diamku hanya sebatas dosaku
aku hina terlahir sebagai manusia
keklahan yang terdiam di atas kemiskinan
tetes airmata menjadi sahabat terbaikku
ketika cinta datang tanpa di sapa
aku mencintai dengan seribu tawa
ketika beban menjadi awal malapetaka
akankah cinta gentar dengan keserakahan
kebenaran sang pecinta patut untuk di hukum
menjadi patung sebagai pelukis keabadian
diartikan sebagai dewa segala kebaikan
mengapa cinta tak berpihak kepada manusia yang hina
yang mengagungi haknya di perdebatkan
adakah kebenaran yangkan terlahir
siapakah sang kebenaran
mengapa dia menutup mata akan sebuah kekalahanku
dimanakah dia...
akankah ada bantuan berupa sebilah pedang
adakah yangkan menghakimi dengan kejujuran
diatas cinta sejati yang beralaskan tanah yang dialiriperjuangan
janganlah sungkan wahai malaikat
lihat kemari walau sejenakl
berpikirlah tuhan
cinta ku hanya dialtar gereja
wanitaku bersanding dengan si putra mahkota
hinakah aku..
pantaskah aku...
menggugatmu di atas kekalhan dengan cinta
hendaklah jiwa ini menjadi hamba di segal manusia kalah
s
Selasa, 14 Desember 2010
sang pecinta
senja itu hanya tersenyum di balik wajah nakalku
riak sungai bermanja di kakiku
aku pandangi saja dirimu di balik bodohnya aku
mengagumi tanpa ijinmu
dan hanya tiu yang kubisa
kuijinkan mimpiku terbang ke alam mimpimu
karena cinta tak kenal lelah
riak sungai bermanja di kakiku
aku pandangi saja dirimu di balik bodohnya aku
mengagumi tanpa ijinmu
dan hanya tiu yang kubisa
kuijinkan mimpiku terbang ke alam mimpimu
karena cinta tak kenal lelah
dentang waktu
jauh di dalamjiwa yang terdiam diantara seribu pikiran pikiran yang meluap luap mewarnai dunia aku terdiam diantar idealisme yang tarapung di lautan kekalahan,semuanya hitam terlahir di atas noda hitam seperti sungai yang mengamuk menerjang daratan tanpa ada katakata.kuhanya lah jiwa yang mati diantara kesedihan jiwa yang terpenggal di hitamnya dunia ini,lilin kecil yang menerangi setapak perjalanan seprti masa lalu yang datang menerkam jiaku yang jahat,melahap habis sisa sisa kebodohan dan kesombongan sandarkan aku akan perjalanan yang berdirri megah menantang hidupku bahwa aku ada di jalan takdirku untuk mengangkat sdkit titah kebenaran yang tartawan di keserakahan para pendurhaka.puing puing kemegahan kebaikan telah habis dilahap si tuan yang bertopeng dewa tanpa ada tersisa merasuki insan muda dengan ajaran ajaran yang tak bernyawa,kebaikan di balas dengan kejahatan,kejahatan di balas dengan seribu kejahatan memangsa siapa saja tanpa kenal lelah.aku sudah melihat sedikit kebaikan terpanggang di api yang membara .
Jumat, 24 September 2010
gilakah
aku berpikir
diamku hanya sedekat kematian
aku mati tanpa sebuah nisan
hujan meneriakiku dengan kata gila
aku gila
karena aku berdiri sendiri
menantang dunia dengan seribu kata kata
hingga matipun tiada yang tahu
diamku hanya sedekat kematian
aku mati tanpa sebuah nisan
hujan meneriakiku dengan kata gila
aku gila
karena aku berdiri sendiri
menantang dunia dengan seribu kata kata
hingga matipun tiada yang tahu
resah
aku bukan khalil gibran
aku bukan abu ghazali
dan jangan samakan aku dengan para penyair
aku hanyala aku
dimana raja dan permaisurinya hanya kiasan makna belaka
terdampar di seribu kegalauan hatiku
ketika kebenaran tenggelam di sudut kekalahan
aku meneriaki penguasa dengan kata kata
aku bukan abu ghazali
dan jangan samakan aku dengan para penyair
aku hanyala aku
dimana raja dan permaisurinya hanya kiasan makna belaka
terdampar di seribu kegalauan hatiku
ketika kebenaran tenggelam di sudut kekalahan
aku meneriaki penguasa dengan kata kata
tanyakan padaku
tanyakan padaku
seribu anak bangsa tergadai di malaysia
seribu anak kuliah terhuni di langit hitam negeri ini
seribu seragam sekolah berserakan di selokan
sang presiden menawarkan kedamaian
tapi apakah dia melihat apakah dia merasakan
waktu terus dan berputar dan perut harus di isi...
seribu anak bangsa tergadai di malaysia
seribu anak kuliah terhuni di langit hitam negeri ini
seribu seragam sekolah berserakan di selokan
sang presiden menawarkan kedamaian
tapi apakah dia melihat apakah dia merasakan
waktu terus dan berputar dan perut harus di isi...
kita hanya sedekat kematian
jangan pernah engkau tukar idealismeku
jangan pernah bertanya padaku bahwa aku pernah hidup
aku hidup karena aku sudah mati
sebelum napasku terdiam di altar wewangian
dan para perawan menangisiku
para birokrat mengutukiku
aku adalah aku
aku mengutuki sang durjana
kedua tanganku hanya sebilah pedang
mulutku bertaring bak serigala
menggongi si apapun yang menghianati bangsa ini
napasku hanyalah sebuah kain sutra karena aku juga hanyalah manusia
sama di hamparan sang pencipta
aku hanya sejarah yang terulang di langit negeri ini
satu persatu ada yang hilang
ada yang datang
ada yang pergi dan ada yang mengutuki
kiat hanyalah tubuh renta
tua saatnya dan matipun menyapa
kita hanya sedekat kematian
jangan pernah bertanya padaku bahwa aku pernah hidup
aku hidup karena aku sudah mati
sebelum napasku terdiam di altar wewangian
dan para perawan menangisiku
para birokrat mengutukiku
aku adalah aku
aku mengutuki sang durjana
kedua tanganku hanya sebilah pedang
mulutku bertaring bak serigala
menggongi si apapun yang menghianati bangsa ini
napasku hanyalah sebuah kain sutra karena aku juga hanyalah manusia
sama di hamparan sang pencipta
aku hanya sejarah yang terulang di langit negeri ini
satu persatu ada yang hilang
ada yang datang
ada yang pergi dan ada yang mengutuki
kiat hanyalah tubuh renta
tua saatnya dan matipun menyapa
kita hanya sedekat kematian
Langganan:
Postingan (Atom)
