Kamis, 08 Oktober 2009

rindu ayah

kuhanya terpaku di dalam kehampaan
ketika suaramu terdengar tak segagah yang dulu
emosi berkecamuk seperti aungan serigala
menerkam di sisa ketuaanmu
selimutmu tak lagi setia menahan kedinginanmu
engkau sandarkan tubuhmu berbalut keriput
memandang langit menghisap sebatang tembakau
dengan tajam pikiranmu berkelana
ke langit ke tujuh
mengingat istrimu tercinta
aku tahu
tapi aku hanya membisu
bila lonceng natal berbunyi
aku juga sama
merindukan mempelaimu
inginku bercerita
inginku bernyanyi
rindu ini menjelma seperti sebuah tangisan rindu
kusebut diantara sudut yang bersiku
di langit inginku sampaikan rindu ayahku yang dalam
di balik kenangan sebuah poto
ketika masih muda
yang kusebut namanya ibu

Senin, 05 Oktober 2009

novel

hujan membasahi bumi,petir bertahta di saat ini dengan rakusnya menghabisi pohon-pohon yang terdiam di runtuhan dahan-dahannya.listrik mati,mungkin gardu listrik juga korban berikutnya mungkin banyak juga korban berikutnya tetapi aku hanya berharap tulangku(paman,adik ibu atau bapak sebutan orang batak) tidak apa-apa karena ia belum pulang kerumah dari pangkalan becak sejak hujan itu merobek-robek semesta."tuhan temanin tulangku,agar di luput dari kemarahan sang alam"ucapku dalam hati. kembali lagi aku membaca naskah skripsi seniorku di sinari lilin kecil yang sangat menarik bagiku karena sesuai dengan tesis skripsiku tapi keselamatan tulangku sangat aku risaukan.aku gak athu mengapa,aku menyebut tulang karena ia bukan orang batak tetapi tulangku pernah mengatakan bahwa ayahku dengannya sahabat akrab beserta ayahnya si boby yang juga satu kamarku.tulangku ini adalah sebagai ayah bagi kami berdua karena kami di besarkan sejak kami berusia 5 tahun,dia memiliki putri yang sangat cantik dan istri yang sangat baik meski pernah kudengar dari tetangga mantan seorang pelacur tapi bagi kami berdua ia adalah dewi yang kami anggap ibu .entah mengapa?tapi di balik wajahnya yang melankolis aku tahu banyak kisah yang di pendam dia.pernah suatu hari aku dan boby bertannya dimana keluarga kami?

Minggu, 04 Oktober 2009

putri sion

ada cinta seperti embun pagi
terlihat damai hatiku saat melihatmu
meski tanpa ijinmu
mengagumimu di balik kebodohanku
kesederhanaanmu tawarkan kesombonganku
cantikmu mengalahkan keindahan simarjurunjung
dan tutur katamu bisikkan setiap telinga yang mendengar
terpesona
engkaulah bunga itu
kunanti diantara doaku
cintamu mengalahkan aku
membawaku ke jalan surga
engkaukah putri sion itu
apakah ada rasa yang sama
sembunyi di antara rindu yang dalam
sama seperti halnya aku
merindukan sang mempelainya
menanti cinta berselimutkan kedamaian

kusebut namanya ayah

jemarimu sedetik tak engkau ijinkan
menikmati indahnya dunia
matamu liar mencari yang tertinggal
semuanya engkau berikan hanya untukku
menantang mentari bila senja telah tiba
menggapai senyum itulah yang terindah
saat fajar tiba melihat senyum anakmu
di gubuk tua itupun milik si tuan kaya
laksana hujan membasahi bumi
engkau tetap gagah seperti pahlawan spartha
melukiskan surga di setiap tutur katamu
tak ada lelah....
tak ada gentar
sendirian menuntut kedamaian anakmu
di tanganmu terlukiskan masa depan anakmu
di otakkmu terlihat senyum anakmu
demi cinta engkau bertemankan dengan kelelahaan

siapakah jiwa ini........
dari desa turun kekota
menemukan permaisurinya diantara keramaian kota
berjanji sehidup semati
meneruskan waktu ke waktu
agar tak hilang dari jiwa yang terkalahkan
beriiringan saling menjaga
mencintai seperti bulan dan bintang
dan aku adalah salah satu bintang itu
terlukiskan kehebatan sang lelaki
kusebut namanya AYAH



terimakasih ayah atas semua cintamu,hanya doa dan pengharapan yang tulus dan murni

hanya diam

terlahir jiwa yang baru
di balik dinding gedung tua
sisa-sisa kerinduan yang ternoda
berkecamuk seperti badai di gurun sahara
menerkam siapa saja
hingga waktu lahirkan jiwa yang baru
kita terpanggil untuk bertanya
ketika kerinduan kebenaran membungkam
sisa-sisa kebodohan bangsa ini
banyak anak-anak hanya bisa bermimpi
di sudut jalan dengan harapan
esok mentari menyelimutinya
banyak sarjana-sarjana negeri ini
terdiam diruangan gelap
menusuk jiwa dengan sebilah keputus asaan
menghabisi hidupnya dengan seribu pertanyaan
sampaikan salam rinduku wahai langit
bagi mereka di enam tahun yang lalu
di pusara mu terlihat tak lagi seperti taman
hanya sebuah kenangan yang sangat menghantui

Kamis, 01 Oktober 2009

cinta

kukan terbang ke langit biru
kukan katakan kepada setiap yang bernapas
aku adalah butiran debu
terbang ke arah lautan
merindukan pantai
memelukknya dengan sekuat cinta
memporakporandakan kebimbangan
aku lelah mencintaimu
aku lelah menjadi butiran debu
bersembunyi di balik lingkaran

wanita terhormat

denganmu kurasakan sejuta indah
denganmu ada tawa sehangat mentari
mengisi nadiku dengan senyummu
kurasakan ada sesuatu yang baru
terlahir begitu aja
mengubur masa laluku
dan kurasakan sejuta cinta yang sesungguhnya
engkau hadir dengan kesederhanaanmu
seperti bintang di tengah malam
menemani bulan menunggu mentari
engkau selimutiku dengan hidup
tanpa ada tanya
engkau mengusap airmata kehidupanku
menjadi tiang di saat aku rapuh
dan menjadi pahlawanku
ketika aku lemah di kalahkan sang waktu
engkau adalah segalanya bagiku
engkau adalah putri sion yang telah lama kunanti
bukan karena cantikmu
bukan karena hebatmu
semua seperti awan putih
ketika di pagi hari
aku mendengar indah bernyanyi
suaramu jatuhkan setiap kemalasanku
bangkitkan kebodohanku untuk bangkit kembali
meninggalkan setiap jengkal masa lalu
untuk bangkit berdiri
katakan kepada dunia
aku hidup bukan karena waktu yang kupuja
tetapi karena cinta yang pernah mengalahkanku