Senin, 14 September 2009

PELACUR DAN DIANTARA MIMPI-MIMPINYA

ku hanya terhanyut ketika tangan mungilmu menuntun langkahku
mengajarkanku apa arti hidup ini
menuntun langkahku untuk selalu tersenyum
dan ada tercipta sebuah cerita yang damaikan hatiku
sesungguhnya di dalam mimpi-mimpiku
aku menantikan sinar kecil yang mengubah hidupku
setelah perkenalan itu
jantungku bergetar berlari menawan wajahmu
pelupuk mimpi
ada cinta.........
ada damai............
di balik kesederhanaanmu ada yang lain
di balik senyummu ada sesuatu yang indah
di balik tawamu ada ketabahan yang dashyat
dan desahan napasmu kurasakan ada perjuangan yang takkan berakhir


dalam pelukanmu kurasakan surga yang sesungguhnya
meski jalanmu penuh luka dan airmata
bertemankan bulan yang menjadi saksi
kau jual tubuhmu dengan sebuah materi
dan semua tahu itu bukan karena maumu
tetapi karena mimpi yang gak terbeli
senyummu wahai pelacurku di balik selimut jingga
menerobos pemikiranku untuk hidup selamanya
sucikah engkau atau kau hanya batu sandungan bangsamu
hinakah engkau yang terlahir tak seperti awan putih
bencikah engkau menerima takdirmu
ataupun engkau mengutuki tuhanmu
tapi engkau masih engkau
masih ada pengharapan
ada sejuta cinta
meski menerobos kegelapan
aku pantas memberi hormat padamu
karena hidup kadang memberi kita pilihan
dalam doaku dalam genggaman tanganku
kurasakan cinta suci saat bersamamu
akukan selalu berdiri di depanmu menantang badai
kurela mati .........
karena kau juga manusia.
hingga bangsamu menangisimu di balik merah putih
dengan kertas berselimutkan
"aku dikalahkan oleh bangsaku sendiri
aku memiliki mimpi
tapi mimpi itu hanya ada di pancasila
aku tak mau mati berselimutkan dosa
dan biarkan pancasila terbaring di pusara
aku bangga menjadi bangsa INDONESIA
AKU BANGGA MENJADI PELACUR,PELACUR YANG MIMPINYA TAK TERBELI BANGSA INI"

dosa di balik impian

jika aku berdosa
dan jika aku terhina
aku takkan membatu
seutuhnya akukan bersujud
mohon ampun dengan segala hormat

tak ada seperti kehilangan
jauhku di dalam tanah gersang
menembus kegelapan dengan sebilah pedang bersarungkan kesombongan
menunggu waktu menunjukkan keperkasaan sang allah
aku memperkosa takdirku sendiri
aku menghianati impianku
berlari seperti riak gelombang mengejar kepolosan pasir putih
menjadi hakim kecil
dan semua wajah mengutuki diriku
di hatiku aku adalah pangeran tapi di hati mereka
aku adalah serigala
aku yang membeku di jalan penuh dosa


sesaat ku renungkan ...........
sejenak aku memandang ke langit..............
air mata membanjiri wajahku
seperti sungai tak bermuara
banyak cerita menenggelamkanku
di tepian pagi.........
ku bersujud ......
mohon ampaun dengan segala hormat

Sabtu, 12 September 2009

untuk seseorang pujangga

awan ini akan mengajarkanku tentang cinta
setelah waktu yang sombong menidurkanku di kerinduan yang dalam
andai kata aku bisa menjadi puisi
akukan mewarnai di setiap detik perjalananmu
tak ada tangis,rindu,serta harapan tapi itu 6 tahun yang lalu
benar ada sekuntum mawar
tertunda yang tak pernah kuberikan
itu aku ...........
mengagumimu di balik jendela

masih teringat ketika aku katakan
masih terbayang senyummu yang kemarin
dan masih saja kusimpan puisi cintaku
dan mungkinkah engkaukan tahu.......
di balik bantal kutahu kaulah yang kusebut
mengingat wajahmu seketika matapun terpejam
tapi dimanakah kamu...........
pernahkah kau memikirkanku........
bertanyakah engkau tentangku...........
di balik awan kumenanti rinduku

jangan hanya diam

jumlahkanlah berapa banyak pengecut di negeri ini
jumlahkan berapa banyak pahlawan di negeri
dan jumlahkan berapa banyak anak -anak tak sekolah
serta jumlahkan berapa banyak anak negeri yang mati muda
dekatkan pemikiranmu pada sesuatu yang tak bertumpu
dan renungkan seberapa jauh kau hidup
pernah kau pikirkan negeri ini sedetik aja!
hai para pangecut............
pernahkah kau bayangkan negeri ini
inilah negeriku..........
kumpulan para kurcaci

Kamis, 10 September 2009

aku hanya seekor merpati

kini aku hanya seekor merpati
terbang seperti awan
bertemankan langit
yang tak lagi membutuhkan daratan
yang bernapaskan kemunapikan

aku hanya mendengar
aku tak bisa melihat
ketika anak negeri berselimutkan putus asa
aku hanya mengis tanpa airmata
menatap jauh kehancuran bangsaku
menggugah siapa saja yang melihat
dari pengasingan yang mampu tumbuhkan
helaian sayapku ingin aku menyapa
hentikan kesombongan para pemuka
tapi adakah yang tersenyum untukku
tapi adakah tangan tempatku bersandar
ketika peluru-peluru mereka
mencabik-cabik sayapku
akankah ada .....
terlahir suatu ...
mungkinkah ada
tapi dia hanya diam berpakain tak selajimnya
berontak tapi takut mati
akankah ada merpati kembaran seperti aku
menemaniku di ruangan gelap
dan berbagi waktu
dengan pemikiran revolusi
ataupun seberkas bayangan berwujud seperti hantu
mengajariku dan aku murid terbaiknya
menguatkanku dengan syair perjuangan!
ketika jasadku telah menjadi tanah

aku hanya seekor merpati
terdiam di balik awan
menanti tiba saatnya
bukit-bukit hijau
melahirkan jiwa-jiwa kesatria
dengan pakaian perang serta pedang terhunus
menantang kejaliman
dengan sebatang pena mengukir kemegahan
dan dengan sekuat tenaga bergandengan tangan
hingga matahari pun takut dengan impian mereka

ironis

jalan ini menghentikan langkahku
mataku mengalir seperti sungai ketika kutemukan selimut negeri ini
mengapa masih saja di tutupi
dan badut tertawa di sisinya
melongok seperti kacung
puas menjilatinya

mimpi yang kemarin

hujan membasahi bumi
diantara tanya aku masih seperti dulu
menanti hingga ada seberkas cahaya
dan damaikan hatiku
jauh aku melangkah di dalam kesendirian
seperti angin yang berhembus tanpa tujuan
di kota ini terasa sempit
imajinasiku dibunuh tak tersisa
mati hingga terkapar di tanah tak bernama

airmata sahabat terbaik
doa dan harapan nyanyian surgawi
tak tersirat tawa
tak terpikirkan kata-kata
hidup di negeri orangkah aku......
atau apakah ini suatu lembaran baru
meniup sangkakala di balik bukit
menahan pedih dan napsu duniawi
di negeriku sendiri.

mimpi-mimpi yang dulu bercahaya
kini pudar dan berganti warna
rasa cinta terukir sempurna
berubah menjadi serigala siap menerkam
yang polos hatinya berubah menjadi hitam
tang taat hatinya menjadi pemberontak
yang berani menjadi pengecut
dan yang putus asa,mati muda
terlihat jelas tanpa cerita
ketika anak bangsa di khianati bangsanya sendiri
kami hanya mampu bertanya
di balik mimpi-mimpi senja di ufuk timur