jika aku hanyalah air yg berdebaran di hamparan persawahan
adakah sang lintah yangkan mengabadikan napasku
jika aku hanyalah cinyta padamu
adakah terbuka hatimu untukku
jika aku hanyalah manusia hampa
siapakah aku
tanyakanlah kepada bejana bejana di parabotan tua
debu menyapa dri fajar hingga senja menyingsing
sebutkan diantar hluan cinta bertepi
di hamparan puisi kusanjung sang dewi
memeluk laksana bulan di lautan
menertawai bodohku
aku tercipta sebagai pecundang
senjataku hanya di tas sajadah kertas
suaraku hanya diam di lukisan kamarku
terperosot di hitam jauh sang malam
meneriaki sejuta namamu.....
hanya malam yg tahu
cinta ini hanya untukmu
Jumat, 04 Juni 2010
Senin, 24 Mei 2010
diana marisa
wajahmu luluhkanku dengan idealisku
ketika tuhan menuntunku menyambut senyummu
kuhanya diam di dinding dengan seribu kata
meneriakimu dengan genggaman kebenaran
kembali pulang adalah akhlak sejatinya
engkau terjang terjal jalanmu dengan gagah
dunia menangisimu dengan rindu sang ibu
derita akhir dengan napas yang luluh
diammu tanyaku
tangismu hanyalah naluriku
diana marisa kusebut namamu keisya
engkau terdampar di hamparan gunung singkarak
meletus dan meledak
meneriakimu dengan kata kata bijak
memakimu sprti para pilsapat
membunuhmu dengan serigala malam
di tangan tangan tua yng napsunya memindahkan gunung
mandikan tubuhnu dengan sejuta kenikmatan
beralaskan tanyaku...
diana marisa yang kukatakan hanya seketika pagi hari aku teringat dirimu
menanyaimu dengan sejuta moral
apakah dirimu masih bisa bertanya
apakah matamu tak pernah melihat pelangi
apakah ayat ayat suci itu hanya cerita kitab tua
apakah di hatimu terlukiskan tangis ibumu
jawablah dengan tangismu
kepalkanlah tanganmu dengan kata bertobat
bunuhlah aku jika ini terbaik
makilah aku dengan senyummu seperti \iblis
teriakilah aku dengan kata manismu
itu mauku dan kahir hidupku
yakinlah aku hanya di altar gereja
aku melihat pedihmu dengan hembusan napasku
bijaklah dengan hatimu
aku katakan dengan cinta selembut sang kapernaum
malaikatpun akan tersenyum
membuka tahtamu yang hilang
bersujud dialtarnya di nuansa surgawi
sujudkanlah di seribu doamu
bertanyalah dimana engkaukan berdiri
ketika engkau terbangun dari mimpimu
aku pergi........
aku pergi takkan kembali
aku pergi dan kembali
bila napasmu berbau kebenaran
aku kan menjadi sang pujangga seperti yg engkau lukiskan
nyanyikan laguku hanya untukmu
manjakan tubuhnu dengan cinta di pelukanku
hingga kemtaian menyingsing di ufuk selatan
terbawa angin laut ke pematang desa
diana marisa
ketika tuhan menuntunku menyambut senyummu
kuhanya diam di dinding dengan seribu kata
meneriakimu dengan genggaman kebenaran
kembali pulang adalah akhlak sejatinya
engkau terjang terjal jalanmu dengan gagah
dunia menangisimu dengan rindu sang ibu
derita akhir dengan napas yang luluh
diammu tanyaku
tangismu hanyalah naluriku
diana marisa kusebut namamu keisya
engkau terdampar di hamparan gunung singkarak
meletus dan meledak
meneriakimu dengan kata kata bijak
memakimu sprti para pilsapat
membunuhmu dengan serigala malam
di tangan tangan tua yng napsunya memindahkan gunung
mandikan tubuhnu dengan sejuta kenikmatan
beralaskan tanyaku...
diana marisa yang kukatakan hanya seketika pagi hari aku teringat dirimu
menanyaimu dengan sejuta moral
apakah dirimu masih bisa bertanya
apakah matamu tak pernah melihat pelangi
apakah ayat ayat suci itu hanya cerita kitab tua
apakah di hatimu terlukiskan tangis ibumu
jawablah dengan tangismu
kepalkanlah tanganmu dengan kata bertobat
bunuhlah aku jika ini terbaik
makilah aku dengan senyummu seperti \iblis
teriakilah aku dengan kata manismu
itu mauku dan kahir hidupku
yakinlah aku hanya di altar gereja
aku melihat pedihmu dengan hembusan napasku
bijaklah dengan hatimu
aku katakan dengan cinta selembut sang kapernaum
malaikatpun akan tersenyum
membuka tahtamu yang hilang
bersujud dialtarnya di nuansa surgawi
sujudkanlah di seribu doamu
bertanyalah dimana engkaukan berdiri
ketika engkau terbangun dari mimpimu
aku pergi........
aku pergi takkan kembali
aku pergi dan kembali
bila napasmu berbau kebenaran
aku kan menjadi sang pujangga seperti yg engkau lukiskan
nyanyikan laguku hanya untukmu
manjakan tubuhnu dengan cinta di pelukanku
hingga kemtaian menyingsing di ufuk selatan
terbawa angin laut ke pematang desa
diana marisa
cinta seroja
indahmu ibarat daun seroja
wangimu hanya di dalam ingatku
senyummu menaburi makamku dengan kasihmu
sama kita rasakan berpelukan di malam berkobar
kita bertemu di masa nasionalisme
perang itu yang menyatukan kita
kmu cantik
itu kulukiskan dri tatapan matamu
kamu anggun
semangatmu selalu berkoar dengan senjata di pinggulmu
kamu wanita
aku lelaki
kita punya tujuan yang sma
senyum yang sama
usia yang sama
untuk negeri
diamnya aku hanya sedetik saja
mulutmu berteriak dengan ganas
meneriaki sang tuhan dengan eraNGAN SUARAMU BAK SERIGALA
ketika aku menahan peluru dengan tubuhku
kutahu peluru itu di lukiskan untukmu
aku ikhlas di wajah nanarmu
di rahimmu anakku
aku yangkan bersatu dengan alam
berbahagialah dengan hidupmu
seroja engkau tanam di nisanku
menanti sejuta hangatnya tubuhmu
seroja menjadi pelukan menepiskan rinduku
aku yang tertanam di bawah seoja
wangimu hanya di dalam ingatku
senyummu menaburi makamku dengan kasihmu
sama kita rasakan berpelukan di malam berkobar
kita bertemu di masa nasionalisme
perang itu yang menyatukan kita
kmu cantik
itu kulukiskan dri tatapan matamu
kamu anggun
semangatmu selalu berkoar dengan senjata di pinggulmu
kamu wanita
aku lelaki
kita punya tujuan yang sma
senyum yang sama
usia yang sama
untuk negeri
diamnya aku hanya sedetik saja
mulutmu berteriak dengan ganas
meneriaki sang tuhan dengan eraNGAN SUARAMU BAK SERIGALA
ketika aku menahan peluru dengan tubuhku
kutahu peluru itu di lukiskan untukmu
aku ikhlas di wajah nanarmu
di rahimmu anakku
aku yangkan bersatu dengan alam
berbahagialah dengan hidupmu
seroja engkau tanam di nisanku
menanti sejuta hangatnya tubuhmu
seroja menjadi pelukan menepiskan rinduku
aku yang tertanam di bawah seoja
aku
aku nhanya di balik sejuta rasa
aku hanya di balik sdebelah tangan
aku hanya di dalam hatimu
aku hanya engkau tahu
aku mati dikalahkan bangsaku sendiri
aku hanya di balik sdebelah tangan
aku hanya di dalam hatimu
aku hanya engkau tahu
aku mati dikalahkan bangsaku sendiri
sang durjana
jangan durjana
hentikan semuanya yg ada di pemikiranmu
jangan wahai sang api
bunuhlah aku gantikan duniaku dengan hitam sang penguasa
biarkanlah mereka bernayanyi di bawah derita
biarkanlah sang rembulan di kalahkan oleh bejatnya tiang senggama
biarkalnlah detik waktukan menjadi jaman
sejarah terulang kembali di bawah sang kabut
ceritakanlah diriku dengan pelangi di fajar menyingsing
lukiskanlah siapaun anak manusia yang ingin berjalan di penyisingan sang durjana
tertawa membodohi pikirannya dengan sejuta naluri nafsu belaka
terimpit di dunia yang hilang di hamparan kebisuan
jawablah aku dengan sejuta rasa dengki
kuatkanlah aku dengan kebenaran
sang dyurjana
hentikan semuanya yg ada di pemikiranmu
jangan wahai sang api
bunuhlah aku gantikan duniaku dengan hitam sang penguasa
biarkanlah mereka bernayanyi di bawah derita
biarkanlah sang rembulan di kalahkan oleh bejatnya tiang senggama
biarkalnlah detik waktukan menjadi jaman
sejarah terulang kembali di bawah sang kabut
ceritakanlah diriku dengan pelangi di fajar menyingsing
lukiskanlah siapaun anak manusia yang ingin berjalan di penyisingan sang durjana
tertawa membodohi pikirannya dengan sejuta naluri nafsu belaka
terimpit di dunia yang hilang di hamparan kebisuan
jawablah aku dengan sejuta rasa dengki
kuatkanlah aku dengan kebenaran
sang dyurjana
Senin, 19 April 2010
merdeka
hanya selembar kertas putih yang akan kusampaikan
dianatara jalan gelap menerawang di sudut desa
tak ada suara
tak ada manusia
hening
seakan aku sendiri
aku masih muda aku hanya anak desa
berlari dari desa ke desa yang lain
menyelinap diantar nisan nisan yang membeku di bulan purnama
meneriaki napasku dengan rasa berani
kabarnya kepada negeri
siap untuk menyerang
aku masih muda kawan
aku sebarisan di perang terbuka
senjata di tangan berbaur dengan indonesia raya
mati adalah akhirnya
di nisan tua aku masih muda
mengoyak sang pusaka dengan tubuh terdampar di tanah
tersipu di nanar keberanian
mati di pelikan sang merah putih
dianatara jalan gelap menerawang di sudut desa
tak ada suara
tak ada manusia
hening
seakan aku sendiri
aku masih muda aku hanya anak desa
berlari dari desa ke desa yang lain
menyelinap diantar nisan nisan yang membeku di bulan purnama
meneriaki napasku dengan rasa berani
kabarnya kepada negeri
siap untuk menyerang
aku masih muda kawan
aku sebarisan di perang terbuka
senjata di tangan berbaur dengan indonesia raya
mati adalah akhirnya
di nisan tua aku masih muda
mengoyak sang pusaka dengan tubuh terdampar di tanah
tersipu di nanar keberanian
mati di pelikan sang merah putih
Langganan:
Postingan (Atom)
