah kumpulan para manusia kalah...
Sabtu, 18 Desember 2010
Jumat, 17 Desember 2010
perjalanan cinta
kemanakah langkah sang embun pagi
apakah terdengarnya nayanyian surga
yang meretas di kedua pipi yang merah
selalu terguncang di rindu yang bertepi
masih salalu saja topeng keindahanmu meratapi di haluan malamku
merindumu di balik purnama yang menghitam
mengiringi derap langkah sang pengcut tertancap di busung kerinduan
tiada cderita seprti yang dulu seperti gelombang lauatan dendangkan lagu rindu
di saat sang dewi memeluk pergi berkelana mencari sesuatu yang tersurat di atas kepala
apakah gerangan cinta inikan bersemi...
mengalir seperti sungai di efraim
menghibur para petani dengan benih yang melimpah
para dara menari dengan riang seiring irama biola
menanti musim panen yangkan bertabur seperti bintang di langit
aku hanya tersipu di selimut tidurku kupejamkan mata dengan untaian air mata
sekali lagi dalam pikirku
akankah rindu ini kan bersemi
adakah dia setia menanti kedatanganku dengan cintanya
atau akankah dia tlah berpaling menghujaniku dengan satu senyuman
mati adalah akhir dri hidupku
aku mati bila cintamu hilang
aku hidup berakar atas sajadah cintamu
aku takkan bisa
aku belum bisa oh kekasihku
aku belum bisa untuk kembali
nyanyikan lagu kesukaanmu di balik cerita dongengmu
yang kuananti setelah lelap rindu menyapa
mengapa dirimu seindah mentari mengapa dirimu menunjukkan kesederhanaanmu
meninggalkan tahta putri di kerajan
menjelma layaknya rakyat biasa
meniupkan bunga cinta yang terdiam di altar seribu dewa dewa
aku terpesona dan terbuai di atas cinta yang suci.
engkau hadirkan kisah cinta seperti di arwana
kisah yangkan hidup di sepanjang sejarah
cinta ini membawaku perjalanan seperti sang kesatria bertempur demi kehormatan negeri
menertawaiku dengan sebilah pedang
pedang yang terbasuh demi harga diri para pejuang
darah yang terlahir dari para pahlawan
dan mnati layaknya seperti sang p[angeran
dimanakah dirimu kekasihku..
jika aku terlambat menggapai impianmu
sebelum ayam bernayayi disitulah akuy telah tertidur diatas altar kekalahan
adakah cinta ini yangkan menyalibku
menguburku dengan salib kekalahan
aku mati karena khodrat cinta
adakah doamu bersamaku
adakah namaku engkau sebutkan sebelun di rimu tertidur di palamiananmu
apakah engkau tawarkan dirimu dengan puasa puasa
apakah aku harus bertanya pada sang bintang...
jiea ini mati dengan irimngan kepusasaan
satu persatu keraguan datang menghantui
menghentikan langkahku dengan kemalasan
dah setahun engkau menanti
lelahkah engkau memprjuangkan rindumu
tabahkah engkau mendengar ocehan sahabatmu
menghasutmu dengan kata kata yang gila
meracuni nadimu membunuh namaku
menghardikkan wajahmu berpaling menjauh meninggalkanku
keraguanmu aku takkan kembali lagi......
apakah terdengarnya nayanyian surga
yang meretas di kedua pipi yang merah
selalu terguncang di rindu yang bertepi
masih salalu saja topeng keindahanmu meratapi di haluan malamku
merindumu di balik purnama yang menghitam
mengiringi derap langkah sang pengcut tertancap di busung kerinduan
tiada cderita seprti yang dulu seperti gelombang lauatan dendangkan lagu rindu
di saat sang dewi memeluk pergi berkelana mencari sesuatu yang tersurat di atas kepala
apakah gerangan cinta inikan bersemi...
mengalir seperti sungai di efraim
menghibur para petani dengan benih yang melimpah
para dara menari dengan riang seiring irama biola
menanti musim panen yangkan bertabur seperti bintang di langit
aku hanya tersipu di selimut tidurku kupejamkan mata dengan untaian air mata
sekali lagi dalam pikirku
akankah rindu ini kan bersemi
adakah dia setia menanti kedatanganku dengan cintanya
atau akankah dia tlah berpaling menghujaniku dengan satu senyuman
mati adalah akhir dri hidupku
aku mati bila cintamu hilang
aku hidup berakar atas sajadah cintamu
aku takkan bisa
aku belum bisa oh kekasihku
aku belum bisa untuk kembali
nyanyikan lagu kesukaanmu di balik cerita dongengmu
yang kuananti setelah lelap rindu menyapa
mengapa dirimu seindah mentari mengapa dirimu menunjukkan kesederhanaanmu
meninggalkan tahta putri di kerajan
menjelma layaknya rakyat biasa
meniupkan bunga cinta yang terdiam di altar seribu dewa dewa
aku terpesona dan terbuai di atas cinta yang suci.
engkau hadirkan kisah cinta seperti di arwana
kisah yangkan hidup di sepanjang sejarah
cinta ini membawaku perjalanan seperti sang kesatria bertempur demi kehormatan negeri
menertawaiku dengan sebilah pedang
pedang yang terbasuh demi harga diri para pejuang
darah yang terlahir dari para pahlawan
dan mnati layaknya seperti sang p[angeran
dimanakah dirimu kekasihku..
jika aku terlambat menggapai impianmu
sebelum ayam bernayayi disitulah akuy telah tertidur diatas altar kekalahan
adakah cinta ini yangkan menyalibku
menguburku dengan salib kekalahan
aku mati karena khodrat cinta
adakah doamu bersamaku
adakah namaku engkau sebutkan sebelun di rimu tertidur di palamiananmu
apakah engkau tawarkan dirimu dengan puasa puasa
apakah aku harus bertanya pada sang bintang...
jiea ini mati dengan irimngan kepusasaan
satu persatu keraguan datang menghantui
menghentikan langkahku dengan kemalasan
dah setahun engkau menanti
lelahkah engkau memprjuangkan rindumu
tabahkah engkau mendengar ocehan sahabatmu
menghasutmu dengan kata kata yang gila
meracuni nadimu membunuh namaku
menghardikkan wajahmu berpaling menjauh meninggalkanku
keraguanmu aku takkan kembali lagi......
Rabu, 15 Desember 2010
rinduku bersemi kembali
biarkanlah sedikit angin yang merayumu
di balik lemahku untuk memelukmu
ada kata yang mengalir setiap detik
tanyaku terlahir diatas sajadah rindu
akankah terabaikan seprti angin yang ilalang
terbawa di balik sengatan sang kumbang
itulah kurasakan aroma cintamu
memandangimu dri jauh di bawah bodohku
terlalu lama rasa ini berkelana
menawan sedetik rindu di pelupuk jingga'a
bergetarkah jiwa tiada henti menapaki jalan penuh kerikil
memperkosa si pejantan dengan sebilah harapan
tersudut menggapai imajinasi yang terlempar di balik jendela terpapar masa lalu
kemiskinan sahabat terbaik menertawai di sebelah kekacauan
aapakah cinta yang terhina ternafkahi
aku yang hanya berlari dengan sejuta cerita cinta
simiskin dengan cinta sebesar sungai asahan
mencintai tanpa dicintai
bersanding dengan langkah kekalahan
terlempar di arung jeram lautan yang luas
pada siapakah kutautkan cinta
kepada langit diapun diam menoleh ketanah
kutatap bintang acuhnya membuang jauh raut wajahnya
akankah cinta inikan bersemi kembali
dirindu setebal awan hanya terpaku di sudut kamar
menatap wjah berselimut sutra
kuhanya diam tak setangguh para pejantan
di balik lemahku untuk memelukmu
ada kata yang mengalir setiap detik
tanyaku terlahir diatas sajadah rindu
akankah terabaikan seprti angin yang ilalang
terbawa di balik sengatan sang kumbang
itulah kurasakan aroma cintamu
memandangimu dri jauh di bawah bodohku
terlalu lama rasa ini berkelana
menawan sedetik rindu di pelupuk jingga'a
bergetarkah jiwa tiada henti menapaki jalan penuh kerikil
memperkosa si pejantan dengan sebilah harapan
tersudut menggapai imajinasi yang terlempar di balik jendela terpapar masa lalu
kemiskinan sahabat terbaik menertawai di sebelah kekacauan
aapakah cinta yang terhina ternafkahi
aku yang hanya berlari dengan sejuta cerita cinta
simiskin dengan cinta sebesar sungai asahan
mencintai tanpa dicintai
bersanding dengan langkah kekalahan
terlempar di arung jeram lautan yang luas
pada siapakah kutautkan cinta
kepada langit diapun diam menoleh ketanah
kutatap bintang acuhnya membuang jauh raut wajahnya
akankah cinta inikan bersemi kembali
dirindu setebal awan hanya terpaku di sudut kamar
menatap wjah berselimut sutra
kuhanya diam tak setangguh para pejantan
Selasa, 14 Desember 2010
menanti kebenaran
mimpi...
tertawan di imajinasi orang kaya
merobek lautan dengan kemegahan kekayaan
simiskin berlari dengan tangan menunjuk langit
menanti kebenaran terungkap
biarlah tuhan yang langsung manyampaikannya..
tertawan di imajinasi orang kaya
merobek lautan dengan kemegahan kekayaan
simiskin berlari dengan tangan menunjuk langit
menanti kebenaran terungkap
biarlah tuhan yang langsung manyampaikannya..
semangat sang garuda
engkaulah jawaban atas dirimu
engkaulah untaian kata kata yang berharga
berjuanglah raih mimpimu
pantanglah dirimu untuk menyerah
bangkitlah dengan merah p[utih
doaku di atas sang garuda
demi indonesia
bangkitlah engkau yang kalah
berteriaklah wahai engkau yang malas
bernayanyilah engkau sang pemberontak
sisingkan bajumu tawari napasmu dengan patriot
kartakan kepada dunia
indonesia bisa
berdiri menantang sang mentari
engkaulah untaian kata kata yang berharga
berjuanglah raih mimpimu
pantanglah dirimu untuk menyerah
bangkitlah dengan merah p[utih
doaku di atas sang garuda
demi indonesia
bangkitlah engkau yang kalah
berteriaklah wahai engkau yang malas
bernayanyilah engkau sang pemberontak
sisingkan bajumu tawari napasmu dengan patriot
kartakan kepada dunia
indonesia bisa
berdiri menantang sang mentari
resahmu
mimpi yang tergadai di balik dinding putih
kata yang terhadang di senayan
mimpi yang tersenyum di balik bukit sintai
dan banyak lagi
marilah kita tertawa seakan kita tak ada
kemiskinan hanya candaan di parlemen
ocehan pria berdasi di warung pak lurah....
kata yang terhadang di senayan
mimpi yang tersenyum di balik bukit sintai
dan banyak lagi
marilah kita tertawa seakan kita tak ada
kemiskinan hanya candaan di parlemen
ocehan pria berdasi di warung pak lurah....
relita cinta
sang waktu kembali meneriakiku dengan kata kata kebaikan
aku yang terhempas di jalan hitam penuh tanya
membanjiri keserakahn di lautan cinta
begitulah adanya seperti pengemis di bukit rhodes
aku mengharapkan sesuatu yang hina
tapi aku di berikan sebuah emas yang berlapis permata
wanita tersanjung dengan pedangku
terhempas seprti ilalang di lautan sabana
terhembus angin damaikan hidupku
siapakah sang pecinta
terlalu serakah membagi cinta dengan senyuman surga terbelai di hamparan kedamian
tersanjung terpikat di pantai pasir putih
perkenalan itu menghancvurkan mimpi yang terlahir
mengenalmu hadirkan risau gundah hatiku
mata terjaga melukis wajahmu di langit kamarku
seprti hantu menghantui setiap jengkal lamunanaku
di balik jalanmu dengan seutas kemewahan
aromamu tawarkan nafsu sejuta kembang para kumbang
pelacur yang mengenal akan tuhannya
nyanyianmu dentangkan kesedihan yang mendalam
teteskan para pendenbgar tak tertegun.......
aku yang terhempas di jalan hitam penuh tanya
membanjiri keserakahn di lautan cinta
begitulah adanya seperti pengemis di bukit rhodes
aku mengharapkan sesuatu yang hina
tapi aku di berikan sebuah emas yang berlapis permata
wanita tersanjung dengan pedangku
terhempas seprti ilalang di lautan sabana
terhembus angin damaikan hidupku
siapakah sang pecinta
terlalu serakah membagi cinta dengan senyuman surga terbelai di hamparan kedamian
tersanjung terpikat di pantai pasir putih
perkenalan itu menghancvurkan mimpi yang terlahir
mengenalmu hadirkan risau gundah hatiku
mata terjaga melukis wajahmu di langit kamarku
seprti hantu menghantui setiap jengkal lamunanaku
di balik jalanmu dengan seutas kemewahan
aromamu tawarkan nafsu sejuta kembang para kumbang
pelacur yang mengenal akan tuhannya
nyanyianmu dentangkan kesedihan yang mendalam
teteskan para pendenbgar tak tertegun.......
Langganan:
Postingan (Atom)
