hujan dengan petir berbagi tangisku
ketika kemarin kudengar ratapanmu tentang mempelaimu
kini bersandar di pelukanmu
menghianati cinta yang kualiri dengan segenggam rindu
suci seperti es di antartika
mencair mengalir menertwakanku
hanya air mata
di dinding dusta
iklas mulutku menjawab
tetapi hatiku bertanya mengapa
mengapa bintang pilihan itu ada padanya
tanyaku......................
jawabmu..................
segenggam napas kehidupan
berubah menjadi serigala
hewan yang bertahtahkan kehancuran
menunggu mati tanpa terluka
jiwanya telah hilang
di hamparan rindu yang terbuang
sang mempelai terakhir indah
dengan cintanya di sebelah si raja hutan
hilang di waktu
terobati cerita sang kekesdih
Sabtu, 31 Oktober 2009
Senin, 19 Oktober 2009
mimpi terjual
jika aku hanya sebagian puisi yang terselip diantara kata-kata
kukan mendiam seperti pena yang hanya berlari mengejar mim pi
mengubur semua kenangan yang ada
di balik puisi yang hilang di makan waktu
seijinnya tertanam di dalam gerakan
merdeka adalah akhir pertarungannya
kukan mendiam seperti pena yang hanya berlari mengejar mim pi
mengubur semua kenangan yang ada
di balik puisi yang hilang di makan waktu
seijinnya tertanam di dalam gerakan
merdeka adalah akhir pertarungannya
keanggunan putri bumi
suara hati membakar setiap mimpi
bersandarkan pada hijau daun
aku hanya berharap di balik dinding penantian
suatu suara seperti tiupan angin surga
mengajarkanku tentang indah nya cinta
terlukiskan sebuah cinta yang tak berakhir dengan air mata
adakah seorang mempelaikan mendengar
jeritan rinduku di setiap napas kehidupan yang bermula
mengempaskan sayapku terjatuh ke alam bumi
mengembara menjadi manusia seutuhnya
menukar dewanya demi cinta
hanya sepenggal cinta
terlahir dari sungai-sungai efraim
membelah dua bangsa-bangsa
menjadi dua lambang nusantara
merebutkan sebuah putri berpakaian sutra
cantiknya membuat burung enggan bernyanyi
menikmati wajahnya di setiap detik tingkahnya
mendebarkan jantung seakan meledak
mengendapkan keraguan akan ketulusan
memerdekakan insan yang larut dari tertawaan
cinta ini hanya untuk si tuan putri
bersandarkan pada hijau daun
aku hanya berharap di balik dinding penantian
suatu suara seperti tiupan angin surga
mengajarkanku tentang indah nya cinta
terlukiskan sebuah cinta yang tak berakhir dengan air mata
adakah seorang mempelaikan mendengar
jeritan rinduku di setiap napas kehidupan yang bermula
mengempaskan sayapku terjatuh ke alam bumi
mengembara menjadi manusia seutuhnya
menukar dewanya demi cinta
hanya sepenggal cinta
terlahir dari sungai-sungai efraim
membelah dua bangsa-bangsa
menjadi dua lambang nusantara
merebutkan sebuah putri berpakaian sutra
cantiknya membuat burung enggan bernyanyi
menikmati wajahnya di setiap detik tingkahnya
mendebarkan jantung seakan meledak
mengendapkan keraguan akan ketulusan
memerdekakan insan yang larut dari tertawaan
cinta ini hanya untuk si tuan putri
Jumat, 16 Oktober 2009
menuntut keadilan
kepakkanlah kedua tanganmu
kelangit kesegala penjuru
menegakkan kebenaran di balik kursi tua
menggugat bintang akan keserakahan
menawan bulan di bentengi cahaya gemerlap
menuntut kebenaran terlahir di rantai bumi
sepenjang masa hingga waktu
hanya bisa membisu
terdiam di sepanjang jaman
kelangit kesegala penjuru
menegakkan kebenaran di balik kursi tua
menggugat bintang akan keserakahan
menawan bulan di bentengi cahaya gemerlap
menuntut kebenaran terlahir di rantai bumi
sepenjang masa hingga waktu
hanya bisa membisu
terdiam di sepanjang jaman
kuhanya membisu
hanya bisa tersenyum
ketika taraktor itu membelah tempat tinggalku
kuhanya bisa tertawa
menatap ayah berlari
menyelamatkan perabot rumah
kuhanya terdiam
barisan berseragam tertawa di balik kemanusiaan
kuhanya bisa seketika menangis
buku-bukuku berserakan di tanah
menjadi sahabat terpenting
menantang bodohnya aku
ketika taraktor itu membelah tempat tinggalku
kuhanya bisa tertawa
menatap ayah berlari
menyelamatkan perabot rumah
kuhanya terdiam
barisan berseragam tertawa di balik kemanusiaan
kuhanya bisa seketika menangis
buku-bukuku berserakan di tanah
menjadi sahabat terpenting
menantang bodohnya aku
Senin, 12 Oktober 2009
puisi cinta
hanya diam berselimutkan rasa takut
kuhanya membisu ketika engkau mempertanyakanku
hanya mampu memandang wajahmu tanpa mengerti
jantung berdebar seperti larva menenerjang ke bumi
engkau laksana bidadari seindah permata
dan kuhanya diam
tersenyum menertawaiku
ada cinta
ada rasa
ada napas
dan ada kebahagian
mimpiku hanya sedetik lagi
ada cinta diantara kita
aku lelaki yang seperti dinding'
ternata cintamu hanya untukku
kuhanya membisu ketika engkau mempertanyakanku
hanya mampu memandang wajahmu tanpa mengerti
jantung berdebar seperti larva menenerjang ke bumi
engkau laksana bidadari seindah permata
dan kuhanya diam
tersenyum menertawaiku
ada cinta
ada rasa
ada napas
dan ada kebahagian
mimpiku hanya sedetik lagi
ada cinta diantara kita
aku lelaki yang seperti dinding'
ternata cintamu hanya untukku
andaikan waktu mengulang kembali
kemana langkah ini
hanya sebuah bayangan terselip diantara pertanyaan
menanti sebuah jawaban
tentang arti kita hidup
untuk mengulang kembali seprti sedia kala
adakah jalan kembali
membasuh luka yang kering
adakah waktukan mengulang
masa kecil terlihat seperti tanah tandus
terselip cerita kemarau panjang
hanya air mata akhir dari tanya
saat mentari terbenam di sebelah barat
esoknya dengan segala doa kita menantang kedamaian
adakah damai kita sepanjang cinta
kita mencari
tak ditemukan
adakah akhir dari segalanya
wajah tak terlihat memancarkan roh kehidupan
keriput mengalir di sekujur tubuh
menghantui akan kematian yang mencekam
menanti saatnya tubuh dingin tak bernapas
hilang berganti
tertulis hanya sebuah nama
adakah tawa sekuat halilintar
adakah tanyakan berakhir dengan jawaban
andaikan waktu mengulang kembali
hanya sebuah bayangan terselip diantara pertanyaan
menanti sebuah jawaban
tentang arti kita hidup
untuk mengulang kembali seprti sedia kala
adakah jalan kembali
membasuh luka yang kering
adakah waktukan mengulang
masa kecil terlihat seperti tanah tandus
terselip cerita kemarau panjang
hanya air mata akhir dari tanya
saat mentari terbenam di sebelah barat
esoknya dengan segala doa kita menantang kedamaian
adakah damai kita sepanjang cinta
kita mencari
tak ditemukan
adakah akhir dari segalanya
wajah tak terlihat memancarkan roh kehidupan
keriput mengalir di sekujur tubuh
menghantui akan kematian yang mencekam
menanti saatnya tubuh dingin tak bernapas
hilang berganti
tertulis hanya sebuah nama
adakah tawa sekuat halilintar
adakah tanyakan berakhir dengan jawaban
andaikan waktu mengulang kembali
Langganan:
Postingan (Atom)
