hujan memasahi tawa bumi
selintas tanya tentang ada harapan
disudut kenyataan yg tenggelam diantara jembatan yg terpotong
tak tahu kemana kaki melangkah
beranjak dewasa dengan segunung mimpi
hilang sudah fajar ditawan rasa takut
kemana jiwa yg muda bersemayam
di hampa langit dengan mata tak terpejam
adakah esok lebih baik
adakah tawa ygkan dihadirkan
ketika satu persatu diadili rasa kekalahan
Jumat, 19 Februari 2010
Kamis, 21 Januari 2010
sebuah gugatan
dengan siapakah aku berdiri
ketika satu persatu anak negeri dizalimi
haknya telah di gali di sawah-sawah
kewajibannya di injak injak kaum birokrat
hanya meratapi ijasah yg telah usang
dibalik mimpi ada harapan
sertakanlah semua kehampaan negeri ini
teriakkanlah kegelapan masa depan bangsa ini
tak mampu menahan gejolak tawa
yg tertanam di hamparan bukit tua
menatap mata yg merah tangis darah
yg kaya di jadikan pemimpin bangsa
yg tak bermoral merebut singasana
yg bodoh berbicara dimimbar agama
semuanya menyatu raga sukmma menjadi teladan
merongrong generasi
hanya menawan kenikmatan palsu...........
ketika satu persatu anak negeri dizalimi
haknya telah di gali di sawah-sawah
kewajibannya di injak injak kaum birokrat
hanya meratapi ijasah yg telah usang
dibalik mimpi ada harapan
sertakanlah semua kehampaan negeri ini
teriakkanlah kegelapan masa depan bangsa ini
tak mampu menahan gejolak tawa
yg tertanam di hamparan bukit tua
menatap mata yg merah tangis darah
yg kaya di jadikan pemimpin bangsa
yg tak bermoral merebut singasana
yg bodoh berbicara dimimbar agama
semuanya menyatu raga sukmma menjadi teladan
merongrong generasi
hanya menawan kenikmatan palsu...........
alam menanti
senja datang sampaikan seribu pesan
mentari yng sombong siap menghadang dengan jutaan peluru
aku hanya meradang
lawan tangguh di depan
aku tak gentar
karena inilah yg kunanti
semua manusia akhirnya bersatu dengan alam
mentari yng sombong siap menghadang dengan jutaan peluru
aku hanya meradang
lawan tangguh di depan
aku tak gentar
karena inilah yg kunanti
semua manusia akhirnya bersatu dengan alam
Sabtu, 16 Januari 2010
sebuah harapan
derap langkahku meninggalkan malam
menembusi jiwa yg terlena
di hamparan penderitaanku terselip sebuah harapan
yg terlahir dari kejamnya dunia
aku hanya tersenyum
aku hanya terdiam
tak mampu bertanya
jawaban apa ygkan kudengar
di balik setiap jengkal harapan
ketika kata mimpi terlahir
kucoba kembali menawan sejuta rinduku
membakar setiap menit semangatku
kerahkan semua yg tersisa
dan saatnya aku menunggu....
sebuah harapan yg terselip diantara
satu mimpi diantara dunia
menembusi jiwa yg terlena
di hamparan penderitaanku terselip sebuah harapan
yg terlahir dari kejamnya dunia
aku hanya tersenyum
aku hanya terdiam
tak mampu bertanya
jawaban apa ygkan kudengar
di balik setiap jengkal harapan
ketika kata mimpi terlahir
kucoba kembali menawan sejuta rinduku
membakar setiap menit semangatku
kerahkan semua yg tersisa
dan saatnya aku menunggu....
sebuah harapan yg terselip diantara
satu mimpi diantara dunia
Minggu, 08 November 2009
dunia berjalan sendiri
dunia berjalan sendiri
tak terlihat bintang menemani
tak terlihat bulan yang mengikuti
terasa hampa mengembara di jagad raya
hidupku hanya sedekat kematian
tersesat di hitam langit
dengan pikiran yang telah ternoda
di basuh dengan nasionalis
di aliri tanggung jawab
ketika bangsaku di pertanyakan di meja-meja keadilan
aku melihat para moderat berpesta di ruang-ruang kemegahan
aku menatap para politisi berdebat tantang kesombongan
aku melihat seragam sekolah terkulai di parit-parit
aku menatap langit tak sedamai yang dulu
dan aku terkulai setelah traktor jalanan memperkosa mimpiku
aku hanya diam dengan gitarku
laguku adalah tangis yang mengalir
di dinding rumah tak berpenghuni kunyatakan tentang mimpi
tertidur di deras angkuhnya negeri ini
bertanyalah kepada bintang-bintang
tanyakanlah mengapa di sudut kebaikan yang jahat berpesta
tanyaku mengapa jalan ini selalu menawarkan tangis yang dalam
menghapus dilema kehidupan dengan segumpal rindu
aku ingin pulang
aku rindu dekapan sang ibu
aku rindu tawa sang ayah
perjalan ini mengubur mimpiku
ketika dunia hanya berjalan sendiri
tak terlihat bintang menemani
tak terlihat bulan yang mengikuti
terasa hampa mengembara di jagad raya
hidupku hanya sedekat kematian
tersesat di hitam langit
dengan pikiran yang telah ternoda
di basuh dengan nasionalis
di aliri tanggung jawab
ketika bangsaku di pertanyakan di meja-meja keadilan
aku melihat para moderat berpesta di ruang-ruang kemegahan
aku menatap para politisi berdebat tantang kesombongan
aku melihat seragam sekolah terkulai di parit-parit
aku menatap langit tak sedamai yang dulu
dan aku terkulai setelah traktor jalanan memperkosa mimpiku
aku hanya diam dengan gitarku
laguku adalah tangis yang mengalir
di dinding rumah tak berpenghuni kunyatakan tentang mimpi
tertidur di deras angkuhnya negeri ini
bertanyalah kepada bintang-bintang
tanyakanlah mengapa di sudut kebaikan yang jahat berpesta
tanyaku mengapa jalan ini selalu menawarkan tangis yang dalam
menghapus dilema kehidupan dengan segumpal rindu
aku ingin pulang
aku rindu dekapan sang ibu
aku rindu tawa sang ayah
perjalan ini mengubur mimpiku
ketika dunia hanya berjalan sendiri
sebuah suara
teriakkanlah mengapa sejuta anak hanya terdiam di sudut pencakar langit
katakanlah apa tujuan dari rencana tersusun di senayan
bicarakanlah ribuan sang ayah tak tertidur di masa depan anaknya
jawablah napasku dengan seuntai kata-kata
kini saatnya kebenaran yang terlahir
kini saatnya kebaikan yang menjadi raja
kini saatnya yang sabar mendapatkan hidupnya
kebodohan jangan jadikan harga yang mahal
katakanlah kepada saksi-saksi sejarah
negeriku diambang ke bimbangan
para demokrat hanya berdansa di taman-taman
dengan buku yan g tersusun rapi di lemari tanpa tersentuh
para politisi hanya hebat berjilat lidah
mengangkangi setiap kebenaran dengan segumpal uang
menjadi cerita yang terbelenggu di balik kekuasaan
menapsirkan mimpi dengan imajinasi di taman eden
para pecinta terdiam di sudut malamdengan tangisan sang anak
rela diperkosa dengan waktu yang tak terbeli
membuat terowongan kebusukan bangsa ini
aku hanya melihat
aku hanya mendengar
tetapi aku bukan buta
aku bukan tuli
tapi aku hanya lah seperti tangis menangisi bangsaku sendiri
sedetik tak terpikirkan
cinta di pertanyakan menjadi sebuah realita
sinetron menjadi santapan yang hina
ketika sejarah diputar balikkan
hingga para penggugat terlahir kembali
merusak masa depan generasi dengan cinta yang berlebihan
katakanlah apa tujuan dari rencana tersusun di senayan
bicarakanlah ribuan sang ayah tak tertidur di masa depan anaknya
jawablah napasku dengan seuntai kata-kata
kini saatnya kebenaran yang terlahir
kini saatnya kebaikan yang menjadi raja
kini saatnya yang sabar mendapatkan hidupnya
kebodohan jangan jadikan harga yang mahal
katakanlah kepada saksi-saksi sejarah
negeriku diambang ke bimbangan
para demokrat hanya berdansa di taman-taman
dengan buku yan g tersusun rapi di lemari tanpa tersentuh
para politisi hanya hebat berjilat lidah
mengangkangi setiap kebenaran dengan segumpal uang
menjadi cerita yang terbelenggu di balik kekuasaan
menapsirkan mimpi dengan imajinasi di taman eden
para pecinta terdiam di sudut malamdengan tangisan sang anak
rela diperkosa dengan waktu yang tak terbeli
membuat terowongan kebusukan bangsa ini
aku hanya melihat
aku hanya mendengar
tetapi aku bukan buta
aku bukan tuli
tapi aku hanya lah seperti tangis menangisi bangsaku sendiri
sedetik tak terpikirkan
cinta di pertanyakan menjadi sebuah realita
sinetron menjadi santapan yang hina
ketika sejarah diputar balikkan
hingga para penggugat terlahir kembali
merusak masa depan generasi dengan cinta yang berlebihan
benci tapi sebuah kata cinta
jika antara cinta dan dusta seperti taman kehidupan
mengapa tuhan memberikan hujan sebagai pendamai
kita adalah butiran debu yang terbungkus dalam napas
mennati saatnya sang alam memeluk dengan rindu di tepian waktu
hidup hanya sedetik hari
tak ada cinta yang terlahir dari rasa benci
tak ada kasih yang mengalir tanpa ada pertanyaan
sama dengan nya kita yang hanya membisu
di senja ketika mentari tertidur di ufuk barat
lalu kita melipat kedua tangan
tersenyum ke lautan lepas
sekali lagi cinta membelengguku di sudut kehampaan
cinta melahirkan rasa benci
berakar di balik awan melukis wajahnya
rasa benci mewarnai menjadi rasa cinta
rasa benci menjengkalkan penderitaanku
rindu yang terlahir sejuta desahan napasmu
menyelimuti tubuhku di atas selimut tentangmu
benciku terdampar di gelombang pasifik
cintaku merindukanmu di altar rasa hinaku
aku mencintaimu dengan rasa benci
mengapa tuhan memberikan hujan sebagai pendamai
kita adalah butiran debu yang terbungkus dalam napas
mennati saatnya sang alam memeluk dengan rindu di tepian waktu
hidup hanya sedetik hari
tak ada cinta yang terlahir dari rasa benci
tak ada kasih yang mengalir tanpa ada pertanyaan
sama dengan nya kita yang hanya membisu
di senja ketika mentari tertidur di ufuk barat
lalu kita melipat kedua tangan
tersenyum ke lautan lepas
sekali lagi cinta membelengguku di sudut kehampaan
cinta melahirkan rasa benci
berakar di balik awan melukis wajahnya
rasa benci mewarnai menjadi rasa cinta
rasa benci menjengkalkan penderitaanku
rindu yang terlahir sejuta desahan napasmu
menyelimuti tubuhku di atas selimut tentangmu
benciku terdampar di gelombang pasifik
cintaku merindukanmu di altar rasa hinaku
aku mencintaimu dengan rasa benci
Langganan:
Postingan (Atom)
