Senin, 22 Februari 2010

hanya seutas do

hanya sebuah harapan
bernapas di kedua kakiku
menyembahmu bersujud dengan seikat keresahan
aku malu menatap sang awan
aku gentar menghadapi mentari
aku jauh tegar lemah seperti burung di langit
aku kalah dengan mulut orang
aku tertidur di pelukan kemiskinan
aku terdiam di hamparan nasionalisme
sedekat jiwa menatap sang embun pagi
aku tak berdaya
aku telah berhenti
aku di sudut kehitaman

sang kekasih

laksana angin malam menampar di kedua pipiku
wajahmu mendamaikanku
sehangat pelukan sang alam senyummu
kau tercipta seperti sang pelangi
tebarkan sejuta cinta di pikiran hitamku
tumbuhkan sayap-sayap kemalasanku
bangkit naluriku dari mental sang pengecut
meracuniku dengan sengatan kata-kata nasihat
cerahkan hariku disepanjang hariku

sebuah penantian

jika aku adalah sang mentari
kukan terdiam di kaki para awan
menikmati sisa waktuku
ternyata ak telah jauh
dari rasa muda
berdiam diantara tepian pasir pantai
bertanya tentang realita sebuah keadilan
berlari bersama sang pemberani
mengaliri setiap insan yg bertanya
mengapa jiwa ini terasa tua
lama bahkan jantungku telah lama seakan berhenti
menunggu sebuah harapan
lahirnya jiwa yg baru
kesatria berbaju kesederhanaan
berpedang keberanian
dan bernapas pada sebuah arti kejujuran
selama ini yg terdiam di nrahim-rahim
wanita-wanita terhormat
menakuti jiwanya terlahir diatas sang pengecut
harapku diseribu tanyaku
akankah aku mati dengan terlahir kembali
adakah ygkanm enangisi nisanku
aku yg ditaklukkan di lapangan terbuka
dengan sebilah kejujuran
menaungi kedua tanganku
atau.................
akukan pergi dengan hampa di jantungku'
bisikan para penguasa dengan tawa meludahi jasadku
sibejat telah bersatu dengan alam
selamanya dengan pikiran gilanya
selamnaya menjadi peti mati yg terhina
hingga namanya terkubur seujung mimpinya

Jumat, 19 Februari 2010

gerangan hati

hujan memasahi tawa bumi
selintas tanya tentang ada harapan
disudut kenyataan yg tenggelam diantara jembatan yg terpotong
tak tahu kemana kaki melangkah
beranjak dewasa dengan segunung mimpi
hilang sudah fajar ditawan rasa takut
kemana jiwa yg muda bersemayam
di hampa langit dengan mata tak terpejam
adakah esok lebih baik
adakah tawa ygkan dihadirkan
ketika satu persatu diadili rasa kekalahan

Kamis, 21 Januari 2010

sebuah gugatan

dengan siapakah aku berdiri
ketika satu persatu anak negeri dizalimi
haknya telah di gali di sawah-sawah
kewajibannya di injak injak kaum birokrat
hanya meratapi ijasah yg telah usang
dibalik mimpi ada harapan
sertakanlah semua kehampaan negeri ini
teriakkanlah kegelapan masa depan bangsa ini
tak mampu menahan gejolak tawa
yg tertanam di hamparan bukit tua
menatap mata yg merah tangis darah
yg kaya di jadikan pemimpin bangsa
yg tak bermoral merebut singasana
yg bodoh berbicara dimimbar agama
semuanya menyatu raga sukmma menjadi teladan
merongrong generasi
hanya menawan kenikmatan palsu...........

alam menanti

senja datang sampaikan seribu pesan
mentari yng sombong siap menghadang dengan jutaan peluru
aku hanya meradang
lawan tangguh di depan
aku tak gentar
karena inilah yg kunanti
semua manusia akhirnya bersatu dengan alam

Sabtu, 16 Januari 2010

sebuah harapan

derap langkahku meninggalkan malam
menembusi jiwa yg terlena
di hamparan penderitaanku terselip sebuah harapan
yg terlahir dari kejamnya dunia
aku hanya tersenyum
aku hanya terdiam
tak mampu bertanya
jawaban apa ygkan kudengar
di balik setiap jengkal harapan
ketika kata mimpi terlahir
kucoba kembali menawan sejuta rinduku
membakar setiap menit semangatku
kerahkan semua yg tersisa
dan saatnya aku menunggu....
sebuah harapan yg terselip diantara
satu mimpi diantara dunia